
Suasana rumah Ferry yang nampak asri, kini berubah. Keteduhan yang semula tergambar berganti dengan kekisruhan yang diciptakan sang penghuni. Ferry yang bermain api dengan istri orang, harus siap-siap. Siap luka batin dan raga.
"Siapa yang kamu cintai? suamimu atau anak Tante?" gertak Mama Ida. Dahinya berkerut, menatap tajam pada Sora yang berani bermain-main dengan putra kesayangan nya.
Sedangkan Ferry harap-harap cemas, wajahnya menggambarkan banyak pengharapan. Berdoa agar Sora meneriakkan namanya. Dengan pandangan sayu, ia menatap ke arah Sora. Besar harapan Ferry Sora memilih dirinya dari pada suaminya sendiri.
Kini, Sora seperti berada di kursi pesakitan. Ia seperti terdakwa yang sedang diadili. Ini semua memang kesalahannya yang sangat fatal. Mau tidak mau, ia harus tanggung jawab dengan apa yang ia lakukan.
"Maaf Tante," ucap Sora dengan lirih. Ia menatap Mama Ida dengan wajah penuh rasa bersalah. Dan suara Sora yang lirih itu, terdengar jelas di telingga Ferry.
Ferry seakan menangkap sinyal kekalahan. Belum selesai Sora meneruskan kata-katanya, pria tersebut menarik pergelangan tangan Sora. Ia membawa masuk Sora dalam kamarnya.
Sora sempat terhenyak, ketika Ferry menarik dirinya. Mama Ida yang menyaksikan pemandangan janggal di depannya, harus menarik napas dengan dalam. Rasa kesal dalam hatinya kian bertambah. Rasanya ia ingin menarik Sora dari tangan putranya.
"Ferr... Ferr..," teriak Mama Ida, namun tidak dipedulikan oleh sang putra. Ferry dengan sigap sudah mengunci pintu kamarnya begitu sang Mama menyusul dirinya.
"Mas, apa yang kamu lakukan?" pekik Sora. Ia tidak habis pikir dengan apa yang Ferry lakukan.
"Jangan bilang kamu milih Alan!" ucap Ferry setengah berteriak. Hatinya sedang kacau. Rasanya baru semalam ia mengunjungi surga, mengapa pagi-pagi ia harus di lempar ke neraka? Ferry tidak bisa menerima kenyataan. Tangannya mengepal, ia seakan menahan amarah.
"Mas, aku memang sudah menikah! dan aku rasa, aku tidak bisa meninggalkan Mas Alan!" tukas Sora. Ia menatap penuh harap, semoga Ferry mengerti kondisinya.
"Lalu, bagimu aku ini apa Ra? tega sekali kamu mempermainkan perasaanku?"
"Maaf Mas, Aku benar-benar minta maaf," sesal Sora. Ia mencoba menenangkan Ferry dengan mengengam tangannya.
"Bagiku, cukup sekali aku kehilangan kamu. Kali ini aku tidak akan melepas mu," Ferry mengibaskan tangan Sora. Untuk saat ini dia sedang marah, ia merasa Sora sudah mempermainkan hatinya.
"Maaf Mas... Ini memang salahku," ucap Sora, bibirnya bergetar menahan tangisnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepas mu," gumam pria tersebut. Matanya tidak teralihkan dari wajah Sora yang sudah bercucuran air mata.
Sora yang mendengar penuturan Ferry, langsung duduk lemas. Akhirnya ia akan terbakar oleh api yang ia nyalakan. Sora seakan sulit memadamkan api yang ia mainkan. Kini ia terlambat bila menyesal, karena semua hati sudah tersakiti. Hanya menunggu waktu, kehancuran sudah menunggu dirinya.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Sora, yang merasa masa depan suram sedang menanti dirinya.
"Tinggalkan Alan!"
"Maaf,"
Kata maaf yang berulang keluar dari bibir Sora, membuat Ferry semakin geram. Kata itu seperti sebuah penolakan halus yang diperuntukkan bagi dirinya. Merasa prustasi dan tidak terima keadaan, Ferry langsung menyerang Sora.
Dengan paksa ia mencumbui Sora, Ferry mencium paksa Sora. Sedangkan Sora, hanya matanya yang berkaca-kaca. Ia tidak bisa merasakan perasaan apapun. Baginya apa yang Ferry lakukan saat ini semua terasa hambar. Terasa hampa tanpa ada rasa, karena Ferry melakukan nya dengan paksa.
Ferry terus memainkan tubuh Sora seperti sebuah manekin, wanita tersebut tidak membalas. Sora seperti sebuah patung yang tak berjiwa.
Pria tersebut yang sedang dibutakan cemburu dan amarah, dapat merasakannya. Ini jauh berbeda seperti apa yang ia lakukan dengan Sora semalam. Dimana gairah yang memuncak seperti malam tadi? kemana kehangatan hubungan yang ia lakukan atas dasar suka sama suka itu? Dibalik aksi liarnya, banyak pikiran yang berjibaku dalam benak Ferry.
"Ferr.. Ferr.. Buka pintunya! Kamu jangan gila! apa yang kalian lakukan? cepat buka pintunya!" Mama Ida mengedor pintu kamar Ferry berkali-kali. Ia sedikit shock dengan kelakuan putranya. Baru kali ini Mama Ida melihat putranya kelewat menyimpang.
Sedangkan Ferry yang mendengar Mamanya berteriak teriak, tidak peduli sama sekali. Ia masih menundukkan wajahnya, rasa prustasi akibat penolakan Sora untuk yang kedua kalinya berhasil membuatnya terpuruk dalam kesedihan yang dalam.
"Mengapa harus Alan? harusnya aku!" sesal Ferry.
Melihat kondisi Ferry, Sora menjadi galau kembali. Dengan perlahan ia mendekat ke samping Ferry. Sora menengelamkan wajah Ferry dalam pelukannya. Tangan Sora membelai lembut punggung selingkuhan nya tersebut.
Ada perasaan sayang bila ia harus melepaskan pria yang kini ada dalam dekapannya, Namun ia juga tidak bisa bila harus menceraikan Alan. Bagi Sora Alan adalah rumahnya. Dan Ferry hanya tempat persinggahan yang kapanpun dapat ia tinggalkan.
Sora tidak terpikirkan, bahwa keegoisannya membuat banyak hati terluka.
__ADS_1
"Jangan pergi dari sisiku Ra," pinta Ferry seraya melepas dekapan Sora.
Ferry menyentuh dagu Sora dengan lembut, perlahan ia menundukkan wajahnya. Hanya hitungan detik, kedua daging lunak itu kini saling bertautan. Pria tersebut kali ini memainkan nya dengan perasaan yang hangat, perlahan ia menjelajahi isi di balik bibir Sora.
Sora sendiri juga membalas apa yang Ferry lakukan pada dirinya. Ia juga bermain main dengan indra perasa Ferry, sesekali ia mengigit bibir bawah milik pria tersebut. Dan asmara yang hangat berubah menjadi panas. Keduanya seperti tidak peduli dengan Mama Ida yang menunggu di luar kamar.
Dua orang gila tersebut tengah berlayar di lautan asmara. Tidak peduli ombak yang akan menghempas mereka, baik Sora maupun Ferry sedang menjelajahi dunia penuh fantasi.
Tangan Sora meremas dada kotak milik Ferry, tangganya menjalar nakal menyusuri bidang yang kekar itu.
Karena sentuhan yang diberikan Sora bertubi-tubi, akhirnya Ferry tidak bisa membendung hasratnya. Ada sesuatu yang mengeras di dalam sana.
Ferry yang merasa terpancing dengan aksi wanita yang paling ia sukai, langsung membuka kaosnya. Dengan sembarang ia melempar pakaiannya.
Sora semakin tergoda dengan bidang yang kotak-kotak tersebut. Jiwa liarnya seakan ingin bermain-main diatas sana.
"Mau?" tanya Ferry tepat di telinga Sora. Hal itu sukses membuat bulu-bulu Sora berdiri, kecuali bulu keteknya.
Sora tidak mampu menjawab, karena Ferry mengunci kata-kata dengan bibirnya. Dengan panas Ferry terus mencium dirinya. Bibirnya sampai terasa perih, mungkin Ferry sudah mengigit nya.
Kalau seperti ini, pria tersebut tak jauh berbeda dengan mahluk penghisap darah. Baik penghisap dan yang menghisap memang sama-sama sudah gila. Mereka tidak peduli dengan norma yang ada, yang mereka kejar hanya kesenangan semata.
Bersambung
**"
Hai Para Pembaca dan Author kesayangan 💕
Jangan bosan-bosan dukung author ya 🍒
__ADS_1
Pencet tombol Hati, Like, Komen, Vote dan Rate Bintang Lima ya 🤗
Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author 🍒