Oh My Brownis

Oh My Brownis
The Way You Look At Me


__ADS_3

Bima


Nasib oh nasib. Jadi jomblo ternyata memang paling tidak menyenangkan saat seperti ini.


Saat yang lain datang dengan membawa gandengan masing-masing dan berlalu begitu saja setelah menyapa dan memamerkan pasangannya.


Dan hari ini aku hanya menggandeng Dicky yang sama sekali tidak bisa dipamer.


Lalu Dicky kemana?


Aku baru sadar, Dicky bahkan meninggalkanku sendiri. Apa sudah pulang? Aku melempar pandangan ke segala arah, dan tidak menemukan sosoknya padahal suasana ballroom sudah mulai lenggang, tamu-tamu sudah beranjak dan kedua mempelai sudah melakukan sesi foto romantis berdua.


Bocah sialan, tega sekali meninggalkanku.


Saat berjalan menuju pintu keluar, ekor mataku menangkap bayangannya. Hhmm.. ternyata dia lagi reuni sama mantannya. Pantas saja.


Aku berjalan menghampiri. Iseng ingin menggangu sekalian menyeretnya pulang.


"Pulang Dik"


Mereka tersentak. Tania menarik tangannya yang ada dalam genggaman Dicky kemudian menyusut ujung matanya yang tampak sembab.


Ahhaaa, Aku langsung menyadari kalau disini ada cinta yang belum kelar.


"Ups, sorry mengganggu" Aku hanya bisa nyengir.


Ternyata semua orang memang diciptakan berpasang-pasangan.


Kecuali aku. Huh.


"Aku tunggu di luar yah Dik"


Dicky langsung mengangguk tanpa ragu. Sialan.


*****


Dicky


Sepertinya aku melupakan suatu hal penting. Dasar bo doh. Terlalu gegabah mengambil keputusan hingga melupakan kenyataan yang ada.


"Tapi.... Bisa kah kamu menunggu sebentar lagi? "


Matanya yang berair kini menatapku dengan sorot tidak percaya.


"Aku janji, saat itu kita langsung nikah"


"Kenapa?" Suaranya yang serak terdengar tegas.


"Maaf. Aku baru saja menjalani tugas resmi selama enam bulan, Sedangkan perjanjian kerja baru bisa menikah jika telah melewati dua tahun"


"Tugas apa?"


Dia memicingkan mata. Tampak ragu.


"Tu.. tugas militer" Dan kenapa aku malah gugup ditatap seperti ini.


"Yakin? Bukan karena alasan lain?"


Aku mengangguk yakin.


"Bukan karena ada orang lain yang kamu janjikan hal yang sama?"


"Maksudnya?"


"Aku bahkan belum tau siapa kamu yang sekarang Dik. Bisa saja kamu punya pacar di luar sana, atau mungkin istri tapi malah datang ke aku cuma....."


"Tidak ada siapapun. Tidak ada cewek lain manapun" Segera ku potong ucapannya sebelum dia berpikir lebih jauh.


Dia diam. Entah apa yang ada dibenaknya sekarang. Setelah beberapa saat kemudian dia membuka suara lagi.


"Terus kenapa?" Suaranya yang serak diiringi isakan "Tugas apa ? di mana? Aku benar-benar tidak tau tentang kamu yang sekarang"


"Selain aku yang jadi Taruna, Aku masih Dicky yang sama. Dicky yang selalu mencintaimu Ta"


Dia makin terisak tapi dengan wajah merona.


"Jadi ..... kamu jadi tentara? Tugas di mana? Kenapa tidak bisa nikah?"


"Masih dalam provisi yang sama. Poso. Masalahnya sekarang, aku masih terikat kontrak"


"Satu tahun lagi?"

__ADS_1


"Setahun setengah"


"...…..........."


Dengan dipenuhi rasa waspada aku menantikan tanggapannya. Namun kedatangan dua gadis belia membuyarkan suasana tegang yang ada.


"Kak Taniaa, dipanggil ......" Salah satu gadis itu menghentikan kalimatnya saat menyadari kecanggungan yang ada "Kakak dipanggil foto" cicitnya lalu kembali pergi dengan berbisik-bisik


"Ta... Aku butuh jawabanmu sekarang, Aku harus kembali ke poso. Dan di markas sama sekali tidak ada sinyal. Jadi akau mau kejelasan sekarang"


"Jawaban apa?" Nadanya yang sedikit tidak sabaran makin menggemaskan.


"Aku tetap datang Minggu depan. Kita tunangan dulu, biar kamu tidak lepas lagi. Oke?"


"Padahal yang selalu ghosting siapa"


"Jadi?" Tanyaku tak sabar.


"Jadi? " Ku lihat binar matanya yang selalu sama, menyiratkan rasa yang sama.


"Makasih" Suaraku terdengar dalam. Tenggorokan ku tercekat saking senangnya dan tanpa sadar aku mengecup buku jarinya.


"Taniaaaa" Terdengar suara dari kejauhan.


"Aku di panggil"


"Aku juga harus pamit pulang. Sudah sore. Besok harus tiba di markas sebelum apel pagi"


Tania menganguk.


"Tunggu aku...."


Dia mengangguk lagi.


"Taniaaaaaaaaaa" suara teriakan kembali terdengar.


"Aku akan datang. Pasti"


Dia kembali mengangguk dan bangkit meski matanya masih tdk lepas.


aku melambaikan tangan seperti adegan sepasang kekasih yang harus pisah di bandara penerbangan.


Setelah melihat Tania sedang berfoto asik. Dengan berat hati aku beranjak. Dan mendapati tatapan orang-orang yang membuatku salah tingkah. Ku percepat langkah namun.


"Iya, pamit dulu yah, salam sama penggantinnya. Tidak sempat pamit"


"Yang penting mission complicated kan? "


"Misi apa? " Aku tidak tahan tidak tertawa mendengar tuduhan Eby dan Tisya.


"Jangan dikecewain lagi. Kali ini di jaga baik-baik"


"Siaaapp"


******


Tania


"Ehem, yang lagi melepas rindu" Dea langsung menggodaku saat mengambil posisi di dekatnya.


"Apa sih De"


"Ada kabar baik kayaknya ini"


Sambil melakukan sesi foto kelurga yang sang Penggantin tetap duduk tapi Dea tidak berhenti menggodaku.


"Sudah lama kontekan sama dia?" Aku mengambil kesempatan ini juga betanya-tanya sebelum kak Dewa menyekap atau membawanya pergi jauh.


"Sebulan yang lalu. Waktu ngasih undangan"


"Sekarang ganti posisi" Arahan kameramen tetap berlanjut tapi obrolan kita juga tetap berlanjut.


"Ngobrolin apa sih?" Tegur kak dewa.


"Rahasia"


Dan yang tadi jadi ajang bullyan untukku kini malah jadi selebriti yang dikerumuni paparazi.


"Siapa Nia? " Tanya kerabat-kerabat mama dan papa dengan tampang penuh selidik.


"Cucok kak Niaa" Chaca mengacungkan kedua jempolnya dengan wajah antusias.

__ADS_1


"Untuk aku boleh kak? " Cia memegang dadanya dan mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Siap-siap kondangan lagi"


"Hahahaha"


"Bagusnya kita pake warna apa lagi yahh"


"Jangan lama-lama pacaran. Jangan mendekati dosa" Bahkan Oma ikut berkomentar.


Besoknya, saat sarapan ada oma dan papa di meja makan, mungkin ini kesempatan bagus untuk bicara


"Hhmmm.. Pa. Ada yang mau datang me...lamar tania"


1


2


3


Belum ada jawaban. Hanya Dea yang nyengir memandangku.


"Siapa namanya? Papa kenal?" Tanya papa sambil tetap menyuap makanannya.


"Namanya Dicky. Teman SMA Tania, dulu sering kesini waktu itu"


"Kapan mau datang? "


"Minggu depan Oma, maksud aku akhir pekan nanti"


"Serius ta? Minggu depan" Tanya Dea dengan wajah jelas-jelas sumringah.


"Kok kamu yang excited sih? " Kak dewa memberenggut. Masih saja cemburu.


"Iyah katanya tunangan dulu tapi nikahnya tunggu tahun depan"


"Whhhhaaaa. Awas di PHPin lagi dek"


"Dia baru enam bulan di TNI. Jadi harus nunggu lepas kontrak dulu baru bisa nikah" Aku memberi tahu alasan yang dikatakan Dicky semalam.


"Kasian banget nasibmu dek"


"Yang kemarin diacara itu? Namanya siapa?" Tante Yuli penuh selidik.


"Dicky Tante"


"Bukannya yang dulu itu? Yang bikin kamu sakit? Tante tidak setuju. Tunggu yang lain datang. Laki-laki yang baik-baik"


Saat aku tidak bisa melakukan pembelaan, Dea buka suara.


"Dicky baik kok Tante"


"Aku tidak minta pendapat kamu" Ucapan ketus Tante Yuli membuat Dea bungkam.


"Tante bahkan belum mengenal dia" Kata dengan suara sepelan mungkin namun masih terdengar jelas di telinganya.


"Astaga, na kena betul mako doti kau itu (Kamu benar-benar sudah kena pelet)"


"Dia janji mau datang minggu depan, terserah mau terima lamarannya atau tidak. Setidaknya beri dia kesempatan datang" Kak Dewa bersuara.


"Apakah yang dia andalkan? Apa dia mampu kasi Panaik seperti kakakmu? Jangan karena di butakan cinta kamu malah menurunkan martabat keluarga" Tante Yuli tetap ngotot.


"Sudah Yuli, kita belum ketemu. Masih abu-abu. benar kata Dewa. Kalau dia serius dan datang bersama keluarganya dengan niat baik, tidak mungkin kita tidak membukakan pintu. Masalah yang lain kita bisa bicarakan setelah mereka datang" Ucap Papa.


"Walaupun dengan orang yang pernah membuat dia hampir gila?"


"Tidak ada bukti untuk hal itu Tan" Karena merasa Papa ada di pihakku, aku mencoba membela diri.


Kulihat tante Yuli kembali ingin membuka suara namun terhenti saat suara Oma lebih dulu menegur.


"Sudah-sudah tidak baik berdebat di depan makanan"


...*****...


Hai hai, Assalamualaikum Wr.Wb.


Ini belum sebulan kan? Ternyata akupun rindu saat hari-hariku tidak di temani Dikduk.


Aku pamit lagi yah, maaf baru bisa nyetor satu Chapter dan mau ngilang lagi. hheee


Hatur nuhun buat kalian yang masih setia. 😘😘😘

__ADS_1


Sampai ketemu di akhir bulan 🤭😆😆🤗🤗🙏🙏


__ADS_2