Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Lari Dari Kenyataan


__ADS_3

Di sebuah ruang perawatan, Sora terbaring lemah. Ia masih menikmati tidur panjangnya. Kedua bola matanya masih belum mau terbuka, selang oksigen masih setia bersamanya. Di kamar yang serba putih itu, Alan duduk di sudut ruangan. Wajahnya menyiratkan banyak gambaran. Yang paling kentara adalah gambaran rasa kecewa.


Raga Alan mungkin berada dalam tempat yang sama dengan Sora, namun tidak dengan pikirannya. Angannya melayang, Ia berjibaku dengan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.


Alan tidak ingin melepas Sora begitu saja, namun kenyataan di depannya membuat ia marah. Penghianatan ini belum berakhir, Ferry dan Sora masih belum mengakhirinya. Kecelakaan ini hanya menyisahkan luka dalam hatinya. Dadanya serasa sesak, membayangkan Sora bersama pria lain selain dirinya.


Bisa-bisanya Sora mau pergi bersama Ferry, tega sekali Sora bermain di belakangnya lagi. Tidak cukupkah dia di hati Sora? Apakah dia kurang mencintai seorang Sora? Tidak puaskan Sora pada dirinya? Haruskah dia menukar nasib, pada siapa yang dicintai Sora?


Alan tengelam dalam prasangka buruknya, kesalah pahaman pun tidak bisa terelakkan. Siapa yang akan percaya bahwa hubungan Sora dan Ferry sudah berakhir? Bila nyatanya mereka berdua terlibat kecelakaan dalam satu mobil. Siapa yang akan percaya? Hanya laki laki bodohh, dan Alan merasa bahwa itu adalah dirinya.


Pria bodoh itu adalah dirinya! Alan sudah merasa dibodohi oleh dua orang penghianat tersebut. Separuh hatinya ingin percaya bahwa Sora sudah tidak ada kaitannya dengan Ferry. Namun rasa cemburu yang bersarang dalam benakknya, mengatakan Sora adalah penghianat.


Tatapan khawatir saat menatap Sora sebelumnya, berubah jadi tatapan penuh kebencian. Hatinya tidak bisa menerima kesalahan Sora yang kedua kalinya.


Cukup lama ia tegelam dalam lamunannya, merasa lelah dengan semuanya. Alan mendekat ke arah ranjang. Ditatapnya wajah Sora yang pucat, tidak ada make up yang biasanya selalu mempercantik paras ayunya. Bibirnya membiru, Sora sudah seperti mayat hidup saja. Alisnya yang biasanya ia gambar sempurna kini polos, natural apa adanya.


Dengan segala perasaan yang berkecamuk dalam hati, Alan menyentuh pipi Sora. Meski terlihat pucat dan tidak segar, Sora nya masih terlihat menawan. Antara ingin dan tidak, Alan kembali menyentuh hidung Sora. Ia teringat, kapan terakhir ia mencubit hidung mancung istrinya. Sebuah senyum getir mencuat di ujung bibirnya.


Kenyataan Sora terlihat kecelakaan dengan pria lain kembali menampar kesadarannya. "Sora, kamu sungguh tega," batin Alan.


Pria itupun menjauh dari Sora, Alan kembali ke tempat duduknya. Di sudut ruangan jauh dari tempat Sora berada. Ia memilih menjaga jarak, berdekatan dengan Sora hanya menambah sesak di dadanya.


Waktu berjalan begitu lamban bagi Alan, diamatinya dari kejauhan. Sora masih belum mau membuka matanya. Pria yang sedang gunda gulana itu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah malam, Sora tak kunjung siuman.


Tok Tok Tok


Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Sora. Bila itu adalah Dokter, maka pasti akan masuk begitu saja. Siapa gerangan? Alan bertanya tanya dalam benakknya.

__ADS_1


Di luar kamar Sora, dengan perban yang masih melingkar di kepala dan berbagai plaster yang menghiasi wajah tampannya. Ferry berniat menemui wanita yang sangat ia khawatir keselamatannya. Bila ia khawatir, lalu untuk apa ia dengan sengaja menabrakkan mobil yang ia kendarai bersama Sora?


Menyesal? terlambat. Begitulah sesal, hanya datang di saar terakhir saja. Rasa penyesalan Ferry sudah amat sangat terlambat. Nasi sudah jadi bubur, segala hal buruk terlanjur terjadi. Waktu sudah tidak bisa diputar kembali. Penyesalan Ferry hanya sia-sia. Buang buang waktu dan tidak ada gunanya.


Cekrek


Ferry membuka pintu kamar tempat Sora dirawat. Ia yakin Alan juga ada di kamar itu, namun rasa khawatirnya jauh lebih besar dari pada logikanya. Jika memang dia adalah pria waras, tidak mungkin dengan berani menemui Sora terang-terangan di depan suaminya. Ah Ferry memang gila, seorang pria yang kehilangan akal sehatnya, gara-gara cinta yang sudah mengila.


Begitu pintu terbuka dan ternyata Ferry yang masuk, Alan yang sedari tadi memperhatikan dari sudut ruangan langsung terprovokasi. Darahnya seakan mendidih, secepat kilat Alan bangkit dari tempat duduknya, sebuah bogem mentah meluncur tepat di pipi Ferry yang sebelumnya sudah memar akibat luka kecelakaan.


Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah yang terjadi pada Ferry. Alan yang dikuasai amarah, manatap tajam pada pria yang kini ada di hadapannya. Setelah mendaratkan bogem mentah kini Alan diam untuk sesaat, rupanya Alan berusaha mengendalikan emosinya.


"KELUAR DARI SINI," teriak Alan.


Bukannya keluar Ferry malah tersenyum remeh pada Alan. Ia benar-benar tidak punya rasa takut sedikitpun.


Suara Alan memang memekakkan telinga, namun tidak ada artinya bagi pria yang sedang menatapnya dengan dingin tanpa rasa bersalah.


Merasa geram karena Ferry tidak merespon perintahnya, Alan mengambil ancang-ancang untuk meluncurkan serangan kedua.


"Hentikan!!!" teriak Mama Ida memeluk tubuh putranya.


Alan yang tangannya sudah mengambang di udara, urung melakukan aksinya. Karena Mama Ida mengunakan tubuhnya sebagai perisai untuk putranya. Alan pun hanya bisa mengumpat kesal dalam hati. Rasanya ia ingin mencabik cabik tubuh Ferry saat itu juga.


Plakkk.. Mama Ida menampar pipi putranya.


"Keterlaluan kamu Fer!" pekik Mama Ida. Rasanya ia seperti tidak punya muka, kelakuan anaknya sungguh membuat ia begitu kecewa.

__ADS_1


Lantas apa pembelaan Ferry? Apa yang ia katakan pada Mama Ida? Tidak ada. Ferry hanya diam, tanpa ekspresinya. Benturan di kepalanya mungkin semakin menambah ketidak warasannya.


Setelah berhasil menampar putranya sendiri, kini Mama Ida memeluk tubuh Ferry.


"Lepaskan Sora, kamu bukan takdirnya!" ucap Mama Ida dengan mata yang berkaca kaca.


Ia sebenarnya iba dengan nasib putranya, namun mencintai istri orang lain itu tidak ada pembenarannya. Menginginkan milik orang lain itu salah. Entah harus dengan cara apa lati Mama Ida menyadarkan putranya. Ia hanya mampu menangis meratapi kisah cinta anaknya yang tragis. Bojomu semangatku itu salah Fer. Salah besar!


"Tante bawa Ferry jauh dari hadapan Alan, bila tidak maka Alan tidak akan segan segan meremukkan tulang tulangnya," ancam Alan.


Ferry yang dasarnya uda bonyok, babak belur akibat kecelakaan ditambah bogem mentah yang didapat dari Alan hanya bisa tersenyum tipis.


"Tunggu Sora, aku akan datang diwaktu yang tepat," gumamnya dalam hati.


Mama Ida membawa tubuh Ferry yang memang masih lemah keluar dari kamar tempat Sora dirawat. Tanpa kata Mama Ida meninggalkan Alan serta istrinya. Mama sudah tidak punya muka lagi untuk sekedar meminta maaf pada Alan.


Putranya sudah berhasil mencoreng wajah Mama Ida, ia sangat malu dengan kelakuan putra kesayangannya itu.


Setelah menutup pintu, Alan mendekat ke ranjang. Ia membisikkan sesuatu ke telinga istrinya.


"Bangun Sora, jangan lari dari kenyataan!"


Bersambung


***


Hai Semuanya, jangan lupa tingalkan jejak kalian ✌ Like, Komen, vote dan Rate Bintang Lima ya 💕

__ADS_1


__ADS_2