Noda Perkawinan

Noda Perkawinan
Ayah Ale


__ADS_3

Pagi yang cerah tak secerah hati Sora, perempuan itu dirundung pilu. Matanya sembab karena menangis semalaman. Sepanjang malam ia muncucurkan air mata, menangis dalam pilu. Hatinya merindukan sosok Alan yang suaranya kemarin ia dengar.


Alan selalu ada dihatinya, dari dulu sampai sekarang. Meski sempat ia mendua, kemanapun hatinya berkelana, pada Alanlah hatinya bersandar. Sayang, kenyataan tak seindah angan. Sekarang keduanya harus tinggal terpisah. Saling berjauhan namun saling merindu satu sama lainnya.


“Bu, Saya masih belum bisa balik ke kota. Masih ada keperluan yang tidak bisa saya tinggal,” ucap suster yang selama ini menjaga Ale, lewat telepon ia mengabari Sora.


“Waduh, bagaimana ini? Kira kira kamu balik kapan?” Sora risau, siapa yang akan menjaga putranya nanti saat ia bekerja.


“Maaf, Bu. Saya belum tahu bisa kembali kapan.” Sesal suster penjaga Ale Manco Kardinov.


“Iya, gak papa. Biar nanti aku pikirin lagi.” Sora mematikan ponselnya.


‘Waduh, bagaimana ini? Besok harus ke luar kota untuk presentasi langsung di depan klien,’ gumam Sora dalam hati. Ia menatap map coklat dan beberapa berkas yang harus ia bawa untuk presentasi besok. Ia binggung, bagaimana dengan Ale? Apa ia membawa Ale saja? Pikinrya dalam-dalam.


Sora berkali-kali menghubungi beberapa nomor kenalannya, ia hendak minta tolong untuk menitipkan putranya. Sayang, di kota ini Sora memiliki pergaulan terbatas. Temanya akrabnya bisa dihitung dengan jari.


Hasilnya nihil, tidak ada yang bisa dimintai bantuan oleh Sora. Teman-temanya yang segelintir itu ada yang beralasan keluar kota ada pula yang anaknya sedang sakit. Jadi Sora tidak punya pilihan. Sora akan membawa Ale bersamanya, ini kali pertama bagi Sora membawa Ale keluar dari lingkup masyarakat yang lebih luas.


Ale selama ini hidup dalam persembunyian bersama Bundanya, demi menghilangkan jejak keduanya menjalani hidup bagai dalam sebuah pelarian. Sora menatap putranya yang sedang main mobil-mobilan. Dengan dalam ia menatap wajah Ale dari kejauhan, ada Alan dibalik wajah polos itu. Sora kembali larut dalam kesihan karena merindukan Alan.


Tidak ingin Ale melihatnya bersedih, Sora mencoba mengalihkan perhatian. Ia mengemas koper untuk diisi dengan barang yang akan ia bawa besok.


“Ale, mainan mana yang mau dibawa?” tanya Sora sembari berjalan menuju putranya.


“Ini, dan ini, dan ini dan ini..” Ale menunjuk sebagian mainan yang ia punya, membuat Sora tersenyum gemas.


“Tidak bisa sayang, Ale cuma bisa bawa satu mainan saja.” Sora memberi pengertian pada buah hatinya dengan sabar.


“Aye mau semua,” jawab anak laki laki yang mengemaskan itu dengan cadelnya.


“Tas Bunda gak muat, Sayang,”


Ale cemberut, ia merajuk. Tak rela berpisah dengan kereta Thomas, dengan bus Tayo, robot car Poly, Car, dan banyak mainan lainnya.

__ADS_1


“Nanti, Bunda beliin mainan baru. Bagaimana?” bujuk Sora yang melihat putranya masih merajuk.


Wajah Ale langsung berbinar-binar mendengar janji bundanya, ia langsung tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya. Gigi putih berjejer rapi walaupun jumlahnya belum genap sempurna. Senyum Ale yang manis terlihat persis dengan senyum sang Ayah, Sora kembali tengelam dalam kegalauan yang berulang.


Hari - H, hari ini Sora akan membawa Ale bersamanya ke luar kota. Untuk kali pertama, sebenarnya Sora merasakan perasaan yang tidak enak. Selama ini ia menyembunyikan keberadaan Ale, ia pun bersembunyi dari Alan dan Ferry. Felling Sora tidak bagus, seakan akan ia merasa jarak dirinya dan Alan semakin dekat.


Sora tidak tahu Alan sudah pindah ke Ibu kota, meninggalkan tempat dimana banyak mengandung kesedihan. Kenangan tentang Sora membuat Alan hijrah kembali ke Ibu kota.


Saat ini Sora sedang dalam perjalanan bisnis menuju kota metropolitan, apakah mereka akan berpapasan? Walau hanya jejak mereka yang bertemu, apakah itu mungkin terjadi?


“Ale jangan lari,” teriak Sora ketika mereka berhenti di sebuah cafe untuk makan sejenak. Putranya itu dengan lincah meloncat kesana kemari tak tentu arah. Membuat Sora deg degan, Ale begitu hiper aktive membuat Bundanya kuwalahan.


“Sayang,” panggil Sora ketika Ale semakin jauh dari jangkauannya.


BUKKK, tubuh Ale menubruk seorang pria. Badan Ale yang kecil terpental ke lantai, karena menabrak orang tersebut.


“Hati-hati,” Pria itu meraih pinggang Ale dan membuatnya berdiri.


“Apa sangat sakit?” tanya pria berbadan tegap itu, ia berjongkok agar tingginya sama dengan anak laki-laki tersebut.


Ale hanya mengeleng kepala pelan, tanda bahwa ia tidak apa-apa. Setelah bisa berdiri sempurna, Ale kembali berlari dan berbalik arah. Ia ingin menghampiri Bundanya.


Ale meninggalkan rasa keterkejutan di wajah pria dewasa yang baru ia tabrak. Mengapa wajah mereka hampir sama? Pria tersebut hanya bisa menatap punggung Ale, menatap dari kejauhan kemudian menghilang di tengah keramaian.


Ia ingin mengejar, namun rekan kerjanya memanggil. Sehingga pria tersebut gagal mengejar Ale.


Tidak jauh dari sana, Sora tersenyum mendapati putranya yang sudah ketemu.


“Ya Ampun, Bunda sampai capek mencarimu. Kemana ini anak Bunda?” Sora mengendong dan memutar tubuh Ale.


Ale hanya diam, ia tidak pandai bercerita. Lagian ia juga masih bocah, mana bisa bercerita panjang lebar bahwa ia habis menabrak seorang pria dewasa yang wajahnya mirip dengannya. Mustahil bukan?


“Ayo kita ke hotel, kita akan menginap di tempat yang bagus. Ada kolam renangnya juga loh,” bujuk Sora agar Ale dengan suka rela ikut dengannya. Karena Sora melihat Ale yang masih ingin bermain-main di luar sana.

__ADS_1


Bukannya ikut dengan Bundanya, Ale justru mengelengkan kepala. Tanda tidak mau.


“Mau ice cream?”


Ale langsung mengangguk dengan cepat, ‘anak kecil dimana-mana sama, di bujuk pakai ice cream langsung iya,’ batin Sora.


Mereka berdua pergi ke outlet ice cream terdekat, membeli ice cream kesukaan Ale. “Rasa apa, sayang?” Sora bertaya dengan lembut pada putranya.


“Cokat,” Jawa Ale dengan singkat.


Setelah mendapat ice cream ditangannya, Ale langsung duduk dan menikmati ice cream yang dibelikan sang Bunda.


Dari kejauahn, Alan berjalan mendekati meraka. Baik Sora maupun Alan sama sama tidak menyadari keberadaan masing-masing. Sora sibuk membersihkan mulut Ale yang belepotan dengan tisu basah, sementara Alan nampak serius berbicara dengan rekan kerjanya.


Akankah hari ini menjadi hari pertemuan diantara mereka bertiga? Mungkinkah Ale berjumpa dengan Ayahnya kembali? Dengan pria yang sempat Ale tabrak secara tidak sengaja. Mungkinkah? Entahla.


Bersambung


Hai kalian semua, senang bisa menyapa kembali. Maaf ya, author tidak bisa rajin up seperti sebelumnya. Terima kasih masih membaca kisah Sora “I Love U all”


Oh ya, di bawah ini saya sangat merekomendasikan beberapa novel dari teman author. Semoga kalian suka.



Semoga Kalian suka dengan Mas pras.



Elleana dan babang Ewok, Si abang Xavier akan membuat Hari Kalian mengandung waffer..


Dan juga karya dari kak Desy, semoga suka... semua mengandung wafer sesuai dengan mereknya 😊


__ADS_1


__ADS_2