
Hari ini Sora mengemasi semua barang-barangnya, ia juga sudah menulis surat pengunduran diri. Satu persatu ia memasukkan pakaian ke dalam koper-koper yang berukuran cukup besar. Ada pula barang-barangnya yang sengaja ia tinggalkan. Barang yang hanya membuatnya terluka bila ia mengingatnya.
Semua pakaian yang pernah ia kenakan saat bersama Ferry ia tinggalkan. Apapun benda yang mengingatnya pada pria itu, ia buang semua ke dalam tong sampah besar di belakang rumah. Sora menyesal dengan tindakannya itu. Ia benar-benar ingin memulai sesuatu yang baru.
Hidup baru tanpa bayang-bayang orang ketiga diantara mereka berdua. Dan Setelah seharian membereskan semua barang yang akan ia bawa, kini Sora berbaring terlentang di atas kasur empuknya. Matanya menatap langit-langit kamar. Pikirannya berkelana, tidak mungkin dirinya menghilang begitu saja dari pandangan Ferry. Bisa bisa pria itu mengejar dirinya sampai ke ujung dunia.
Tidak ingin mendapat ganguan di masa yang akan datang, Sora mencoba menuliskan sebuah pesan perpisahan untuk kekasih gelapnya itu. Ia berharap Ferry bisa melupakan dirinya. Sora berharap Ferry membuka hatinya untuk wanita lain di luar sana.
Sora mengambil selembar kertas dari dalam laci, ia pun memunggut pena yang tergeletak di atas meja. Sora mulai menuliskan surat perpisahan untu Ferry, kekasihnya. Jari-jarinya menari dengan sendu, seolah tidak ada perpisahan yang manis. Sora meneteskan air matanya yang terakhir, untuk laki-laki yang hatinya sempat ia singgahi.
Aku tidak akan meminta maaf padamu, Aku tidak berhak untuk dimaafkan olehmu. Aku tidak menyesal pernah bersamamu, yang Aku sesalkan adalah menyakiti perasaanmu. Lepaskan Aku dalam belengu hatimu, Aku tidak pantas dan tidak layak untukmu.
Carilah hati yang bisa menampung penuh hatimu. Jangan pernah berkasih dengan wanita sepertiku.
Selamat tinggal, jangan pernah mengharap diriku. Semakin kau kejar, Aku akan semakin menjauh. Biarlah takdir kita cukup berakhir disini. Jika kau memang sayang padaku, ijinkan Aku damai bersama keluargaku.
Sora melipat kertas tersebut, ia masukkan ke dalam amplop coklat. Surat pengunduran diri dan surat yang bukan surat cinta sudah siap untuk ia kirimkan.
Ia sedikit lega, usai menulis surat pisah pada Ferry. Setidaknya Ferry tidak akan kesana kemari mencari dirinya. Setelah kelelahan merapikan barang-barangnya, kini Sora tertidur. Ia tertidur pulas sampai tidak menyadari Alan sudah kembali.
Alan mengusap kening Sora, ia menyibak rambut yang menutupi wajah istrinya itu. Saat ia akan mendekatkan wajahnya untuk mencium kening Istrinya, Alan menariknya kembali. Ia urung mencium istrinya yang sudah tidur pulas. Entah mengapa, hatinya masih dilanda keresahan.
Perselingkuhan Sora membuat dirinya ragu-ragu membelai istrinya itu. Ada sebuah perasaan kecewa bercampur amarah, ketika ia menatap Sora. Ternyata hatinya belum bisa memaafkan istrinya. Alan masih mencoba bernegoisasi dengan nuraninya.
__ADS_1
Karena tidak jadi mengecup sang istri, Alan langsung bangkit. Ia mengambil handuk dan masuk dalam kamar mandi. Begitu suara langkah kaki Alan semakin pelan dan tak terdengar, Sora membuka kedua matanya.
Benda basah itu keluar begitu saja, mendadak dadanya terasa sesak. Sora yang berkaca kaca memukul dadanya yang terasa sakit. Alan memang memaafkan dirinya, tapi tidak pernah melupakannya. Sora tersedu, ia membungkam mulutnya dengan tangan. Wanita itu tidak ingin suaminya mendengar rintihan hatinya.
Ini adalah hukuman yang setimpal bagi dirinya. Sora menerimanya, walau perih yang ia rasa. Lelah menangisi nasibnya, Sora kembali terlelap dengan pipi yang masih basah.
Cukup lama Alan berada di dalam kamar mandi, tatapan matanya kosong ke bathtub yang menjadi saksi bisu tindakannya pada Sora beberapa waktu lalu. Ia tersenyum getir, nasibnya terasa pahit. Alan masih dibayang bayangi rasa kecewa yang tak bertepi.
Hatinya teriris ketika mengingat kenangan buruk itu. Berkali kali ia menguyur air di atas kepala, berharap kecewanya ikut hanyut besama air yang mengalir membasahi tubuhnya. Beberapa saat kemudian, Alan keluar dari kamar mandi. Dilihatnya, Sora masih terbaring. Namun tubuhnya terlalu berada di bibir ranjang.
Alan mengeser tubuh istrinya, hingga membuat Sora bangun kembali.
"Sudah pulang, Mas?" tanya Sora sembari mengerjapkan kedua matanya.
"Sudah makan?" Sora menyusul suaminya di dalam ruang ganti.
"Sudah, tadi aku mampir ke rumah Ibu. Aku bilang kita akan segera pindah!" ucap Alan dengan dingin.
Sora merasa suaminya sekarang sedikit berbeda, Alan seolah memasang dinding pemisah diantara mereka berdua.
"Mau kopi?" tawar Sora, ia ingin mencari bahan untuk berbicara pada suaminya.
"Tidak usah, aku ngantuk. Aku mau tidur, besok aku sangat sibuk sekali. Karena akan pindah, banyak pekerjaan yang harus aku kebut!" ucap Alan seraya meningalakan Sora yang masih diam tak bergeming di tempatnya.
__ADS_1
"Beginikah rasanya ditolak oleh orang yang Kita sukai?" gumam Sora lirih.
Sora berjalan menuju kamarnya, ia melihat Alan sudah terbaring di atas ranjang. Dilihatnya Alan sudah menutup kedua matanya. Suaminya seolah enggan menatap dirinya. Merasa kecewa, Sora berjalan ke balkon kamarnya.
Dimalam yang gelap gulita, Sora memandang jauh ke langit yang muram. Langit pun seolah mengerti isi hatinya. Cukup lama Sora duduk di luar sana, ia menghabiskan malam dengan melamun di temani hawa dingin yang menusuk tulang.
Alan yang pura-pura tidur hingga tertidur betulan, kini mulai terbangun. Ia melirik ke arah samping, Alan sedikit terkejut ketika tidak mendapati sosok Sora disampingnya. Alan langsung bangkit, ia takut istrinya kabur bersama selingkuhannya.
Saat melihat tirai yang tertiup angin di balkon kamarnya, Alan baru tersadar. Istrinya tidak kabur, Sora mungkin sedang mencari udara segar disana.
Alan yang takut istrinya diambil orang, ia lantas menghampiri Sora. Alan menyibak tirai yang menghalangi dirinya dan Sora. Secara perlahan ia melangkah mendekati istrinya. Tangan Alan mendarat di pinggang Sora, sebuah pelukan dari belakang ia berikan untuk istrinya.
Pelukan tersebut berhasil membuat hati Sora terenyuh. Ada gurat kebahagian yang menjalar perlahan mekar dalam hatinya. Ia merasa Alan sudah menerima dirinya. Sora merapatkan lengan Alan yang kini memeluk tubuhnya.
Alan memalingkan tubuh Sora, kini keduanya saling bertatap muka. Tangan Alan menyentuh dagu istrinya. Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Sora.
Sebuah awal yang baru bagi keduanya. Akankah hari-hari yang akan datang dipenuhi banyak kehangatan?
Bersambung
***
Hai Para Pembaca dan Author kesayangan Jangan bosan-bosan dukung author ya.. Jangan lupa like, Komen, vote dan kasih rate bintang lima...
__ADS_1
Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author. Terimakasih 💕🍒💕