
Pak Danu serta putrinya berpamitan pada Alan. Pertemuan Riana dan Alan cukup singkat, keduanya hanya sempat berkenalan.
"Bapak permisi dulu ya," pamit Pak Danu seraya menyetuh pundak putrinya.
"Iya Pak, maaf karena sudah banyak merepotkan," Alan menundukkan kepalanya, ia memang sangat menghormati sosok pria paruh baya tersebut.
"Jangan sungkan-sungkan, nanti kalo saya kebetulan repot kalian bisa langsung hubungi putri saya ini." Pak Danu merapatkan pelukannya pada sang putri. Ia kelihatan begitu bangga pada putrinya.
"Iya Pak, terimakasih banyak,"
Akhirnya baik Pak Danu maupun Riana meninggalkan kediaman Alan dan Sora. Mereka berdua mengendarai mobil secara terpisah, Pak Danu setia dengan mobil tuanya. Sedangkan Riana mengendarai mobil yang tadi sempat mogok saat akan menjemput Alan dan istrinya.
Setelah melepas kepergian Pak Danu serta putrinya, Alan masuk ke dalam rumahnya. Ia sempat terkejut, ketika hampir bertabrakan dengan Sora yang akan keluar rumah.
"Sudah pulang Pak Danu, Mas?" Sora menoleh keluar halaman, seakan ia mencari jejak tamu yang sudah pergi dari rumahnya.
"Sudah, ayo masuk. Anginnya kenceng banget, nanti kamu masuk angin," Alan merangkul tubuh istrinya. keduanya masuk ke dalam rumah baru mereka.
"Mas nanti kita belanja ya. Di dalam kulkasnya kosong, hanya ada minuman mineral,"
"Iya, nanti kita ke supermarket."
"Oh ya Mas, tadi Mas ketemu sama anak Pak Danu. Bagaimana orangnya?" Sora begitu penasaran, karena dia belum sempat berjumpa dengan Riana.
"Bagaimana apanya?" Alis Alan turun sebelah, ia tidak mengerti apa yang istrinya tanyakan.
"Ya gimana orangnya!"
"Ya seperti orang kebanyakan Ra, hidung satu, telinga dua, mata dua, mulut satu," Alan terkekeh sendiri ketika mengatakan hal itu.
"Yang lebih spesifik Massss," Sora mulai menyalakan gasnya.
"Hemm... Dia punya dua mata untuk melihat, satu hidung untuk bernapas, dan mulut untuk...," kata-kata Alan terpotong. Ia merasa aneh, mengapa ia malah membayangkan wajah gadis itu? Seorang gadis yang baru ia jumpai beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
Shittt... tidak mungkin ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Alan merutuki hatinya sendiri.
"Mulut untuk apa?" tanya Sora karena Alan mendadak menghentikan kata-katanya.
"Untuk makan," Alan memaksa tersenyum untuk istrinya.
"Kalau bibir?" Sora mulai aksi mancing manianya.
Dan pancing yang Sora lempar ke hati suaminya, langsung tersambut oleh Alan. Umpan itu langsung di lahap Alan. Sebuah ciuman ringan mendarat di bibir Sora. Alan melepas ciumannya tersebut. Ia menuju pintu depan, dengan sigap ia langsung mengunci pintu rumahnya. Bisa bahaya nanti kalo ada Pak RT lewat.
"Ayo, Mas kasih tau gunanya bibir untuk apa!" Alan langsung membopong istrinya. Mereka masuk dalam kamar, sebuah kamar baru dan harapan baru tentunya. Mereka berharap, apa yang dilakukan di kamar itu secara rutin, nantinya dapat membuahkan hasil. Itu adalah doa pengantin usang yang menanti kehadiran buah hati.
Alan merebahkan tubuh Sora di atas ranjang, kasurnya ternyata cukup keras. Tidak seperti punyanya dulu. Kamarnya juga agak kecil. Kamar Sora dan Alan saat ini sebesar ruang ganti di rumah sebelumnya. Namun baik Alan dan Sora tidak menjadikan ini sebagai masalah.
Yang paling penting adalah suasana di dalamnya, bukan seberapa luas dan besarnya. Untuk apa rumah yang luas? Tapi hati terasa sempit. Tidak masalah, kali ini mereka hidup di rumah yang sederhana. Asal hati keduanya saling bertautan. Itu adalah gambaran dari apa yang dirasa Sora selama ini.
Di kamar yang kecil ini, keduanya merasakan cinta yang seluas samudra. Kehangatan yang tercipta mampu mendekatkan hati yang sempat berjauhan. Alan dan Sora kembali merajut tali hati yang sempat terputus. Keduanya sepakat melupakan masa lalu yang bagai belengu.
"Mas gak mandi dulu?" tanya Sora yang menyaksikan bulir keringat menempel pada kening suaminya.
"Mandi dulu ya, Mas sepertinya mulai kepanasan. Tuh keringetnya segede biji jagung," dengan tangannya Sora membasuh kening sang suami. Memang benar, bulir bening memenuhi dahi pria tersebut.
"Aku gerah bukan karena itu Ra!" kini giliran Alan yang mulai menaikkan nada bicaranya. Habisnya, ia kesal dengan Istrinya. Masa dia disuruh mandi ketika dia sedang ingin.
"Terus karena apa? Oh ya besok kita ganti AC nya. Sepertinya kurang dingin. Masih berasa panas di dalam.
"Trus mau apa lagi, tulis di check list sekalian. Biar tidak lupa," saran Alan sembari tangannya bermain-main di tubuh istrinya.
"Ih geli, lagi apa sih kamu Mas?" Sora terkekeh karena tangan Alan menjalar di ketiaknya.
"Ayo.." ajak Alan.
"Sekarang ke supermarket nya? Gak nanti malam saja?"
__ADS_1
"Ya ampun Sora," Alan meremas wajahnya mengunakan kedua tangannya dengan kasar.
"Hihihihi.." Sora tersenyum dengan manisnya, Gigi putihnya terlihat begitu rapi ketika dia tersenyum. Gigi kelinci yang membuatnya nampak jauh lebih muda dari usianya.
Bisa di bilang Sora paling awet muda diantara teman-temanya. Ini mungkin dia tidak pernah merasakan bagaimana lelahnya merawat anak, yang pasti menguras jiwa dan raga. Sora hanya fokus mengurus dirinya sendiri. Rajin nyalon, selalu rutin dengan skincare. Jadi wajar ia kelihatan Babyface.
"Jadi ngak?" ucapan Alan menghentikan tawa istrinya.
"Jadi dong," Sora sudah tidak berlaga lugu lagi. Kini malah dirinya yang sangat agresif menyerang Alan. Dan kedua bibir kini saling mematuk, menciptakan sensasi kian lama kian memanas.
Alan merasa ia sedang merayakan bulan madu mereka untuk yang kedua kalinya. Dengan bersemangat pria itu menyerang balik Sora. Alan benar-benar mengeluarkan kekuatan penuhnya. Ia seperti vacuum cleaner ketika menyedot bibir Sora.
Sora dibuat sampai kehabisan napas. Karena aksi suaminya itu, ia sampai kualahan. Rasanya ia lupa, kapan terakhir berpanas panas ria dengan suaminya tersebut.
Setelah ciuman panas bak vacuum cleaner itu, kini mereka merubah posisi. Alan memangku istrinya. Dan keduanya saling berhadapan hadapan. Dengan penuh hasrat, Alan menciumi tiap inci wajah Sora. Ia mulai dari kening, turun ke mata, lalu hidung, kemudian bibir lagi.
Vacuum cleaner pun kembali menyala, baik Sora maupun Alan sama-sama menikmatinya. Sampai sebuah suara ketukan pintu membuyarkan aksi mereka berdua.
"Shitt.. Ada ada saja ganguannya!" gerutu Alan, yang langsung mematikan tombol ON nya.
"Tunggu di dalam Ra, coba aku lihat siapa di luar," pesan Alan sembari merapikan pakaiannya.
Alan melangkah keluar kamar, ia berjalan menuju pintu depan.
Krietttt..
Alan membuka pintu rumahnya, di depan Alan saat ini ada sosok Bapak-bapak dengan kumis yang bertenger di bawah hidungnya.
"Selamat sore Pak," sapa Bapak-bapak tersebut dengan hormat dan santun. Cara bicaranya seperti pejabat saja. Penuh wibawa dan pembawaannya pun tenang, intinya sangat berkharisma. Membuat Alan bertanya tanya. Siapa gerangan orang yang bertamu di rumahnya saat ini?
Bersambung
***
__ADS_1
Hai Para Pembaca dan Author kesayangan jangan bosan-bosan dukung author ya 🍒 pencet tombol Hati, Like, Komen, Vote dan Rate Bintang Lima ya.
Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author. Terimakasih ♥