Oh My Brownis

Oh My Brownis
First Date


__ADS_3

Tania


Penilaian pertamaku terhadap Dinda, gadis yang ceria, ramai sekaligus asik. Hmmm ini sih Dea versi lain. Secara penampilan Dinda gadis abg yang imut, mengemaskan. Sekilas tidak ada yang menyangka kalau dia adik Dicky tapi ketika tersenyum mereka memiliki garis senyum yang sama.


Aku sempat waspada, aku kira dia hanya 'teman' Dicky yang lain. Tapi aku bisa bernafas lega saat dia memperkenalkan diri sebagai adik satu-satunya Dicky.


Pukul 17.20, Bu Nia meninggalkan kelas, aku mengecek ponsel belum ada chat dari Dicky, mungkin masih sibuk dengan Dinda.


"Mau ikut gak?" Tawar Eby


"Dia udah ada kang ojeknya by, tuh sudah nunggu" Malah Rian yang menjawab. Ku panjangkan leher di jendela kelas, benar di sana sudah ada Dicky, sedang mengobrol dengan beberapa temannya sambil tertawa membuatku tanpa sadar menyinggungkan senyum.


Aku rapikan semua alat tulisku lalu ku tarik lengan Eby keluar kelas.


"Wih, tuh cewek siapa?" si Rian mah kalau liat yang bening dikit aja langsung konek.


"Adiknya Dicky"


"Adik kandung atau adik-adik?" Rian menaik turunkan alis.


"Adik kandung lah" Aku nyolot.


"Kayaknya kita cocok jadi saudara ipar Ta" Apa pula lagi ini si Rian.


"Hai Dik" sapa Rian sok asik lalu bertos ria dengan Dicky.


Melihat keberadaanku, Dinda langsung berdiri dari duduknya dan menyambutku.


"Kak Tania" Sapanya riang.


"Belum pulang?" Dia menggeleng


"Sengaja ikut kesini, biar bisa jalan" Dia sedikit berjinjit ke dekat telingaku lalu berbisik, aku tersenyum geli.


"Pulang sekarang? " Dicky menatapku lembut, aku mengangguk mengulum senyum.


"Suit suit"


"Hati-hati bawa dua bidadari Dik"


Dicky hanya menanggapi dengan mengangkat jempol.


"Gimana lesnya? " Hmm, pertanyaan basa-basi.


"Lancar jaya"


"Langsung pulang aja yah? "


"Jalan dulu" Jawabku kompak dengan Dinda lalu tertawa.


"Mau kemana? ini udah malam loh"


"Yang penting aku dirumah sebelum jam 9"


"Oke, tapi telepon orang rumah dulu, aku tidak mau nanti dikira aku nyulik anak orang"


"Tidak usah, lagian Mama sama Papa tidak ada di rumah"


"Kita langsung pulang"


"Iyah iyah, aku telpon" Gerutuku sambil berusaha mengambil ponsel dari dalam tas.


Naui du nuneul gameumyeon


Tteooreuneun geu nundongja


Jakku gaseumi siryeoseo


Ijhyeojigil baraesseo


Aku sama Dinda tanpa sengaja bersenandung saat mendengar lagu original soundtrack dari drama korea.


Kkumiramyeon ije kkaeeonasseumyeon jebal


Jeongmal nega naui unmyeongin geolkka


Neon falling you


Unmyeongcheoreom neoreul falling


Tto nareul bureune calling


Heeo naol su eopseo


Jebal hold me


[Stay With Me - Pouch Ft Chanyoel ]

__ADS_1


"Bisa hapal gitu?"


Aku dan Dinda hanya ketawa dan bertos.


"Mas Gong Yo"


"Lee Dong Wook Oppa"


"Om-om kiyutt"


"Om om kok kiyut yang kiyut itu brondong" Dicky ikut menimpali tapi tidak ada yang menanggapi.


"Aku paling suka pas adegan... " Dinda terus membahas Drama itu.


"Memang anak kecil bisa nonton drama korea gitu? itukan banyak adegan-adegannya yah"


"Sok tau, Lagian kalau aku anak kecil berarti kak Dicky juga masih kecil, umur kita cuma beda setahun kak"


Aku tidak tahan untuk tidak tertawa, benar kata Dinda, Dicky ini sok dewasa kalau lagi menghadapi Dinda.


______


Karena kota ini kota kecil, pilihan tempat cozy juga belum banyak akhirnya kita memilih ke mall ini lagi.


Dinda menggandeng tanganku melenggang memasuki arena mall, meninggalkan Dicky yang masih sibuk memarkir mobilnya.


"Kapan-kapan kamu harus gabung sama teman-teman aku"


"Yang tadi tomboy itu yah kak? dia baikkan kak? dia kayak algojo kak Tania dari pada sahabat"


Aku tertawa membayangkan wajah Eby.


"Ada lagi satu, namanya Dea. Kalau dia, kalian pasti cocok orangnya ramai"


"Ramai artinya cerewet yah? "


Aku kembali tertawa sambil mengangguk-angguk.


"Makan dulu" Dicky sudah berada dekat kami merangkul leher adiknya yang menggenggam tanganku dan membawa kami memasuki sebuah resto.


Dinda duduk dihadapanku sedangkan Dicky duduk di sampingku. Kakak beradik itu memesan mie hot plate sedangkan aku memesan chicken mozarella.


"Nanti lanjut SMA mana?" Tanyaku sambil menunggu pesanan datang.


"Yang penting tidak satu sekolah sama kak Dicky. Dia galak kak" Dinda memberenggut.


"Galak gimana?"


"Bagus dong, ada yang jagain"


Dicky mengacungkan jempol.


Pesanan datang, Dicky dan Dinda malah sibuk berbagi, aku perhatikan rupanya Dinda mengalihkan sayurannya ke piring Dicky dan mengambil semua seafood yang di piring Dicky. Sepertinya ini memang kebiasaan mereka.


"Kak Tania sendiri nanti kuliahnya dimana?" Dinda bertanya balik.


"Belum tau, kemarin daftar jalur undangan di Makassar"


"Kenapa makassar? bukanya kakak kamu di Jogja"


"Sekarang S2 di Malaysia"


"Terus kenapa kamu hanya di Makassar?"


"Banyak kok kampus yang bagus di Makassar, tergantung kitanya aja"


"Orang tua kamu ijinkan? "


"Kenapa? "


"Aneh saja, cucunya Muh. Yasin kayaknya kurang ambisius" Dicky nyengir.


Aku kira, Dicky tidak tau siapa keluargaku ternyata dia juga jadi warga yang baik di sini, yang mempelajari silsilah pemerintah termasuk sissilah keluargaku.


"Aku tidak pernah pisah jauh sama mama, makassar masih okelah"


"Di sini juga banyak kampus. Kuliah disini aja, supaya kita tidak LDRan"


"Gak bisa LDR?"


"Belum tau sih, kan belum pernah"


_____


Setelah makan, Dinda malah memohon-mohon di temani nonton film yang lagi booming.


"Kemarin juga mau nonton sama Lili tapi kakak larang"

__ADS_1


"Kak Tania, boleh kan?"


"Hayuk deh" Aku menarik lengan Dinda menuju lantai 2 tempat XXI.


Sebenarnya, minggu lalu aku sudah nonton film ini sama Dea dan Eby tapi gak papa juga nonton lagi bareng pacar. First time.


Tempat duduk bagian belakang sudah full, yang ada bagian tengah pinggir yang masih ada kosong tiga kursi berdekatan, jadi kita pilih itu. Dan tanpa harus menunggu lama pintu Theater sudah terbuka, Dicky berjalan paling depan mengambil posisi duduk tengah.


Ini film romantis yang melankolis, film selera cewek memang. Baru menit ke lima belas Dicky sudah terlihat bosan, beberapa kali bahkan menguap menahan kantuk. Ku lirik Dinda yang menikmati filmnya dengan menyadarkan kepala di bahu kanan Dicky. Hmm jadi mau juga.


Aku menoleh ke arah Dicky, dia senyum sambil berucap "ada apa? " tanpa suara, aku menggeleng.


Aku kembali menatap ke arah layar yang lebar, hhmm ternyata susah untuk fokus, tiba-tiba di tengah keremangan ruangan aku merasa ada yang menyentuh jari-jariku, ku lihat tangan lebar Dicky berusaha meraih jemariku dan mengganggamnya. Aku menahan nafas, kehangatan dari tangan besar itu mengantarkan arus listrik menghangatkan hingga kedalam hatiku, sejenak waktu terasa berhenti, ruangan menyempit hanya ada aku dalam genggamannya.


_____


"Aku masuk dulu, Dahh Dindaa" Pamitku pada Dinda.


"Aku antar masuk, Mama kamu udah ada?" Tawar Dicky.


"No no no. Jangan, papa aku galak ihh"


"Gak papa, aku gak ngapa-ngapain kamu kan?" Ini sih bukan penawaran.


"Dek, aku antar Tania dulu yah" Dinda hanya mengacungkan jempol.


Ya ampun, nekat betul nih bocah. Rian aja kadang takut harus menghadapi papa. Aku membuka pagar, ku dengar suara orang-orang berbincang sesekali tertawa, mungkin tamu kak Dewa. Ku ketuk pintu sekali lalu mendorongnya pelan.


"Assalamualaikum "


"Waalaikumsalam " Jawaban dari ruang tamu, oh ternyata Dea dan kak Dewa.


"Pantas aja chat aku di cuekin, lagi ngedate"


Aku membulatkan mata kearah Dea. Sedangkan kak Dewa sudah menatap tajam ke belakang punggungku.


"Mhh, kak ini Dicky, teman sekolah Tania, Dik kakak aku"


" Dicky kak, maaf Tania pulang kemalaman"


"Dari mana?"


"Dari nonton....."


"Bertiga kok sama Dinda, ada di luar" Potongku cepat.


terdengar suara mobil memasuki pagar, itu pasti papa sama mama.


"Itu di luar mobil siapa? kenapa parkir di....."


Ucapan mama berhenti saat melihat keramaian di di dalam.


"Eh, ada tamu, kenapa berdiri saja?"


Aku memberi kode pada Dicky agar duduk di sofa.


"Siapa? " Tanya mama lagi yang tampak penasaran.


"Dicky tante, teman Tania dan Dea di sekolah" Dicky memperkenalkan diri sambil menyalami mama.


"Pa, sini dulu kenalan sama teman Tania"


"Dicky om"


"Tinggal dimana? " Tanya papa dengan suara berat.


"Di Korem 711 om"


"Orang tua kamu petugas? siapa? "


"Bapak saya namanya pak Muchtar om"


"Muchtar Saidin?" Tanya papa antusias.


"Benar om" Dicky mengangguk lalu tersenyum merasa lega dengan sambutan papa.


"Salam sama Bapak kamu, Aku masuk dulu" Papa menepuk pundak Dicky lalu berlalu. Tumben sekali papa welcome sama teman cowokku.


"Bikinin minum teman kamu Nia" Kata Mama sambil mengikuti jejak Papa.


"Aku pamit yah, kasian Dinda"


"Astagfirullah Dinda " Ya ampun, kasian sekali Dinda.


"Pamit dulu kak, De"


"Hati-hati Dikduk" Balas si cempreng Dea sambil melambai lalu kembali berbisik di dekat kak Dewa.

__ADS_1


Ini Dea sama kak Dewa ngapain sih?


******


__ADS_2