Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Amelia Soraya, Panggil aku Sora


__ADS_3

Setelah kepergian Ferry dan Mama Ida, Alan mendekati ranjang tempat Sora terbaring. Ia cukup lama menatap wajah istrinya. Berharap Sora cepat bangun dan menjawab semua pertanyaan yang bersarang dalam kepalanya.


"Bangun Ra," bisiknya lirih ditelinga Sora. Ia mengusap kening Istrinya dengan lembut. Kini Alan mulai dilanda kegalauan antara benci dan cinta. Hatinya mulai bimbang antara memaafkan dan melupakan.


Tiga hari kemudian


Alan masih berada di kamar yang sama, kamar serba putih. Yah, kamar tempat Sora dirawat. Sudah tiga hari Sora belum sadarkan diri. Sepertinya Sora lebih nyaman disana, diruang tanpa terbaca. Melupakan sedih karena memikirkan buah hati. Melupakan Ferry yang terus mencari tanpa henti.


Alan, hanya itu alasan ia masih bertahan. Dalam alam bawah sadarnya, Sora berjalan melewati lorong gelap tak berujung. Lama kaki Sora melangkah, sebuah suara sayup-sayup terdengar telinganya.


"Itu suara Mas Alan, Tuhan ada dimanakah aku ini? Apakah ini jalan menuju neraka?" Sora mulai bermonolog sendiri.


Ia sadar betul, tidak akan Tuhan menempatkan dirinya di sisi yang indah dan mulia. Sora wanita yang penuh lumpur dalam tubuhnya, ia sadar bahkan sangat sadar. Kini kakinya terus melangkah, ada sebuah harapan di ujung jalan sana.


Setitik cahaya menuntun Sora untuk menemuinya, kakinya melangkah lemah. Wanita itu merasa lelah, semakin berjalan titik itu malah menjauh darinya.


"Tuhan aku lelah," batin Sora mengiba.


"Aku lelah Tuhan, tubuhku terasa sakit. Hatiku terasa pedih. Dunia yang kutingali teramat membuatku sakit. Tuhan, aku ingin pulang. Aku ingin beristirahat untuk sejenak. Melupakan semua beban yang berat dalam pundak," Sora mulai bergumam. Rintihan hati dalam tidur panjangnya terbawa sampai alam nyata.


Sebuah bulir bening keluar dari sudut matanya, Sora menangis dalam tidur yang amat panjang.


Alan memeriksa cairan infus yang hampir habis, sekilas menatap wajah sora. Dilihatnya, Sora nya sedang bersedih. Hingga dalam alam bawah sadar, istrinya juga menderita.


"Sora, apa yang kamu pikirkan? Sebegitu menderitakah hidup denganku? Hingga memilih lari bersama pria selain diriku?" kesalah pahaman terus terjadi, karena Sora belum sempat membela diri.


Apanya yang ia bela? Membuka mata saja ia tidak mampu. Sora memilih tinggal dalam dunia semunya. Meninggalkan beban hidup di dunia yang sangat berat.


Dalam alam bawah sadarnya, Sora kembali kemasa Masa indahnya. Setelah melewati lorong panjang tak tentu arah, Sora sampai pada masa dimana ia masih SMA.


Masa-masa paling indah baginya dan tentu kekasihnya, Alan Manco Kardinov.


"Soraya, ada surat untuk kamu," seseorang memberikan sebuah surat dalam amplop merah jambu.


"Cie.. cie.. siapa itu?" Seisi ruangan kelas mengoda Sora. Para siswa siswi abu-abu itu menyoraki Sora yang mendapat surat cinta dari Kakak kelas.


"Bukak dong, baca yang keras," teriak salah seorang siswa yang paling resek di kelas.


"Apa sih, jangan gitu dong," pipi Sora bersemu merah. Ia mungkin malu, karena teman temannya terus menggoda.


"Coba sini aku bacakan!" Teman Sora yang lain dengan berani merengut surat cinta dari tangannya.


Sora hanya bisa tersenyum tipis, ia sudah sangat malu hari itu.

__ADS_1


Untuk Gantungan Hatiku


Hi..


Kamu mungkin akan terkejut mendapat surat dariku. Jangan menghindar ya.. aku tahu kamu suka mencuri pandang padaku. Hahaha... Aku akui aku memang keren. Dan aku sangat percaya diri kamu akan membalas surat dariku


Aku ingat betul saat pertandingan basket bulan lalu. Maaf bolaku mengenai kepalamu. Jujur aku memang sengaja, agar kamu menatap padaku.


Sora, orang-orang memanggilmu begitu. Bolehka aku memanggilmu sayang? Dan jadilah kekasihku?


Balas!


"Huu huu huu.," Terdengar suara riuh seisi kelas bergemuru. Ketika surat cinta itu selesai dibaca. Dapat dibayangkan betapa malunya Sora kala itu.


Masa yang indah, Sora ingin mengulangnya. Dalam dunia nyata, bibir Sora menyungingkan sebuah senyuman. Sepertinya ia merasa bahagia.


Alan yang menatapnya sedari tadi, ikut tersenyum pilu menyaksikan Sora yang tak kunjung membuka matanya.


"Sora, sekarang sedang bermimpi apa? Hingga kamu tersenyum begitu tenangnya? Adakah aku di dalam sana Sora? Atau bukan aku yang kamu mimpikan?" Alan menelan ludahnya, ia kembali menelan pil pahit bila mengingat perselingkuhan Sora.


Masih dalam dunia Sora yang lain, di sebuah perpustakaan sekolah menengah atas. Sora nampak membaca buku dengan tenang, tiba-tiba datang sosok pria yang paling populer di sekolah mereka.


Pria itu langsung duduk tanpa permisi di samping Sora.


Sementara Sora masih acuh, matanya tetep tertuju pada buku yang sedang ia baca.


Mendengar orang disampingnya mengajak bicara, Sora langsung menutup buku yang ia baca.


"Baca ini," Sora menunjuk sampul buku yang ada di atas meja.


"Kamu mengenal ku kan?" Tanya cowok tampan itu dengan wajah penuh harap.


"Hemm.." Sora hanya bergumam.


"Alan, namaku Alan Manco Kardinov," Alan mengulurkan tangan pada gadis manis yang ia incar sejak lama.


"Amelia Soraya, panggil aku Sora!"


"Cantik, seperti namamu,"


"Apa?"


"Kamu cantik, kamu belum membalas surat dariku," Alan kala muda sudah gencar mengejar cinta Sora.

__ADS_1


"Emmm.. " Sora memutar bola matanya, ia binggung mau menjawab apa.


"Sudah punya pacar?"


Sora menggeleng.


"Ya sudah, kamu sekarang jadi pacar aku!!"


Bola mata Sora seakan mau keluar, ia tidak habis pikir dengan Alan yang begitu percaya diri menyatakan suka pada dirinya.


"Kamu sekarang pacarku!"


Cup


Sebuah kecupan manis mendarat di pipi Sora. Hah.. Alan nekad betul, ini perpustakaan. Sora menoleh ke kiri dan kanan. Syukurlah, perpustakaan memang sangat sepi. Hanya ada satu dua orang di dalam sana.


Hanya ada petugas perpus yang asik di depan layar komputernya dan dua anak yang sedang sibuk dengan buku yang ia baca. Salah satu anak tersebut sedari tadi mencuri pandang ke arah Sora dan Alan.


Seorang yang tidak kalah tampan dengan Alan. Matanya tidak pernah teralihkan dari Sora. Ada sebuah ketertarikan yang tersirat dari wajahnya. Namun dengan rapi ia menyimpannya. Sampai tak terlihat bahwa dialah pengagum rahasia Sora.


"Ferr kamu tadi dicari sama ketua BK," teriak seseorang yang setengah berlari ke arah Ferry.


Ferry langsung glagapan, karena semua ia melamun menatap Sora dari kejauhan. Begitu Ferry, dari dulu sampai sekarang. Ia tidak pernah menang mendapatkan hati Sora. Ia selalu kalah cepat dari Alan.


Kembali ke masa sekarang. Seorang dokter masuk ke dalam kamar perawatan Sora. Dokter hendak memeriksa perkembangan pasiennya.


"Dok, istri saya mengapa belum bangun juga?" Alan memandang Dokter yang memeriksa Sora. Ia menuntut jawaban atas kondisi istrinya.


"Kita tunggu saja Pak, secara medis kondisinya sudah cukup membaik. Banyak -banyak berdoa, agar istri anda segera siuman." Dokter menepuk pundak Alan. Setelah itu ia kembali keluar, memeriksa pasien yang lainnya.


Hari ke tujuh Sora di rumah sakit


Alan sedang menyeka wajah Sora dengan handuk basah, beberapa hari ini ia tidak berangkat kerja. Ia memilih menemani Sora selama 24 jam, meski marah sejatinya ia tetap menyayangi sora. Sedangkan Riana sekali dua kali menengok Sora yang masih dirawat.


Alan melarang Riana sering-sering menengok di rumah sakit. Ia lebih nyaman hanya berdua saja dengan Sora.


Tidak terasa hari berganti malam. Malam itu hujan begitu deras, suara petir menyambar nyambar. Cahaya kilat saling bersahutan. Alan terus mengengam tangan Sora.


"Petirnya kencang sekali Ra, kamu pasti takut," ucap Alan sembari terus mengengam jari-jemari Sora.


Duuuar... Petir menngelegar amat kencang. Hingga jendela kamar rumah sakit ikut bergetar. Sora langsung membuka kedua matanya.


Bersambung.

__ADS_1


Ya ampun Sora kamu mengagetkan author saja. Begitu kilat menyambar matamu langsung terbuka. Sudah mirip Susana.


Jangan lupa. Like, Komen, Vote dan Bintangin Lima ya. Biar Sora tetap bertahan.


__ADS_2