Oh My Brownis

Oh My Brownis
When I See You Again 4


__ADS_3

"Dinda..... " Dicky menelan ludah "Dinda dan ibu sudah pergi, mereka sudah di surga"


Deg!


Seluruh sendiku terasa nyeri, jantungku tertusuk sembilu. Sesak. Wajahku kembali memanas.


Aku bahkan menutup mulutku saking terkejutnya.


"Innalillahi wa innalillahi rajiun" Aku hanya bisa berucap lirih.


"Mereka berpelukan di bawah reruntuhan saat ditemukan, Ibu dan Dinda pakai mukenah, sepertinya mereka siap-siap shalat magrib waktu itu"


Ku lihat Dicky memandang senja di kejauhan dengan tatapan kosong.


"Kata tetangga.....suara Ibu dan Dinda masih terdengar hingga tengah malam tapi tidak ada yang bisa menolongnya..... "


"....Semua orang hanya sibuk mencari keluarga masing-masing"


Dia seolah tidak berdaya.


"Harusnya aku mendengar kata Ibu. Seandainya aku di sana, Mungkin aku bisa...... " Dia menghela nafas berat dan menggeleng tidak berniat melanjutkan kalimatnya lagi.


Aku mendekat, mengikis jarak meletakkan daguku di pundaknya dan melingkarkan tanganku bahunya. Mencoba merasakan apa yang dirasakannya.


"Maaf, kamu meninggal kan rumah sore itu karena aku" Entah yang keberapa kalinya aku menangis hari ini.


Dia menggeleng dan menoleh ke arahku.


"Bukan, bukan begitu maksudku"


"Maaf aku tidak di sampingmu saat itu" Tapi aku benar-benar menyesal.


Ku eratkan pelukanku mencoba memberinya kekuatan walaupun saat ini aku tau dia sedang berusaha ikhlas.


"Bapak kamu?" tanyaku lagi lirih.


"Alhamdulillah, Bapak sehat. Bahkan sudah menikah lagi" Jawabnya bernada getir.


"Heran, Bapak bisa secepat itu move on dari Ibu yang sudah mendampinginya puluhan tahun, sedangkan aku yang cuma pacaran beberapa bulan malah gagal move on" Kali ini ku dengar dia tertawa sumbang.


"Bapak kamu bukannya sudah melupakan Ibu kamu tapi dia lebih realistis, menerima kenyataan" Aku mencoba menghibur tapi malah jadi bumerang bagiku.


"Sama seperti saat kamu menerimanya? karena berfikir sudah menerima kenyataan kalau aku sudah tiada? "


"Dicky...... " Aku protes. tidak, aku tidak seperti itu.


"Tania.... " Tapi dia meraih tanganku yang masih melingkar di bahunya, dia memposisikan duduk tepat di hadapanku, menatap tepat di mataku. Perasaanku jadi waspada.


"Kita tidak boleh memaksa keadaan" Katanya dengan suara serendah mungkin.


"Aku senang kamu datang, berdiri di hadapanku, menunggu ku dan menggenggam tanganku" Lanjutnya dengan senyum.


"Rasanya seperti mimpi" Satu tangannya terangkat dan mengelus pipiku.


Lalu dia menghela nafas.


"Tapi kita tau ini salah"

__ADS_1


"Ini tidak salah. Tidak ada yang salah. Dari dulu hubungan kita tidak pernah salah" Jawabku cepat. aku tidak mau membiarkan dia.


"Aku tidak mau membuatmu kesulitan sayang"


Pertama kali dia memanggilku sayang tapi dia berniat meninggalkan ku?


Aku menggeleng keras tanda tidak setuju.


"Aku lebih kesulitan selama kamu tidak ada"


"Ini bukan hanya antara Aku, kamu dan dia, tapi juga antara keluargamu dan keluarga nya"


Dicky sudah berpikir terlalu jauh.


"Aku akan bicara sama Kak Anca" Tegas ku.


Dicky masih memandangiku dengan pandangan yang sulit ku artikan.


"Dia mau dijodohkan hanya karena dia memang anak yang patuh, bukan karena dia suka sama aku" Kalau ini aku mungkin sedikit berbohong.


"Kak Anca juga pernah punya pacar. Kalau aku dan kak Anca memutuskan bersama aku yakin orang tua kita mengerti"


Iya, Kak Anca bisa kembali sama Kak Anita. Sedikit banyak aku memang merasa bersalah dengannya.


"Jadi jangan pernah berfikir kamu berada di posisi yang salah" Sekuat tenaga ku yakinkan dia tapi dia tetap bergeming.


"Kamu ingat Mas yang di kantin sekolah? katanya kita memiliki wajah yang mirip, jadi kita pasti berjodoh. Tidak akan terpisahkan"


Dia menatapku lama, mungkin menimbang-nimbang keputusan apa yang harus dia pilih dan aku harap dia mau memperjuangkan ku.


"Jadi aku boleh berharap?" Gumamnya di balik punggung tanganku.


Aku mengganguk mantap.


"Kita harus bersama"


...****...


Dicky


Bolehkah aku egois sekali ini?


Aku sudah berusaha sekuat tenaga menahan diri selama ini untuk tidak mendekatinya, walaupun sebenarnya aku selalu bersembunyi di sekitarnya hanya untuk memastikan dia baik-baik saja dan masih bisa tersenyum manis.


Tapi hari ini dia datang dan memintaku kembali. Aku bisa apa? Sudah pasti ini yang ku inginkan sejak lama, kembali memeluknya bukan hanya sekedar memandangnya dari kejauhan.


Tania menginginkan ku, akupun tidak akan mundur. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, aku tidak bisa memastikan rencana Tuhan.


Atau mungkin saat ini Tuhan sedang berbaik hati mengembalikan salah satunya yang pernah ku miliki? agar aku tidak kesepian lagi? Pasti, sudah pasti seperti itu, lalu apa yang ku khawatir kan? Ku rasa tidak perlu khawatir.


Sekarang aku hanya akan memberi Tania waktu menyelesaikan urusannya dan tetap bersamanya seperti yang dia katakan.


Aku benar-benar membutuhkan nya.


"Mau makan apa? " Tanyaku saat keluar dari mesjid yang mempunyai banyak kubah, mesjid yang masih di sekitar CPI usai melaksanakan shalat magrib. Dia sudah duduk memainkan ponselnya. sepertinya dia sudah mengaktifkan ponselnya dan baru saja membalas pesan.


"Terserah kamu" Jawabnya tersenyum kembali menggelayut di lengan ku.

__ADS_1


"Dari tadi terserah terus, inisiatif nya mana? "


"Aku gak bisa berfikir, maunya cuma sama kamu, hhheee"


...___...


"Kamu pernah dengar kabar Dea? "


Saat ini kita sudah makan di salah satu resto masih dalam lingkup CPI ini.


"Aku pernah mendengarnya. Bagaimana sekarang? Pasti sulit jadi dia"


Aku selalu prihatin jika mendengar kabar tentang Dea.


"Dia baik-baik saja sekarang. Hanya butuh teman. Kapan-kapan kita ke rumah dia yah"


"Dea tinggal di sini? "


"Iyah, Rumahnya tidak jauh dari rumahku, Dia pasti senang ketemu kamu"


Aku mengangguk tersenyum.


Semoga saja aku memang punya banyak waktu agar bisa melakukan banyak hal lain bersamanya.


Usai makan malam, aku mengantarnya pulang. Aku melajukan motor dengan santai, dia kembali memelukku, menyandarkan kepalanya yang memakai helm di punggungku.


Aku dan dia tenggelam dalam diam, hanya ada suara deru mesin kendaraan dan angin malam yang sama sekali tidak terasa karena pelukannya.


"Kamu tau aku tinggal dimana? " Tanyanya heran saat aku tidak bertanya dan sudah memasuki kompleks perumahannya.


Jelas saja aku tau. Aku sudah jadi penguntit selama hampir setahun ini.


"Dulu, kamu sering cerita alamat rumahmu dan aku masih ingat" Dalihku.


Jarak rumahnya masih sekitar tiga puluh meter tapi menyuruhku berhenti.


"Dik, sini aja"


Ku lihat depan rumahnya sudah terparkir mobil yang sering menjemputnya. mobil tunangannya. Aku menurut, memelankan laju motor dan perlahan berhenti di tepian jalan.


"Kamu harus janji, besok kita ketemu lagi" Bukannya bergegas turun dia malah mengeratkan pelukannya di perutku.


Aku mengelus tangan berusaha menengok ke arahnya, kurasakan hembusan nafasnya menerpa wajahku.


"Janji! kita akan ketemu besok, besok nya lagi, bulan depan, tahun depan dan seterusnya"


Dia terkekeh, membuat hembusan nafasnya makin terasa. Aku jadi terpaku, sudah memikirkan hal-hal yang tak seharusnya.


Aku mencoba menetralisir degup jantungku tapi..


"Sampai ketemu besok" Dia mencium pipiku sekilas lalu turun dari motor.


Jantungku seolah melompat dari tempatnya.


Dia berjalan mundur sambil melambaikan tangan dan tersenyum memperlihatkan giginya yang putih bersih. Perlahan ku balas lambaian tangannya dengan hati penuh dengan bunga.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2