
Drettt... Drettt... Ponsel Alan bergetar. Ada sebuah panggilan masuk dalam ponselnya. Tanpa menatap layar ponselnya, Alan langsung menerima panggilan masuk tersebut.
"Hallo," ucap Alan dengan suara beratnya. Ia terlihat masih kesal.
"Bagaimana, sudah kau urus.. itu istrimu?" cecar suara di balik telephone.
"Ini urusan keluarga saya, tante tidak usah ikut campur!" nada bicara Alan sudah Naik beberapa oktaf, matanya pun mulai memerah. Pria itu sepertinya benar-benar sedang dibakar api amarah.
"Bagaimana saya tidak ikut campur? ini juga mengenai anak saya!" suara di balik telephone juga tidak kalah marahnya dengan Alan.
Mereka berdua sama-sama dikuasi oleh emosinya masing-masing. Alan semakin erat mencengkram setir mobilnya. Rasanya ia ingin sekali menghajar teman lamanya itu. Alan tahu betul, Ferry menyukai istrinya sejak mereka satu SMA. Hanya saja, Sora kala itu lebih memilih dirinya.
Alan tidak menyangka, bahwa masih ada rasa yang tertinggal di benak Ferry.
"Shiiiit..." Alan mendesis kesal.
Sambungan telpon masih menyala.
"Hallo.. Halloo..." teriak Mama Ida di ujung telephone.
"Tante jaga saja anak tante, jangan sampai saya menghajarnya. Bila sampai saya tahu dia masih menghubungi istri saya, saya tidak akan sungkan sungkan menghajar anak tante," ujar Alan dengan penuh benci dan marah yang membuncah.
"Jaga juga itu istrimu, jangan sampai lepas. Tante juga tidak akan segan segan membuat perhitungan dengan istrimu," ancam Mama Ida balik, ia tidak terima kalau hanya anaknya yang disalahkan.
Alan langsung membanting ponselnya di atas dashboard, tangannya mengepal. Dadanya berdegup kencang, bukan karena ia sedang jatuh cinta. Namun ia sedang menahan marah dalam dadanya. Alan memejamkan kedua matanya, ada rasa sakit yang mengusik. Rasa kecewa bercampur marah, Alan benar-benar ingin menghajar pria yang sudah mengusik istrinya.
Setelah bisa mengendalikan emosinya, Alan menyalakan mesin mobilnya. Ia melesat dengan cepat, menembus debu mengukur jalanan. Ia berjalan tanpa arah, Alan ngebut dijalanan. Hingga ada mobil polisis yang membuntuti mobilnya.
Wiu... Wiu.. Wiu... Wiu.. Wiu... Wiu...
Mobil polisi membuntuti Alan yang kebut-kebutan di jalan raya. Tidak sadar jika dibuntuti oleh polisi, Alan masih terus melesat seperti Michael Schumacher yang sibuk mengukur jalan raya. Dengan kecepatan penuh, Alan melepaskan kekesalannya.
__ADS_1
Sampai pada pemberhentian lampu merah, Pak polisi menghadang Alan dengan mobil patroli yang diparkir tepat di depan mobil Alan. Salah satu petugas polisi langsung mengetuk kaca mobil Alan.
Alan yang galau bin kacau, dibuat terheran heran karena ada mobil polisi yang menghentikan laju kendaraan nya. Ia langsung membuka kaca mobilnya.
"Maaf ada apa ya Pak?" tanya Alan.
"Selamat pagi, maaf bapak bisa turun sebentar?" ucap salah satu petugas polisi.
Alan langsung turun dari mobilnya, ia langsung menepi bersama dua orang polisi. Mereka bertiga berbicara amat serius, Alan sendiri sangat terlihat kooperatife denga para petugas, hingga ia hanya dikenakan pasal ringan. Setelah mendapat surat tilang, kini Alan kembali masuk mobilnya.
Alan mendesis dan tersenyum kecut. Lengkap sudah kekesalannya kali ini. Ia langsung tancap gas, namun dengan kecepatan sedang. Ia enggan bila harus kena tinggal dua kali dalam sehari.
Alan mengendarai mobil tanpa arah, tanpa ia sadari kini ia sudah sampai di depan rumahnya sendiri.
"Sudah pulang Pak?" sapa Pak Dadang sembari membuka pintu gerbang untuk juragannya.
Alan hanya melempar senyuman, ia sedang malas untuk berbicara. Setelah memarkir mobilnya di garasi, Alan langsung masuk ruang kerjanya. Ia pun melangkah ke sudut ruangan. Tangannya menyambar satu buah botol minuman.
Tanpa gelas, Alan langsung menenggak minuman itu langsung dari botolnya. Amarah sedang menguasai hati Alan. Dengan mabuk-mabukan ia ingin melupakan rasa kecewanya pada Sora. Jujur ia sangat terluka, ia tidak rela istri yang selama ini bersamanya harus dijamah oleh pria selain dirinya.
Alan sama sekali tidak peduli, kini ia sudah hilang kendali. Efek alkohol juga sudah merasuk pada tubuhnya. Alan berjalan sempoyongan menuju pintu keluar ruang kerjanya.
Ia hampir terjatuh, untung ia bisa berpegang pada dinding rumahnya. Dinding yang menjadi saksi bisu, tiap kesedihan dirinya dan kesedihan Sora. Rumah ini bagai penjara bagi mereka berdua. Romansa yang hangat di awal pernikahan, kian lama kian hambar.
Kini Alan meringkuk di pinggir sofa, tangannya mencari ponsel dalam saku celananya. Di tengah mabuknya, ia menghubungi Sora.
"Halo Mas," suara Sora mengema di telinga Alan.
"Haruskah kita bercerai Ra?" tanya Alan yang sudah terpengaruh oleh minuman keras.
Deg, jantung Sora seakan berhenti berdetak. Rasa sesak memaksa masuk dalam dadanya. Sunggu ia tidak inggn berpisah dengan suaminya.
__ADS_1
Dan pangilan telpon pun terputus.
"Mas, Hallo Mass!" Sora terus berteriak karena sambungan telponnya telah terputus.
Sora langsung menyambar tas yang ada di atas meja kerjanya. Ia langsung meninggalkan kantor, Sora tidak peduli dengan rekan kerjanya yang memanggil namanya. Wajah wanita itu menjadi pucat pasi ketika Alan mengataka kata cerai, meski itu hanya sebuah pertanyaan. Bagi Sora, kata cerai yang keluar dari bibir suaminya, seperti bom atom Hiroshima yang memporak porandakan hatinya.
Sora langsung menghentikan taksi yang melintas di depan kantornya. Dengan mata yang berkaca kaca wanita itu masuk ke dalam taksi. Tangannya masih bergetar sembari memegang handphone yang terus ia putar putar.
Bapak driver sempat melirik lewat kaca, di lihatnya si penumpang bersimbah air mata. Tiada komentar yang terucap, ia hanya fokus melajukan kendaraan nya.
Butuh waktu satu jam, akhirnya taksi yang Sora tumpangi sampai di depan rumah. Usai membayar ongkos taksinya, Sora menghambur masuk ke dalam rumah.
"Sudah pulang Non?" tanya Pak Dadang. Namun sayang, Sora yang dilanda kegalauan hebat tidak menjawab sapaan nya tersebut. Sora amblas masuk ke dalam rumah tanpa peduli pak Dadang yang berbicara pada dirinya.
Mata Sora kembali berkaca kaca, kali ini kacanya sepertinya akan pecah. Sebuah bendungan besar, sebentar lagi akan jebol. Setelah Sora menatap suaminya, tangisnya pun pecah juga. Sora langsung memeluk suaminya yang meringkuk di pinggir sofa.
Sora yakin betul, bahwa suaminya sudah mengetahui perselingkuhan yang ia lakukan. Sikap Alan sedari pagi memang membuatnya curiga. Ia pun memeluk erat tubuh Alan.
"Tega kamu Ra!" ucap Alan ketika tubuh Sora memeluk tubuhnya.
Masih dikuasai minuman keras, Alan melepaskan pelukan Sora.
"Jahat sekali kamu Ra!" tambah Alan. Kata kata itu sukses membuat tangis Sora semakin menjadi.
Ada bulir bening yang keluar di sudut matanya. Pria itu menangis tanpa suara.
Bersambung
***
Hai Para Pembaca dan Author kesayangan jangan lupa pencet tombol Hati, Like, Komen, Vote dan Rate Bintang Lima ya...
__ADS_1
Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author 🍒
Terimakasih ❤