
Dengan perlahan Sora melangkahkan kedua kakinya, perasaan tidak nyaman menyeruak di dalam hati Sora saat ini. Apa lagi ketika ia tidak sengaja menatap wajah tante Susan yang terkenal dengan kata-kata pedasnya selama ini, membuat ia semakin tidak nyaman saja.
Kehadiran Tante Susan, membuat Sora merasa tidak aman. Bagaimana tidak, Tante nya itu acap kali membuatnya sering terluka. Dengan ratusan kalimat pedas yang keluar dari bibir tantenya itu, ucapan tantenya mampu membuat jebol pertahanan diri Sora. Tidak jarang ia menangis, setelah mendapat sentilan dari adik ipar mertuanya itu.
"Eh sudah datang kamu Ra, kata Mbak yu kamu tidak ikut?" ucap Tante Susan menyambut kedatangan dirinya.
"Iya Tante, tadi kepala sedikit pusing. Tapi sekarang sudah baikan kok," ujar Sora, sekadar basa basi pada tentenya yang paling muda itu.
"Jangan-jangan kamu lagi ngidam ya Ra?"
"Enggak kok Tante, cuma kecapekan saja kayaknya," jawab Sora, ia tidak ingin semua menduga dirinya tengah berbadan dua. Karena pada kenyataannya, kepala Sora terasa pusing akibat minuman beralkohol yang semalam ia minum. Jika mengingat aksi dirinya semalam, Sola merasa sangat malu sendiri. Untung saja Alan suaminya, tidak memarahi dirinya.
Obrolan mereka terhenti sejenak, ketika Ibu datang membawa sebuah nampan yang berisi beberapa jus.
"Ini mimun Nak!" Ibu menyodorkan jus sayuran kepada Alan. Warna hijau pekat membuat perut Alan langsung bereaksi. Ia merasa mendadak mual, hanya saja ia tidak ingin mengecewakan sang Ibu. Alan langsung menyeruput satu gelas jus yang pekat itu. Dengan sekali tengguk, langsung habis.
Tenggorokan nya sekarang serasa amat lengket, Alan langsung berdiri mencari air putih. Entah ramuan apa yang sudah Ibunya masukkan ke dalam jus yang pekat itu. Yang pasti, kini perutnya serasa mual.
Sora yang menatap suaminya sedari tadi, ikut bangkit menyusul sang suami. Sora langsung mengambil segelas air dari dalam kulkas. Ia langsung mengulurkan segelas air putih untuk suaminya.
"Harusnya tidak usah diminum, bila tidak suka," ucap Sora yang khawatir pada kondisi suaminya.
"Tidak apa-apa Ra, biasanya juga tidak masalah." Alan memang sering disodori berbagai macam ramuan dari Ibunya, kata Ibu ramuan yang ia berikan pada putranya tersebut, untuk menambah kesuburan. Jadi mau atau tidak mau Alan pasti Alan menghabiskan nya.
"Kamu selalu begitu Mas, terlalu menjaga perasaan orang lain. Sampai menyakiti tubuhmu sendiri," ucap Sora dengan kesal.
"Aku beneran tidak apa-apa Ra, sudah kamu kesana. Ngobrol sama Ibu dan Tante Susan. Nanti agak siang baru Kita ke rumah Tante Susi,"
"Ya sudah, Aku tinggal ya,"
Alan masih merasa mual, nampak ia ingin memuntahkan seluru isi perutnya.
Beberapa saat pun berlalu, Alan sudah terlihat normal seperti sebelumnya. Setelah berhasil memuntahkan semua isi perutnya, kini badannya sudah mendingan.
__ADS_1
"Bu, aku ke kantor ya. Nanti aku balik lagi. Titip Sora ya Bu," ucapnya sembari mencium tangan Ibunya.
Alan kemudian menghampiri Sora yang sedang duduk berduaan dengan Tante Susan.
"Ra, aku ke kantor bentar ya," pamit Alan. Ia Kemudian mengecup kening istrinya. Membuat Tante Susan iri melihat kemersaan mereka berdua.
"Tante, Alan berangkat dulu. Titip Sora ya," ucap Alan dengan senyum penuh arti.
Tante hanya menjawabnya dengan senyuman.
"Titip, titip apa maksudnya. Wong sudah sebesar ini kok dititip-titipin. Memangnya barang!" ucap Tante Susan sangat lirih. Namun ucapan Tante Susan dapat didengar dengan jelas oleh kedua telinga Sora.
Mendengar bisikan halus dari tantenya, Sora berakting tidak mendengarkan ucapan sang tante. Tangannya lebih memilih sibuk menata kue untuk acara nanti.
"Ra, yang mandul itu kamu apa Alan sih?" tanya Tante Susan dengan tiba-tiba, pertanyaan dari tantenya barusan suskes membuat jantung Sora berdegup dengan kencang.
Sebuah rasa amarah mengembang dalam benakknya, ingin rasanya ia membentak orang yang ia hormati itu. Namun, Sora berhasil mengendalikan diri. Ia mengambil napas dengan dalam. Kemudian baru ia menjawab pertanyaan dari sang tante.
"Lah itu... Itu pasti akar masalahnya. Ada kista dalam rahim kamu, makanya susah memiliki anak," kata Tante Susan dengan mengebu-ngebu, tanpa memikirkan hati dan perasaan Sora.
"Sudah operasi Tante, sudah kembali normal," ucap Sora, ia tidak mau kalah argumen dari tantenya yang suka mengosip itu.
"Mungkin kistanya kembali tumbuh, kamu kan tidak tahu,"
"Ya ampun, doa Tante jelek sekali pada Sora,"
"Bukan mendoakan, hanya saja tante kan kasian sama suamimu. Lihat, teman temannya semua sudah memiliki anak. Bahkan ada yang punya anak lebih dari satu," celoteh Tante.
"Anak itu hak Allah Tante, Sora sama Mas Alan juga sudah usaha. Mungkin belum waktunya," ucap Sora pasrah.
"Cari jalan lain, siapa tahu akan berhasil," saran Tante Susan.
"Maksud Tante?"
__ADS_1
"Suruh nikah lagi tuh si Alan, kan banyak tuh para ustad istrinya lebih dari satu,"
"Saya sudah pernah mencobanya, Mas Alan tidak mau?" lama-lama Sora jengkel juga dengan aksi dari tantenya. Ia menjawab pertanyaan dari tantenya dengan sedikit jutek dan tidak bersahabat.
wajah Tante Susan langsung terbelalak, masak Sora sudah pernah menyuruh Alan untuk menikah lagi. Rasanya dia tidak percaya atas apa yang diucapkan oleh Sora, keponakannya.
Keduanya tidak menyadari, sepasang telinga sudah menguping sedari tadi. Ibu yang berada di ruang lain sejak tadi mendengar obrolan mereka berdua. Hanya saja ia menahan diri untuk tidak menyahut obrolan menantu dan adik iparnya.
Suasana menjadi hening untuk sementara waktu. Namun, tiba-tiba ada anak kecil yang menerobos masuk ke rumah Ibu Alan.
"Uti.. Uti...," panggil anak kecil tersebut.
"Eh.. Cucu Uti sudah datang," Ibu lansung merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Sofie.
Sofie merupakan cucu dari Tante Susan. Meskipun belum begitu tua, namun Tante Susan sudah memiliki cucu. Ini karena putri Tante, waktu lulus SMA langsung menikah akibat kecelakaan. Bukan kecelakaan lalu lintas pada umumnya, namun sebuah kecelakaan karena kebablasan dalam berpacaran. Makanya, meski usia Tante Susan belum genap 40 tahun ia sudah di panggil Nenek.
Sofie kini beranjak mendekati Sora, gadis kecil yang baru berusia tiga tahun itu langsung duduk di pangkuan Sora.
"Sofie cantik, mau coklat?" tanya Sora seraya memeluk gadis cilik yang mengemaskan itu. Hasrat Sora seakan terpancing lagi untuk mendapatkan seorang anak, bagaimanapun caranya. Ia sangat menginginkan seorang yang dapat ia belai dengan sayang.
"Mau Mama solaaa," jawab gadis kecil itu dengan bibir munggilnya. Membuat Sora ingin menciumnya berulang-ulang.
"Ya sudah, sini Mama gendong ke toko depan ya.. Kita borong coklatnya," ucap Sora pada gadis kecil yang sekarang sudah dalam gendongannya.
Terdengar gelak tawa dari Sofie, sentuhan tangan Sora yang tulus membuat Sofie nyaman bersama dirinya.
"Bu, Tante.. Sora ajak Sofie beli coklat di depan kompleks sana ya,"
"Iya, hati-hati. Banyak pengendara motor yang lalu lalang dengan kecepatan tinggi," ucap Ibu mertuanya.
"Baik Bu," Sora berjalan keluar. Dengan Sofie yang berada dalam gendongannya. Keduanya melantunkan lagu anak-anak secara bersama-sama. Sora sejenak terhibur dengan kehadiran anak orang lain dalam dekapannya. Untuk kedepannya, entah apa yang mungkin terjadi pada hidup Sora selanjutnya. Mungkinkah akan segera hadir dalam hidupnya, seorang anak yang lahir dari rahim wanita lain. Anak yang akan memangil dirinya dengan sebutan Mama. Namun, bukan anak kandungnya.
bersambung
__ADS_1