
Tania
Setelah mempertaruhkan harga diri, dia sama sekali tidak memberi respon apa-apa, tidak yay tidak pula nay. Ishh.
"De, kalau didiemin berarti di tolak yah?"
Dea sedang menyusun koleksi musiknya ke rak yang baru di belinya.
"Bahas apa sih?"
"Dicky gak kasi respon apa-apa" jawabku malas.
"Respon apa?" Dea makin mengkerut tak mengerti.
"Aku ngajakin pacaran tapi dia gak kasi respon Dea"
"Gila....gila .... gila" Dea menatapku tak percaya, dia meninggalkan kegiatannya lalu menghampiriku.
"Kamu nembak Dicky? wah, bakal jadi tranding topik selama lima priode ini" Dea tertawa keras seolah yang kulakukan adalah hal yang paling konyol.
"Awas yah kalau Rian sama Eby tau" Beneran, jangan sampai Rian tau, aku bisa di cucek terus di rendam selama berhari-berhari. Eby juga pasti akan memberikan wejangan kayak emak-emak kompleks.
"Terus terus gimana? Dicky gantungin kamu?" tanya Dea masih dengan raut wajah ingin menertawakan. Puas sekali.
"Itu di gantung atau di tolak gak sih? dia cuma senyum terus pergi dan tidak pernah ada kabar lagi"
"Dicky nolak kamu? wah parah ini Ta" tawa Dea kian meledak.
"Deeeaaaa ihh, kasi saran kek, hibur atau bantu apa kek gitu"
Ku lihat Dea berusaha menahan tawa.
"Bentar saya jitakin si Dicky supaya kembali waras, ada yah cowok nolak kamu"
"Deaaaaa, jangan ih malu malu in tau"
"Udah terlanjur malu Ta"
Iya juga, sakitnya di tolak tak seberapa tapi malunya itu. Rasany ingin tenggelam saja di dasar lautan, apalagi kalau ternyata dia mengumbar-umbar sama temannya kalau dia ditembak sama cewek yang namanya Tania. Arrghh, Kayaknya aku harus operasi plastik deh sebelum masuk sekolah lagi.
Weekend, Rian ngajakin kongkow, sepertinya lagi dapat jajan tambahan tumben mau traktir nonton sekaligus makan. Aku yang sudah menebak genre yang di pilih Rian pasti Horror atau Thriller sebenarnya mager, malas gerak, semua badan terasa tak bertulang tapi Dea dan Eby jelas antusias banget mau nonton dan kongkow.
"Ayo deh cari hiburan, sebelum besok masuk sekolah lagi".
Sambil menunggu jam tayang yang masih sejam lagi, Rian ngajak ngopi dulu.
Dan dari sudut ini, aku bisa melihat dengan jelas dua sejoli memasuki cafe yang sama, mereka mengobrol serius membuat badanku yang tadi lemas makin jadi tak berdaya.
Aku mencoba mengabaikan semua, aku menggigit bibir lalu menghela napas sambil memalingkan pandangan ke jendela samping.
"Eh, Dicky sama ceweknya tuh" akhirnya Rian menyadari keberadaannya. Lah Dea malah sudah duduk di sana. Kapan bergeraknya tuh anak.
"Sabar yah Ta" Kata Rian sambil menyeringai. Bukannya prihatin.
__ADS_1
"Padahal cantikkan kamu sih Ta" Si Eby juga kalimatnya menghibur tapi nadanya yang menyebalkan.
"Ulu ulu kasian Tania kita" di tambah Rian lagi kemudian mereka tertawa terbahak. Dasar Sahabat kundang.
_____
Libur semester telah berlalu, sekarang semester terakhir aku di sekolah, menurut kalender pendidikan awal bulan april sudah UN (Ujian Nasional) kemudian US (Ujian Sekolah) lanjut ujian praktek untuk mata pelajaran tertentu. Jadwal les sore sudah terpajang di mading (majalah dinding).Hhmm, akan jadi hari-hari melelahkan.
Sudah tiga hari kembali ke sekolah lagi, tapi aku sama sekali belum pernah bertemu muka lagi sama Dicky, bukan sengaja menghindar tapi aku juga berusaha menemuinya.
Kalau mengingat dia yang cuek bebek setelah aku mengungkapkan perasaan dan malah jalan sama cewek lain rasanya aku ingin menerima siapa saja cowok yang datang, Willy misalnya yang jelas-jelas tidak pernah lelah nembak walaupun sudah ku tolak berkali-kali, atau Fadil? Cowok jenius dikelas yang selalu kasih perhatian walaupun secara diam-diam.
Tapi sudahlah, mau fokus belajar dulu, bentar lagi ujian jangan sampai nilaiku anjlok dan tidak bisa kuliah di kampus impian.
Hari berat telah tiba, setelah tadi seharian bergelut dengan mata pelajaran yang nyaris tanpa jeda selain jam istirahat 30 menit, pulang sekolah pukul 14.00 dan harus di sekolah lagi pukul 15.00. Jarak sekolah-rumah dua puluh menit jadi aku hanya sempat makan dan berganti pakaian lalu kembali lagi kesekolah dengan di antar sama Daeng.
Ternyata sekolah sudah ramai atau tepatnya masih ramai, mungkin banyak yang memilih menunggu di sekolah tanpa harus pulang balik. Termasuk Rian, dia sedang main basket sama teman-temannya, yang ternyata salah satu diantaranya ada Dicky, aku tak tahan tidak mencibir saat cewek-cewek meneriaki namanya, Dicky sudah terpampang nyata, bukan lagi cowok pojokan.
"Tania..." Panggil Rian padahal aku berusaha berlalu secepat mungkin.
"Bawain ini dulu ke kelas, aku mau mandi" Rian menyerahkan tasnya.
"Berat yan, isinya apa sih" protesku, tapi asli ini tas Rian berat padahal pakaian gantinya sudah di pegang sama dia.
Tapi Rian tidak menanggapi malah sudah berlari kecil menuju toilet. Sebelum melangkah tanpa sengaja mataku tertuju pada seseorang yang di duduk menekuk lututnya sambil memegang botol air dingin di tangannya, penuh keringat membuatku menelan ludah agar bisa menetralisir perasaan yang semakin menjadi-jadi.
Cepat-cepat ku alihkan pandangan saat dia tersenyum menatapku sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tunggu? tadi Dicky mengedipkan mata kearahku? maksudnya? ah, mungkin dia kelilipan.
"Yan, aku nebeng yah" Aku merapikan buku-bukuku.
"Sorry Ta, motorku lagi di bengkel ini malah mau ikut sama Eby"
"Eby....Masa' sama Rian sih? terus aku?"
"Bukannya di jemput?" Iyah harusnya, tapi kalau ada yang antarkan tidak harus menunggu lagi.
Aku masih menggerutu sambil membuka ponsel berniat menelpon mama biar Daeng bisa segera jemput.
Tapi ujung mataku menangkap sosok yang tak asing sedang mengobrol sama Rian, Akhir-akhir ini mereka makin akrab saja. Mengherankan.
Lagian Dicky kenapa masih disitu.
"Eby, ayo cepat. Bengkelnya keburu tutup"
"Ta, aku duluan yah"
Ini dua sahabat kundang benar-benar pergi.
Aku menengok kiri kanan, kelas sudah sunyi sisa aku dan dia yang masih berdiri bersandar di pintu sambil menyilangkan tangan ke dada lengkap dengan senyuman dan tatapan mautnya.
"Kenapa disini?" Tanyaku heran.
__ADS_1
"Tunggu pacar" Jawabnya enteng masih dengan senyum mengembang.
Deg. Ini jantung berulah lagi.
"Pacar?" tanyaku lagi tak yakin tapi dia tak menjawab.
"Yuk, keburu malam"
Aku masih mengernyit tak mengerti tapi tanpa komando kakiku malah sudah melangkah mengikutinya.
Dia memakaikan helm warna pink di kepalaku, entah helm pinjaman dari siapa lalu menepuk jok belakang agar aku segera naik.
"Lets go?" katanya semangat kemudian menancap gas meninggalkan sekolah menuju jl. jend sudirman dan menepikan motor di depan warung tenda dengan tulisan besar SARI LAUT MAS ARIS.
"Makan dulu yah, lapar"
Dicky melepas helm di kepalaku kemudian menuntunku masuk kedalam tenda yang ukurannya tidak terlalu lebar. Aku menatap sekeliling, warung ini lumayan ramai walau sekarang bukan waktu makan siang maupun makan malam.
"Aku pesan yah" Dicky memesan dua porsi ayam lalapan.
"Mbak satu aja, aku masih kenyang, Es jeruk aja yang satu" Cegahku cepat.
"Beneran kenyang?" tatapan Dicky jadi lembut gitu, aku pura-pura mencibir.
"Lapar apa kelaparan?" Tanyaku demi melihat dia makan dengan sangat lahap.
"Kelaparan nunggu kamu" Dia terkekeh
"Kenapa? "
"Kenapa apa?"
"Kenapa nunggu sampai kelaparan?"
"Takut kamu menghilang lagi. Akhir-akhir ini kamu kayak Jin yang dalam sekejap langsung hilang"
"Kamu di putusin sama Velin?" Aku to the point.
"Kenapa Velin? Aku bilang gak pernah pacaran sama Velin" Dia berusaha menekankan kalimat terakhir.
"Tidak pacaran tapi lengket, mesra" Aku menggerutu tak percaya sambil mencibir.
"Mesra gimana?" Terdengar nada protes di suara Dicky.
Aku memilih diam, Aku sama sekali belum mengerti dengan Dicky. Apa memang dia selalu penuh kejutan seperti ini? Yang kadang cuek dan kadang perhatian?
Aku masih sibuk dengan pikiranku saat Dicky sudah menepikan motornya tepat depan pagar rumah.
Aku turun, melepas helm lalu menyodorkannya.
"Makasih" Kataku yang di balas dengan anggukan dan senyumannya,aku segera membuka pagar sebelum gemuruh dalam dada terdengar.
"Tania..." panggilnya lembut, aku menghentikan kegiatan membuka pagarku "tolong dicatat hari ini tanggal 10 Januari, hari jadian kita"
__ADS_1
****
Jangan lupa like dan komentarnya 😉