
"Selamat sore Pak," ucap pria yang berwibawa dengan kumis yang melekat di bawah hidungnya.
"Sore," Alan balik menyapa pria yang bertamu di rumahnya.
"Maaf menganggu waktu Bapak, saya ketua RT di sini. Mau menyapa warga baru saya," terang Pak RT," Pak RT mengulurkan tangannya.
"Alan Manco Kardinov. Panggil saja Alan," ucap Alan seraya mengulurkan tangannya juga.
"Raden Arya Bagus. Panggil saja Pak Raden," sebuah senyuman memancar di balik kumis Pak Raden Arya Bagus. Ia bersikap sangat ramah pada warga barunya.
"Mari Pak silahkan masuk!" Alan mempersilahkan tamunya tersebut untuk mampir ke dalam rumahnya.
"Tidak usah Pak Alan, saya cuma mampir sebentar. Ini masih ada urusan di balai kecamatan," tutup Pak Raden.
Alan mengantarkan kepergian Pak Raden dengan sebuah senyuman terpaksa, dalam hati ia merutuki tamu tak di undang tersebut. Setelah dilihatnya Pak Raden sudah agak jauh, Alan menutup pintu rumahnya kembali. Bila rumahnya adalah toko swalayan, ia ingin menempelkan papa bertuliskan CLOSED tepat di pintu rumahnya.
Alan ingin khusuk, dia sedang tidak ingin di ganggu untuk saat ini. Dengan cepat-cepat Alan langsung menyusul istrinya. Begitu tirai kamar ia sibak, Alan langsung dirundung kesedihan. Sora yang kelelahan karena perjalanan, kini sudah tertidur pulas di atas kasur.
"Ra.. Ra.. Sora.. Soraya!!!" Alan merasa gemas, istrinya benar benar tidak menyahut pangilannya.
Sora sendiri sudah terbang ke alam mimpi. Telinganya sudah tidak mendengar suara suaminya yang berkali kali menyebut namanya.
Alan yang kecewa karena hasratnya yang terbendung. Ia hanya mampu menatap pujaan hatinya yang sudah terlelap. Alan mendekatkan wajahnya ke arah sang Istri. Perlahan ia mengecup bibir Sora yang ranum. Karena sudah meninggi, tangan Alan merambat seperti ubi jalar.
Entah dirasuki setan apa, yang jelas ia menganggu tidur Istrinya. Lama kelamaan ada sesuatu yang ingin keluar, tidak mungkin membangunkan Sora, ia langsung melangkah ke dalam kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian, Alan keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat lemas, ia kelihatan seperti habis berlari maraton. Banyak bulir keringat yang menempel di dahinya.
Drettt... Drettt..
Terdengar gerat handphone milik Sora, Alan yang penasaran langsung mencari sumber getaran tesebut. Ada sebuah notification masuk dalam handphone Sora dan rasa ingin tahunya membuat Alan membuka handphone istrinya itu.
Ada sebuah email masuk. Sebuah pesan yang ditulis lewat kingsoft office. Merasa penasaran, Alan mendownload file tersebut. Setelah 100% berhasil terunduh, ia membuka email tersebut.
Hati Alan begitu sakit, ketika tahu siapa yang mengirim email tersebut. Tangannya meremas handphone milik istrinya. Alan langsung menyambar handphonnya sendiri. Dengan geram ia mencari nomor yang ingin ia hubungi.
"Tolong didik anak Tante, ajarkan dia untuk tidak menganggu istri orang," wajah Alan merah menyala. Ada sebuah amarah yang terpancar dari mukanya.
"Hallo... halloo.. Bilang pada istrimu juga, tidak usah keganjenan godain anak tante. Kalau istrimu tidak menangapi Ferry, semua ini tidak akan terjadi," Mama Ida tidak mau anakknya terus disalahkan. Perselingkuhan terjadi karena dua orang. Bila salah satu tidak menangapi, pasti tidak akan terjadi.
__ADS_1
"Di mana Ferry, saya ingin bicara!"
"Tante sendiri juga sedang mencarinya, rumahnya kosong sejak kemarin. Sebenarnya apa yang kalian lakukan pada Ferry?" Mama Ida balik memojokkan Alan beserta istrinya.
"Ferry tida ada di rumahnya?" Alan nampak berpikir. Ia sedang menduga duga, pria yang sudah mencintai istrinya sejak mereka semua masih remaja, pasti masih mengincar Sora lagi.
"Nanti kalau ketemu Ferry langsung hubungi Tante, awas jangan sampai menghajar anak tante. Jika kamu nekad, terpaksa tante akan ajukan ke meja hijau," ancam Mama Ida.
Alan yang marah, ia kemudian melempar handphonnya di atas sofa ruang tamu. Hatinya terasa panas, bayang-bayang perselingkuhan Sora kembali muncul di benakknya.
Tidak terasa Sora tidur cukup lama, ia begitu terkejut ketika hari sudah gelap. Ia langsung bangkit dari tempat tidurnya untuk mencari Alan.
"Mas.. Mas..," teriak Sora yang tidak mendapati sosok suaminya di dalam rumah.
Sora pun membuka pintu rumahnya, ternyata ada Pak Danu yang bertamu malam ini. Ia dari jauh memperhatikan suaminya yang sedang berbincang di gubuk kecil di pojok halaman rumah mereka.
Mungkin akan terasa nyaman, duduk bersantai di sana. Saat akan mendekat, kaki Sora sejenak tertahan. Ia menatap sosok asing yang baru turun dari mobil, seorang gadis cantik. Masih dari jauh Sora mengamati mereka bertiga, ia kini fokus pada gadis yang membawa kantong kresek besar di kedua tangannya.
Terlihat mereka semua sedang mengobrol, namun Sora tidak bisa mendengar suara mereka. Jarak yang cukup jauh, membuat Sora hanya mendengar suara dedaunan yang tertiup angin malam.
Rasa penasaran membuat Sora melangkah tanpa sadar, begitu sudah beberapa meter jaraknya dari pondok, Sora baru tersadar. Ia menyapa Pak Danu. Sora beberapa kali bertemu dengan Pria paruh bayah yang hangat tersebut.
"Selamat malam Pak," Sapa Sora dengan ramah.
"Selamat malam, kenalkan ini putri saya," ucap Pak Danu.
Akhirnya rasa penasaran Sora terbayar lunas, terbawab sudah apa yang menjadi pertanyaan dalam hatinya.
"Amelia Soraya, panggil saja Sora,"
"Mariana, panggil Riana,"
Keduanya saling bersalaman, sebuah senyum tergambar di bibir Sora dan Riana. Dua wanita cantik di malam yang dingin, membuat hangat bagi pria yang menatap keduanya.
"Ini kak, Aku tadi beli martabak telur dan terang bulan," Riana mengulurkan dua buah kantong kresek yang ia bawah.
"Kok jadi merepotkan," ucap Sora sembari tangannya menyambut kantong kresek yang berisi martabak telur dan terang bulan.
"Makasih Riana," tambah Sora.
__ADS_1
Sora kembali masuk ke dalam rumahnya, ia ingin mengambil tempat untuk wadah makanan yang dibawakan oleh anak Pak Danu tesebut.
Beberapa menit kemudian, Sora sudah bergabung dengan mereka bertiga. Ia membawa dua buah piring. Satu berisi martabak telur dan satunya lagi bersisi terang bulan.
Mereka berempat cukup lama mengobrol, membicarakan masalah karir hingga keluarga.
"Riana, berapa usiamu?" tiba-tiba Sora ingin tahu perihal gadis cantik putri Pak Danu tersebut.
"Dua puluh empat Kak," jawab Riana.
"Masih muda ya," kata Sora, ia menjadi mengingat masa mudanya dulu.
"Kak Sora juga masih muda kok,"
"Hahaha.. Aku sudah tidak muda lagi Riana, Aku sama Mas Alan cuma selisih satu tahun!"
"Ah, gak percaya. Kulit kak Sora halus gitu, tidak ada tanda penuaan sama sekali. Berarti Kakak masih muda,"
"Kamu salah! ini semua karena skincare yang rutin aku pakai kok,"
"Merek apa sih Kak? Biar aku bisa glowing seperti wajah kak Sora,"
"Merek xxx," jawab Sora.
Dan pembicaraan dua wanita terus berlanjut tidak ada habisnya. Sora merasa cocok mengobrol bersama Riana, begitu juga sebaliknya.
Sora senang, di tempat yang asing ini ia memiliki kenalan yang mungkin akan menjadi temannya. Atau bahkan nanti justru orang yang akan dekat dengan suaminya?
Bersambung
***
Pemberitahuan
Para pembaca yang baik hati dan Para Author. Sept minta dukungannya ya.. lihat itu bintang author tinggal empat.
Author nangis dipojokan nih... 😅
Terimakasih perhatiannya. Salam hangat dariku 🍒💕💕💕
__ADS_1