Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Cabai Rawit


__ADS_3

Sentuhan kecil Sora perlahan membangunkan Alan, pria itu perlahan terbangun karena Sora menjamah sebagian tubuhnya.


"Sudah bangun Ra? Bagaimana kepalamu, pusing tidak?" tanya Alan seolah tahu efek dari minuman keras. Alan sudah akrab betul dengan rasa pusing yang datang ketika selesai meminum alkohol.


"Maaf Ra," ucap Alan sekali lagi, ia merasa bersalah meninggalkan Sora sendirian tadi malam. Meskipun dirinya begitu marah tidak sepatutnya meninggalkan Sora begitu saja.


Sora hanya mengangguk pelan, pusing masih dirasakannya. Perlahan ia bangkit, Sora hendak ke kamar mandi. Biarlah kejadian semalam berlalu begitu saja. Sora engan membahas hatinya yang penuh dengan luka.


Drettt.....


Getaran telpon gengam milik Alan membuat Sora menoleh pada sang suami. siapa gerangan yang menelepon suaminya, pagi-pagi seperti ini, batin Sora.


Alan melihat smartphonnya, ia menatap nama yang tertera di atas layar yang sedang menyala.


Ibunya sedang memanggil lewat sambungan telpon. Pagi-pagi Ibu sudah menelepon. Ada apa gerangan? Alan sudah menerka-nerka di dalam hatinya.


"Assalamualaikum," ucap Alan ketika selesai mengeser tombol hijau pada layar ponselnya.


"Waalaikumsalam, Alan kamu tidak lupa acara nanti sore kan?"


"Iya Bu, Alan tidak lupa. Tapi mungkin Sora tidak bisa datang, sepertinya ia sedang tidak enak badan," Alan tidak ingin Sora hadir dalam acara kumpul-kumpul bersama keluarga besarnya. Ia yakin itu semua hanya akan membuat Sora kembali tertekan.


"Sakit apa Sora, apa dia sedang ngidam?" tanya Ibu dengan antusias.


"Kecapekan Bu,"


"Ibu bilang juga apa, jangan dibiarkan istrimu seharian di luar rumah. Apa lagi yang ia cari di luar sana. Sudah berkecukupan masih tetap memaksa kerja. Lihat hasilnya, kelelahan dan susah punya anak?" Ibu sudah mulai emosi, tekanan darahnya pasti sudah naik. Terlihat dari nada bicara Ibu yang sudah meninggi.


"Ibu, janganlah begitu. Dia istri Alan Bu, bersikap lunak sedikitlah padanya," pinta Alan kepada Ibunya.

__ADS_1


"Ibu rasa, cukup sudah kesabaran Ibu. Nanti Sore temui Ibu sendirian di rumah," Ibu langsung mematikan pangilang suaranya.


Alan mendesis kesal, pagi-pagi Ibunya sudah marah-marah tidak jelas padanya. Alan tidak menyadari, sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya. Semakin kecewalah hati Sora.


Sora pun berlalu, ia kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti karena pembicaraan sang suami dengan Ibu mertuanya.


Beberapa saat kemudian, muncul lah Sora, sudah terlihat rapi.


"Kamu gak kerja Ra?" tanya Alan yang heran melihat Sora sudah rapi, namun tidak memakai pakaian kerja seperti biasanya.


"Tidak Mas, aku tadi sudah telpon ke kantor. Minta ijin, kepalaku rasanya masih pusing," Sora tidak berani melirik suaminya ketika kata pusing keluar dari bibirnya. Ia takut Alan akan memarahi dirinya, karena telah meminum minuman keras dari dalam ruang kerjanya.


"Ya sudah, kamu istirahat di rumah saja Ra. Aku mau siap-siap ke rumah Ibu." pinta Alan pada istrinya.


"Mas juga tidak ngantor?" tanya sora.


"Aku ke rumah Ibu bentar saja, habis itu langsung ke kantor Ra!" jawab Alan.


"Tidak usah, nambah beban pikiran saja. Kita gak usah datang saja,"


"Tapi aku mau datang ke sana,"


"Sudahlah, jangan mulai lagi. Stop nyakitin diri sendiri," Alan tahu betul suasan apa yang nanti bakal terjadi. Ia tidak ingin Sora semakin tertekan oleh banyak gunjingan yang di lontarkan para kerabat dekatnya. Apa lagi para tantenya, bisa-bisa istrinya menangis semalaman. Memikirkan kata-kata pedas yang meluncur bagai anak panah. Berisi racun yang menancap tegas di jantung istrinya.


Alan bergidik ngeri, komentar pedas dari para ibu-ibu paru baya itu bisa membuat istri kesayangannya luluh lantah tidak karuan. Dari pada melihat Sora hatinya teriris, mending dia urung datang ke acara Tante Susi adik Ibunya.


"Mas, aku ikut," kata-kata Sora membuyarkan lamunan Alan.


"Aku cuma ke rumah Ibu, gak ke rumah Tante. Lagian tidak usahlah, aku tidak suka melihatmu menangis mendengar komentar pedas dari mereka,"

__ADS_1


"Aku gak enak Mas, Tante Susi walau bicaranya seperti itu. Ia sudah baik kepadaku, Tante sudah mengangapku seperti putrinya sendiri. Lagi pula aku ingin melihat bayi yang baru lahir itu. Aku ingin merasakan menggendong banyi Mas," pinta Sora, ia memelas pada sang suami.


"Sora, kamu tahu betul sikap para saudara Ibu. Yakin nanti tidak apa-apa?"


"Gak apa-apa Mas, aku akan menutup telingaku rapat-rapat sehingga tidak bisa mendengar komentar jahat mereka. Lagian kan ada Mas Alan disisiku. Apa Mas Alan akan diam saja, jika semua orang merundung ku?" ucap Sora dengan senyum yang ia paksakan. Kalau tidak mengingat kebaikan Tante Susi, ia sebenarnya juga engan pergi ke sana.


"Baiklah kalau begitu, tapi kita ke rumah Ibu dulu, aku tinggal kamu di sana ya. Nanti siangnya aku baru menyusul."


"Iya Mas," suara Sora melemas seketika. Pertempuran dengan para pemilik lambe turah akan segera di mulai.


Alan kini sudah terlihat rapi, jas yang menempel di tubuhnya menambah kesan gagah pada dirinya. Suami Sora itu terlihat tampan dan berkharisma. Pantas saja Sora begitu jatuh hati pada suaminya.


Sora menyambar tas yang semula ia letakkan begitu saja di atas meja. Ia kembali bercermin, sekedar memeriksa riasan yang ia kenakan. Sora merogoh ke dalam tas kecilnya, ia mengambil lipstick. Pelan-pelan ia menambah warna merah pada bibirnya. Seolah ia kini telah siap berperang, dengan warna gincunya yang membara.


"Ayo Ra," panggil Alan. Ia tidak sabar menunggu istrinya, karena Sora tak kunjung keluar dari dalam kamarnya.


"Iya Mas," Sora keluar dengan dress merah bata, di tambah bibirnya yang berwarna merah cabai. Sora sekaan sedang mengoda Alan.


"Wah, cantik banget istriku," puji Alan, ia terkesima dengan paras Sora yang cantik mempesona.


"Percuma, cantik tapi tidak bisa punya anak," ucap Sora dengan spontan.


Mendengar ucapan sang istri, membuat Alan diam terpaku. Ia seperti tidak perduli dengan ucapan Sora. Alan lebih perduli pada pemandangan indah yang berdiri di hadapannya. Alan merengkuh tubuh istrinya, ia memeluk erat pinggang sang istri.


"Tidak apa-apa! Aku hanya butuh kamu, bukan lainnya. Aku butuh ini sekarang!"


Alan langsung malahap cabai rawit yang bertenger di wajah Sora. Membuat Sora memukul keras lengan kekarnya.


Sora membuka matanya ketika kedua bibir mereka masih saling bertautan. Ia bisa melihat dengan jelas bulu mata yang tebal milik suaminya. Sora melepas tangannya yang semula melingkar di leher Alan. Kini tangannya sudah memegang pipi Alan, ia dapat merasakan panas yang menjalar di sekujur pipi suaminya.

__ADS_1


Alan yang merasa sentuhan halus dari tangan Sora, langsung membuka matanya. Keduanya saling bertemu pandang. Ada gurat senyum yang terpancar di bibir Sora dan Alan.


Bersambung


__ADS_2