Oh My Brownis

Oh My Brownis
Cinta Luar Biasa


__ADS_3

Tania


Harus ku akui kalau Evelin ini cantiknya kadang bikin para cewek merasa insecure. Bodi yang mon tok dengan wajah khas chinese tentu menjadi kelebihan yang dimilikinya.


Sekarang Evelin bernyanyi sambil sesekali menatap ke depan, aku mengikuti arah pandangannya dan benar pandangan Evelin yang sedari tadi ternyata tertuju pada kumpulan cowok dari kelas X IPA 2, lebih tepatnya tertuju pada Dicky yang juga duduk disana.


Iss,, acara macam apa ini, tiba-tiba aku tidak mood. Pamandangan kode-kodean itu membuat semangatku menguap entah kemana.


Tapi saat bergantian Dea,Dicky dan Bima naik di panggung, aku kembali terpesona. Dicky yang hanya menggunakan pakaian serba hitam, Jeans hitam, kaos hitam, kemeja kotak-kotak hitam putih yang gunakan sebagai outer dan topi hitam.


"Bi, Dicky cucok banget sih" Demi apa aku mencubit Eby yang duduk di sampingku.


"Itu yang pake topi manis yah" terdengar suara sumbang di belakangku.


"Hu'um.. cakep tapi adek kelas ding"


"Brondong manis"


Tuh kan pada notice keberadaan Dickykan.


"ANDEA.... ANDEA .... ANDEA" Begitu suara riuh dari arah kanan panggung, kumpulan teman sekelas Dea.


"BIMA....." Kali ini suara perempuan lebih mendominasi.


"DEA........" Sebagai sahabat aku kasih support.


Tapi ...


" DICKY.... I LOVE YOU" Itu bukan teriakan dari arah kumpulan kelas Dicky tapi dari depan panggung. Suara teriakan Evelin.


Aku tak mau kalah kali ini.


"Bi, temani teriak ihh" Tapi baru saja Eby mau membuka suara...


"DICKY.... I LOVE YOU" ya sudah sekalian saja. Aku tau serempak teman-teman di dekatku menoleh ke arahku. Kaget pasti.


"DICKY.. DICKY... DICKY" Aku benar-benar sudah kayak suporter bola yang fanatik. Sampai musik mulai mengalun dan Eby memberiku kode untuk berhenti beraksi.


Seperti biasa Dea tampil cantik dengan nyanyiannya, Bima tampak serius dengan gaya yang malah terlihat dibuat-buat dan Dicky yang apa adanya tapi terlihat cool dengan topi yang menutupi sedikit wajahnya.


Teman sekelas Dea yang kalau tidak salah namanya Hengki, yang gayanya sedikit ura kan, ala badboy sekolah naik kepanggung membawa setangkai bunga mawar merah untuk Dea. Suasana jadi riuh dan tak lama seorang cewek juga naik ke panggung juga membawa segepok rangkaian bunga -terniat-.


Suara makin riuh saat langkah malu-malu Evelin mendekat kemudian memberikan bunga itu pada Dicky yang di balas senyuman kaku.


"Bi.. pulang yuk" tiba-tiba aku ingin menghilang saja dari sini.


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga

__ADS_1


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


[Andmesh-Cinta Luar Biasa]


______


"Yan, kita balik duluan yah" Eby menelpon Rian yang dari tadi terlihat sibuk di belakang panggung.


"Sama siapa? naik apa?"


"Naik taksi bertiga, aku nginap dirumah Tania"


"Pake mobilku aja, jam segini mana ada taksi yang kosong"


Tapi posisi mobil Rian yang berada paling ujung yang terhalang beberapa kendaraan lainnya sama sekali tak bisa di lolos.


Aku menghubungi Dea yang sudah turun dari panggung dan terlihat bertos ria sama teman kelasnya di seberang sana.


"De, aku pulang duluan yah"


"Trus aku gimana?" Suara pekikan cempreng Dea terdengar di tengah duo MC yang masih cerah ceria " kamu pulang naik apa? tunggu bentar, aku kesana"


Hanya sekejap mata Dea sudah berada di hadapanku.


"Pulangnya harus sekarang? gak nunggu pelepasan lampion ?" Tanya Dea ragu ke arahku.


"Eh eh Dik, mau kemana?" Dea mencegat Dicky yang kebetulan lewat sambil menenteng helm.


"Pulang" Jawaban yang selalu singkat. Kebetulan sekali.


"Tania ikut dong" jempol buat Andea Renata "Sampai depan deh, sampai dapat taksi" gak mau cuma sampai depan Dea.


"Kalian gimana?" tanyaku kearah Eby dan Dea.


"Kita tunggu si Rian aja" ternyata Dea masih antusias "Tapi kamu jangan bilang sama Ibu kalau kita tidak pulang barengan"


Yeiy, akhirnya takdir baik berpihak padaku. Pulang berdua dengan Dicky tidak pernah ku bayangkan sebelumnya tapi seolah ini bonus yang tiba-tiba Allah kasih. hhmm, thanks God.


Kemudian kami berjalan beriringan, tanpa kata.


"Pulang Ta? cepet banget"


"Mau kemana Ta?"


"Bentar lagi loh Ta"


Beberapa teman menegurku saat berjalan melewati mereka, dan pastinya terheran-heran karena jalannya sama orang lain yang bukan Beauty gang.


"Rumah kamu dimana?"

__ADS_1


"Emmi saelan"


"Deket yah, Aku nebeng sampai sana, ntar aku cari taksi" tanyaku basa-basi.


"Kamu di Citraland kan? Aku antar sampai rumah"


Yes, tepat sasaran.


"Pakai jaket ini yah, cuaca malam dingin" Dicky menyodorkan jaket kulit warna hitamnya yang di ambil dari dalam jok motor.


"Gak ada helm, pake topi ini aja" Waktu berjalan melambat, seolah slow motion saat Dicky melepas topi hitamnya dan memakaikan di kepalaku.


Sekarang aku duduk di boncengannya dengan jaket di badan dan topi di kepala menjadi Unforgotable moment. Hhmmm, apalagi dengan sikap perhatiannya tadi, membuatku nekat bertanya.


" Kenapa gak pulang bareng pacar kamu?"


"Pacar?" sok gak ngerti.


"Yang tadi ngasih bunga"


Terdengar kekehannya "Velin? bukan pacar".


Lagi-lagi jawaban singkat yang kurang jelas.


"Memang kamu gak papa pulang cepat? Bukannya kamu panitia?" Aku kembali berinisiatif mencari bahan obrolan.


"Tugasku sudah selesai sampai editing kemarin, sekarang semua di ambil alih timnya Fandi" Jawabannya sudah panjang dan jelas tapi aku jadi kehabisan pertanyaan.


"Kamu kenapa pulang cepat? tumben juga gak bareng mereka" akhirnya dia kepo juga.


"Dirumah juga ada party sama keluarga, mau ngumpul sama sepupu-sepupu mumpung pada datang"


Ku lihat dia hanya mengangguk-angguk.


Diam lagi. Mungkin karena jalanan yang padat hingga biasanya dari sekolah ke rumah hanya dua puluh menit sekarang ditempuh lebih lama.


"Dik" Panggilku pelan saat berhenti karena lampu merah.


"Kenapa?"


"Pacaran yuk" Entah apa yang terjadi denganku sampai senekat itu. 1 detik. 5 detik tidak ada jawaban hingga Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, suara klakson dari belakang bersautan, sepertinya Dicky sedikit syok.


Dan sepanjang sisa penjalanan yang memang sudah tak jauh hanya diisi dengan diam.


"Yang pagar putih" kataku saat motor yang dikendarai sudah berbelok masuk dalam kompleks.


"Tadi.... kamu dengar aku bilang apa?" Tanyaku ragu dengan kepala tertunduk.


Lama masih tak terdengar jawaban, aku mencoba mengangkat wajah dan mendapati Dicky menatapku tajam dan dalam, aku terkunci beberapa detik lalu dia hanya tersenyum.


"Aku pulang yah, maaf gak ngantar sampai dalam" kemudian terdengar suara motornya yang menjauh dan baru aku sadar.


Aku ditolak? What the hell.

__ADS_1


********


Jangan lupa tinggalkan jejak yah Kakak-kakak dan Adik-adik yang budiman 😇


__ADS_2