Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Amarah Semua Orang


__ADS_3

"Ferr... Ferry... Buka pintunya!" Mama Ida terus meneriakkan nama putranya, ia seakan tidak ikhas anaknya berduaan denga istri orang lain. Bisa-bisa putranya digrebek sama Pak RT dan para warga.


"Mama pulang saja, nanti Ferry pulang ke rumah Papa," teriak Ferry dari balik kamar.


Mama Ida yang merasa sangat kesal, langsung menyambar tas yang semula ia letakkan di atas sofa. Tensi Mama Ida pasti sudah melesat naik, untung ia tidak memiliki riwayat sakit jantung. Berkali kali Mama Ida mengelus dadanya. Bila bisa, saat ini ia ingin menyerang Sora dan putranya sendiri.


Darahnya sudah di ubun-ubun. Tidak ingin mati sebelum menimang cucu, dengan terpaksa Mama Ida meninggalkan kediaman sang putra dengan emosi yang masih menempel pada dadanya.


"Perempuan macam apa itu? Sudah punya suami, justru bermalam di rumah pria lain. Bodoh sekali itu Ferry. Ya Tuhan... Cobaan macam apa ini," omel Mama. Namun tidak ada seorang pun yang mendengar omelannya tersebut.


Mama Ida menaiki taxi dan pergi meninggalkan rumah Ferry yang penuh dengan kegaduhan. Mama masih terlihat kecewa dengan sikap putranya tersebut. Di dalam taxi yang ia tumpangi, Mama Ida mencari akal untuk memisahkan putranya dari jeratan Sora.


Di tempat yang berbeda, rumah Alan. Pria tersebut masih tertidur pulas di atas ranjang. Cahaya matahari yang menerobos cela jendela kamar, membuat Alan silau. Sinar matahari sukses membangunkan tidurnya. Setelah mendapatkan kesadaran penuh, Alan mencari ponselnya.


Dengan mata yang masih sedikit buram, ia melakukan panggilan vidio call pada istrinya...


Drettt... Drettt....


Handphone Sora bergetar. Sora yang masih diatas ranjang langsung bangkit. Dengan gesit ia melepaskan pelukan nya pada Ferry.


"Sebentar, Mas Alan telpon!" Sora menjauh dari Ferry. Ia tidak ingin suaminya curiga.


Sora menolak panggilan vidio yang datang, setelah menolak panggiln tersebut. Sora buru-buru menelepon suaminya.


"Maaf Mas, jaringannya lagi susah. Sinyalnya naik turun. Telpon biasa saja ya," ucap Sora lewat sambungan telpon. Ia beralasan tentang sinyal, padahal ia tidak ingin ketahuan sedang di rumah seorang pria.


"Kapan pulang?" Alan langsung to the point, karena dari semula ia tidak suka istrinya tidur di luar.


"Iya, ini nunggu suaminya temenku Mas. Sabar Mas, bentar lagi paling dia juga datang," ucap Sora. Ia memutar otak untuk membuat alasan demi alasan guna menutupi semua kebohongannya.


"Ya sudah, langsung pulang. Tidak usah kemana-mana, badanku agak gak enak. Sepertinya aku gak masuk kerja. Kamu cepat pulang ya," titah Alan.


"Mas sakit?" tanya Sora dengan wajah yang khawatir.


Melihat Sora dari jauh, Ferry meremas selimut yang menutupi tubuhnya. Ia bisa mendengar pembicaraan suami istri tersebut. Hatinya terasa panas, ia cemburu dengan hubungan Alan dan pujaan hatinya.


"Ra...!" teriak Ferry dengan sengaja.


Karena kaget, Sora menjatuhkan handphone nya ke lantai.

__ADS_1


Ferry yang menyaksikan betapa gugupnya Sora, meringis girang. Sakit hatinya terbayar sedikit, ketika melihat raut wajah Sora yang penuh dengan cemas dan ketegangan. Ia lantas bangkit dari singah sananya, Ferry melangkah mendekati Sora. Ia memeluk tubuh Sora dari belakang.


Sementara Sora, jantungnya masih berdegup kencang. Duh, apa yang akan suaminya pikirkan, batin Sora.


Ia melepas pelukan hangat dari Ferry.


"Jangan begitu, nanti ketahuan Mas Alan bagaimana?"


"Sengaja!" tukas Ferry. Pria tersebut berkata jujur dan sangat berani.


"Kalau sampai Mas Alan tahu, kita pasti tidak akan bisa bertemu lagi," jelas Sora. Alisnya terangkat seakan menjelaskan apa yang akan terjadi pada keduanya, jika Alan sampai tahu rahasia perselingkuhan mereka.


"Sebelum itu terjadi, aku akan membawamu pergi!" ucap Ferry dengan tegas.


"Jangan gila kamu Mas!!" potong Sora, ternyata Ferry lebih dari pada apa yang ia bayangkan. Pria tersebut seakan tidak takut resiko apapun.


"Aku gila karenamu!" tutur Ferry tidak mau kalah dari Sora.


Sora seketika itu langsung terdiam. Iya, ia memang salah. Sora tahu betul semua salahnya. Ia pun jongkok, memungut Handphone nya yang terjatuh. Ia perlahan menyalakan hanphone miliknya.


Wanita itu kembali menghubungi sang suami.


"Suara siapa tadi?" Alan sudah sangat curiga.


"Itu, temen aku yang datang menjenguk!" ucap Sora yang sudah mulai salah tingkah.


"Laki-laki?"


"Iya,"


"Vidio Call sekarang!!!"


Mati aku, batin Sora bergejolak. Bagaimana kalau sampai ketahuan? Jujur kalau bukan karena stres akibat persoalan anak, sudah pasti hidupnya bahagia dan damai bersama Alan. Suami yang selama bertahun-tahun mengisi hatinya penuh dengan suka cita. Rasanya ia tidak rela jika harus ketahuaan untuk saat ini.


"Hallo.... Halooo... Mas kok suaranya hilang... Haloo... Suaranya putus putus," Sora langsung mematikan telponya. Ia seperti maling ayam yang akan ditangkap hansip. Tangannya berkeringat dingin, bulunya bergidik. Jantungnya berdebar hebat, sungguh ia belum siap bila harus ketahuan saat ini juga.


Melihat pemandangan yang ada di depan mata kepalanya, Ferry tersenyum kecut.


"Sebegitu takutkah kamu kehilangan Alan?" cibir Ferry, ia bersikap sangat dingin kali ini.

__ADS_1


"Bukan begitu Mas, masalahnya dia begitu tulus pada diriku!"


"Aku lebih tulus!!" Ferry mulai memperlihatkan amarahnya.


"Bukan itu maksudku, dia suamiku. Sudah pasti aku tidak ingin jadi janda," ucap Sora yang menjadi serba salah.


"Shitt.. Lalu aku siapa mu?" tuntut Ferry, ia juga ingin kepastian dari Sora.


Suasana hening seketika, seperti saat ujian sekolah. Tanpa ada suara yang bisa didengar oleh telinga. Hanya dengung nyamuk yang ada dalam kamar yang menjadi satu -satunya sumber suara.


Mata Ferry kini mengujam menatap dalam pada Sora, ia ingin tahu jawaban apa yang akan diberikan oleh seorang Sora.


Sora sendiri binggung harus memberi jawaban, ia takut salah kata dan membuat keadaan semakin runyam.


"Mas Ferry.... Seseorang yang spesial,"


Senyum lebar mengembang di bibir Ferry, ia sudah masuk ke dalam tipu daya Sora.


Sora sendiri mengucapkan kata itu begitu saja demi keluar dari permasalahan ini, rasanya ia tidak ingin Ferry terprovokasi dengan hubungan dirinya dan Alan. Akan lebih baik mengambil hati Ferry, agar laki laki itu segera tenang.


Wanita gila itu sudah memberi harapan palsu pada pria yang tulus mencintai dirinya sejak dulu. Demi selamat dari amarah Ferry, Sora berkata-kata yang manis. Agar pria itu tidak hilang kendali.


"Ya sudah, aku pulang dulu ya Mas,"


"Tidak mandi," tawar Ferry, ada maksud tersembunyi dalam tawarannya itu.


"Gak.. gak udah," Sora tesenyum kecut. Untuk saat ini, sekujur tubuhnya sudah sangat lelah.


"Aku cuci muka lagi saja," Sora berjalan ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi yang penuh sejarah tersebut, Sora menatap bayang wajahnya di balik cermin. Ia begitu terkejut, menatap pantulan dirinya. Begitu banyak stempel yang Ferry taburkan pada kulitnya. Membuat Sora semakin prustasi, bagaimana nanti ia akan pulang?


Bersambung


***


Hai Para Pembaca dan Para Author kesayangan. Jangan bosan-bosan dukung author ya.. Tekan tanda Hati, Like, Commen, Vote dan Rate Bintang lima ya.


Dukungan kalian, sangat berarti bagi author. Terimakasih 😍🍒🍒🍒

__ADS_1


__ADS_2