
Aku bisa bernafas lega saat hari kepulangan dari tempat KKN Kak Anca tidak menampakkan diri, hanya mengirim pesan.
Kak Anca : So sorry, benar-benar tidak bisa jemput.
Aku : Gak papa kak, lagian tidak enak kalau aku pulangnya pisah sama rombongan.
Kak Anca : See you soon.
Kak Anca : Miss you 😞
Aku selalu kehabisan kata jika dia sudah mulai seperti ini. Biasanya aku abaikan tapi kali ini kucoba membalas.
Aku: me too ☺
Dan ponselku langsung bergetar, aku kelabakan dan spontan me-reject kemudian ku kirimkan pesan secepatnya.
Aku : Bis sudah datang, bentar lagi berangkat.
Kak Anca : Take care dear.
*****
Pelintiran KKN ternyata tidak sampai disitu saja. Bukan sekedar back to campus dengan leha-leha tapi masih ada laporan yang menanti.
Aku harus begadang dan ngadem di perpus selama berjam-jam untuk menyelesaikan laporan agar bisa dikumpul secara kolektif oleh korcam (kordinator kecamatan).
Ada yang mengganggu beberapa hari ini. Aku sering mendapati seseorang yang mengingatkanku dengannya. Hanya dari kejauhan memang, punggung yang sama, cara berjalan yang sama sebenarnya hanya itu. Karena wajahnya tentu saja aku sama sekali tidak bisa melihatnya.
Tapi bukan kah banyak orang di dunia ini yang memiliki postur tubuh yang sama? Bahkan wajah yang sama? Tapi aku tetap penasaran. Beberapa kali ku kejar diam-diam orang itu tapi tetap tak bisa kupastikan.
"Sejak kapan perpus jadi ramai begini? " Aku celingak-celinguk melihat beberapa kursi diterisi oleh wajah-wajah baru.
"Paling Maba (Mahasiswa Baru)" Jawab Naila yang fokus dengan modulnya.
"Aku kok kayak sudah lama sekali tidak ke kampus, padahal perasaan hanya tiga bulan lebih"
"Cakep-cakep loh Maba sekarang" Penyakit Naila kambu.
Aku memutar bola mata.
"Kayak gak doyan brondong aja" Aku menabok lengan Naila pake buku modul yang ku pegang.
__ADS_1
"Judul kamu sudah acc? " Aku mengalihkan percakapan.
"Belum. Disuruh ganti lagi, katanya sudah pasaran, padahal aku sengaja cari judul yang pasaran biar cari referensi juga gampang"
"Itu sih karna kamu malas aja"
Nailah nyengir.
"Lagi nonton apa sih? " Tanyaku pada Naila yang sudah beralih dengan video di ponselnya.
"Ini yang lagi viral"
"Apaan? "
"Junior di FT (Fakultas Teknik) yang pro dan kontra di kalangan aktivis kampus karena orasinya" Jelasnya menggebu-gebu.
"Masih Maba sudah berani jadi orator" Tambahnya.
"Tapi orasinya keren, bahasanya tegas"
"Dan poin utamanya kenapa bisa viral yah karna dia good looking jadi banyak yang fans" Naila sampai cekikikan sendiri dengan ucapannya sendiri.
"Baca nih komentar-komentarnya" Tapi Naila masih semangat saja namun suaranya sudah di tekan sedemikian rupa.
"Bang, demonya di hati aku dong" Nailah membaca komentar dengan gaya dibuat-buat.
"Kakanda, Orasinya pake bahasa kalbu kita yah"
Aku berdecak kesal. konsentrasiku jadi buyar.
"Wih netijen lincah, sudah dapat akunnya segala" Dan Naila tidak menyadari kekesalanku.
"Ta, bukannya Nama mantan kamu yang hilang itu namanya Dicky yah? "
Gerak tubuhku langsung terhenti.
"Dicky Anugrah yah? " Tanyanya lagi meyakinkan.
Segera ku rebut ponselnya. Ku lihat itu memang akunnya Dicky, akun yang sama saat SMA dulu tapi postingannya sama sekali kosong, sudah dsorotan. Tapi ada dua story di sorotan. Pertama foto, itu foto lama saat ulang tahun Dinda, Dicky sedang memegang kue ulang tahun dan Dinda meniup lilin.
Foto yang kedua hanya menampilkan sebuah pintu kayu, sepertinya pintu kelas dengan caption. "I see you there"
__ADS_1
Deg.
Itu berarti Dicky masih hidup? selama ini Dicky bahkan update story tapi kenapa aku bisa melewatkannya?
"Mana videonya Nai? "Tanyaku dengan suara bergetar.
Nailah mengotak atik layar ponselnya kemudian menyerahkannya padaku.
Saat itu juga jantung seakan berhenti berdetak, air mataku luruh. Itu Dicky, Aku yakin dia benar-benar Dicky, Walaupun secara penampilan sama sekali sudah berbeda dengan dia yang dulu tapi aku mengenalinya.
Video itu hanya berdurasi lima menit, ku lihat dia Sang Orator yang tangan kanannya sedang memegang pengeras suara sedangkan tangan kirinya terselip sebatang rokok.
Dengan lantang dia menyadur naskah Sumpah Pemuda dengan beberapa gubahan. "Kami mahasiswa Indonesia bersumpah, bertumpah darah yang satu, tanah air tanpa penindasan," Teriaknya dari atas mobil komando lalu diikuti oleh peserta demo.
Sang orator melanjutkan "kami mahasiswa Indonesia bersumpah, berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan. Kami mahasiswa Indonesia bersumpah berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan, bahasa tanpa kemunafikan'"
"HIDUP RAKYAT! HIDUP RAKYAT! HIDUP MAHASISWA! HIDUP INDONESIA*" ©
Videonya sudah berakhir tapi aku masih menatap ponsel yang di tanganku. Kepalaku pening, berbagai pikiran sedang berkecamuk di sana.
Jadi Dicky sekarang ada di kota ini? kuliah di sini? kalau benar berarti dia sudah ada di kampus ini sejak tujuh bulan yang lalu. tapi kenapa dia sama sekali tidak menemuiku? Apakah memang aku tidak sepenting itu? apakah selama ini hanya aku yang berharap bisa menemuinya ?
Atau kemungkinan lain, Dicky lupa ingatan saat kejadian itu? Tidak itu terlalu dramatis. Hal seperti itu hanya ada di drama-drama fiksi.
Jadi aku harus bagaimana?
"Dia junior jurusan apa Nai? "
"Yang pasti dia anak FT"
Ku menutup laptopku setelah shut down, Ku bereskan semua modul dan buku-buku lainnya.
"Temani aku Nai"
Aku harus memastikan sendiri.
****
keterangan:
© sumber dari Indonesia.tempo.com
__ADS_1