
Sora tersenyum, ia seakan sudah pasrah. Sora menyerahkan semua pada nasib yang membawanya. Biarlah ia mendapat bayaran atas semua tindakan yang telah ia lakukan. Masa lalunya yang kelam akan ia bayar lunas sekarang. Sora memejamkan kedua matanya, seketika bayangan wajah Alan terlintas dibenaknya.
Sementara Ferry menyeringai tanpa rasa takut sedikitpun, seakan maut bukanlah hal paling menakutkan dalam hidupnya. Berkali kali kehilangan cinta Sora, jauh lebih menyakitkan bagi dirinya.
Bila mati menjadi jalan keluar, maka Ferry akan melewatinya. Berjalan bersama Sora menuju dunia yang tak tersentuh oleh Alan pemilik hati Sora yang sesunguhnya.
Ferry menatap wajah Sora sesaat, dilihatnya wajah Sora yang bertahun tahun bersemayam dalam hatinya. Sora yang tidak bisa ia miliki seutuhnya.
"Maaf Sora," ucapnya lirih. Ferry kembali melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Hingga sesuatu menghantam bagian depan mobil yang dikendarainya.
BRUUUUKKK.... DUARRR
Hantaman cukup keras menimbulkan bunyi yang sangat keras, mobil mereka sukses menghantam kendaraan di depannya. Kecelakaan maut pun tidak bisa terhindarkan. Dalam setengah sadarnya, Ferry menatap wajah wanita yang dicintainya.
Darah segar mengucur deras dari kepala Sora. Melihat banyak darah yang membasahi wajah Sora, Ferry mulai histeris. Berkali kali ia memanggil nama wanita yang tidak sadarkan diri itu. Namun hasilnya nihil, Sora kehilangan kesadarannya.
"Ra.. Soraya," mata Ferry mulai berkaca-kaca. Bukan ini yang hatinya mau, melihat Sora terluka nyatanya membuat dadanya jauh lebih menyakitkan.
"Ra...," panggilnya sekali lagi. Suaranya cukup berat kali ini ia ucapkan, seakan ada yang tertahan di bibirnya.
Ferry menangisi Sora yang terkulai tidak berdaya karena ulahnya. Ia menangis panjang dalam penyesalan yang sia-sia.
WIU... WIU... WIU
WIU... WIU... WIU
Suara mobil ambulan dan sirene mobil patroli polisi mengema di tempat lokasi kecelakaan. Sora sudah berada dalam mobil ambulan menuju rumah sakit terdekat.
Sedangkan Ferry dibawa oleh ambulan yang lainnya ke tempat yang sama dengan Sora. Kedua ambulan melaju dengan kencang, beradu dengan waktu. Terlambat sedikit nyawa akan menjadi taruhan.
Di sebuah Rumah sakit swasta para tenaga medis terlihat sigap menangani mobil ambulan yang menurunkan Sora. Selanjutnya mobil ambulan kedua yang membawa Ferry juga menyusul untuk ditangani tenaga medis.
Sora langsung dibawa ke unit gawat darurat. Ia langsung ditangani beberapa tenaga medis karena ia kehilangan banyak darah. Para tenaga medis terlihat berwajah serius. Mungkin kondisi Sora cukup parah.
Di tempat yang berbeda, Alan selesai meeting dengan calon investor. Entah mengapa, pikirannya menjadi tidak tenang. Alan pun menelepon rumahnya, tidak ada yang mengangkat. Ia mencoba sekali lagi namun hasilnya tetap sama.
__ADS_1
Alan meremas telpon gengam miliknya, sebuah perasaan aneh memenuhi pikirannya. Ia langsung menelepon ponsel Sora.
Drettt.. Drettt.. Drett..
Suster mengambil ponsel milik Sora yang semula ada pada saku celana panjang yang Sora kenakan. Celana jeans yang ketat membuat ponsel itu tak berpindah tempat meski Sora sempat berpindah pindah tempat.
Ponsel itu telah diamankan oleh seorang suster ketika menganti pakaian Sora dengan baju pasien. Baru juga suster akan menghubungi kerabat pasien, tapi Alan sudah menelepon duluan.
"Lagi dimana Ra? Mas tadi telpon ke rumah tidak diangkat?" tanya Alan langsung tanpa basa basi sebelumnya.
"Maaf, apa Bapak kerabat dari pemilik nomer ponsel ini? Beliau saat ini sedang berada di rumah sakit Harapan Cipta,"
Belum selesai suster berbicara, Alan langsung memotong begitu saja.
"Apa anda katakan? Istri saya mengapa ada di rumah sakit?" tanya Alan seakan tidak percaya.
"Iya, istri Bapak mengalami kecelakaan. Untuk lebih jelasnya kami harap kedatangan Bapak segera," ucap suster kemudian.
Alan langsung meninggalkan ruang kerjanya, ia bergegas lari ke parkiran. Dengan tergesa-gesa ia melajukan mobilnya. Alan dengan kencang melesat bagai angin yang menyapu debu jalanan.
Ia tidak bisa masuk ke dalam, pintunya masih tertutup rapat. Alan hanya bisa menunggu sampai Dokter membuka pintunya. Cukup lama Alan termenung, dari informasi yang ia dapat Sora kecelakaan bersama seorang lelaki.
Di dalam kemelut hatinya saat ini, ia sudah bisa menduga siapa pria yang bersama istrinya kala itu. Ingin membuktikan kecurigaannya maka Alan pun bertanya pada salah seorang perawat.
"Suster, dimana kamar korban kecelakaan satunya lagi?"
"Ada di ujung sana Pak, lukanya tidak begitu serius. Tapi mungkin belum sadarkan diri akibat obat pemenang. Pasien cukup histeris, sepertinya cukup terpukul dengan kecelakaan yang menimpanya," tutur perawat dengan panjang lebar.
Dari penuturan yang ia dengar dari perawat, Alan tambah yakin. Bahwa itu adalah Ferry, emosi Alan tak bisa terhindari lagi. Matanya yang semula penuh kecemasan kini menyala. Sorot mata kebencia tergambar jelas di wajahnya, mungkin sebentar lagi Ferry akan babak belur dihajar olehnya. Dengan gusar ia menuju ruang rawat dimana Ferry berada.
Cekrek
Alan membuka pintu kamar Ferry, dilihatnya pria yang terbaring di ranjang rumah sakit itu cukup lama. Bila ia tidak melihat banyak perban menempel di tubuh laki laki itu, sudah pasti ia hilang kendali. Alan akan menghajarnya sampai habis habisan.
Alan pun merogoh handphone di saku kemejanya. Ia sedang menghubungi tante Ida, mengabarkan bahwa putranya telah berhasil melukai istrinya.
__ADS_1
"Ferry disini, tante urus dia atau Alan akan membuat pelajaran yang setimpal untuknya," ucap Alan dengan rasa marah yang terpendam dalam hatinya.
"Tunggu.. tunggu, apakah Ferry benar-benar pergi kesana?" Tante Ida seolah-olah tidak percaya, anaknya nekad menyusul Sora.
"Sora dan Ferry mengalami kecelakaan mobil, Tante jemput anak tante. Jangan sampai lukanya semakin parah karena Alan tidak bisa menahan lama untuk tidak menghajarnya," ancam Alan.
"Kamu kirim alamat lengkapnya, Tante akan langsung pergi kesana,"
Alan langsung memutuskan panggilan telponnya, ia keluar dari kamar tempat Ferry dirawat. Alan kembali bergegas menuju ruang instansi gawat darurat. Ia kembali fokus pada kondisi Sora, sejenak ia akan melupakan perihal Ferry. Laki laki gila yang mengejar istrinya.
Dilihatnya dari kejauhan seorang dokter keluar dari ruangan Sora. Alan langsung mempercepat langkah kakinya.
"Bagaimana kondisi istri saya Dok?" tanya Alan pada Dokter yang menangani istrinya.
"Masa kritis sudah terlewati, Kita tinggal menunggu pasien pulih," tutur Dokter tersebut dengan singkat, namun membuat hati Alan sedikit lega. Setidaknya istrinya sudah melewati masa kritisnya.
"Terimakasih Dok,"
Dokter hanya mengangguk pelan, kemudian berlalu meninggalkan Alan, ia juga terlihat buru-buru. Mungkin menuju pasien lain yang juga butuh tindakan medisnya.
Setelah kepergian Dokter yang menangani Sora, Alan kini mengikuti perawat yang memindahkan Sora ke kamar yang berbeda. Ia hanya diam menatap tubuh istrinya yang lemas tak berdaya.
Harus diapakan nantinya? Alan juga binggung. Rasa sedih, kecewa, marah dan terluka campur jadi satu dalam hatinya. Apa yang harus ia lakukan? Alan mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Pikirannya tak menentu, ingin rasanya ia meninju laki laki yang terus mengejar istrinya.
Rasanya ia ingin berteriak sekencang kencangnya, melepas semua emosi yang tertahan. Sejenak kemudian Alan memejamkan matanya, berharap ini hanya mimpi buruk yang tidak pernah menjadi nyata.
Alan salah salah besar, kadang kenyataan tidak seindah angan.
Bersambung
***
Hallo kesayangan...
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Rate Bintang Lima ya.
__ADS_1
Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author ✌