Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Gadis Yang Membuat Patah Hati Cukup Lama


__ADS_3

Sepanjang malam Sora berjibaku dengan ponselnya, entah sudah berapa jam ia berada di luar kamar. Hawa dingin yang menusuk kulitnya, lama kelamaan membuat Sora bergegas masuk kembali ke dalam kamar. Ia mencari remote Ac lalu mematikannya, rasanya malam ini begitu dingin sedingin hatinya.


Sora kembali memposisikan tubuhnya di sebelah Alan, namun kali ini ia mengambil sebuah guling. Ia letakkan sebuah guling di tengah-tengah mereka. Sora seakan menjadikan guling itu sebagai pemisah, sebuah dinding pemisah bagi hubungan mereka yang semula hangat.


Sora kembali berusaha memejamkan kedua matanya, namun aneh sekali. Matanya sama sekali menolak untuk terlelap, ia menatap jam dinding yang bertenger di dinding kamarnya. Sudah hampir pagi, dengan terpaksa Sora mengambil botol obat yang ada dalam laci mejanya.


Wanita itu menengak beberapa pil, untuk mengantarkannya tidur. Sora pun meminum air, dan tinggal menunggu beberapa saat hingga obat tidur mulai bereaksi pada tubuhnya.


Keesokan paginya, Alan sudah bangun terlebih dahulu. Ia sudah terlihat rapi dengan pakaian kerjanya. Sebelum akan meninggalkan rumah untuk berangkat kerja, ia menghampiri sang istri yang masih terlelap. Ditatapnya wajah Sora dengan dalam, ada sedikit rasa tak nyaman yang dirasakannya.


Alan kembali teringat dengan kejadian kemarin, rasa sesal sedikit menghampiri dirinya ketika menatap wajah sang istri. Tanpa menunggu Sora bangun, Alan berangkat kerja. Hari ini ada meeting pagi dengan klien. Sebelum benar-benar pergi, Alan mengecup kening istrinya dengan lembut.


Setelah mendengar langkah kaki yang semakin menjauh, Sora membuka kedua matanya kembali. Ternyata ia sudah bangun sejak tadi. Wanita itu memilih berpura- pura tidur karena enggan menatap wajah suaminya. Bayangan penghianatan masih tergambar jelas di dalam ingatannya.


Padahal itu hal gila yang ia rencanakan sendiri, tapi kini ia malah menyesal karena merasa dihianati sang suami. Entah apa yang ada dalam kepala Sora, akal sehatnya sudah lama mati. Seiring berjalannya waktu, kesedihan yang selama ini menderanya membuat Sora berubah.


Ia mulai ketergantungan obat-obatan hanya untuk membuatnya tertidur. Kedamaian yang ia dambakan sudah lama pudar, pernikahan yang ia jalani begitu terasa hampa baginya. Anak, Sora hanya ingin anak. Ia begitu iri dengan wanita di luar sana, yang dengan mudahnya mendapatkan seorang anak.


Sora kembali meratapi nasib, apakah ia memang ditakdirkan tidak memiliki keturunan di dunia ini? Betapa kejamnya bila itu sampai terjadi. Bulir bening kembali memaksa keluar dari kedua matanya, entah berapa banyak lagi air mata yang akan membasahi kedua pipinya.


Sora memilih bangkit dari ranjang tempat ia berbaring, berusaha bangkit dari keterputukan dan kesedihan yang membuatnya nampak lemah.


Dengan langkah yang berat, ia menyambar handuk untuk mandi. Ia juga tidak ingin berlama lama meratapi nasip, nanti malah terlambat ke kantor. Dengan secepat kilat Sora mandi, ia sangat buru-buru.


Beberapa saat kemudian, Sora sudah duduk di depan mejanya riasnya. Tangannya begitu terampil memoles lipstick pada bibirnya yang ranum. Kali ini ia memakai warna merah muda, ia ingin menganti suasana. Warna merah cabai yang selama ini menghiasi bibirnya kini ia ganti. Sora ingin hal baru, ia ingin suasana yang baru juga.


Setelah dirasa sudah beres, Sora mengambil kunci mobilnya yang hampir lupa ia bawa. Ia membuka dan menutup pintu gerbangnya sendiri. Karena penjaga rumahnya masih belum kembali. Pak Dadang masih berada di kampung halamannya, entah kapan penjaga rumahnya akan kembali.


Wanita itupun melajukan mobilnya dengan kencang, ia takut karena hampir terlambat. Beberapa Kali Sora menguap dibalik kemudinya, rasa kantuk masih menghampiri Sora. Karena tak ingin menyetir dengan kondisi yang mengantuk, ia berhenti sebentar di sebuah mini market.


Sora nampak mengambil sebuah botol minuman kemasan yang mengandung caffeine. Ia ingin menghilangkan rasa kantuk yang menyerangnya. Ini karena hampir setiap malam ia mengalami ganguan sulit tidur. Sora menderita insomnia berat. Kalau saja tidak dibantu dengan obat tidur, ia pasti akan terjaga sepanjang malam.


Setelah isi minuman tadi berpindah ke dalam lambungnya, Sora kembali memacu mobilnya. Secepat kilat ia membelah jalanan, menembus angin yang semilir menerpa dedaunan.

__ADS_1


Di tempat yang berbeda, Ferry sedang kedatangan tamu di kediamannya. Rumah Ferry cukup asri, begitu banyak pepohonan di halaman rumah yang setara dengan lapangan basket. Dari teras rumahnya, kita dapat melihat pohon mangga yang menjuntai banyak buahnya.


Di sisi yang lain, ada beberapa pohon kelengkeng yang masih berbunga. Belum lagi sisi yang lainnya, rumah Ferry sudah mirip pasar buah.


"Apa kabar Ma," sapa Ferry pada Mamanya yang datang berkunjung.


Mata Mama masih terpacu pada buah-buah ranum yang ada di halaman rumah putranya.


"Buruk!" jawab Mama Ida dengan ketus. Nada suara sang Mama nampak tidak bersahabat kali ini.


"Kok begitu Ma?"


"Kamu kapan pulang?" Mama Ida bukannya menjawab, ia justru kembali mengajukan pertanyaan pada Ferry.


"Pulang kemana Ma..? Ini kan rumah Ferry,"


Raut wajah Mama Ida mulai mengeras, ia nampak kesal dengan sikap putranya. Bagaimana tidak, hanya karena perbedaan pendapat dengan suaminya. Ferry memilih meninggalkan rumah.


Begitulah Ferry, ia lebih memilih hidup bebas dan mandiri tanpa ada orang yang mengatur. Dari pada jiwanya dikekang, dan terlalu banyak aturan ia memilih meninggalkan rumahnya. Hidup dengan usahanya sendiri, tanpa bayang- bayang orang tuanya.


"Menikahlah Fer," ucap Mama, nadanya seperti sebuah perintah.


"Iya Ma, tapi tidak saat ini."


"Mama kenalin dengan putri temen Mama ya?" bujuk rayu sudah mulai Mama Ida lancarkan. Ia berniat menjodohkan putranya yang tidak kunjung menikah.


"Tidak usah repot-repot Ma,"


"Nih... Kamu lihat dulu fotonya," Mama Ida menyodorkan ponselnya.


"Tidak usah Ma, sudah ada yang aku sukai," ucap Ferry untuk menghentikan aksi perjodohan Mamanya.


"Siapa wanita beruntung itu? tidak sia-sia kamu selama ini menjaga diri, hingga tidak ada satu wanita pun yang kamu pacari semenjak kamu ditinggal nikah sama.. Siapa itu teman SMA kamu yang cantik dulu?"

__ADS_1


"Amelia Soraya Ma," jawab Ferry dengan semburat senyum di wajahnya yang tampan.


"Oh iya, si Sora. Lama juga Mama tidak mendengar kabar darinya. Padahal dulu kalian akrab."


"Kabarnya baik Ma,"


"Loh kamu kok tahu?" tanya Mama dengan sedikit rasa penasaran.


"Kemarin baru ketemu Ma,"


"Oh.. Lain kali sampaikan salam Mama buat orang yang sudah membuat putra Mama patah hati yang cukup dalam," kata Mama Ida dengan nada bercanda.


"Apa sih Ma,"


"Lah.. Terus siapa gerangan gadis yang kamu sukai saat ini?' Mama Ida mencoba mengorek kehidupan putranya.


Dengan ragu-ragu Ferry menjawab pertanyaan dari Mama Ida.


"Sora,"


"Apa?"


"Iya Sora!"


"Mama tidak salah dengar kan Fer?"


"Amelia Soraya Ma, temen SMA Ferry yang membuat Ferry patah hati cukup lama."


Mata Mama Ida langsung melotot, bola matanya seakan ingin keluar. Bagaimana tidak, setahu Mama Ida, Sora sudah menikah. Bagaimana bisa putranya menyukai wanita yang sudah menikah?


Bersambung


***

__ADS_1


Hallo Para Author dan Pembaca semuanya, Jangan lupa memberi dukungan untuk Author ya.. Pencet tombol Like, Komen, Vote dan Rate bintang lima ya... Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author. Terimakasih ❤


Salam hangat dariku 💕


__ADS_2