Oh My Brownis

Oh My Brownis
Down


__ADS_3

Tok tok tok


"Mohon perhatian" Baru saja bu Nana keluar dari kelas dan aku mengatur posisi nyaman yang bersandar di dinding kelas sambil mulai pertarungan di ponsel. Agus sang ketua kelas sudah berada depan kelas. "Ada gak yang bisa tampil mewakili kelas kita ?" tembaknya langsung. "Aku tau waktunya sudah mepet untuk latihan tapi kita butuh berpartisipasi"


"Aku bisa nyanyi" kata Dea sambil mengajungkan tangan.


Aku tersenyum geli dengan tingkah Dea. Selama beberapa pekan ini aku kenal sama dia, aku bisa langsung akrab, dia itu asyik, easy going dan tentu saja aku bisa mengorek info tentang Tania. Tapi aku juga heran tuh si cempreng punya berapa stok energi sih? semangat amat mau nampil, walaupun jadwalnya sudah banyak.


"Akustik deh, akustik, yang biasa pegang alat musik bisa angkat tangan" lanjut Agus. "Bima bisa gitar yah ?"


Dibalas dengan acungan jempol dari Bima.


"Ada yang lain?"


"Hengki Gus" Teriak Sadam.


"Hengki bisa ?"


"Seruling bisa sih" jawab Hengki terkekeh. Aku hanya tersenyum dengan tetap fokus sama gameku saat temen-temen yang lain ikut menyoraki tingkah konyol hengki.


"Masa berdua sama Bima sih?" gerutu Dea.


"Ciee Dea Bima, cie" teman-teman malah menjadikan momen ini sebagai bahan bullyan.


"Apaan sih"


"Dik, kamu bisa pegang gitar kan?" Bima menoleh bertanya padaku sebab Bima juga kurang yakin tapi dia memang pernah melihat alat itu di rumahku.


Aku hanya menggeleng sambil mata dan tangan masih fokus ke layar.


"Gus, Dicky gus dia bisa gitar, ntar aku Bass deh" teriak bima membuat seisi kelas menoleh ke arahku penuh harap atau penuh tanya? tapi aku hanya mengangkat tangan sambil geleng-geleng tanda tak setuju.


"Jangan aku deh, masih sibuk take gambar" tolakku.

__ADS_1


"Ayolah Dik, demi nama kelas kita"


"Iya Dik, satu lagu aja"


Aku menghembuskan nafas pasrah, merasa terpojoki seperti ini paling tidak ku sukai. Akhirnya aku mengangguk pasrah.


****


Tania


Setelah chat panjang malam itu, tidak ada lagi komunikasi yang terjadi. Kadang aku merasa kalau Dicky tertarik padaku tapi kadang pula aku merasa pesimis.


"Kalau suka harusnya dia inisiatif dong" curhatku pada Eby suatu hari.


"Mungkin dia lagi sibuk sama proyek gambarnya" jawab Eby sambil tetap memakan kuaci kesukaannya.


"Aku juga sibuk latihan tapi masih sempat mikirin dia"


"Kamu udah kayak pacar yang di cuekin, padahal belum tentu loh dia mau nembak"


Eby hanya menatapku iba membuat dadanya merasa ngilu dan mata makin perih. Ternyata sakit. hiks.


Jadi, setelah itu aku berusaha bersikap normal, tidak lagi berharap banyak. Namun tetap saja sudut mataku seolah sudah terlatih menemukan sosok jangkung itu, dari arah jauh saja sudah ku tau sosoknya, tas ransel, punggung tegap, rambut cepak yang hampir mirip semua dengan siswa lainnya tapi aku tetap mengenalinya. Bahkan melihat motor matic yang sering di gunakan Dicky saja sudah membuat jantungku bekerja lebih keras dan satu tanpa ku sadari adalah aku sudah hapal nomor polisi hingga tanggal masa berlakunya saking seringnya aku pelototi kendaraan itu.


Tapi, malam ini ketika Eby dan Rian datang ke rumah untuk mengerjakan tugas fisika dan tak lama Dea juga datang karena tak ingin ketinggalan.


" Kayaknya si Dicky suka sama seseorang" Kata Rian sok tau sambil mencomot pisang nuget buatan mbok.


Aku yang sedang konsentrasi dengan rumus dan jarak tiba-tiba teralihkan. Aku memicingkan mata ke arah Rian.


"Dan kayanya dia suka sama salah satu dari kalian" lanjut Rian. Aku tau Rian pasti iseng mengerjaiku.


"Ian ihh" Tentu saja aku tak mau terpancing. Aku berusaha kembali fokus ke buku didepanku.

__ADS_1


"Serius. Bima suka bercanda sama Dicky. Dan yang mereka bahas ternyata kalian"


"Serius?" Fokusku ambyar. Aku tersenyum menatap Rian penuh harap. "terus? terus?" desakku.


"Gak ada terusnya" jawabnya sambil nyengir.


"Jadi kemungkinan Dicky suka sama aku?" wahh aku berbunga-bunga.


"Kemungkinan lain, dia sukanya sama Dea atau Eby" lanjut Rian masih terus mengunyah. Aku cemberut. Gak rela.


"Dea..... Eby......" Keluhku manja. "Dicky buat aku yah, kalian cari yang lain"


Mereka malah ketawa.


"Tapi kalau Dickynya ternyata nyaman sama aku? gimana?" kata Dea mengerling ke arahku. Akhir-akhir ini mereka memang terlihat akrab di kelas.


"Aaaa.... gak mau" beneran gak mau, aku. gak mau bayangkan mereka jadian. "De.... kok kamu tega sih"


Mereka makin tertawa.


"Atau jangan-jangan Dicky malah suka yang tipe-tipe tomboy kayak Eby?" kata Rian lagi mendramatis keadaan. Eby hanya tertawa santai.


"Awas yah bi. Pokoknya gak ada yang boleh jadian sm Dicky kecuali aku"


"Boleh juga sama brondong" eby kok ikut-ikutan genit sih. bukan dia bangetkan.


"Ebiiiii ih" aku ngambek "Gak ada lagi kerja tugas bareng, sana pulang. Tugasnya kerja masing-masing"


"Ampun Ta ampun" Kata Eby masih dengan tawanya.


"Oke, aku pastikan Dicky mau sama kamu" Rayu Rian "Tapi ulangan besok bantuin yah"


Ihh. Ini dua mahluk emang paling gak bisa hidup tanpa aku padahal aku gak pintar-pintar amat perasaan. Tapi kalau di pikir-pikir hidupku juga bakal susah tanpa mereka, Kemana-mana harus nebeng. Paling seneng repotin mereka dari pada repotin Daeng sangkala, supir papa.

__ADS_1


******


__ADS_2