
Tania
Dicky terus memandangku, lama dan dalam. Aku juga melakukan hal yang sama. Tak ada suara, hanya saling memandang mengobati kerinduan.
Ku rasa mataku kembali memanas, aku benar-benar merindukannya. Perlahan dia meraih tangan ku dan menggenggam jemarinya, mengusap-usap melalui ibu jarinya.
"Makan dulu, nasi gorengnya sudah dingin" Ucapku sambil menyusut sudut mataku yang sedikit berair.
"Aku sudah kenyang bisa liatin kamu" Katanya seraya mengerling.
"Ihhh,, garing"
Aku melepas genggemannya dan mencubit jarinya.
Dia terkekeh lalu mulai menyantap nasi gorengnya yang sudah tak berbentuk.
"Kamu makan juga,masih suka roti keju kan?"
Kita makan sambil tatap-tatapan, tidak ada suara hanya melempar senyum padahal dalam kepalaku sudah tersusun begitu banyak pertanyaan untuknya tapi ku biar kan dia menikmati dulu makannya.
"Kamu berhutang banyak sama aku"
"Hutang? " Dia mengernyit
"Hutang penjelasan"
Dia hanya mengangguk-angguk dan melanjutkan suapannya hingga nasi di piringnya tak tersisa sebutirpun.
"Kamu ke sini naik apa? "
"Diantar teman"
"Teman kamu?"
"Tadi ditinggalkan di kantin, pasti sudah balik ke kampus"
"Aku antar pulang yah?" Tawarnya setelah meminum air mineralnya.
"Belum mau pulang"
"Bentar aku masih ada kuliah Ta" Dia melirik jam di tangannya. Sesuatu yang baru, dulu dia tidak pernah pakai jam tangan.
"Aku tunggu" Kataku mantap.
"Yakin? "
"Yakin! "
Ponselku berdering, nama kak Anca terlihat di layar.
"Tuh, udah dicari"
Segera ku tekan layar yang warna merah dan ku tekan tombol off hingga ponsel mati total.
"Jangan gitu Ta, nanti orang rumah nelpon, siapa tau penting"
Ku nyalakan kembali ponsel lalu secara cepat ku kirim pesan di nomor Daeng Intang
__ADS_1
Aku: Tania pulang malam, mau main ke rumah teman, ponselku lowbet jangan di cari.
Send.
"Oke, selesai"
Dia hanya menggelengkan kepala dan mengacak rambutku.
"Jadi mau kemana? "
"Bukannya kamu kuliah? "
"Kuliahnya besok, sama kamu dulu sekarang"
"Jangan ih, kuliah dulu"
_____
"Yakin mau nunggu disini?" Tanyanya saat aku sudah duduk di sebuah bangku di bawah pohon yang tidak jauh dari ruang kelasnya.
Aku mengangguk yakin.
"Pegang ini, kamu bisa buka youtube biar tidak boring"
Dicky meminjami ku ponselnya?
Yes, Kesempatan.
Selama Dicky berada di ruangan perkuliahan, aku memeriksa semua di ponselnya, mulai dari galeri. Aku menyusuri foto di dalamnya tapi tidak ada sesuatu yang berarti misalnya foto seorang cewek, aku baru kepikiran kemungkinan Dicky juga punya seseorang sekarang.
Lalu aku beralih ke aplikasi chatnya, dengan perasaan waspada ku cari chat yang kira-kira dari someone spesial tapi semuanya hanya pesan Grup kelas, Grup Himpunan, dan grup-grup lain atau pesan chat biasa yang hanya menanyakan hal dasar tentang mata kuliah, sama sekali tidak ada chat dengan seseorang yang .. Aku menghela nafas lega. mungkin benar Dicky tidak pernah menyimpan seseorang selain aku. Aku mengulum senyum.
"Tania...." Seseorang menyapaku, aku mendongak ternyata Dirga, Teman KKNku yang lain.
"Hai Dir"
"Dir apaan? Kadir? "
Aku hampir tertawa, itu memang pelesetan nama Dirga oleh teman-teman dan Dirga selalu protes.
Aku mengobrol banyak dengan Dirga, Dirga ini sosok teman yang aktif dan sedikit narsis, lebih suka bercerita tentang pengalaman hidupnya yang menurutnya sangat berkesan. Aku setia jadi pendengar, lumayan pengisi waktu hingga Dicky keluar dari kelas.
Dirga mengajak berfoto selfie dan mengirim ke grup Chat ku lihat dia mengetik.
Dirga : Aku kedatangan tamu cantik di jurusan. yang lain dilarang iri.
Berkat pancingan Dirga, tidak lama Akbar juga sudah gabung.
"Heran deh sama kamu Ta. " Akbar sudah menatapku penuh kecurigaan.
"Kenapa?" Tanya Dirga dengan raut wajah yang serius.
"Tadi siang chat aku minta ketemu, belum cerita aku ditinggal sama junior eh sekarang malah di sini sama kunyuk ini"
"Ada urusan apa sih Ta? "Akbar terlihat sangat penasaran dan makin penasaran karena Dicky malah muncul di balik punggungnya.
"Aku nunggu dia" Jawabku santai.
__ADS_1
Akbar dan Dirga mengernyit. kedua alisnya bahkan hampir tertaut saking herannya.
Ku lihat Dicky tersenyum sambil sedikit menunduk sopan ke arah Dirga dan Akbar.
"Pulang?" Tanya Dicky ke arahku
Aku merasa seperti flashback dalam sebuah drama, Bagaimana dulu Dicky menjemput, mengajak pulang dengan pandangan seteduh itu dan itu kembali terjadi. Ku rasakan hatiku penuh bunga. Tapi hanya dalam sekejap langsung buyar saat Akbar kembali membuka suara.
"Tania, kamu putus sama pacar kamu yang sering ke posko itu?"
Ya Ampun, Akbar ini. Benar Dicky memang hanya adik tingkat yang dia rasa tidak perlu menjaga perasaannya tapi ...
"Aku pulang dulu" Cepat-cepat ku raih tangan Dicky dan segera berlalu dari sana.
"Kita mau kemana?" Tanyanya saat dia mulai menaiki motor Sport Kawa*saki miliknya.
"Terserah kamu" Jawabku singkat.
Terserah! bahkan ke ujung dunia, iyah aku semau itu bersamanya sekarang.
Perasaan ku sekarang? tentu saja bahagia, bisa memeluk dia seperti ini lagi, mencium aroma nya meski dari balik kemejanya. Aku bahkan melupakan statusku sekarang. Jahat? mungkin. Tapi aku tidak ingin memikirkan apapun saat ini. Aku cuma mau menikmati saat bersamanya.
Sekitar tiga puluh menit, dia melajukan motor dengan kecepatan sedang tanpa kata. Kita berada dalam pikiran masing-masing. Melewati jalanan yang cukup padat sore hari ini.
"Kita di sini saja yah? gak papa kan? " Tanyanya saat memarkir motornya di antara jejeran motor yang lain.
Aku mengangguk tak masalah. sudah ku katakan kemanapun asal dengannya.
Ku lihat sekeliling, Dicky membawaku ke tempat yang tergolong familiar. CPI (Center Point Indonesia), tempat menikmati sunset yang selalu ramai pengunjung saat menjelang malam hari.
Aku menggelayut di lengannya, mencari tempat duduk yang kosong, sore ini ternyata padat, walaupun tidak sepadat saat weekend.
Ku lihat orang-orang hanya duduk di lantai membentuk lingkaran bersama teman-temannya atau sekedar duduk berdua sama pasangannya ada juga bermain dengan anak mereka, tampaknya tidak buruk.
aku menarik Dicky duduk di ujung dekat teralis pembatas anjungan yang condong ke laut.
"Gak papa liat laut?" Tanyanya.
Aku menggeleng. Awalnya aku memang sempat parno tiap kali melihat laut tapi sekarang tidak, aku baik-baik saja.
"Kamu? " Tanyaku juga ke arahnya.
"Aku malah suka memandang laut. kita punya banyak kenangan di tepian seperti ini"
Hatiku kembali diliputi oleh bunga yang bermekaran. Ternyata Dicky masih menyimpan semua kenangan itu.
"Sekarang Dinda di mana? Apa kabarnya? Aku kangen" Aku memulai pertanyaanku, Aku sangat penasaran dengan semuanya.
Dia tidak langsung menjawab, malah meminum air mineral yang sempat di belikan untukku tadi, lalu....
"Dinda..... " Dia menelan ludah "Dinda dan ibu sudah pergi, mereka sudah di surga"
Deg!
Seluruh sendiku terasa nyeri, jantungku tertusuk sembilu. Sesak. Wajahku kembali memanas.
Dinda dan Ibu?
__ADS_1
Bagaimana Dicky kehilangan mereka berdua?
*****