
"Silahkan kalian lihat sendiri, kalau untuk kalian bertiga, menurut saya tidak terlalu sempit." Ujar ibu kos tersebut.
Bola mata Sora langsung menajam, nalurinya seakan membaca sinyal akan ketidak beresan ucapan ibu kos tersebut.
"Maaf, yang ngekos cuma satu orang Bu. Saya mau cari kosan untuk adik saya." Sora merangkul pundak Riana, seolah-olah ia adalah Kakak dari Riana.
"Maaf, saya kira untuk kalian bertiga." Ibu kos tersebut tersenyum kecut, entah apa yang dipikirkan oleh Ibu Ibu yang berbadan tambun itu.
Setelah melihat lihat, Sora memegang lengan suaminya.
"Mas ayo pulang!" ajak Sora, ia seakan tidak nyaman lama lama disana.
Alan memandang jam yang melingkar di tangannya. Memang sudah malam juga ternyata.
"Iya, Ayo pulang."
Alan mendekat ke arah Riana. Ia hendak pamit, ia dan Sora akan pergi meninggalkan Riana sendirian dalam kamar kosan tesebut.
"Rin kami pulang dulu, kalau ada apa-apa hubungi kami berdua," ucap Alan.
Meski berat hati, dengan terpaksa Riana melepas pasangan pasutri itu.
"Hati hati Mas, Mbak," meski enggan, mau tak mau Riana harus rela ditinggalkan sendirian.
"Mbak pulang dulu ya," Sora bersikap sebiasa mungkin, memang selama ini ia paling bisa kalau disuruh akting. Sora jago menyembunyikan apa yang ia simpan dalam hatinya. Ia selalu punya banyak topeng untuk ia kenakan selama ini.
Begitulah manusia, banyak yang bersikap manis di depan. Tapi menusuk dari belakang, sudah menjadi rahasia umum. Bahwa setiap orang memiliki topeng mereka masing-masing. Yang akan siap dikenakan pada momen momen yang tepat.
Setelah berpamitan, Alan dan Sora menuju ke mobil. Mereka sudah lelah, ingin rasanya segera pulang dan istirahat disana. Alan yang sudah siap di balik kemudi, menyalakan mesin mobil dan melaju menembus debu jalanan di kala malam.
Pagi hari, Alan terbangun dari tidur pulasnya. Dilihatnya di samping ranjang, Sora tidak ada disana.
__ADS_1
Dimana Sora pagi pagi begini sudah tidak ada, batin Alan.
Pandangan mata Alan menyusuri ke setiap sudut ruangan, selanjutnya ia berjalan menuju kamar mandi. Mungkin Sora lagi memenuhi pangilan alam, namun ternyata nihil. Istrinya bagai lenyap ditelan bumi, tidak ada tanda tanda keberadaan dari Sora.
Karena penasaran, Alan pun menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ditekanlah nomor istrinya itu, baru beberapa detik, Alan langsung mematikan pangilan tersebut. Karena handphonnya Sora ada di bawah bantal.
Ia tersenyum kecut, mungkin istrinya sedang belanja. Pikir Alan, mungkin pria itu sedikit trauma. Alan menjadi parno lantaran teringat perselingkuhan yang terjadi beberapa waktu silam. Ia takut Sora lari bersama Ferry, karena ia mendapat kabar dari Tante Ida yang merupakan ibu Ferry. Bahwa Ferry untuk saat ini telah hilang di kediaman rumahnya.
Saat ini Alan berjibaku dengan pikiran pikiran buruknya. Berbeda dengan Sora, ia justru sedang santai bersama Ibu Ibu yang sedang memilih sayur mayur di tempat tukang sayur yang lagi mangkal.
"Masak apa mbak Sora," tanya Bu Denok dengan bibir yang meliuk liuk laksana ombak pantai selatan.
"Entahlah, lagi binggung ini. Belum dapat inspirasi mau memasak apa," jawab Sora disertai sebuah senyuman yang tulus kepada Ibu yang kepo dengan apa yang akan ia masak hari ini.
"Sama kaya saya mbak, kadang suka buntu idenya. Padahal cuma mikir menu masakan. Hihihih," Bu RT istrinya Pak Raden ikut nimbrung dalam obrolan Sora dan Bu Denok.
"Saya kalau malas masak suka langsung pesen di GoFood saja," ucap Bu Denok.
"Lah Bu Denok kan enak, cuma tinggal sendiri. Anak tinggal diasrama. Suami keluar Kota dan jarang pulang, jadi tidak binggung seperti saya," tukas Bu RT.
Mereka semua kini sibuk memilah milah satur yang akan mereka beli, di sela sela proses memilah tersebut. Bu Denok kembali bersuara.
"Mbak Sora, semalam putrinya Pak Danu tidur di rumah mbak ya?" pancing Bu Denok.
Deg, Sora sedikit terkejut. Mereka kok mengerti perihal Riana, Sora semakin menjadi was was dengan kerumunan ibu Ibu yang ada di depannya saat ini.
"Engak Bu, cuma main sebentar. Malamnya juga langsung pulang," Sora tidak ingin masalah jadi tambah runyam. Memang susah kalau berbicara dengan ibu Ibu tukang gibah.
"Hati hati loh mbak Sora," ujar Bu Denok, dengan tatapan aneh pada Sora.
"Ada apa ya? Kok saya jadi penasaran!"
__ADS_1
"Riana itu kecilnya disini, banyak warga yang mengenal dirinya. Apa lagi saya, saya tahu betul keluarga Pak Danu." Bu Denok berbicara seperti pembawa berita di televisi, lancar dan mulus tanpa hambatan.
Bu RT langsung mencubit lengan Bu Denok, ia tidak ingin Bu Denok kebablasan. Karena Bu RT tahu, rumah yang sekarang ditempati Sora saat ini semula adalah milik keluarga Riana.
Ada sebuah misteri besar yang tersembunyi di dalam rumah itu, dan itu sudah menjadi rahasia bagi para warga sekitar.
Sora menjadi semakin penasaran, apa lagi ia melihat sikap Bu RT yang tidak biasa. Sora yakin ada hal yang disembunyikan mereka semua dari dirinya.
Merasa tidak akan mendapat jawaban meski ia bertanya, Sora pun langsung undur diri setelah mendapat apa yang ia butuhkan. Sebuah kantong belanjaann sudah siap untuk ia bawa pulang.
"Ya sudah, saya permisi dulu ya Bu," Sora melangkah menjauh dari kerumunan tersebut. Sayup sayup telinganya bisa mendengar bisikan para ibu ibu yang membicarakan dirinya.
Dengan santai Sora memantapkan langkah kakinya, rasa rasanya telinga Sora sudah kebal dengan semua macam cibiran.
Sedangkan para ibu ibu sekarang semakin gencar membicarakan Sora dan anak pemilik rumah yang kini ditinggali oleh Sora. Mereka bergosip hingga lupa waktu, sampai salah seorang suami diantara mereka ada yang memanggil, sekadar mengajak untuk pulang. Karena berbelanja kok berjam jam lamanya.
Ditempat yang tidak diketahui namanya, seseorang sedang duduk dengan pandangan tajam ke arah tembok yang kosong. Tangannya mencengkram pengangan kursi yang ia duduki. Terlihat gurat amarah yang tergambar pada wajahnya.
Luka seperti orang yang dibuang begitu saja membuatnya mengeratkan jari jari kukunya, membiarkannya menusuk dalam genggaman tangan. Pria itu memejamkan matanya, mengenang ragam peristiwa yang menggangu pikirannya.
Bayangan wajah Sora kembali membuat emosinya menyala, kalah jauh dari Alan membuat ia ingin membalas wanita yang telah memperlakukannya seperti sampah. Dibuang begitu saja, membuat luka hati Ferry kian hari kian menganggah.
Sora hanya tinggal menunggu saat yang tepat, dimana Ferry akan datang padanya dan memporak porandakan hati wanita itu. Sakit yang Sora tinggalkan membekas terlalu kentara dalam hatinya.
Cinta tulusnya kini sudah membuta, Ferry dengan segala rasa luka dan kecewa akan menagih bayaran pada wanita yang dulu ia cintai. Sebuah bayaran atas luka yang Sora torehkan pada hati Ferry.
bersambung
***
Hai para pembaca yang budiman jangan bosan-bosan dukung author ya 🍒 pencet tombol Hati, Like, Komen, Vote dan Rate Bintang Lima ya.. Bagi yang belum rate.. Kasih bintang Lima dong.. Bintang Sora mulai redup.😢
__ADS_1
Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author.
Terimakasih 💕