Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Kehadiran Gadis Asing


__ADS_3

Acara keluarga besar Alan kini telah berlangsung. Di rumah tante Susi, seluruh anggota keluarga telah berkumpul. Nampak Sora yang selalu mengandeng tangan mungil Sofie cucu tante Susan.


Entah mengapa, Sofie lebih nyaman bersama dengan Sora. Padahal Bundanya kini telah hadir di tengah-tengah mereka. Amanda adalah bunda Sofie. Wanita muda yang harus menikah ketika masih remaja.


Demi menutupi rasa malu pada keluarganya, terpaksa tante Susan menikahkan Amanda. Kala itu Amanda masih belia, karena tengah hamil dengan berat hati tante menikahkannya dengan laki-laki yang telah menghamili putrinya. Meski harus menanggung malu, tante tetap memaafkan putri tunggalnya itu.


Sebenarnya tante sangan malu, jika berada dalam sebuah perkumpulan arisan. Lamat-lamat ia bisa mendengar, beberapa orang membicarakan aib keluarganya. Namun, semuanya sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur.


Tidak mungkin ia mengugurkan calon cucunya, tante masih takut Tuhan. Tante Susan masih takut dosa. Oleh karena itu, ia menerima kelahiran Sofie.


Dari jauh tante Susan melihat keakraban sang cucu dengan Sora. Rasanya ia sedikit menyesal, menyerang Sora dengan berbagai macam kata yang mengujam istri keponakannya itu. Jika melihat ketulusan sikap Sora pada cucunya, lama kelamaan hati tante luluh juga.


Berbeda dengan Ibunya, Amanda tidak senang melihat kedekatan putrinya dengan Sora. Ia takut Sora akan mengambil putrinya. Amanda takut Sora terobsesi pada anak yang telah ia lahirkan.


Itu karena, Amanda tahu betul Sora sangat menginginkan seorang anak. Pernikahannya dengan kak Alan tidak membuahkan hasil. Sepuluh tahun menikah tidak mendapatkan apa-apa.


Dengan pandangan sinis, Amanda menarik lembut tangan putrinya yang terpaut dengan tangan Sora.


"Sofie, sini sama Bunda duduknya," bujuk Amanda.


"Gak mau, Sopie mau sama Mama Sola,"


Tanpa memperdulikan kemauan sang anak, Amanda langsung mengendong buah hatinya. Ia membawa Sofie menjauh dari jangkauan Sora.


Dari jauh, Alan yang telah membawakan sebuah gelas untuk Sora dapat melihat pemandangan itu. Sebuah kejadian yang tidak mengenakkan untuk istrinya. Alan langsung berjalan mendekati Sora.


"Ini minumnya," ucap Alan tanpa banyak bertanya.


Sora langsung meminum gelas yang berisi orange juice itu. Perlahan Sora menghabiskan Semuanya. Sora ingin mendinginkan kepalanya yang serasa panas untuk saat ini.

__ADS_1


Acara pun berjalan dengan lancar, selepas acara Sora dan Alan berpamitan pada tante Susi, tante Susan dan Ibu mereka. Hari sudah malam, keduanya terlihat sudah sangat lelah. Lelah badan dan lelah pikiran, bagaimana tidak. Hampir semua kerabat yang mereka berdua temui selalu menanyakan perihal anak. Membuat baik Sora maupun Alan jengah dan malas untuk membahasnya.


Dari pada dirundung ketidak nyamanan. Keduanya lebih memilih langsung balik setelah acara usai. Semula Ibu tidak membiarkannya. Ibu terus menahan Alan beserta Sora, namun Alan yang beralasan kelelahan membuat Ibu dengan berat hati melepaskan kepergian putra dan menantunya.


Kedua pasangan suami istri, Alan dan Sora kini sudah berada dalam sebuah mobil berwarna hitam. Alan melajukan mobilnya sangat lambat, entah apa saja yang sedang ia pikirkan.


Begitu juga dengan Sora, selepas menghadiri acara kerabat Alan kini Sora nampak lebih murung. Entah mungkin karena merindukan Sofie atau memikirkan perkataan para kerabat yang terus menanyakan perihal keturunan pada dirinya.


Sora dan alan sama-sama tengelam dalam lamunannya masing-masing. Tanpa mereka sadari ada seorang gadis yang menyebrang dengan tergesa-gesa hampir tertabrak oleh mobil yang di kendarai oleh Alan.


"Masss...," teriak Sora ketika melihat sosok gadis yang berlari di hadapan mobil yang ia tumpangi.


Alan langsung terhenyak, ia tidak kalah kegetnya dengan Sora. Dengan mendadak Alan membanting setir mobilnya, sehingga dapat menghindari kecelakaan yang mungkin akan menimpahnya.


Setelah berhasil menguasai kemudinya, Alan langsung memarkir kendaraanya di tepi jalan. Alan serta Sora langsung turun dari mobil dan menghampiri gadis yang hampir mereka tabrak.


"Mbak, mbak tidak apa-apa?" tanya Sora pada wanita muda yang terlihat ketakutan. Penampilan wanita muda itu pun sangat kacau, riasan yang melekat pada wajahnya juga berantakan.


"Mas, ayo bantu mbaknya. Kita bawa ke Mobil," kata Sora.


"Kenapa tidak kita bawah ke kantor polisi saja," saran Alan.


Sora menyusuri setiap jalanan di sekelilingnya, mungkin saja ada orang yang mengejar wanita muda yang hampir ia tabrak barusan. Namun tidak ada orang dimana mana, hanya kendaraan roda empat yang lalau lalang.


"Jangan Mas, jangan di bawah ke kantor polisi. Bawa pulang saja," tanpa mendapat persetujuan dari suaminya, Sora membantu wanita muda itu untuk bangkit.


Saat Sora akan menyentuh pinggang wanita muda yang misterius itu, wanita tersebut langsung pingsan. Sora semakin panik dan kebinggungan.


"Mas, bagaimana ini," tanyanya dengan muka yang panik.

__ADS_1


"Kita bawa ke kantor polisi saja Ra,"


"Jangan Mas, coba mas gendong dia. Terus bawa ke dalam mobil,"


"Ngomong apa kamu Ra?"


"Ayolah Mas," paksa Sora.


Melihat ekspresi Sora, mau tidak mau dengan berat hati Alan mengendong wanita lain di depan istrinya sendiri.


Sora sendiri tidak terpengaruh, saat ini jiwa sosialnya sedang menguasai hatinya. Namun kita tidak pernah tau. Tindakan yang sama akan berbeda rasanya bila dilakukan di lain waktu.


Mungkin Sora saat ini dengan suka rela membiarkan suaminya menjamah wanita lain di depan kedua matanya. Belum tentu di lain waktu perasaannya akan sama. Sora mulai lengah, godaan sedang mengintai kehidupan keluarganya tanpa disadarinya.


Kini Alan sudah berada di balik kemudinya, sedangkan Sora berada di kursi belakang bersama wanita asing yang hampir mereka tabrak. Sepanjang perjalanan Sora terus memperhatikan wanita muda yang duduk di sebelahnya. Begitu banyak pertanyaan yang mengelayut dalam benakknya. Perihal apa gerangan yang membuat wanita ini begitu ketakutan dan nampak sangat berantakan sekali penampilannya. Namun Sora tak langsung menanyakan nya. Karena wanita di sampingnya masih pingsan dan tidak sadarkan diri.


Waktu terus berputar, mereka bertiga kini sudah berada di kediaman Alan. Pak Dadang sudah siap membukakkan pintu gerbang untuk majikannya, namun ketika Alan keluar dan mengendong seorang wanita Pak Dadang terlihat terkejut.


Dalam benakknya, siapa gerangan yang yang ada dalam gendongan sang majikan. Namun, Pak Dadang tidak berani menanyakan nya. Ia kembali menutup pintu yang sebelumnya ia buka.


"Tidurkan di kamar tamu Mas!" saran Sora.


Alan terlihat menyatukan kedua alisnya, ia tidak habis pikir dengan permintaan istrinya. Meskipun begitu, Alan menuruti saja kemauan Sora.


Wanita muda itu, kini telah terbaring di sebuah ranjang yang megah. Ia masih belum sadarkan diri. Terlihat Sora sedang membersihkan badan wanita itu dengan kain basah.


"Mas, tolong telponkan Dokter Rini,"


"Hemmm.." Alan nampak malas malasan, ia masih heran dengan Sora yang begitu perduli dengan orang asing yang baru ia temui.

__ADS_1


Sora tidak tahu, orang asing yang ia tolong mungkin suatu hari akan mengambil alih apa yang ia miliki selama ini. Tidak hanya harta semata, mungkin suatu hari wanita muda misterius itu juga akan mengambil hati Alan, suaminya.


Bersambung


__ADS_2