Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Selamat Tinggal


__ADS_3

"Ra, Sora.. Kamu bisa mendengar Mas kan Ra, Sora.. Sora," Alan terus memanggil manggil nama istrinya.


Sora sendiri setelah membuka matanya kini kembali lagi matanya terpejam sempurna.


Tittt...Titt..Titttttttttttttt....


Bunyi nyaring terdengar mengema di ruang rawat Sora. Di layar monitoring terlihat garis panjang mendatar disertai bunyi yang sangat panjang pula. Grafik detak jantung Sora sudah mendatar sempurna.


"Dokter, tolong istri saya!" teriak Alan histeris, ia bergegas menuju ke luar kamar. Tangganya langsung menarik sembarang suster yang kebetulan lewat di koridor rumah sakit depan kamarnya.


"Suster tolong istri saya!!!" mata Alan suda merah, bukan karena ia marah. Ada genangan air dalam kantung matanya. Alan sudah diliputi banyak kesedihan, hatinya seakan merasa bahwa jantung hatinya akan pergi meninggalkan dirinya.


Suster dengan sigap memeriksa denyut nadi Sora. Tidak ada, diperiksanya berkali kali pergelangan tangan Sora. Hasilnya nihil, denyut nadi Sora sudah berhenti. Suster langsung bergegas keluar, ia mencari Dokter untuk menangani kondisi Sora.


Beberapa menit kemudian Dokter datang bersama rombongan tim medis. Dengan sigap mereka semua memberikan hal terbaik yang bisa mereka lakukan.


Berkali-kali tenaga medis mensimulator detak jantung Sora dengan Defibrillator, untuk pertama tidak ada pengaruh yang significant. Layar monitoring masih menandakan detak jantung Sora yang sudah tidak ada.


Dokter masih mengusahan yang terbaik untuk pasienya. Mereka berjuang sekuat tenaga menyelamatkan nyawa demi nyawa.


Sedangkan Alan, ia duduk terdiam di balik pintu kamar di mana Sora dirawat. Dalam diamnya terselip sebuah doa yang penuh harap. Sebuah harapan, agar Sora nya bisa kembali bersamanya. Cukup lama Alan memejamkan kedua matanya. Pikirannya melayang, kembali ke beberapa belas tahun silam.


"Sora, Sora... Sssttt.. Sora!!!!" pekik Alan.


"Apa sih Kak, ini perpustakaan. Jangan berisik!" Sora kesal pada Kakak kelasnya itu, Alan selalu menggangu dirinya ketika asik membaca di perpustakaan sekolah.


"Nanti pulang bareng ya," pinta Alan dengan malu-malu.


"Gak bisa kak, aku masih ada les bahasa Inggris sama Bu Dewi. Kemarin nilaiku anjlok, minggu ini nilai ulanganku harus diatas delapan. Kalau tidak Bu Dewi akan mengadu pada Ayahku!"


"Hemmm..," Alan sepertinya tidak menyukai penolakan yang diberikan oleh Sora.


"Sudah, aku mau belajar. Kakak jangan ganggu!" usir Sora.


"Aku ini pacar kamu apa bukan si Ra?" protes Alan.


"Kak Alan, aku mau fokus pendidikan dulu. Pacaran boleh, tapi aku gak mau nilaiku jatuh!"


Begitulah Sora dari kecil hanya hidup bersama Ayahnya. Sora tidak ingin Ayahnya kecewa. Karena hanya Ayahnya lah satu satunya yang Sora miliki. Ibunya entah pergi kemana, pergi bersama pria lain saat Sora masih kecil. Ia hanya tinggal bersama Ayahnya selama ini.


Namun sayang, setelan Sora lulus SMA Ayahnya telah tiada. Sora hidup sebatang kara, demi membiayai hidupnya Sora bekerja cukup keras. Hingga gelar pendidikan tertinggi mampu ia dapatkan.

__ADS_1


Dibesarkan oleh kerasnya kehidupan menjadikan pribadi Sora kuat. Ia hanya merasa lemah dan tak berdaya ketika seorang anak tak kunjung singgah di rahimnya. Sora yang malang, sejak kecil tidak mendapatkan kasih seorang ibu, beranjak dewasa ia belum bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.


Kembali ke masa Sora saat ia masih mudah, Alan setia menunggu pacarnya yang masih mengikuti kelas tambahan. Berkali-kali Alan menyembulkan kepalanya di balik kaca jendela kelas Sora. Berharap kelas tambahan cepat usai sudah. Cukup lama ia menunggu, sampai benar-benar merasa sangat bosan.


Alan tiduran di atas kursi panjang di halaman sekolah, rasa kantuk tiba-tiba datang menghampiri dirinya.


"Kak... Kak..,"


Suara lembut Sora membangunkan Alan yang tengelam dalam mimpinya. Ia langsung berjingkak ketika di lihatnya Sora berdiri di depannya.


"Harusnya tidak usah menunggu, biar aku naik bus saja," ucap Sora. Ia merasa tidak enak Kakak kelasnya itu menunggu dirinya cukup lama.


"Tidak apa-apa," Alan melepaskan semburat senyum manis di bibirnya. Senyuman tulus untuk cinta masa mudanya.


"Ayo, pakai ini," Alan memakaikan Sora helm yang sengaja ia bawa untuk pacarnya itu.


Setelah memakai helm juga sarung tangan, Alan pun menghidupkan mesin motornya. Ia mengendarai motor dengan berboncengan dengan Sora.


"Kita makan dulu ya, aku lapar," ajak Alan.


Sora tahu, pasti Alan melewatkan jam makan siangnya karena menunggu dirinya. Maka ia tidak banyak protes ketika Alan mengajak makan.


Sora meminta ijin pada Ayahnya, ia bilang pada Ayahnya akan belajar kelompok dulu di rumah temanya. Padahal dia mau pacaran. Jangan dicontoh ya.


Setelah mengantongi ijin dari sang Ayah, kini dengan santai Sora mengikuti kemanapun Alan membawanya.


"Mampir ke kosanku dulu ya. Gak enak pakai seragam," saran Alan. Sora tidak memiliki pemikiran aneh-aneh. Ia memang gadis yang lurus dengan pikiran yang masih polos dan lugu.


Cittt...


Alan menghentikan motornya tepat di depan kamar kosnya.


"Ayo masuk!" ajak Alan.


Sora melirik kesana kemari, terlihat sangat sepi. Hampir tidak ada penghuni kos yang berkeliaran seperti biasanya.


"Kok sepi sekali?" Tanya Sora seraya melangkah masuk ke dalam kamar Alan.


"Kamu lupa? Ini adalah hari sabtu Sora. Semuanya pulang ke rumah masing-masing," terang Alan sambil membuka pakaian seragam miliknya.


Menyaksikan tubuh pria tanpa kain penutup untuk pertama kalinya Sora mendesis.

__ADS_1


"Ishhh...." Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Namun, matanya mengintip lewat cela jari jemarinya.


Alan tersenyum tipis menyaksikan reaksi Sora.


"Pakai ini, kaos ini mungkin pas untuk kamu kenakan, aku rasa ukurannya tidak terlalu kebesaran." Alan mengulurkan kaos ganti untuk Sora kenakan.


"Dimana kamar mandinya?" Tanya Sora sembari mengambil kaos yang diberikan oleh Alan.


"Sebelah sana,"


Sora langsung menuju kamar mandi, ia langsung menganti pakaian seragam yang semula ia kenakan dengan kaos yang Alan berikan.


"Nah kalau begini kan enak," komentar Alan saat melihat Sora sudah berganti pakaian.


"Ya sudah, ayo cari makan. Nanti keburu kesorean," ajak Sora. Ia tidak enak jika terlalu lama meninggalkan rumah.


"Buru-buru banget Ra," Alan mencoba mendekati Sora.


Kini posisi mereka sudah saling berhadapan, Alan bisa melihat dengan sempurna paras cantik Sora yang natural. Belum tersentuh oleh skincare sama sekali. Masih polos dan natural. Kecantikan alami yang sempurna bagi Alan yang masih muda kala itu.


Alan menatap Sora dengan intense, mata mereka sama-sama tidak berkedip. Pandangan keduanya menelusuri satu sama lain. Asmara dua muda mudi itu sedang di puncaknya. Darah muda yang meletup letup dalam jiwa mereka sedang melalang buana.


Tangan Alan menyentuh dagu Sora dengan lembut, kepalanya merunduk mendekati Sora yang tingginya jauh lebih rendah.


Cup...


Sebuah kecupan singkat mendarat di ujung bibir Sora. Gadis itu mengerjapkan matanya, ia binggung harus bagaimana. Ini adalah ciumaan pertama bagi Sora. Jantungnya berdegup dengan kencang.


Bagaimana dengan Alan? Jangan tanya! Rasanya ia sudah tidak karuan. Detak jantungnya tidak beraturan. Namun darah mudanya kini terlanjur menyala.


Alan pun langsung melancarkan aksi keduanya. Kembali lagi ia mendaratkan bibirnya pada bibir Sora yang ranum itu. Kali kedua Sora merespon aksinya.


Mendapat balasan dari Sora, Alan semakin tengelam. Masa muda yang bergejolak... Alan dan Sora bermain main untuk pertama kalinya. Ciumaannya pertama yang hangat dan tak akan terlupakan bagi Alan dan Sora.


Cekrek.... Pintu kamar ruangan Sora terbuka. Mendengar suara pintu, Alan terbangun dari lamunannya. Ia menatap wajah Dokter yang berdiri di depannya.


***


Hai...


Senang bisa bilang hai pada kalian, itu tandanya author bisa up cerita Sora. heheheh... Terimakasih untuk semuanya ♥

__ADS_1


__ADS_2