
Pagi yang panas harus segera usai, bukan panas karena sinar mentari pagi. Tapi panas dari api asmara yang membara dari sepasang dua sejoli. Sora mencoba melepaskan diri dari dekapan Alan. Ia melirik jam yang berdiri tegak di sudut ruangan.
"Udah Mas, ayo jalan. Nanti Mas kesiangan," ucap Sora dengan manja.
"Sebentar lagi, aku masih belum puas," ucap Alan. Lelaki itu enggan melepaskan Sora untuk saat ini.
Merasa kesal dengan ulah suaminya, Sora langsung mencubit pinggang Alan.
"Masih pagi Mas," kata Sora dengan melotot pada suaminya. Ia mendorong tubuh Alan, hingga tangan Alan terlepas dari pinggang kecilnya.
"Ayolah....!" Pinta Alan, ekspresi wajahnya seperti anak kucing yang meminta makan.
"Aku malas, harus mandi lagi,"
"Biar aku yang mandiin," goda Alan pada istrinya, membuat Sora semakin kesal dibuatnya.
Kali ini bukan cubitan yang Alan dapatkan, namun pukulan kecil jari jemari Sora yang menghujam dada Alan. Pukulan dengan irama syahdu, membuat Alan semakin tergila-gila dengan pemilik bibir merah yang merekah itu.
Sora memberi tatapan yang tajam pada suaminya, ia enggan meladeni Alan. Jika terus bermain main, maka nanti mereka berdua akan kesiangan dan terlambat.
"Udalah Mas, Ayo berangkat," Sora menyambar tangan Alan, rasanya Alan tidak akan menghentikan aksinya bila Sora tidak memaksanya.
Alan dengan senyum puasnya mengikuti langkah kaki istrinya. Sedangkan Pak Dadang sudah bersiap di pos jaga, melihat tuan rumah sedang berjalan menuju ke garasi. Pak Dadang langsung bersiap membuka pintu gerbangnya.
Ada senyum kecil yang terpancar dari paras pria paru bayah itu, Pak Dadang merasa ikut senang menyaksikan dari jauh keharmonisan keluarga Tuan nya. Rasanya baru kemarin keluarga itu nampak kacau sekali.
Ia kerap sekali memergoki istri tuan nya mengelap kedua pipinya. Kadang ia juga sering menyaksikan istri Alan, termenung sendirian di dalam rumah yang megah itu.
Orang luar yang memandang, pasti juga berpikiran sama dengan Pak Dadang. Sora yang kemarin, sering memperlihatkan wajah muramnya. Hanya sesekali, nampak senyum yang terpaksa keluar dari bibirnya.
Namun kali ini, sepertinya Sora tengah berbahagia. Akan tetapi, Pak Dadang belum tahu saja, isi hati Sora yang sebenarnya.
__ADS_1
"Pak, jagain rumah ya," ucap Alan sembari masuk dalam mobilnya. Ia kini sudah bersiap di balik kemudinya.
Sora pun sudah duduk manis di sebelah Alan, ia nampak sedang memasang sabuk pengaman. Sambil mengaitkan sabuk pengamannya, Alan kembali menceramahi dirinya.
"Ra, nanti kalo ada omongan yang tidak enak jangan didengarkan ya!" perintah Alan.
"Iya Mas, tidak usah khawatir. Aku tidak selemah apa yang Mas bayangkan,"
"Awas loh, jangan sampai nangis di sana!" ejek Alan.
"Memangnya aku anak kecil Mas?"
"Kamu memang bukan anak kecil Ra, tapi sifat cengeng kamu itu loh membuat kamu gampang banget untuk nangis," ujar Alan.
Sora langsung mengerucutkan ujung bibirnya ketika mendengar kalimat yang di ucapkan sang suami. Memang benar usianya sudah tidak muda lagi, Sora juga mengakui jika ia termasuk perempuan yang cengeng. Bila ada yang yang membuatnya bersedih hati, dengan mudahnya bulir bening akan menetes di kedua pipinya.
Sesaat kemudian, mobil mereka melaju meningalakan kediaman mereka. Sora terlihat sesekali melirik paras rupawan sang suaminya yang sedang mengendarai mobil. Mobil pun melaju, membelah jalan yang terbentang di hadapannya. Sora kini sudah siap bertemu keluarga besar dari pihak suaminya.
"Mbak yu, Alan dan istrinya kok belum datang?" tanya Tante Susan. Ada nada nyinyir di dalam kalimat yang keluar dari bibir Tante Susan.
Tante Susan merupakan adik ipar ibunda Alan. Tante Susan menikah dengan Om Anwar yang merupakan paman paling muda Alan. Bahkan usia mereka tak terpaut jauh, hanya selisih lima tahun.
"Seperti, Alan akan datang sendiri," ucap Ibu yang sedang sibuk menata kue untuk acara nanti.
"Loh, kemana Sora mbak yu? Kok tidak ikut?" tanya Tante Susan dengan penasaran. Kalau sampai Sora tidak hadir dalam acara kumpul-kumpul bareng keluarga, nanti siapa yang akan dibuat bahan perhunjingan oleh dirinya. Tante Susan sudah terbiasa mengunjing Sora terang terangan di depan orangnya langsung.
"Kata Alan, tidak enak badan," Ibu lama lama malas meladeni pertanyaan adik ipar nya tersebut.
"Wah... Jangan-jangan lagi ngidam ya mbk yu?" ujar Tante Susan dengan nada yang dibuat-buat.
Mendengar celotehan adik iparnya, ibu langsung melempar lap yang ada di depannya. Seakan menandakan bahwa ia sedang kesal. Sebenarnya, ia juga kesal. Mengapa Sora tidak hadir dalam forum keluarga ini. Meskipun Sora tidak bisa memeberikan anak untuk saat ini, setidaknya Sora menjaga sikapnya. Bukan malah menghidari dirinya beserta keluarga besarnya, Ibu pun membatin dalam hatinya.
__ADS_1
Deru mesin mobil yang terdengar dari dalam membuat ibu langsung bangkit dari tempatnya semula.
"Panjang umur kamu nak, tuh sepertinya Alan datang," ucap Ibu pada Tante Susan yang semula membantu ibu menyiapkan beberapa kue dan makanan lainnya.
Ibu langsung berjalan menuju ruang tamu, ia ingin menyambut putra semata wayangnya itu. Putra kesayangan yang tak kunjung memberinya cucu.
"Sudah datang kamu nak," Ibu langsung memeluk putra kesayangannya.
"Iya Bu, tuh ada Sora juga,"
Mata keduanya menatap Sora yang baru keluar dari mobil.
"Assalamualaikum Bu," Sora langsung mencium pipi ibu mertuanya. Meski tampak masih tegang, hubungan di antara keduanya baik Sora maupun Ibu mencoba untuk senyaman mungkin. Merasa tidak terjadi apa-apa diantara keduanya.
Biarlah perang dingin cukup di hati keduanya, jangan sampai mereka pertontonkan di khalayak ramai. Akan memalukan jika di depan umum terlihat tidak akur.
Begitulah mereka, memainkan sebuah sandiwara hati. Sebuah drama antara menantu dan mertua. Di depan semua orang terlihat akur namun dalam hati masing-masing saling menghujat. Entahlah siapa yang salah, hanya saja Sora tidak begitu suka dengan sikap mertua nya saat di belakangnya.
Sedangkan Ibu juga demikian, ia tidak menyukai menantunya karena tak kunjung hamil anak dari putranya. Rasanya ia ingin sekali menikahkan putranya kembali dengan wanita subur di luar sana.
Ibu bahkan sudah menawarkan beberapa gadis desa yang cantik dan mau jadi istri kedua untuk Alan. Hanya saja Alan menolak mentah mentah ide gila Ibunya. Ia merasa masih waras dan tidak mungkin menuruti kemauan Ibunya. Bisa-bisa rumah tangganya hancur seketika.
Mungkin Sora mengijinkan dirinya menikah lagi, namun Alan tahu betul karakteristik istrinya. Hanya bibirnya saja yang berbicara iya, namun hatinya jelas menolak. Istri mana yang mau dimadu? Alan benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikir Ibunya. Toh mereka, Ibu dan istrinya sama-sama perempuan. Harusnya Ibunya lebih tau perasaan sesama perempuan.
Alan tersandar dari lamunanya ketika Ibunya menarik sebelah tangannya, menyuruh untuk segera masuk.
"Ayo masuk dulu," ucap Ibu.
Sora pun ikut masuk mengekori sang suami, sesampainya di dalam rumah. Sora sedikit tertegun. Sesaat ia dapat menangkap sosok Tante Susan yang sedang sibuk menghias kue tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Perang dimulai," ucap Sora dengan lirih.
__ADS_1
bersambung.