
Udara malam yang dingin terasa menusuk tulang Alan, laki-laki berparas sendu itu menatap kosong keluar jendela kamarnya. Ada lubang di dalam hati Alan, dipenuhi dengan kekosongan, hampa, sepi dan sunyi. Sebuah tempat yang tidak ingin ditinggali mahluk apapun.
Hantu pun rasanya enngan tinggal di hati pria tersebut, terlalu sepi dan lebih menyeramkan dari pada sebuah rumah kosong tak berpenghuni. Ah, Alan yang malang. Kehilangan istri membuatnya jadi muram dan durjana.
Cukup lama matanya menatap kosong di kegelapan malam yang pekat, suasana yang suram, muram persis seperti hidupnya sekarang.
Tok Tok Tok
"Alan, Alan..." teriak ibunya sembari mengetuk pintu.
Dengan langkah yang berat Alan membuka pintu kamarnya, ia membiarkan ibunya masuk tanpa menoleh kearahnya.
"Kamu belum makan seharian ini, ayo makan. Sedikit saja!" bujuk ibu.
"Alan tidak lapar Bu, kalau tidak ada yang penting tolong tinggalkan Alan sendiri!" ia terlihat dingin ketika berbicara pada ibunya, bukan karena ia marah. Hati pria itu memang membeku, sepeningalan Sora hidupnya seperti tak memiliki arah dan tujuan. Semangat Alan memudar bersama dengan perginya Sora.
Ibu yang tahu putranya tidak akan makan meski ia memaksanya, hanya diam dan berjalan menuju pintu. Ia sempat menatap punggung putranya, ketika sampai di bibir pintu, ibu mengusap pipinya.
Melihat Alan menderita selepas Sora meninggal membuatnya ikut merasakan perih dalam hatinya. Putra kesayangan kini berada pada posisi yang paling terpuruk. Menatap Alan dari jauh, membuat hati ibu rasanya tersayat.
Cekrek
Alan melirik pintu kamar yang ditutup ibunya, selepas kepergian ibunya, Alan kembali tengelam dalam lamunannya.
Malam sudah berganti menjadi pagi yang mendung, langit dipenuhi awan mendung yang mengantung. Suram, semuanya senada dengan suasana hati Alan.
Hari ini hari ke tujuh kepergian Sora, pagi yang di buka dengan gerimis rintik-rintik tak mengurungkan niat Alan menemui Sora. Sebuah payung hitam ia bentangkan, menahan air hujan agar tak bersentuhan dengan tubuhnya.
Bahkan langit sepertinya ikut menangis bersamanya, merasakan kesedihan yang yang tak berujung.
Di atas tanah yang masih basah, Alan menaburkan banyak kelopak bunga di atas makam Sora. Ribuan kelopak yang masih segar itu menghiasi tempat peristirahatan Sora. Sebuah buket bunga Alan letakkan tepat di atas makam.
Cukup lama Alan diam mematung, menatap pusaran sang istri. "Harus bagaimana ini?" batin Alan.
__ADS_1
"Mengapa begitu sulit merelakanmu Sora?' Kembali hatinya mulai menolak kepergian istrinya. Mata pria gagah itu mulai berkaca-kaca, ia menarik napas sejenak. Mencoba menahan agar air matanya tidak jatuh membasahi pusaran Sora.
Alan yang malang, terlalu tengelam dalam kesedihan yang tidak terbatas.
DUARRR...
Terdengar petir menyambar.
"Pak sepertinya akan hujan disertai angin lebat, sebaliknya Bapak kembali pulang," saran penjaga makam. Ia menatap iba pada Alan yang dilihatnya nampak gunda gulana.
"Tidak Pak, terimakasih. Saya ingin sebentar lagi menemani istri saya!" Alan menolak saran laki-laki penjaga makam tersebut.
Karena sudah mengingatkan, maka pak tua penjaga makam pun berlalu. Ia tidak ingin kehujanan dan basah kuyup. Penjaga makam pun dengan tergesa-gesa meninggalkan area pemakaman.
Benar apa yang dikatakan penjaga makam, selepas penjaga itu pergi menghilang, hujan disertai angin menerjang pepohonan. Memporak porandakan dahan dan ranting yang mengelilingi area pemakaman.
Tubuh Alan basah kuyup tersapu angin disertai hujan. Namun, diinginnya air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya tak sedingin hatinya. Ini masih belum seberapa dibanding dengan apa yang ia rasa.
Alan menatap makam Sora lekat-lekat, air matanya jatuh menyatu bersama hujan yang turun membasahi pipinya. Payung yang ia bawah sudah pergi entah kemana, terbawa angin kencang yang terus menerjang.
Alan tidak bergeming, ia masih setia di depan makam Sora. Hujan badai tidak membuatnya ingin berteduh, ia justru semakin larut dalam perasaannya. Meresapi rasa kehilangan diatas makam Sora yang basah.
"Ya ampunnn," teriak Riana.
Riana begitu tak percaya, Alan bertindak bodoh seperti apa yang dilihatnya. Ia pun memayungi tubuh Alan yang sudah basah kuyup.
"Untuk apa kemari? Pergilah. Tinggalkan aku sendiri!" perintah Alan pada Riana.
"Maaf, Mas. Aku tidak akan meninggalkan Mas sendiri disini. Ayo pulang," ajak Riana.
"Jangan mengganguku!" Teriak Alan, ia meluapkan emosinya pada Riana. Kekecewaan pada takdir yang memisahkan dirinya dan Sora membuat Alan ingin berteriak. Mengeluarkan semua kecewannya yang tertahan beberapa hari ini.
Riana tidak bergeming, ia memayungi tubuh Alan tanpa peduli tubuhnya sendiri menjadi sepenuhnya basah.
__ADS_1
"Kamu tidak mengerti bahasa manusi? Tinggalkan aku sendiri!" Kali ini nada bicara Alan sudah naik tujuh oktaf.
"Maralah, lampiaskan kekecewaan mu padaku." ucap Riana, ia merasa tak tahan menatap Alan yang terus larut dalam kesedihan yang tidak berkesudahan.
"Jangan gila, pergi dari hadapanku sekarang!" Mata Alan sudah merah menyala, ia benar benar nampak sedang marah.
Gadis itu diam, tak bergeser sedikit pun. Ia membiarkan hujan menerpa wajahnya. Tidak peduli dengan makian dan teriakan yang didapat dari Alan. Raian masih tetap bertahan menemani Alan.
"Pergilah, aku mohon!" kali ini Alan sedikit menurunkan nada bicaranya. Suaranya terdengar lebih pelan apalagi tersapu angin dan hujan yang deras. Ucapnya terdengar lirih dan amat pelan di telinga Riana.
"Tidak, aku akan tetap disini sampai Mas pulang!" tantang Riana. Gadis itu tidak merasa takut sedikit pun. Padahal Alan barusan meneriaki dirinya.
"Pergilah Riana, tidak ada tempat untukmu disini!" Alan mencengkram dadanya yang terasa sakit. Sora meninggalkan bekas luka yang dalam di lubuk hatinya. Siapapun tidak bisa mengantikan kedudukan Sora. Tak seorang pun.
"Tidak apa-apa tidak ada tempat untukku disana, tidak apa-apa!" ucap Riana dengan bulir bening yang menyatu dengan tetesan air hujan membasahi pipinya.
Mata Riana memerah, penolakan demi penolakan membuatnya kebal. Tidak masalah jika tidak ada tempat di hati Alan untuk dirinya, tapi yang pasti. Selalu ada tempat bersandar untuk Alan. Gadis itu akan menanti hingga Alan membukak diri.
Hujan semakin lebat, angin berhembus tambah kencang, pohon-pohon di sekitar pemakaman pun bergoyang-goyang dengan menakutkan.
"Pulanglah," perintah Alan.
"Tidak, aku akan tetap disini. Jika ingin aku pulang, maka mari pulang bersama!"
Alan tersenyum sinis, dia tidak menyangka gadis itu cukup gigih juga.
"Jangan seperti ini, kamu akan terlukan sendiri!" Alan memandang Riana dengan pandangan yang tidak suka.
"Tidak perlu menghawatirkan lukaku! urus luka Mas sendiri," kesal Riana. Ia balik membalas tatapan Alan dengan pandangan yang tak kalah tajamnya.
Keduanya sama-sama memegang pendiriannya masing-masing. Baik Alan maupun Riana tidak ada yang mau mengalah.
Hujan dan angin mejadi saksi awal mula kisah mereka berdua, di atas pusaran Sora. Apakah ini harapan Sora?
__ADS_1
Memberikan istri untuk suaminya, semoga Alan bahagia. Mungkin itu mau Sora.
Bersambung