
Tania
Setelah semua rangkaian Ujian Nasional dan Ujian Sekolah tuntas, kemudian pengumuman dan perpisahan sekolah yang semalam di adakan di salah satu ballroom hotel.
Hari ini, hari ulang tahun Cahya Febina Malik alias Eby. Aku dan Dea sudah merencanakan surprise untuk Eby yang belakangan terlalu sibuk dengan dunia barunya.
Ini juga akan jadi ajang party terakhir sebelum semua sibuk dengan dunia baru, termasuk aku.
Yah, akhirnya aku di bebaskan kuliah di tempat yang ku inginkan, mungkin ini berkat doanya Dicky atau mungkin karena papa memang masih sayang sama mama.
Jadi, setelah pertengkaran itu mama langsung drop, sakit sampai harus dirawat di rumah sakit karena lemah jantung yang dimilikinya, dan tidak mau bicara sama papa akhirnya papa mengalah.
"Dicky mana Ta? jadi ikut kan? "
Sekarang Dea dan Rian berada dirumah, lagi mempersiapkan apa yang akan di bawa untuk surprise big boss Eby.
"Ikut, tadi masih di sekolah"
Aku melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 02.30, harusnya sebentar lagi Dicky sudah sampai.
"Kalian duluan aja, aku nyusul"
Rian dan Dea berangkat ke tempat tujuan, karena kabarnya teman-teman yang lain bahkan sudah menunggu di sana.
Sepuluh menit berlalu Dicky belum juga terlihat. Aku mencoba menghubunginya.
"kamu dimana?
"Masih dijalan" Terdengar suara riuh kendaraan "kita ketemu dimana?"
Aku menghela nafas. Kesal. Bukannya kemarin mau jemput aku.
"Dari tadi aku nunggu kamu di sini Dik, yang lain sudah berangkat"
"Aduh, iyah... sorry, Aku antar teman dulu, bentar yah, udah mau sampai kok"
"Antar teman? Ya ampun dik. Ini sudah jam berapa? "
"Aku cepat kok, tunggu bentar"
"Gak usah, aku berangkat sendiri"
Aku menekan tombol merah dengan kasar. Benar-benar kesal.
***
Dicky
Tania ngambek. Sudah pasti. Tapi ketika Melly, sahabat Velin minta tolong supaya Velin diantar pulang, aku gak bisa menolak apalagi melihat wajah Velin yang pucat.
Aku mengantar Velin pulang kemudian balik arah ke alamat rumah Tania sambil mencoba menghubunginya tapi ia tidak lagi menjawab telponnya, jadi ku hubungi Dea.
"De, Tania udah di sana? "
"Bukannya sama kamu?" Begitu jawaban Dea dengan suara heran.
"Tolong kabari kalau Tania sudah sampai"
Ku tutup telpon, kembali ku lajukan motor menuju rumahnya siapa tau Tania masih menunggu. Siapa yang bisa menebak Tania, selama hampir 6 bulan jalan sama dia aku selalu salah menebak.
Tapi belum juga lima menit sudah ada telpon dari Dea mengatakan kalau Tania sudah sampai di sana. Oke putar balik lagi. Ribet memang.
Ternyata tempat kejutan ulang tahun Eby, di hotel Sutan Raja, tepatnya di area swiming pool, tempat Eby latihan renang.
Aku telat, tiba saat mereka sudah berkumpul, mengerumuni Eby yang sudah basah kuyup, dengan keadaan sekitar kolam yang penuhi dengan kertas warna warni.
Ternyata ramai, mungkin hampir se kelas Tania datang. Aku masih berdiri di belakang, tanpa menyapa siapapun. Aku tidak terlalu mengenal teman-teman di kelasnya.
Ku lihat Tania dan Dea memeluk Eby.
"Pi bessdei bi, Bakal kangen sama kamu" Tania memberi ucapan.
"Kalian tega, mau ninggalin aku sendiri" Dea terisak entah benar atau hanya pura-pura.
"Gimana hidupku nanti tanpa kalian" Tania kembali bicara dengan nada sedih tapi seperti biasa Eby mah santai kayak di pantai dengan memasang wajah datar, malah mungkin sedikit geli dengan tingkah dua sahabatnya itu.
Benar-benar sudah seperti drama persahabatan yang paling syahdu.
"Ini sudah kayak reality show termewek-mewek" Rian momotong acara sedih-sedihnya.
"Potong kue dululah" Sambung Rian.
"Bentar deh, bawa ke bawah, kita makan-makan dulu" begitu inisiatif Eby yang di sambut gembira teman-temannya.
Secara bergantian memberi Eby selamat, aku ikut mendekat dan memberi ucapan.
"Selamat ulang tahun by, sorry gak bawa apa-apa"
"Santai bro" Aku dan Eby melakukan tos.
Aku melirik ke arah Tania, dia menghindar tidak menghiraukanku.
__ADS_1
"Ngambek" Dea cekikikan melihatku diabaikan.
Setelah ucapan selamat-selamatan, Rian mengajak kita ke sebuah resto yang ada di hotel itu.
"Silahkan pesan, kita ditraktir sama yang ultah"
Sultan mah bebas yah, aku taksir uang yang di keluarkan Eby untuk mentraktir mungkin sebanyak tiga bulan jatah uang jajanku.
Tania, Dea dan Eby yang sudah berganti pakaian datang paling belakang. Tania sama sekali tak menyapaku bahkan tak ingin bertemu tatap denganku. Huh, harus mencari jurus gombal yang pling ampuh nih kayaknya.
Teman-teman masih sibuk memilih menu yang akan di pesan tapi Dea sudah duduk saja di panggung live musik resto ini, Dasar Dea tidak bisa melihat mic nganggur.
Waktu tlah tiba
Aku kan meninggalkan
Tinggalkan kamu tuk sementara
Kau dekap aku
Kau bilang jangan pergi
Tapi ku hanya dapat berkata
Aku hanya pergi tuk sementara
Bukan tuk meninggalkanmu selamanya
Aku pasti kan kembali pada dirimu
Tapi kau jangan nakal
Aku pasti kembali
[Pasto-Aku Pasti Kembali]
Aku yang tadi duduk bergabung dengan teman cowok sekelas Tania berpindah tempat duduk ke kursi yang tadi di duduki Dea, samping Tania. Tapi Tania tidak bergeming juga.
Sampai acara selesai Tania bahkan tak pernah melirik, lehernya seolah kaku.
"Yan, aku ikut yah" Bahkan dia tidak mau di antar pulang.
Aku menahan lengannya yang hendak berdiri.
"Ta, kan ada aku" Tapi Tania masih diam
"ini hari terkhir kita"
Dia mengernyit memangdangku tak suka.
Tapi dia hanya mendengus kesal.
"Maaf, aku ngaku salah. Lain kali tidak lagi"
"Ta, aku duluan yah" Eby dan Dea memotong pembicaraanku.
Setelah semuanya pergi dan mungkin sudah lelah berdiam akhirnya Tania buka suara.
"Tadi ngantar siapa? " Tanya Tania masih bernada ketus.
"Teman" tapi tatapan tania seolah tidak terima dengan jawabanku.
"Velin" Jawabku jujur membuatnya makin jengah "Tadi dia sakit Ta, minta tolong diantar pulang"
"Aku masih di sini saja kamu sudah begini, bagaimana kalau aku sudah jauh"
"Kamu ngomong apa sih?"
"Kamu sudah mulai bohong Dik"
"Aku tidak pernah bohong Ta, tadi Velin beneran sakit, gak ada yang bisa ngantar pulang"
"Kamu ini emang suka atau gimana sih? kalau dia sakit bisa pake taksi online, gak mesti harus kamu yang ngantar"
"Oke, aku salah"
"Aku mau pulang " Dia menghapus ujung matanya dengan punggung tangan. dia beneran nangis?
"Tania" Aku meraih tangannya "Sorry, sorry, sorry, tidak akan ku ulang lagi. plis maafkan aku kali ini" Aku menggenggam tangannya lalu menundukkan kepala dalam-dalam di atas tangannya. Biasanya teknik ini paling ampuh.
Aku tau tatapan orang di sekitar yang pasti sudah menilai aku yang masih menggunakan seragam sekolah sedang melakukan aksi menye-menye di resto hotel.
"Kamu itu terlalu baik sama orang Dik, orang bisa salah sangka"
"iyah besok jadi jahat" kataku tanpa berfikir
Tapi tania malah memukul dadaku. Aku terkekeh. Dia ikut tersenyum.
"Kita kemana? ngedate terakhir loh"
"Terakhir terus ngomongnya" Tania kembali protes "gak suka"
__ADS_1
Lama dia menatapku dengan wajah cemberut, aku membalasnya dengan tatapan menggoda. Elahh.
"Pulang aja, aku belum packing" lanjutnya.
____
"Besok berangkat jam berapa?"
Teras rumahnya ini sudah jadi friendly banget.
"Pesawat jam enam pagi"
"aku gak bisa ngantar dong"
Tapi Tania malah membahas hal lain.
"Pokoknya kamu gak boleh nganter-nganter cewek sembarangan"
"Kalau Dea? "
Sejenak tampak berfikir lalu mengangguk.
"Boleh tapi gak boleh nyepik, nanti dia baper"
"Aku punya rahasia" Kataku sok misterius.
"Apa? "
"Sadam lagi PDKT sama Dea"
"Serius? Sadamkan playboy"
"Udah insyaf kok"
"Awas yah kalau sampai teman kamu itu nyakitin Dea, aku putusin kamu sekalian"
Baru mau protes, suara mama Tania yang baru keluar dari balik pintu mengalihkan.
"Ternyata sudah pulang, baru mau mama telpon"
"Malam Tante, maaf bertamu malam-malam"
"Yah gak papa, yang penting jangan kemalaman"
"Iyah Tan, ini juga sudah mau pulang"
"Tidak papa, ambilin minum dulu Nia"
"Tidak usah tante, Tania juga katanya mau packing"
"Emang gitu orangnya Dik, kalau tidak terpaksa susah kerjanya. Anaknya malas-malasan"
"Aku antar Dicky dulu ma" Tania sudah berjalan keluar lebih dulu.
"Aku pamit tan" ku cium tangan calon mamer. ceilahh. Lalu mengikuti langkah Tania.
Di luar pagar aku masih berdiri berhadap-hadapan dengan Tania, enggan untuk berpisah. Ternyata rasanya seperti ini jika tak ingin di tinggalkan.
"Habis semester aku nyusul"
"Serius? "
"Gak percayaan, tapi doain di kasih uang jajan sama ibu supaya bisa berangkat, hhee"
"Dasar bocah"
"Siapa suruh pacaran sama bocah"
"Oke besok cari Om-om"
Aku melotot. Dia tertawa lebar.
"Becanda elahh"
Menatap wajahnya yang tertawa membuatku susah berpaling. Aku tidak tau bisikan syaiton dari mana yang memberiku keberanian, aku hanya mengikuti insting menarik tangannya yang berada dalam genggamanku. Wajahnya semakin dekat matanya yang bulat makin membulat memandangiku, aku tau dia menahan nafas tapi aku tidak bisa mundur.
Ku sentuh bibirnya sambil memejamkan mata, hanya menyentuhnya selama beberapa detik tapi mampu membuat jantungku berdegup kencang, iramanya tak beraturan sampai aku fikir dadaku akan meledak saat itu juga.
Segera ku lepas dan ku dapati Tania yang masih mematung dan memejamkan mata dengan wajah yang memerah.
"Jaga diri disana" Bisikku mengelus pipinya yng lembut.
Dia masih mematung memandangiku.
"I Love you" Bisikku lagi dan Tania hanya menggigit bibir bawahnya tanpa merespon.
"Aku pulang"
Aku tidak tau apa yang akan terjadi hari esok, tapi aku harus menikmati hari ini, hari bersamanya. Ku harap anganku tak pernah berubah, mimpiku selalu sama, bahagiaku selalu karenanya. Walau ku tau perjalananku masih sangat panjang.
******
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar yah Kakak-kakak dan Adik-adik yang budiman 😇
Terima kasih 🙏