Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Bagaimana Dengan Rahim Wanita Lain?


__ADS_3

Sora sudah sampai di depan rumahnya yang megah, ia turun dari sebuah taksi. Pak Dadang membukakkan pintu untuk dirinya.


"Mas Alan sudah pulang Pak?" tanya sora pada pria paruh bayah tersebut.


"Bukannya tadi pergi bersama nyonya?"


Sora terdiam seketika, bearti suaminya Belum pulang, setelah meningalkan dirinya sendirian di sebuah kafe saat makan malam tadi.


"Tadi Mas Alan ada keperluan mendadak sepertinya," ucap Sora mencari jawaban yang pas untuk Pak Dadang.


"Ya sudah Pak, saya masuk dulu," Sora meningalkan halaman rumahnya yang luas. Ia berjalan masuk menuju rumahnya yang nampak sepi dan kosong. Sebuah rumah yang seperti tidak berpenghuni, karena suasananya yang teramat sepi.


Krietttt..


Sora membuka pintu utama rumahnya, sebuah rumah yang dihadiahkan padanya saat awal pernikahan dulu. Harusnya rumah ini menjadi tempat keduanya mengukir banyak cerita yang membahagiakan. Namun kenyataannya, hanya menyisahkan kisah sedih antara Sora dan Alan.


Nampak kedua mata Sora masih sembab, jejak air mata masih nampak jelas di raut wajahnya. Sora kembali termenung seorang diri. Kesepian menyelimuti hati Sora, ia begitu ingin kehadiran seorang anak di kehidupannya. Namun kenyataan begitu kejam terhadap hidupnya.


Malam ini Sora tidak bisa tidur. Berkali kali ia mencoba memejamkan kedua matanya, namun tidak kunjung terpejam. Pikirannya mengajak Sora berjalan kemana-mana. Karena rasa kantuk yang tak menghampiri dirinya, Sora memilih bangkit dari ranjangnya yang cukup besar. Sebuah ranjang yang bisa muat untuk empat orang. Ranjang itu kini bagai penjara bagi Sora.


Sebuah penjara yang memenjarakan hatinya, Sora hanya ingin kasih yang hangat tidak butuh kemewahan yang terasa hambar bagi dirinya.


Perlahan kakinya mendekati pintu keluar, matanya menelusuri tiap sudut ruangan di depannya. Tiba-tiba kakinya terhenti tepat di ruang kerja Alan. Bayangan saat ia ditinggalkan Alan di kafe tadi menghampiri dirinya.

__ADS_1


Sora dengan lesu membuka pintu ruang kerja suaminya, pintu itu jarang di kunci. Alan tidak memiliki rahasia yang harus disembunyikan dari Sora. Sebelumnya hubungan mereka tidak memiliki masalah, hanya perkara anak saja yang membuat mereka merenggang.


Sora perlahan berjalan mendekati meja kerja Alan, ia duduk cukup lama di sana. Sora sedang mencari jejak sentuhan Alan lewat ruang kerjanya. Beberapa kali Sora melirik jam yang menempel pada dinding. Sudah larut malam, Alan tidak kunjung pulang.


Merasa bosan, Sora kembali melanjutkan langkah kakinya. Ia berhenti saat matanya menangkap satu botol anggur yang terletak di sudut kamar. Jelas itu milik Mas Alan suaminya, batin Sora.


Sora meraih botol minuman yang selalu ia salahkan, minuman yang selalu membuat ia semakin meratapi nasibnya. Kali ini Sora ingin mencicipi rasa anggur itu, benarkah beban di pundaknya akan hilang bila ia menengak minuman haram itu? Dengan rasa ingin tahu yang besar, Sora meraih dan membuka tutup botol minuman itu.


Tanpa gelas, Sora meminunya langsung dari botol. Pikirannya yang kacau membuat akalnya sehatnya menjadi kurang waras. Saat pertama kali minuman menerobos tenggorokannya, Sora mengerenyit. Rasa asing menjalar pada indra perasanya.


Sora yang sedang dilanda masalah, memilih menghabiskan seluruh isi botol anggurnya. Kini botol yang ada di tangannya sudah kosong tak berisi. Sora yang sudah terpengaruh oleh alkohol nampak sudah mabuk.


Ia berjalan sempoyongan menuju kamarnya, Sora sudah kehilangan kesadaran. Ia merancau tak karuan. Kata-kata yang selama ini ia pendam di dalam lubuk hatinya kini ia keluarkan semuanya. Sesekali ia tersenyum seperti orang gila. Sora sudah berada pada titik paling bawah. Ia benar-benar telah kehilangan akal sehatnya.


Ia merosot di atas lantai yang licin, kakinya seakan tak mampu menyangah tubuhnya lagi, bulir bening sudah membasahi wajahnya.


Sora berusaha bangkit dengan tertatih-tatih, namun tubuhnya yang bergetar membuat dirinya sulit untung berdiri tegak. Ia hanya bisa meringkuk meratapi nasibnya.


"Mengapa aku tidak bisa, sedangkan lainya dengan mudah," ucap Sora, kali ini kata yang keluar dari bibirnya sangat lirih. Selang beberapa saat tubuh Sora melemas. Sora jatuh pingsan di dalam rumahnya sendiri, rumah yang penuh dengan aroma kehampaan.


Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, terdengar deru mesin mobil milik Alan. Pria itu baru pulang setelah puas menenangkan diri. Alan membuka sendiri pintu gerbangnya, karena Pak Dadang ternyata ketiduran. Namun Alan tidak mempermasalahkan, ia sadar ini sudah terlalu larut untuk pulang.


Setelah memarkir mobilnya di garasi rumahnya, Alan memasuki rumah. Dengan perasaan gontai Alan melangkahkan kakinya. Ia merasa malas jika harus bertatap mata dengan Istrinya. Ia masih marah terhadap Sora yang meminta dirinya menikahi wanita lain untuk mendapatkan keturunan.

__ADS_1


Alan merasa Sora memandang sebelah mata kesetiannya. Jika dia tidak mencintai Sora dengan tulus, sudah pasti ia akan menikah lagi sejak dulu. Karena Ibunya sudah lama memaksa dirinya untuk menikah lagi. Hanya saja rasa cintanya tidak membiarkan wanita yang paling ia kasihi menjadi terluka hatinya.


Bagi Alan, kebahagiaan Sora adalah yang paling utama. Suka dan duka mereka akan selalu bersama, itu sudah menjadi janjinya saat ijab qobul ia ucapkan. Jika memang belum di karuniai anak, mungkin itu ujian pernikahan untuk dirinya dan Sora.


Alan berencana tidur di ruang tamu saja, namun perasaannya menjadi tidak enak. Ia teringat telah meningalakan Sora sendirian saat makan malam. Alan pun naik ke lantai atas kamarnya. Saat akan menuju kamarnya, Alan begitu terkejut menyaksikan Sora yang terbaring di atas lantai.


"Sora"


"Soraya," panggil Alan berkali-kali, namun tak kunjung mendapatkan sahutan dari istrinya.


Bau alkohol menyengat dari mulut istrinya. Alan yang hafal bau itu langsung mendesis. Perasaan Alan saat ini tidak bisa di gambaran.


Ekspresinya pun susah untuk dilukiskan. Pri itu langsung membopong tubuh istrinya, Alan meletakkan Sora di atas ranjang kamarnya. Alan memijat kepalanya, ia merasa begitu pusing menghadapi semua ini.


Alan yang merasa lelah, membaringkan tubuhnya di samping Sora. Ia berkali-kali mencoba menutup kedua matanya, lambat laun ia tertidur pulas di samping istrinya.


Mata Sora terbuka ketika matahari menerobos masuk kamarnya, ia mengedipkan kedua matanya. Memjernihkan pandangannya yang nampak buram. Sora juga memegang kepalanya dengan kedua tangan. Rasa pusing menyerang kepalanya.


Setelah berhasil menguasai kesadarannya, Sora beralih ke samping pria yang tidur di sisinya. Ternyata Alan suaminya pulang tadi malam, batin Sora.


Sora menatap wajah suaminya dengan dalam. Perlahan ia melayangkan tangannya untuk menyentuh wajah Alan. Dengan lembut Sora membelai halus paras sang suami, hatinya menjadi bertanya-tanya. Sangupkah ia membagi pria ini dengan perempuan lain? Sangupkah Sora menyaksikan Alan memadu kasih, selain dengan dirinya?


Sora kembali dibalut keraguan, ia benar-benar ingin memiliki anak. Apakah ia harus membagi Alan untuk mendapat anak dari rahim perempuan lain? Tidak masalahkah meski anak Alan tidak lahir dari rahimnya? Bagaimana bila Alan mencintai perempuan selain dirinya? Pagi penuh tanda tanya mengawali hari-hari Sora.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2