
Ketika Bundanya sedang mandi, Ale bermain main dengan ponsel sang Bunda. Ia memencet-mencet handphone Bundanya. Sebuah nomer tanpa sengaja terpencet oleh Ale. Nomor terlarang namun tak sanggup untuk Sora hapus, ia menyimpannya dalam ponsel baru miliknya. Tak sekalipun Sora menghubungi nomor tersebut. Tidak pernah dan tidak akan.
“Hallo, maaf ini dengan siapa?” suara Alan terdengar berat di telinga Sora.
Dada Sora terasa sesak, suara itu membuatnya kembali teringat dengan masa lalunya yang kelam. Tidak ingin Alan mengetahui bahwa ia masih hidup, Sora langsung mematiakan telpon gengam miliknya. Ia melempar jauh jauh ponsel itu dari tangannya, rasanya belum siap berhadapan dengan Alan walau hanya lewat suara.
Ingantan Sora kembali terbang saat lima tahun silam. Ketika seorang dokter dan perawat memeriksa Sora untuk yang terakhir kalinya. Kala itu Sora tiba tiba membuka kedua matanya perlahan.
“Dok, pasien membuka matanya kembali.” Seru perawat seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Perawat tersebut terlihat panik dan binggung.
Dokter pun langsung memeriksa denyut nadi Sora, ia mendiagnosa si pasien mengalami mati suri. Sora sempat meninggal secara klinis, sebelum akhirnya hidup kembali. Dalam dunia neuroscience dan kedokteran modern abad ke-20 disebut sebagai NDE (Near-Death-Experience).
Sora ingat betul, bagimana perasaanya saat itu. Ia merasa masuk dalam sebuah lorong gelap lalu melihat cahaya. Bertemu Malaikat yang menanyakan perihal hidupnya di dunia, ah rasanya ia seperti sedang berhalusinasi.
Saat itu dalam alam bawah sadarnya, Sora menangis sesengukan. Mengingat kejahatannya pada Alan selama ini, untuk meminta maaf pun rasanya ia tidak sanggup.
Sora juga seperti melihat sosok ayahnya yang telah lama tiada di dunia ini, hanya saja wajah ayahnya yang penuh kasih semasa hidup, menatap kecewa berat padanya. Semakin terpuruk saja jiwa Sora kala itu. Melihat sang ayah yang seolah tak mengharapan pertemuan mereka, akhirnya Sora meninggalkan ayahnya. Ia berbalik memutar arah, kembali ke arah yang berlawanan dengan sang ayah.
Padahal, wanita itu sudah rindu dengan ayah yang lama tidak berjumpa. Nyatanya sang ayah menolak kehadirannya. Dengan perasaan gunda, Sora kembali. Dan akhirnya ia membuka mata setelah tidur panjangnya.
“Bu Sora bisa melihat saya?” tanya Dokter untuk memastikan kondisi pasiennya.
__ADS_1
Bibir Sora terasa keluh, kerongkongannya rasanya kering kerontang. Ia seperti habis berkelana di gurun sahara cukup lama. Rasa kering menjalar di sekujur tubuhnya. Tidak sanggup menjawab pertanyaan dari sang dokter Sora hanya mengedipkan dua bola matanya yang tampak basah.
Setelah kembali dalam perjalanan mati surinya Sora menjadi ketakuan, ia sekan dikejar-kejar dosa. Tangan Sora mecoba meraih jas yang dikenakan sang dokter. Ia mencengkram dengan sangat kuat.
“Tolong, tolong saya!” bibirnya susah payah mengucapkan kata-kata. Suaranya bergetar, ada ketakutan yang tergambar dengan jelas disana.
“Kunci pintunya dari dalam!” perintah sang dokter pada perawat yang ada dalam ruangan.
“Baik, Dok!” perawat dengan sigap melaksanakan apa kata Dokternya. Ia langsung mengunci pintu dari dalam.
“Tolong, tolong Saya!” air mata mengucur deras, Sora tidak bisa membendung perasaanya. Ia menjadi linglung, pikirannya kacau hanya ingin kabur dari tempat ini saja. Itulah yang ada di benakknya.
“Tenang, tarik napas dengan pelan. Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluar. Saya harap Anda sejenak untuk tenang,” Dokter mencoba menenagkan kecemasan yang melanda pasiennya. Sora nampak depresi berat saat itu.
Dokter sendiri menatap ragu pada Sora, ini seperti hal gila pertama yang baru ditemuinya. Bagimana bisa pasien yang berhasil selamat dari maut justru memintanya untuk memberikan surat kematian? Namun karena Sora nampak sangat putus asa, dengan terpaksa ia membantu Sora. Mereka bertiga berkomplot untuk mengelabui semua orang.
Agar tidak ada yang curiga, dokter memberikan obat tidur untuk Sora. Saat sampai akan di masukkan dalam peti jenazah, perawat dan dokter sudah melakukan koordinasi bersama para petugas lainnya. Demi permintaan Sora yang terakhir, mereka semua mengabulkannya.
Ketika peti dimasukkan dalam liang lahat, Sora telah tidur dengan tenang di sebuah kamar rumah sakit dengan penjagaan ketat. Hanya orang tertentu yang bisa memasuki ruangan tersebut.
Saat Alan dan orang terdekat Sora meratapi kepergian wanita tersebut, Sora telah memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Meninggalkan masa lalunya yang sangat kelam dan tentu meninggalkan suaminya dengan rasa bersalah yang amat besar.
__ADS_1
Begitulah kisah Sora, bangkit dari kematian dan mengalami mati suri yang merubah dunianya. Kini ia sudah terbiasa menjalani hidup normal kembali meski tanpa ada Alan di sisinya. Apalagi setelah bulan pertama pasca kejadian mati surinya itu, ia baru tahu bahwa telah hamil buah cintanya dengan Alan. Anak yang ia nantikan selama ini akhirnya hadir dalam rahimnya.
Namun sayang, semua tidak seperti harapan Sora. Ia mengetahui telah hamil setelah lari dari kenyataan. Setelah ia memutuskan pergi jauh dari Alan baru dirinya menyadari kalau sedang mengandung. Dengan kepingan hati yang tersisa, ia memutuskan mejadi single parent. Sora memilih berdiri dengan kakinya sendiri.
Memulai segala sesuatu dari awal, bersama dengan buah hati yang ada dalam perutnya, Sora berharap hidupnya akan bahagia. Itu harapan Sora, namun kadang kala harapan tak seindah kenyataan. Buktinya sekarang, setelah sekian lama tidak mendengar kabar dari suaminya. Begitu mendegar suara Alan dari balik terlepon, hati Sora langsung tercacar ambyar tidak karuan.
"Bunda, Bund.. Bunda kenapa nangis?" Ale mengusap pipi bundanya dengan jari jarinya yang mungil.
"Siapa bilang bunda nangis? Mata Bunda perih, tadi abis kupas bawang," Sora berbohong pada Ale, ia tidak ingin putranya tahi kalau ia habis menangis.
Sora pun memeluk tubuh putranya, setidaknya kehadiran Ale sangat manjur sebagai obat dikala rindu melanda dirinya. Paras Ale yang sama persis dengan suaminya, sedikit mengobati rasa rindunya pasa Alan.
Cukup dengan melihat Ale, maka ia seperti melihat Alan. Ale adalah obat dari segala luka hatinya selama ini. Berkali kali Sora mengecup hangat wajah putranya. Hingga Ale menjerit, bocah kecil itu kurang suka bila Bundanya terus memberikan kecupan berulang-ulang.
Di lain tempat, Alan menatap nomor baru yang ada dalam daftar pangilan masuk. Siapa gerangan yang menghubungi dirinya tanpa suara itu?
Mungkinkah dia merasa tautan hati mereka?
Bersambung.
Hallo kalian semua, senang bisa menyapa lagi. Maaf ya, aku jarang update seperti kemarin. Ini karena author memiliki banyak alasan..
__ADS_1
Terimakasih masih membaca kisah Sora...
Aku sayang kalian semua ❤