Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Bukan Siti Nurbaya


__ADS_3

Sora pulang kerumah dengan membawa belanjaan yang ada pada kedua tanganya. Perlahan ia membuka pintu rumahnya, sambil tengok kanan kiri. Sora tersenyum dalam hatinya, mengapa ia merasa seperti pencuri di dalam rumahnya sendiri?


Cekrek...


Riana yang masih duduk di tempat semula, menoleh kearah Sora.


"Cepat sekali Kak?" Riana bangkit dari kursi. Ia mendekat ke Sora.


"Iya, cuma belanja ini saja," Sora menenteng belanjaannya.


"Kak, nanti kalo Ayah kesini jangan lasih tahu ya, kalau Riana ada," pesan Riana yang mulai ketar ketir. Ia mematikan handphonnya, takut bila sang Ayah menemukan jejaknya.


"Kamu istirahat saja, aku mau masak. Oh ya kalau boleh Kakak tahu, pekerjaan mu bagaimana?" Sora penasaran karena Riana ini kabur dari rumah, sedangkan dia kan terikat dengan pekerjaan.


"Aku sudah minta ijin Kak, aku yakin Ayah akan mencariku di kantor. Pokoknya aku gak mau nikah sama Mas Kianu."


"Iya iya, tenanglah. Kakak gak akan memaksamu untuk menikahi.. siapa itu namanya..?"


"Kianu Kak!"


"Namanya cakep gitu, kenapa sih gak coba PDKT dulu?" saran Sora.


"Kan Riana gak suka Kak, lagian ini juga bukan jamannya perjodohan. Sekarang sudah era global kak, lagi pula Riana bukanlah Siti Nurbaya!" tutur Riana, hal itu sukses membuat Sora terkekeh.


"Ada ada aja kamu ini Na,"


"Oh ya, Kak Sora sudah berapa tahun menikah?" kini giliran Riana yang ingin mengupas habis kisah Sora.


"Sudah sepuluh tahun lebih Na," mata Sora mendadak kosong. Ingatannya berkelana, tapak tilas cerita kehidupan dirinya seperti sedang di putar di depannya, bak menonton film bioskop dengan layar yang begitu besar, dan Sora menjadi bintang utamanya.


Ia bisa membayangkan kilasan cerita semenjak awal mula pernikahannya dengan Alan Manco Kardinov, sebuah permulaan yang amat hangat. Namun begitu memasuki angka 10 tahun pernikahan, sesuatu yang hangat lambat laun menjadi dingin.


Cintanya pada Alan pernah mengalami pasang surut, bagai air laut dikala bulan purnama. Sora juga pernah terpuruk, tersungkur dan tidak punya harapan. Namun cinta yang terpatri kuat di jantung hatinya, menuntun Sora pulang kembali ke pemiliknya.


Pemilik hati Sora, Alan Manco Kardinov. Seorang pria yang mencintai Sora apa adanya, bahkan sampai sekarang ia belum memiliki anak. Alan selalu setia pada dirinya. Dan perselingkuhan yang pernah terjadi, bagai duri dalam daging. Meski perih dan teramat sakit, nyatanya Alan memaafkan dirinya.

__ADS_1


Hingga kini Sora mulai sadar, tidak ada perselingkuhan yang indah. Sebuah penghianatan hanya akan menghancurkan semua hati, tanpa terkecuali.


Sora sadar, sejauh apa hatinya berkelana. Ia tetap merindukan untuk pulang. Sebuah hati yang dipenuhi oleh Sora seorang. Tapi hati manusia selalu berubah-ubah. Akankah Alan akan selalu setia? Entahlah.


Mata Sora kembali menatap Riana yang dengan setia mendengar ceritanya.


"Kak Sora apa ikut KB? Kok belum memiliki anak," pertanyaan itu dengan mulus meluncur dari bibir Riana.


Sora tersenyum masam. Ia meresapi kisah hidup yang amat kecut untuk dilaluinya.


Siapa sih yang tidak ingin memiliki anak Riana? bila ada yang menjualnya di pasar, akan aku tukar dengan barang yang paling berharga yang aku punya, batin Sora.


"Dulu sih sempat KB Na, waktu awal menikah. Aku mau menunda dulu, karena kami masih sama sama muda. Tapi takdir berkata lain, sampai sekarang semua masih tertunda," Sora kembali tersenyum. Kali ini ia tersenyum miris, ada bulir bening yang akan tumpah dari dua bola matanya.


"Maaf ya Kak, harusnya Riana tidak bertanya yang macam macam." sesal Riana. Ia memegang tangan Sora, seakan menyesali apa yang ia tanyakan barusan.


"Tidak apa-apa, jangan merasa bersalah. Aku memang orangnya gampang nangis Na. Anggap saja aku lagi kelilipan," wanita itu nampak tegar di depan Riana, saat Riana tidak menatap dirinya. Sora menghapus bulir bening yang sudah pindah di kedua pipinya.


"Oh ya ayo bantu Kak Sora masak!" ajak Sora memecah keheningan yang sempat menghampiri keduanya.


"Kakak suka rumah ini?" tanya Riana.


"Suka, ada apa memangnya?"


"Ngak apa-apa Kak, cuma Riana seneng aja kalau disini. Ini rumah Ayah waktu pertama menikah sama Ibu dulu. Sebelum Riana lahir, sampai Riana umur 10 tahun. Kami terpaksa pindah, karena Ayah pindah tugas." tutur Riana panjang lebar.


"Jadi kamarmu yang dulu sebelah mana?" tanya Sora sembari mengiris wortel dan membentuknya menjadi bunga bunga yang nampak indah.


"Yang itu!" tangan Riana menunjuk sebuah kamar yang kini Sora dan Alan tempati.


Sora menghentikan acara potong potongnya, ia ikut menatap kamar yang kini menjadi miliknya.


"Oh.." Sora tidak menangapi lagi kata kata Riana, karena kini ia sibuk mengupas semua kulit kentang. Kulit kentang yang tipis, membuat Sora harus hati-hati. Jangan sampai jarinya terluka.


Ia tersenyum getir, biasanya ia sibuk dengan keyboard, mouse, layar laptop yang selalu ia pandangi. Kini dunianya jungkir balik, Sora harus bergelut dengan sayur mayur yang penuh dengan nutrisi itu.

__ADS_1


Alat tempurnya pun telah berevolusi. Tidak ada lagi Sora sang wanita karir, kini ia pure sebagai ibu rumah tangga sejati. Salah sendiri, Sora ketahuan selingkuh. Membuat ia mundur dari zona nyamannya, demi mendapat kepercayaan dari sang suami. Sora melepas semuanya, asal bisa hidup bersama dengan Alan. Sora mampu melepaskan impiannya.


Prioritas Sora kini hanya Alan dan berusaha mendapat momongan, semoga yang Kuasa menghendaki keinginan Sora. Karena Sora sungguh menginginkannya.


Kehadiran buah hati dalam rumah tangga Sora akan seperti oase, setelah bertahun-tahun penantian akhirnya yang dinanti datang juga. Itu harapan Sora, yang kini masih dalam angan-angan.


"Kak airnya sudah mendidih," pekik Riana.


Sora yang mengupas kentang sambil melamun menjadi terhenyak, untung pisau yang ia gunakan tidak terlalu tajam. Sehingga mustahil baginya untuk terluka.


Ia pun mematikan kompor gasnya, Sora mengambil wadah untuk mencuci semua sayuran yang sudah ia potong dengan cantik. Boleh di bilang keahlian memasak Sora naik satu level.


"Wah, harum sekali Kak," seru Riana yang mengekori Sora semenjak tadi.


"Masak sih? ini cuma pakai bumbu sashet loh. Cuma pakai masak*," sebuah senyum malu-malu tersirat di wajah Sora, pipinya merona. Ia nampak malu dengan keahlian memasaknya yang sangat amatiran.


Chefs Jun* pasti akan berkomentar pedas bila mencicipi masakannya. Namun Sora tidak berkecil hati, selama kita belajar kita pasti bisa. Usaha tidak akan menghianati hasil.


"Enak kok Kak, nih aku sudah cicipin," puji Riana.


"Wah kamu pandai betul mengambil hati orang Na," puji Sora sambil membereskan semua peralatan masak memasaknya yang berserakan di dapurnya.


*Pandai mengambil hati orang? apakah hati suami Sora juga akan diambil pula oleh Riana?


Bersambung


***


Hai para pembaca yang budiman, jangan lupa selalu dukung author ya*.


*Pencet tombol Hati Like Komen Vote dan Rate Bintang Lima ya.


Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author.


Salam hangat dariku 🤗

__ADS_1


Sept 🍒*


__ADS_2