
Tania
Sejak semalam aku tidak sempat menghubungi Dicky karena terlalu memikirkan Kak Anca yang langsung menancap gas meninggalkan halaman rumahku dengan wajah yang begitu muram bahkan sebelum sempat ku berikan cincin yang sedang berada di dompetku.
Hingga pagi, aku masih tidak sempat karena harus tiba di kampus sepagi mungkin untuk bisa konsultasi judul proposal penelitian dengan Bu Atun, PA (Pembimbing Akademik) ku, sebelum beliau masuk kelas.
Saat keluar dari ruangan Dosen, aku langsung membawa Laporan yang kemarin ku kerja selama berhari-hari untuk di tanda tangan Dosen pendamping. Ternyata memakan waktu cukup lama.
Siang menjelang sore berita demo di fly over berakhir ricuh. Aku langsung teringat padanya. Apa Dicky salah satu peserta demo itu? kemungkinan besar iya, karena sekarang dia sudah populer sebagai orator ulung. tapi semoga saja tidak, itu harapanku.
Aku langsung menghubunginya, hanya berdering tidak dijawab. Sampai Lima kali tapi tak juga kunjung dijawab. Kemana dia? apa dia marah sama aku? Atau dia lagi terjebak diantara ricuhnya para demonstran?
Aku makin khawatir saat mendengar kabar kalau peserta demo banyak yang diseret oleh aparat. Aku sering melihat di berita demontran yang dipukuli oleh aparat karena dianggap melawan. Semoga Dicky tidak.
Keesokan harinya pun Dicky belum membalas puluhan pesan yang ku kirim. Hanya centang satu. Atau ponselnya hilang? aku mencoba ber positif thinking. Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Semoga Dia tidak apa-apa.
Akhirnya, aku nekat mendatangi kampusnya, tapi ternyata dia juga tidak nampak. Susahnya aku tidak mengenal satu orangpun teman dekatnya di sini. Dengan terpaksa aku menghubungi Akbar lagi, meminta tolong mencari tau keberadaan Dicky.
"Kamu teman Dicky?" Tanya Akbar kepada orang yang sudah berdiri di depanku dan Akbar.
"Iye' (iyah) nama saya Arvie Kak" Jawabnya dengan kening mengkerut.
"Dicky tidak masuk kuliah? " Tanyaku langsung.
"Hari ini tidak masuk. Aku telpon tapi tidak aktif"
"Kamu liat rumahnya? " tanyaku lagi membrondong.
Dia tidak langsung menjawab. terlihat ragu sesaat tapi kemudian....
"Aku tau kosannya"
Jadi Dicky tinggal di kosan?
"Bisa antar aku? "
Arvie mangangguk sambil tersenyum.
"Makasih yah Bro, lain kali aku traktir"
"Hati-hati di sarang buaya" Aku masih mendengar teriakan Akbar dari belakang tapi aku tidak meresponnya lagi.
Aku mengikuti langkah kaki Arvie menuju parkiran.
"Naik motor yah Kak, agak jauh kalau jalan kaki"
Tentu saja aku setuju.
"Kemarin Dicky di seret oleh aparat saat Demo"
"Apa dia masih di kantor polisi? "
"Harusnya sih sudah pulang, Teman-teman yang lain juga sudah pulang. sepertinya bukan masalah besar"
Aku mengangguk walaupun Arvie jelas tidak melihat.
"Kak Tania ini apanya Dicky? "
"Kamu tau siapa aku? "
"Tau, semua Angkatan ku yang cowok kayaknya kenal sama Kak Tania"
"Kok Bisa? "
"Kak Tania inikan Satu-satunya Mawapres (Mahasiswa berprestasi) tercantik waktu di CCC"
__ADS_1
Aku ingat penyambutan MABA delapan bulan lalu. Aku memang mewakili jurusanku sebagai Mawapres untuk bincang-bincang prestasi serta biaya siswa yang bisa diraih selama di kampus.
Mmhh.. Berarti waktu itu Dicky juga melihatku? Ya Tuhan, tega betul si Dik duk.
Aku tersadar dari lamunanku saat Arvie memarkir motor matic nya tepat di sebelah motor besar milik Dicky.
Aku kembali mengekor Arvie memasuki sebuah bangunan yang banyak pintu nya. Rumah khusus kos pastinya dan Arvie mengetuk pintu nomor 2.
Tok tok tok
"Dik..... Dicky"
Tidak terdengar jawaban. Tapi aku maupun Arvie yakin kalau Dicky ada di dalam karena motornya jelas masih terparkir.
Tok tok tok
"Dari semalam belum keluar-keluar" Kata seseorang yang sedang melewati kami.
"Semalam dia pulang jam berapa?" Tanya Arvie pada orang itu yang sedang memutar kunci di kamar nomor 3.
"Kayaknya hampir tengah malam"
TOK TOK TOK
"Dicky woy.... bangun woy"
Arvie mengetuk lebih kencang.
"Siapa? " Terdengar jawaban. Suaranya sangat serak. Pasti dia baru bangun.
"Ckkkk... Ini ada yang cari" Arvie kembali berbicara dengan suara yang keras.
Lalu ....
Ceklek
Dari tatapan malasnya menatap Arvie kini menatapku dengan mata yang membulat.
Buk.
Pintu itu kembali tertutup.
"Sorry, aku pake baju dulu" Teriaknya masih dengan suara parau.
...*****...
Dicky
Sejak kemarin Tania belum ada kabar, belum mengabariku dan aku tidak berhak mengabarinya lebih dulu. Aku khawatir akan menempatkannya di posisi yang salah jika aku tiba-tiba menelpon saat dia bersama seseorang.
Hari ini akan ada demo besar-besaran lagi. Sejak jadi orator dadakan waktu itu, para senior kini menobatkan ku sebagai pemegang Toa.
Demo kali ini sedikit melenceng. Mungkin karena peserta Demonstrasi yang membludak dan sedikit banyak yang terprovokasi dengan bisikan-bisikan luar hingga membuat kesalahan pahaman antara peserta demonstrasi dan aparat kepolisian yang sedang menjaga keamanan.
Aku dan Beberapa kating harus ikut ke kantor polisi, bukan di seret tapi sengaja ikut untuk meluruskan dan dibuatkan surat perjanjian.
Saat tiba di kosan, sudah pukul sebelas lewat. Aku hanya memaksakan diri shalat isya sebelum menjatuhkan diri di tempat tidur.
Entah berapa lama aku tertidur, saat mendengar ketukan di pintu aku mencoba membuka mata tapi rasanya sangat berat, ingin bersuara tapi tenggorokan tercekat.
Hingga ketukan ketiga, aku berhasil bersuara meski sangat parau. Aku berusaha bangkit karena kepalaku benar-benar terasa berat.
Yang tidak pernah ku duga menemukan Mata indah milik Tania yang melotot menatapku dengan penampilan sangat kacau.
"Kamu bisa pulang" Kataku pada Arvie yang ternyata masih berdiri di depan pintu saat aku kali membuka pintu setelah memakai kaus oblong.
__ADS_1
"Ckk.. Makaseehhh" Selorohnya dengan nada di buat-buat sambil berjalan meninggalkan kami.
"Makasih Bro" ucapku sebelum dia menghilang di balik pintu utama.
Aku menarik tangan Tania masuk ke kamar dan menutup pintu, tak ingin tetangga kamar makin Kepo.
"Kamu sakit" Katanya menyentuh kening dan pipiku setelah pintu ku tutup.
"Sudah minum obat?" tanyanya lagi dengan wajah yang khawatir.
"Aku cuma butuh tidur" gumamku.
Aku menariknya duduk di atas kasur yang berukuran kecil. Aku meletakkan kepala di pangkuannya dan meluruskan badan kemudian kembali memejamkan mata.
"Makan dulu Dik" Ucapnya dengan lirih sambil membelai pipiku lembut.
"Bentar, kepalaku berat sekali" Aku yang tadi tidur terlentang membalikkan badan dan menenggelamkan wajahku di perutnya.
Ahh,, nyaman sekali.
...*****...
Tania
Dia tertidur, suhu badan benar-benar panas. aku menyetuhnya saja seperti menyentuh panci diatas kompor yang menyala.
Sekitar dua puluh menit dia tertidur dengan nafas yang teratur.
ku pandang sekeliling ruangan, kamarnya bersih rapi untuk ukuran cowok, hanya ada celana jeans, baju koko dan handuk yang tergantung di belakang pintu.
Juga fasilitas yang cukup lengkap. Ada Tv LED 14 inc, kulkas mini, lemari pakaian dan tempat tidur ukuran single. Sepertinya semua fasilitas dari kos yang di sewa. Syukurlah hidup Dicky masih tergolong memadai.
Tapi kenapa Dicky ngekos? setauku dia punya rumah di kota ini. Walaupun ibunya sudah tiada tapi keluarga besarnya ada di kota ini, bahkan terakhir aku tau nenek nya masih hidup.
Mataku tertuju pada tatanan buku di rak tersusun rapi. Aku sedikit penasaran dengan rak itu. Biasanya kita akan mendapat sebuah rahasia jika berkunjung ke kamar pacar. Apa Dicky juga punya sesuatu di sana? tapi posisiku sekarang tidak mungkin untuk bangkit dan mencari tau.
Aku kembali memandangnya dan tanganku tanpa bisa di cegah terus membelai pipi dan rambutnya yang semakin memanjang.
Rasanya seperti mimpi.
Ku lihat bulir-bulir keringat di keningnya. Sepertinya dia sudah kepanasan, suhu badannya juga sudah sepanas tadi, Aku mencoba meraih remot AC yang tergeletak di sampingnya. Tapi malah membuatnya terganggu, dia membalikkan badan menjadi terlentang.
"Keganggu yah?" Ku raihnya remot sambil menekan tombol on.
"Panas? tidur aja lagi" Aku menutup matanya dengan tanganku.
Tapi dia meraih tangan ku dan melepas dari wajahnya. Dia tersenyum menatapku, aku terpaku saat menyadari posisi kami sekarang.
Tanpa aba-aba dia menarik tengkuk ku menuntunku untuk tertunduk. Jantungku sudah bertalu-talu. Aku memejamkan mata saat bibir ku kini menempel di bibirnya, aku merasa bibirku terbakar karena suhu badannya.
Ini bukan ciu man pertama kami tapi rasanya masih sangat mendebarkan.
Lama dia tidak melepas tengkuk ku. Perlahan sentuhan yang hangat kini mempunyai irama, dia mencecapi bibir bawahku dan bibir atasku secara bergantian.
Aku tidak tau harus berbuat apa. ini ciu man kedua ku dengan orang yang sama dan dulu bisa di katakan hanya kecupan tapi ini? Dicky benar-benar menggodaku, membuatku terlena.
Tanpa sadar aku sudah membuka sedikit bibirku dan lidahnya yang hangat kini bermain, mempermainkan lidahku.
Tanganku bahkan sudah meramas rambutnya yang panjang. kenapa aku seperti ini? seolah menginginkan lebih dan lebih.
Tengkukku makin di tekannya, ciu man kali ini benar-benar panas. Tangannya yang satu berusaha meraih tanganku yang menyentuh pipinya.
Tapi tiba-tiba dia berhenti bergerak. Aku membuka mata dan mengangkat kepala dengan tatapan bertanya.
Dia berdehem singkat lalu bangkit.
__ADS_1
"Aku..... aku mau mandi .....terus kita keluar makan" Katanya sambil meraih handuknya dan menghilang dari balik pintu tanpa menatapku.
...******...