
Malam ini Sora nampak menikmati makan malamnya bersama Ferry, teman semasa SMA dulu. Mereka sedang mengobrol, membicarakan pekerjaan masing-masing. Membahas kenangan akan masa lalu. Setelah makan malam usia, Sora berniat akan langsung pulang. Namun Ferry yang dulu hanya mampu memendam perasaannya, kini mulai berani.
"Sora, mau jalan-jalan?" ajak Ferry.
Perempuan itu melirik ke arah jam yang menempel di tangannya. Sora merasa malam belum larut, ia pun menyangupi ajakan Ferry.
"Baik Mas, mau kemana kita?" tanya Sora.
"Kamu ingin kemana? Aku akan mengantarkanmu kemanapun kamu mau!"
Kalimat Ferry kembali membuat hati Sora sedikit terkoyak. Ia sangat merindukan hal-hal kecil yang jarang ia lakukan bersama Alan. Kesibukan menjadi jurang pemisah antara dirinya dan Alan.
"Aku mau nonton Mas, lama sekali Aku tidak ke bioskop," kata Sora dengan nada malu-malu. Sora seperti kembali ke masa mudanya bila bersama Ferry. Beban hidupnya serasa ringan ketika ia bersama pria tersebut. Entah apa yang di tawaran pria itu. Sora hanya merasa nyaman jika berada di dekatnya.
"Ya sudah, kita pakai mobilku saja. Mobilmu biar diparkir disini, aku kenal dengan pemilik kafenya," ucap Ferry. Agar Sora mau pergi satu mobil dengan dirinya. Ia sedang melancarkan aksi untuk mendekati Sora, pujaan hatinya yang ia kagumi cukup lama.
Tanpa rasa curiga, Sora mengiyakan ajakan Ferry. Ia masuk ke dalam mobil temannya. Tidak butuh waktu yang lama, keduanya langsung melaju memecah jalanan yang ramai.
Keheningan tercipta di dalam mobil, menyisahkan deru mesin dan suara napas dari dua orang yang ada di dalamnya. Sora sedikit canggung karena berada satu mobil bersama laki-laki lain. Ia mulai sedikit tersadar akan tindakannya ini, tiba-tiba ia teringat kepada suaminya, Alan. Membuat ia semakin merasa tidak enak hati.
Sora merasa dirinya kini sedang berselingkuh di belakang Alan. Keinginan Sora yang hanya ingin bermain-main sepertinya terlalu berbahaya. Dan panjang umur juga nasib Alan. Ketika Sora sedang memikirkan suaminya, ada pangilan masuk dari Alan.
"Halo, lagi dimana Ra?" tanya Alan.
Deg, jantung Sora tidak karuan. Ia baru akan main-main, tapi sepertinya akan ketahuan. Sora melirik pada pria yang duduk di sampingnya. Ibu jarinya ia tempelkan pada bibir, mengisyaratkan agar Ferry tidak berbicara.
"Lagi di luar Mas, habis makan malam,"
"Oh pantes, tadi aku telpon ke rumah tidak ada yang mengangkat."
"Iya, ini sudah mau pulang kok."
__ADS_1
"Yasudah, hati-hati. Sepertinya aku besok sudah pulang. Semua urusan sudah beres."
"Iya Mas,"
"Langsung pulang ya, jangan main kemana-mana," pesan Alan.
"Iya," Sora hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
"See you Sora, I miss you,"
"I miss you too,"
Sora tambah semakin merasa bersalah pada suaminya. Ferry yang mencuri dengar pembicaraan pasangan suami istri itu, mencengkram kemudinya. Perasaan marah serta cemburu menguasai dirinya. Tatap matanya yang semula teduh, berubah menjadi sorot kebencian.
Ia sudah tahu Sora sudah memiliki suami, namun tidak mengurungkan niatnya untuk mendapat kan hati Sora. Ferry sudah pernah kalah sekali, ia tidak akan kalah kembali. Obsesinya membuat matanya buta, hatinya terlalu menginginkan Sora untuk berada di dekatnya.
"Siapa Ra?" tanya Ferry, ia berpura-pura tidak mengetahui siapa yang berbicara pada Sora barusan.
"Memang siapa yang menelepon tadi?" Ferry masih memburu jawaban dari bibir Sora.
"Suamiku Mas,"
Ferry langsung mengerem mobilnya dengan mendadak, menciptakan suara decitan yang terdengar menyeramkan bagi Sora.
Sora menjadi serba salah, baru akan memulai hal gilanya bersama Ferry. Namun ia harus mengakhiri kegilaannya kali ini. Jika ia ingin selamat dari murka Alan. Entah apa yang akan di perbuat suaminya jika mengetahui ia sedang berduaan dengan pria lain.
"Maaf Mas," hanya kata maaf yang keluar dari bibir Sora, ia dapat menangkap raut wajah kecewa dari Ferry.
Sora selama ini tahu bahwa Ferry menyimpan rasa pada dirinya, hanya saja cintanya pada Alan jauh lebih besar. Sehingga ia lebih memilih Alan menjadi suaminya dari pada laki laki yang saat ini bersamanya. Dulu Ferry terlalu penakut dan kurang menantang bagi Sora. Laki-laki yang tidak berani mengungkapkan perasaannya itu sudah mendapat cap pengecut dari Sora sejak dulu. Sejak keduanya masih sama-sama remaja.
Sora pandai dalam berpura-pura, agar hubungan mereka tidak menjadi canggung. Ia selama ini menyembunyikan apa yang ia ketahui. Agar Ferry tetap bersikap biasa pada dirinya. Namun kali ini Sora sepertinya lepas kendali. Ia membiarkan Ferry masuk begitu leluasa di dalam hatinya. Membuat dirinya kerepotan saat ini.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Ferry saat ini menatap dirinya dengan tatapan yang tajam. Tatapan yang mengancap jiwa dan raga Sora. Ia tahu Ferry sedang marah akan sikapnya. Setelah memungut hati Ferry dengan mudah Sora kembali membuangnya. Jelas Ferry tidak suka, ia tidak terima dijadikan pelarian oleh Sora. Ferry ingin menjadikan Sora senantiasa menetap di hatinya, bukan sebagai tempat singgah semata.
"Mas, Ayo pulang. Antarkan aku ke kafe tadi untuk mengambil mobilku," ucap Sora seakan tidak peduli pada raut wajah Ferry yang kurang bersahabat.
Bukannya menjalankan mobilnya kembali, Ferry justru melepas sabuk pengaman yang melekat pada pinggang. Ferry mendekatkan wajahnya ke arah Sora, ia telah mengunci rapat tubuh perempuan yang menjadi primadona dalam hidupnya itu.
"Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya Sora yang merasa terancam.
Ferry hanya menjawab pertanyaan dari Sora dengan sebuah kecupan lembut pada bibir munggilnya.
Sora langsung terhenyak, ia begitu tersentak dengan aksi berani dari Ferry. Pria pengecut yang ia kenal dulu kini menjadi lebih berani kecupan singkat yang ia terima dari Ferry sedikit membuat hatinya berdesir. Sora kembali merutuki dirinya sendiri. Perasaan yang menjalar di dalam tubuhnya membuat ia merasa bersalah pada Alan. Ia teringat pada misinya semula, mencari istri untuk suaminya. Bukan mencari suami baru. Sial, berkali-kali ia mengumpati hatinya yang tidak konsisten.
Melihat Sora yang diam tanpa reaksi, membuat Ferry kembali ingin melancarkan aksinya. Ia pikir setelah kecupan pertama akan mendapat tamparan dari Sora, ternyata dugaanya salah. Ia seperti mendapat angin segar, Ferry pun kembali mengecup bibir manis Sora.
Sora diam tanpa kata, dengan suka rela ia menutup matanya. Ia seakan-akan menikmati buaian yang ditawarkan oleh Ferry. Keduanya sama-sama melepas hasrat yang terpendam. Akhirnya Ferry merasa menang, untuk saat ini ia berhasil mendapat bibir Sora. Mungkin esok ia akan mendapatkan Sora seluruhnya. Baginya tidak masalah walau harus bersaing dengan suami Sora yang merupakan temannya juga.
Paska sentuhan emosional yang diberikan Ferry, Sora membenahi posisi duduknya. Ia merasa canggung setelah apa yang barusan terjadi. Berbanding terbalik dengan Sora, ada binar-binar kepuasan tersendiri di raut muka Ferry.
Ferry seperti baru mendapat lotre, sebuah keberuntungan yang selama ini ia nantikan. Ia seakan tidak menyesali tindakannya, melalui ekor matanya ia dapat melihat ekspresi dari Sora.
"Terimakasih Ra, untuk malam ini," ucap Ferry dengan senyum yang tulus namun sedikit mengoda. Membuat Sora menjadi salah tingkah.
"Ehm.." Sora binggung mau menjawab apa, kata-kata yang ingin ia ucapkan seperti tertutup rapat tidak mau keluar dari dalam bibirnya.
Melihat ekspresi dari perempuan yang selama ini ia rindukan, Ferry lalu mengengam sebelah tangan Sora.
"Aku mencintaimu Sora!" ucap Ferry dengan lirih, meski sudah sangat terlambat. Namun setelah mengucapkan kata yang lama terkubur di dalam hatinya, Ferry kini merasa lega. Ia merasa apa yang menahan hatinya kini lepas sudah. Cintanya yang tersembunyi kini mulai muncul ke permukaan.
Sora membeku, ia menjadi dilema. Tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan. Ia sudah terlanjur terjebak oleh permainan yang ia buat. Sora kalah, ia tidak bisa mengontrol perasaannya. Entah apa yang akan terjadi, Sora meremas gengaman tangan Ferry. Seakan-akan ingin mencari jawaban dari masalah yang ia timbulkan.
Bersambung
__ADS_1