Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Siapa Yang Paling Kamu Cintai?


__ADS_3

Tangan Sora tidak sengaja menyenggol asbak yang terbuat dari kaca. Asbak langsung pecah ketika Sora menjatuhkan nya di atas lantai. Wanita itu kini panik, bagaimana nanti kalau sampai tante Ida tahu keberadaan dirinya. Karena begitu sangat panik, Sora tidak sengaja menginjak pecahan asbak kaca tersebut. "Auch...," rintih Sora. Alisnya turun, terasa perih pada kakinya yang sudah mengeluarkan darah.


Sora memaksakan kakinya untuk tetap melangkah, dan serpihan kaca bekas asbak semakin dalam menembus masuk kakinya. Kini ia duduk di tepian ranjang, tempat ia bergelut semalaman dengan Ferry. "Aish.. Apa ini azab?" decit Sora, ia menghakimi dirinya sendiri. Ia seperti tersadar atas apa yang ia lakukan sepanjang malam.


Wanita itu perlahan mencabut serpihan kaca dengan hati-hati, Sora tampak meringis menahan sakit dan perih. "Ingat Ra, ini belum seberapa. Dari pada rasa sakit yang kamu timbulkan jika Alan sampai tahu hubunganku dengan Ferry," kembali Sora merutuki kelakuannya sendiri. Ada rasa sesal yang tidak bisa ia tepis dari sudut hatinya. Tidak seharusnya ia bersikap seperti ini, lalu mengapa semua menjadi kacau balau? Sora meremas wajahnya dengan kesal. Jelas terlihat ia sedang frustasi.


Sedangkan di luar kamar Ferry, Mama Ida masih memberikan tatapan penuh curiga pada sang putra.


"Ada siapa di dalam kamarmu?" ujar Mama Ida.


"Mungkin kucing Ma," kilah Ferry, ia tidak berani berbicara sambil memandang wajah Mamanya.


"Ferr, kamu anak Mama. Dan Mama hafal betul sama karakter anak Mama. Mama sangat tahu, kamu tidak bisa menyembunyikan kebohongan dari Mama, katakan ada siapa di dalam sana?" tuntut Mama Ida, ia sudah merasa curiga pada Ferry yang memang tidak pandai dalam merahasiakan apapun dari dirinya.


"Ma...," ucap Ferry, ia menyerah. Tidak akan bisa baginya menyembunyikan sesuatu dari Mamanya tersebut. Mama Ida kelewat pintar menyingkap semua rahasia yang ia simpan.


"Jangan katakan, kalau itu adalah Sora!" pungkas Mama Ida. Seketika sudut bibir Ferry terangkat dan tersenyum kecut. Tebakan Mama selalu tepat. Ferry langsung mengengam tangan Mamanya.


"Maafkan Ferry Ma, ini semua salah Ferry," ia seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah di belakang orang tuanya.


"Suruh dia keluar!" Mama Ida menahan kesal dalam dadanya. Ia dapat menduga, bila semalam Sora pasti menginap di rumah putranya. Mama Ida sangat marah lantaran tidak ingin Ferry terkena masalah. Status Sora yang masih Istri orang, akan membuat Ferry bersingungan dengan hukum. Bila suami Sora tidak terima istrinya diganggu.


"Tapi Ma..." bantah Ferry, ia tidak ingin Sora menerima kemarahan ferbal dari Mamanya. Pria itu tidak ingin melihat wanita yang ia sukai terluka.


"Tidak usah tapi-tapi, jika ada orang di dalam sana. Bawa sini, siapapun itu. Mama ingin bicara!"


Ferry sudah mati langkah, mau tidak mau ia tetap harus membuka pintu kamarnya. Jika tidak, sepertinya sang Mama yang akan mendobrak pintu kamarnya. Ia tahu betul, Mamanya kalau sudah keukeh sulit untuk dibujuk. Dengan langkah gontai, Ferry menuju ke kamarnya. Ia dengan ragu-ragu mengetuk pintu kamar.


"Ra..." Ia memanggil nama Sora, apa yang ia rasa saat ini begitu tidak mengenakkan. Harus ketahuaan oleh sang Mama membuatnya melempem. Pasalnya, Sora masih Istri orang. Jatuh sudah nilai Sora di depan Mamanya. Agh.. rasanya Ferry ingin teriak saja. "Untuk apa juga Mamanya, pagi-pagi datang kerumah. Bisanya juga jarang sekali ke sini," gumam Ferry.

__ADS_1


"Ra, buka pintunya. Mama sudah tahu semuanya,"


Cekrek...


Sora membuka pintu kamar Ferry, nampak jelas wajah cemas yang tergambar di paras wanita itu. Ia hampir tidak punya muka untuk bertatap mata dengan Mama Ida.


Begitu pintu di buka, Ferry langsung memegang pergelangan tangan Sora. Seakan ia tidak rela Mamanya akan memarahi wanita tersebut.


Tanpa memperdulikan luka pada kakinya, Sora mengikuti kemana Ferry melangkah. Pria tersebut tidak tahu, ada jejak darah yang ditinggalkan kaki Sora di atas lantai rumahnya. Ia terlalu fokus pada kemarahan yang akan ia terima dari sang Mama.


"Maaf Ra, ini salahku. Nanti kalo Mama marah, langsung sembunyi di belakang ku,"


"Apa Mama kamu bakal menyiram air ke wajahku?" tanya Sora.


"Gak papa, nanti kalo sampai Mama siram air, mandi sekalian," ujar Ferry, ia ingin memecah ketegangan diantara keduanya.


Di ruang tengah, Mama Ida menatap tajam pada dua orang yang berjalan mendekatinya. Mama Ida terlihat garang, ia memandang Sora yang berdiri di samping putranya. Rasanya Mama ingin langsung marah pada wanita yang sudah menjerat putranya itu.


"Hemm.. duduk," perintah Mama Ida. Baik Sora maupun Ferry seketika itu langsung merapat ke kursi. Keduanya sama-sama mematuhi apa kata Mama Ida.


"Semalam kamu tidur disini?" tanya Mama Ida, ia menatap tajam pada Sora yang duduk di sebelah putranya.


"Maaf Tante," ucap Sora. Ia menundukkan wajah cukup dalam. Rasa malu telah menyelimuti dirinya.


"Ini salah Ferry Ma, Ferry yang salah! Ferry juga akan bertanggung jawab!" sahut Ferry, ia tidak tega menyaksikan Sora yang sedang terpojok.


"TANGGUNG JAWAB APA?" teriak Mama Ida.


Baik Sora maupun Ferry diam seketika, keduanya sama-sama takut dengan kemarahan Mama Ida. Sepertinya nada bicara Mama pun sudah naik tujuh oktaf. Membuat para pelaku kejahatan asusila tersebut bergidik ngeri.

__ADS_1


Mereka berdua seakan sedang dihakimi oleh Mama Ida. Ferry dan Sora sedang disidang Mama Ida karena kesalahan fatal mereka berdua.


"Kalau sudah begini, bagaimana selanjutnya Ra," Mama merasa jengkel sekali. Ada kesan yang buruk sejak pertama. Diawali dengan patah hati putranya, karena di tinggal nikah Sora.


Banyak nilai minus yang membuat Mama Ida tidak menyukai sosok Sora.


"Terus ini bagaimana?" tanya Mama Ida lagi.


"Aku yang salah Ma, aku yang akan tanggung jawab," Ferry mengengam jari jemari Sora yang terasa dingin.


Marah dengan kata-kata yang keluar dari bibir putranya, Mama Ida langsung memukuli lengan kekar anaknya. Ia merasa marah dan jengkel pada sikap Ferry. Baginya, wanita di dunia ini begitu banyak. Tidak bisahkan Ferry mencintai wanita lain?


"Mama mau, ini pertemuan terakhir untuk kalian!" titah Mama Ida. Sudah seperti undang-undang yang harus ditaati oleh Ferry dan Sora.


"Ma..." teriak Ferry. Ternyata dia bisa teriak juga, karena seorang wanita.. pikir Mana.


"Dia sudah menikah Ferr," ucap Mama tak kalah sengit. Ia ingin membuat Ferry tersadar dari cinta butanya pada Sora.


Sedangkan Sora hanya terdiam. Ia tidak punya keberanian untuk mengeluarkan kata-kata. Wanita itu tahu betul posisinya, ia memang sudah salah besar. Sepertinya tidak Ada jawaban untuk membenarkan setiap tindakannya.


"Sora, apa kamu mencintai Ferry sebesar kamu mencintai suamimu?" kini Mama Ida mendesak jawaban dari Sora.


Sora sendiri belum memiliki jawaban untuk pertanyaan yang Mama Ida berikan. Kini baik Mana Ida dan Ferry sama-sama menantikan jawaban dari Sora. Lantas jawaban apa yang akan Sora ucapkan?


Siapa yang lebih Sora cintai, Ferry ataukah Alan?


bersambung


***

__ADS_1


Hai Para Pembaca dan Author kesayangan, jangan sampai bosan kasih dukungan ya.... Pencet tombol Like Komen Vote dan Rate Bintang Lima. Jangan lupa pencet juga simbol hati ❤


Terimakasih ya... Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author. Salam hangat dariku 🍒


__ADS_2