Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Kupu-Kupu Malam Vs Wanita Gila


__ADS_3

"Aduh, badan gue sakit semua. Bagaimana gue ada disini? sadar Stella, harusnya gue masih ada di dalam hotel. Menemani pelangan Mami. Gara-gara Om botak yang banyak maunya, terpaksa gue kabur. Gila bener, masak gue disuruh melayani lama bener. Hiii... merinding gue kalau inget Om botak itu," ucap Stella lirih. Ia menoleh kesana kemari, pandangan wanita muda itu menyusuri ke seluruh ruangan.


"Buset, gede banget rumahnya. Bisa muat orang satu RT nih," pekik Stella yang terdengar oleh telinganya sendiri. Ia begitu heran dengan rumah yang ia tingali saat ini. Stella takjub dengan kemegahan rumah Alan dan Sora.


Baru akan bangkit dari sofa, Stella mendengar langkah kaki yang mendekati dirinya. Secepat kilat, Stella kembali merebahkan tubuhnya. Ia pura-pura tertidur lagi. Seperti aktris professional, Stella kembali memainkan tipu dayannya.


Pemilik langkah kaki itu adalah sang pemilik rumah, Alan Manco Kardinov yang sedang dirundung kebinggungan. Berkali-kali ia menoleh pada wanita muda yang belum ia ketahui namanya. Wanita tersebut masih terbujur di atas sofa, matanya pun masih terpejam.


Melihat wanita itu tak kunjung bangun, Alan kemudian berpaling. Ia memutar tubuhnya menuju tempat yang berbeda. Hati dan pikirannya kini berada pada Sora. Alan akan mencoba merayu istrinya sekali lagi.


Langkah kakinya terpaku di depan pintu kamarnya.


"Sora, boleh aku masuk?" lama sekali Alan tidak mendapat sahutan dari dalam. Karena tidak kunjung mendapat respon, Alan mencoba memutar gangang daun pintu kamarnya.


Krietttt...


Pintu kamar sudah terbuka, dilihatnya Sora tengah berhias di depan meja riasnya.


"Mau kemana?" Alan menaikkan separuh alisnya.


"Kerja Mas,"


"Trus, yang ngurus wanita itu siapa?" protes pria tersebut. Bila Sora pergi bekerja, maka ia akan berduaan saja di dalam rumah bersama wanita asing. ia lebih baik membawanya ke kantor polisi saja.


"Semalam Mas kan sudah tidur dengannya, Mas harus tanggung jawab?" ucap Sora dengan entengnya. Ucapan yang keluar dari bibir manisnya serasa tanpa beban. Loss begitu saja, sepertinya Sora telah mengalami sebuah ganguan.


"Aku tidak mengerti maksud kamu apa Ra? jangan mengila! Ayo kita tanyakan perihal semalam, bila wanita itu tengah sadar!" Alan tidak terima dengan tuduhan Sora.


"Baiklah, nanti malam kita bicara lagi. Aku sudah telat Mas. Aku berangkat dulu,"


Sora menyambar tas branded-nya yang tergeletak di atas meja rias. Dengan acuh ia meningalakan Alan yang masih menyimpan sejuta rasa pada dirinya.


Karena memang agak siang, Alan rasa sudah cukup perdebatan dirinya bersama istrinya. Nanti malam ia akan menyambungnya kembali. Untuk saat ini cukup sampai disini.

__ADS_1


Dengan langkah seringan kapas, Sora meningalkan kamarnya. Sebelum benar-benar keluar dari dalam rumahnya. Ia sempat mencuri pandang ke arah sofa. Dilihatnya wanita muda itu masih tertidur di sana. Dengan perasaan santai, Sora meninggalkan kediamannya.


"Rumah ini akan segera ramai, tidak akan Ada lagi hawa sepi yang menyelimuti rumah kami. Maaf Mas Alan, aku harus begini. Hal ini membuatku merasa hidup kembali. Aku bosan hidup kesepian dalam rumah yang bagai penjara ini," senyum aneh kembali mencuat di ujung bibir Sora.


Mobilnya berderu, meningalkan rumah dengan sejuta cerita. Cerita kesepian yang menghingapi dirinya sepanjang pernikahan dengan Mas Alan.


Suasana kantor Sora ramai seperti biasanya, ruang tunggu banyak di huni para nasabah yang mengantri untuk di layani. Sora langsung meluncur ke ruang kerjanya. Dengan lihai ia memeriksa semua berkas-berkas yang ada di tangannya.


Namun, tiba-tiba hatinya bergidik ngeri. Sedang apa sekarang suaminya bersama wanita muda yang sengaja ia tinggalkan di dalam rumah? Sora penasaran setengah hati. Ia tidak sabar untuk pulang, Sora penasaran dengan rencananya sendiri.


Sebelumnya, ia telah menyiapkan segelas susu hangat untuk suaminya di dalam kamar. Sebuah gelas susu yang mengandung rencana tersembunyi Sora.


Di rumah besar nan megah, Alan tengah mandi di dalam kamarnya sendiri. Gemricik air dari shower membasahi tiap inci tubuhnya. Badan yang tegap dan kekar itu telah basah seluruhnya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki air telah membasahinya.


Alan keluar hanya dengan selembar handuk yang meililit pada pinggangnya. Dengan santai ia menuju lemari pakaiannya. Alan sibuk mencari kemeja utuk ia kenakan. Ia merasa binggung, semarah apapun Sora padanya. Istrinya itu tidak akan pernah lupa menyiapkan pakaiannya.


Akan tetapi kali ini, hanya ada celana yang disiapkan Sora serta dasi. Lalu pergi kemana kemejanya? Pria itu mencari pakaiannya di gantungan lemari, dengan asal ia memilih pakaian yang akan ia kenakan. Dengan perasaan yang amat santai Alan melepas selembar handuk yang menempel pada tubuhnya.


Stella sedang mengamati Alan dari balik pintu. Ia membuka pintu kamar Alan yang tidak terkunci. Dengan membuka pintunya sedikit, Stella mengintip lewat cela.


Stella menelan air liurnya sendiri, jika membayangkan badan tegap Alan membuat hasratnya terbakar. Wanita kupu-kupu malam itu tergiur dengan pesona Alan.


"Pria tampan dan jantan, tangkapan yang bagus... Stell," ucapnya lirih.


Stella seakan sudah menargetkan Alan sebagai sasaran yang empuk.


Sementara Alan yang sedang diamati, tidak merasakan apapun. Ia masih terus melanjutkan aktifitasnya. Tangan Alan mengambil gelas susu yang sudah dingin, karena tidak segera ia minum. Dengan sekali tengguk Alan langsung menghabiskan susu tersebut.


Kini ia duduk di atas kursi, Alan sedang memakai sepatunya. Saat akan bangkit mengambil tas kerjanya. Bunyi telpon masuk menghentikan langkah kaki pria itu.


"Hallo,"


"Pak, ini saya Pak Dadang,"

__ADS_1


"Oh, ada apa Pak?"


"Maaf Tuan, saya harus pulang kampung. Putri saya menelepon, istri saya masuk rumah sakit. Mohon ijin Tuan, saya mau balik kampung."


"Kapan Pak?"


"Kalau bisa hari ini Tuan, istri saya sakit parah,"


"Oh baiklah, saya akan turun kebawah. Pak Dadang tunggu sebentar,"


"Iya Tuan."


Alan membuka lemari brankasnya. Dikeluarknya beberapa gebok uang. Ia memasukkan nya ke dalam sebuah amplop coklat. Sangat jarang sekali Pak Dadang pulang kampung, paling juga satu tahun dua kali. Itupun saat hari raya.


Alan bergegas turun ke bawah dengan amplop coklat dalam gengamannya. Setelah bertemu pak Dadang yang sudah menunggu di pos penjagaan rumahnya, Alan mengulurkan amplop coklat tersebut.


"Tidak usah Tuan, gaji saja selama ini sudah cukup. Terimakasih banyak Tuan, saya tidak ingin jadi orang yang serakah," tolak Pak Dadang atas kebaikan hati majikannya.


"Ini hak Pak Dadang, bukan Pak Dadang yang serakah. Anggap ini rejeki buat keluarga bapak di kampung. Tidak usah buru-buru balik, nanti kalau ibu di kampung sudah membaik Bapak bisa kembali,"


"Terimakasih Tuan," nampak bulir bening keluar dari sudut mata Pak Dadang. Ia merasa terharu dengan kebaikan Alan.


"Ya sudah, hati-hati Pak. Maaf tidak bisa mengantar sampai stasiun,"


"Tidak apa-apa Tuan, Terimalah banyak,"


Pak Dadang pun berlalu, meninggalkan kediaman Alan. Ia kini harus pulang kampung sejenak, mengunjungi istrinya yang tengah sakit disana.


Alan kembali masuk ke dalam rumahnya, entah mengapa tiba-tiba tubuhnya terasa terbakar. Pria itu merasa sedikit gerah, ada perasaan asing menjalar di sekujur pembulu darahnya...


Alan mulai terbakar, rencana Sora hampir mencapai puncaknya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2