
Langit yang cerah kini berubah menjadi jingga. Sora masih berada dalam rumah bersama Riana. Lelah terus mengobrol, keduanya kini asik menonton infotainmen di televisi. Mata Sora menatap tajam ke arah layar kaca, dilihatnya sebuah berita tentang seorang komedian yang sedang viral.
Diberitakan seorang komedian pria telah menikah lagi. Berita seperti ini menjadi hangat dan banyak dibicarakan, karena masih banyak orang yang pro dan kontra.
Menatap Sora yang serius menatap layar televisi, Riana pun buka suara.
"Padahal itu istrinya sudah dua loh Kak,"
Mendengar ucapan Riana, Sora langsung menatap Riana yang duduk tidak jauh darinya.
"Masa, tau dari mana kamu Na? Jadi ini istri yang ke tiga?" ucap Sora seakan tidak percaya dengan gosip yang beredar.
"Iya Kak, laki laki kalau banyak duit memang begitu Kak!"
"Heheh... Kamu bisa saja, tuh Mas Alan. Duitnya banyak ogah poligami."
"Masa? dari mana kakak tahu?"
"Lah.. Itu kan suami Kakak, ya jelas Kakak tahu lah Riana!"
"Kan biasanya kucing dikasih ikan, dia gak pernah nolak Kak!"
Apa sih ini Riana, masak Mas Alan disamain dengan seekor kucing? jujur ya Riana, Mas Alan itu pria setia. Adapun cerita Masa lalu yang terlanjur terjadi, aku akui itu semua aku yang salah. Aku lama lama gak suka sama Riana. Kalau membahas tentang Suamiku, batin Sora
"Lihat lihat dulu kucingnya Riana, Mas Alan gak sama seperti laki laki kebanyakan. Kalau kamu mengenalnya, kamu pasti akan jatuh hati, hehehe," canda Sora. Ia bersikap biasa saja pada Riana, tidak mungkin mengatakan apa yang tersimpan di dalam hatinya. Cukup hanya dia yang tahu.
"Kelihatan kok Kak, Mas Alan kelihatan sayang sama mbak Sora. Aku juga ingin suami yang seperti Mas Alan," ucap Riana dengan jujur.
Sora langsung terhenyak, ia menatap Riana seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Oh type idaman kamu seperti Mas Alan to?" Sora bersikap sangat biasa, padahal hatinya sudah gemas. Dulu ia ingin sumainya menikah lagi, namun itu dulu. Kalau saat ini cuku dirinya yang mengisi hati suaminya. Sora sekarang tidak rela suaminya di lirik wanita lain.
Rangkaian peristiwa yang menimpah dirinya belakangan ini, membuat Sora sadar. Bahwa sejauh apapun kakinya berlari mencari hiburan, ia akan selalu merindukan hati suaminya yang hangat. Sebuah hati yang setia menemani dirinya bertahun tahun lamanya.
Rasanya terlalu tidak ada artinya, bila harus menukar keutuhan rumah tangganya dengan sebuah perselingkuhan. Kini Sora mulai insaf, tidak akan ada pria lain yang ia lihat. Kecuali suaminya seorang. Alan Manco Kardinov, hanya Alan tidak ada Alan yang lainnya. Bahkan kenangan bersama Ferry sudah hilang tersapu angin yang lewat.
"Kakak marah gak, kalau aku bilang yang sejujurnya?" Riana memegang tangan Sora.
__ADS_1
"Gak lah, wajar lah. Suami Kakak jadi idola, siapa sih yang tidak menyukai pria tampan dan mapan. Apa lagi Mas Alan orangnya penyayang," Sora memaksakan senyumnya. Gigi putihnya nampak berjejer rapi, seperti paskibraka yang sedang latihan PBB untuk acara tujuh belas agustus di Istana Negara. Rapi dan elok untuk dipandang.
"Syukurlah kalau Kakak tidak marah, aku takut Kak Sora marah ke Riana,"
"Tenang saja, Kakak gak marah kok,"
Bibir Sora berkata tidak, tapi hatinya cukup marah. Bagaimana bisa seorang wanita mengatakan pada wanita lainnya, bahwa type suamiku adalah seperti suamimu? Sora merasa sedikit geram. Namun bisa ia tahan, ia tidak enak karena Riana teman satu satunya di tempat ini.
Sora akan mentoleransi Riana untuk saat ini, namun jika hal ini berlanjut. Maka ia akan memberi ultimatum yang tegas, ia akan membasmi pelakor yang mengincar posisinya.
"Oh ya Kak, Mas Alan kok belum pulang?" tanya Riana penasaran. Ia membuka tirai jendela, diintipnya halaman rumah Sora yang semula adalah rumah milik keluarga Riana.
Riana, aku rasa ini sedikit bagaimana gitu. Aku saja yang istrinya tidak terlalu kepo kapan suamiku akan pulang. Ini yang jadi istrinya Mas Alan, aku atau kamu Riana? suara hati Sora.
"Mungkin sebentar lagi," jawan Sora singkat.
Grengg...grengg... chiittt...
Suara deru mesin mobil yang berhenti di halaman rumah Sora, membuat dua orang wanita yang mematok Alan sebagai type idealnya, langsung melongok ke arah halaman rumah. Baik Sora maupun Riana sama sama melihat kedatangan Alan lewat jendela rumah.
Sora buru-buru membuka pintu dan Riana pun mengekori Sora dari belakang. Riana seolah ikut menyambut kedatangan suami Sora tersebut.
"Sudah datang Mas mobilnya?"
"Iya tadi Mas yang ambil, tadi Mas langsung mampir. Nanti kita ambil mobil kamu juga ya. Ayo masuk, anginnya kenceng banget. Nanti kamu masuk angin," Alan merangkul pundak Sora, mereka masuk bersama ke dalam rumah dengan langkah kaki yang berirama sama.
Riana bagaikan obat nyamuk, entah mengapa. Hatinya merasakan jealous, Riana seakan iri dengan kemesraan yang terpampang nyata di depan mata kepalanya.
Akhirnya mereka bertiga masuk dalam rumah, Riana yang pertama membuka pembicaraan.
"Mas Alan, kapan Kita cari kos kosan?" tanya Riana penuh harap.
"Nanti ya," jawab Alan.
"Mobilku bagaimana?" rengek Sora.
Alan mengusap keningnya, ia juga binggung.
__ADS_1
"Besok ya, kamu gak kemana mana kan?" tawar Alan.
Sora menatap suaminya dengan tatapan aneh.
Satu jam kemudian, Riana sudah rapi. Ia kini memakai pakaian milik Sora. Terpaksa Sora meminjamkan pakaian untuk Riana, karena gadis itu kabur tanpa membawa pakaian ganti.
"Sudah siap?" tanya Alan pada Riana. Ia sedikit tertegun, karena pakaian yang dikenakan Riana adalah pakaian yang biasa dipakai Sora istrinya. Rasanya aneh sekali bagi Alan. Ia seperti melihat Sora versi lain, jauh lebih muda dan fresh.
"Sudah Mas Alan, ayo berangkat," ujar Riana.
"Tunggu mbak Sora ya Riana," ucap Alan, ia pun masuk dalam kamar mencari istrinya.
Riana sepertinya merasa sedikit kecewa. Apa mungkin ia mengharap pergi berdua saja dengan Alan? ah, Riana menepis pikiran yang tidak tidak. Harusnya dia tidak berharap pada suami Sora tersebut. Masa selimut tetangga menghangatkan tubuhnya?
"Ya ampun, ada apa dengan diriku? Mengapa aku terlalu berharap pada laki laki yang tidak seharusnya aku harapkan," batin Riana.
Riana mengusap wajahnya dengan lembut, ia merasa jengah dengan apa yang dirasakannya. Perasaan ingin memiliki Alan membuatnya dilema.
"Ayo Na," ucap Sora sembari menyentuh lengan Riana. Gadis itu tehenyak kaget karena sentuhan tangan Sora membuat Riana bangun dari lamunannya.
Alan sudah melangkahkan duluan menuju kemudinya, disusul Sora yang duduk tepat disamping Alan.
Lalu dimana tempat Riana? Yang pasti duduk di kursi belakang. Menjadi obat nyamuk bagi Alan dan Sora. Riana hanya bisa menelan ludah, menyaksikan kemesraan pasutri yang membuatnya iri.
Bersambung
***
Hai para pembaca yang aku sayangi..
Selalu dukung author ya..
Pencet tombol Hati, Like, Komen, Vote dan Rate Bintang Lima ya..
Dukungan kalian semua sangat berarti bagi author..
Terimakasih 🍒
__ADS_1