Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Cinta Pertama


__ADS_3

Kondisi kamar Sora masih berantakan. Masih tertinggal banyak jejak, sisa pertempuran Alan dan Stella. Alan kini memungguti satu persatu pakaiannya. Ia ingin menghilangkan semua barang bukti yang ada. Jangan sampai Sora menaruh rasa curiga pada dirinya.


Sora yang sedang dikhawatirkan oleh suaminya, justru malah sedang menunggu kedatangan seorang kenalan. Seorang teman lama yang ia kenal sejak usianya remaja.


Tok tok tok...


Sebuah tangan sedang mengetuk pintu kaca mobil Sora, yang terparkir di halaman kantor nya. Sora yang memang sudah menunggu pria tersebut, langsung membuka pintu mobil. Perempuan tersebut kemudian keluar dengan memancarkan semburat senyum pada wajahnya.


Sora nampak sumringah menyambut kedatangan pria itu. Ia langsung pindah dari mobilnya sendiri, sekarang Sora sudah duduk manis di dalam mobil pria tersebut. Mobil pria itu terparkir tepat di sisi kanan sebelah mobil Sora.


"Gimana kabarmu?" tanya sang pria.


"Baik,"


"Syukurlah,"


"Mas Ferry sendiri, apa kabar?"


"Masih sama, bertahan dengan cinta bertepuk sebelah tangan," ucap Ferry. Ia tersenyum pahit, kenyataan mencintai istri orang membuatnya galau dan risau.


Mendengar pernyataan dari Ferry, Sora hanya tersenyum tipis. Sebagian dari hatinya senang tidak terkira karena pria itu masih menyimpan rasa pada dirinya, namun sebagian lagi sepertinya tengah bimbang.


Sora sudah terikat dengan sebuah pernikahan, tidak mungkin ia menghianati Alan yang sudah sepuluh tahun lebih hidup bersama dirinya.


"Ra...," panggil Ferry.


Suara Ferry yang memanggil namanya dengan lembut membuat bulu-bulu halus Sora merinding semua. Ada sensasi tersendiri yang luar biasa ketika ia berusaha berbuat hal gila. Adrenaline Sora seakan terpacu ketika ia akan bermain hati kembali.


Perempuan itu seperti mengalami puber keduanya, ataukah ini pertanda awal dari kehancuran rumah tangga yang selama ini ia jaga?

__ADS_1


Sora menarik napas cukup dalam, rasanya berat sekali menolak godaan yang menghampiri dirinya. Namun, percuma saja ia membendung hasrat yang sudah terpendam. Sentuhan kecil yang dibuat Ferry, nyatanya membuat Sora bersemangat kembali.


Ferry hanya membetulkan beberapa helai rambut Sora yang terkulai, ia membelai kepala Sora dengan lembut.


"Maaf Ra," Ferry mengecup pucuk kepala wanita yang selama ini ia cintai dalam diam. Begitu banyak kata sesal yang berputar di dalam kepalanya.


Andaikan saja ia berani mengutarakan rasa cintanya, pasti Sora sudah menjadi istrinya. Bukan menjadi istri Alan seperti sekarang ini. Ribuan penyesalan beradu dalam hatinya. Ferry begitu menyesali rasa pengecutnya di kala ia muda dulu.


Namun nasi sudah menjadi bubur, wanita yang ia cintai sudah menjadi milik orang. Ferry hanya mampu mengagumi Sora dari jauh, melalui sebuah bait doa yang tidak berani ia ucapkan. Pria itu berharap akan kandasnya sebuah hubungan antara Sora dan Alan, jika memang kapal keduanya karam. Maka Ferry akan membawa Sora berenang menyebrangi lautan kehidupan baru bersama dengan dirinya.


Itulah harapan yang terpendam dari lubuk hati laki laki yang mencintai Sora sampai saat ini. Jika ia mau, begitu banyak wanita dan para gadis yang akan mengantri untuk mendampingi hidupnya.


Sayangnya, hati Ferry engan berpaling. Cinta pertamanya membuat matanya hanya terpaku pada sosok Sora seorang. Ada aura tersembunyi yang membuat ia terpikat dengan Istri Alan itu. Entah apa yang melekat pada diri Sora, wanita tersebut sudah terlanjur memikat hatinya cukup lama. Meninggalkan bekas nama yang terukir hingga membekas di relung hati paling dalam.


Ferry dengan cinta yang sudah mengakar, kembali mengecup kepala Sora.


"Aku sudah menikah Mas,"


Ucapan Sora berhasil merubuhkan dinding pertahanan Ferry, pria yang hangat dan kuat itu tidak bisa menyembunyikan lara hatinya. Kenyataan yang pahit seolah menyadarkan dirinya. Fakta bahwa wanita yang ia cintai adalah milik orang lain membuat Ferry kembali merasa terpukul.


Ferry memalingkan pandangannya dari Sora, ia tidak ingin wanita itu menangkap gurat kesedihannya. Perlahan Ferry mengusap ujung matanya yang terasa basah.


Ia mengumpat dalam hatinya, bagaimana bisa nasibnya bisa tragis seperti ini. Bertahun tahun bertahan hanya untuk menelan kekecewaan. Ferry dilanda kegalauan yang berat.


Sora tidak buta, ia dapat melihat dengan mata kepalanya. Sora menyaksikan bagaimana Ferry membasuh bulir bening yang memaksa keluar. Bagi Sora, Ferry adalah laki laki yang tangguh. Bagaimana bisa, seorang Ferry menangis hanya karena perkara cinta?


Dalam hati Sora juga dilanda sebuah keraguan dan banyak tanda tanya. Apakah sebaiknya ia memasukkan nama Ferry di dalam hatinya? Apakah ia menjadikan pria itu sebagai pemain cadangan untuk kisah cintanya?


"Itu terlalu kejam Sora, tidak sepatutnya kamu memandang rendah sebuah perasaan," bisiknya lirih. Ia terus merutuki hatinya yang mulai tak selaras dengan akal sehatnya.

__ADS_1


Karena tidak tahan menatap Ferry yang dilapisi aroma kesedihan, Sora dengan suka rela merapatkan tubuhnya. Perlahan Sora memeluk tubuh Ferry yang sangat hangat rasanya.


Wanita itu dapat mencium dengan jelas aroma yang mencuat dari tubuh Ferry. Sora seakan terbuai dengan wanggi tubuh pria lain selain suaminya. Aroma asing yang membuat ia ketagihan, kini ia mulai terhipnotis dengan wangi yang Ferry tawarkan.


"Maaf Ra," ucap Ferry. Sepertinya ia sudah tidak dapat menahan lagi. Sebuah gejolak tiba-tiba bangkit bersamaan dengan tubuh Sora yang merekat pada tubuhnya.


Sebuah perselingkuhan kini tertulis kembali, Ferry melanjutkan cinta pertamanya yang lama terpendam. Rasa cinta yang tidak pernah padam. Hanya untuk Sora, tidak ada yang lainnya.


Ferry melepaskan tautan badan antara dirinya dan wanita yang paling dicintainya, bahkan ia kini sudah memegang dagu lancip milik Sora. Matanya tidak lepas dari Sora.


Dengan perlahan Ferry mendekatkan wajahnya, semakin lama semakin dekat. Mata keduanya saat ini sama-sama terpejam.


Keduanya cukup lama tengelam dalam asmara yang terlarang. Baik Ferry maupun Sora sama-sama menikmati cinta terlarang yang bersemayam dalam hati mereka berdua.


Setelah beberapa waktu kemudian, Sora sudah duduk di dalam mobilnya kembali. Sudah sore, waktunya ia harus segera pulang. Suaminya pasti sudah menanti kepulangan dirinya.


"Hati-hati Ra," pesan Ferry menutup pintu mobil Sora.


Kali ini Ferry melepas kepergian Sora dengan perasaan yang sedikit berbeda, ia seperti melepas kekasihnya untuk bersama kekasih yang lainnya. Ia menerima sebuah kenyataan, menjadi yang kedua untuk cinta pertamanya.


Bersambung


***


Hai para para Pembaca tercinta, Mohon dukungan dari kalian ya, jangan lupa tingalkan jejak like, bintang lima, vote, dan Komen ya... Dukungan kalian sangat berarti bagi author. ❤


Semoga Kita dapat mengambil pelajaran dari cerita Sora ya, buang buruknya... Ambil yang baiknya.


Salam hangat dariku 💕

__ADS_1


__ADS_2