Oh My Brownis

Oh My Brownis
Menepi


__ADS_3

Dea


Meski Tania tidak pernah mengatakan apapun tapi aku tau kalau dia lagi ada masalah. Selain sibuk mengurus mamanya yang sakit juga masalah asmaranya dengan Dicky.


Dicky apalagi, orang tidak pernah mengekspresikan perasaan di depan sembarang orang. Tapi hari ini tiba-tiba dia datang, dengan penampilan yang kacau. Wajah pucat, rambut acak-acakan seperti tidak ada semangat hidup di sana.


"Tumben datang sendiri" Pancingku tapi dia hanya senyum miring tak berniat menanggapi.


"Ada yang bisa ku bantu?"


Lagi-lagi dia bungkam. Hanya meraih gitar yang tadi sempat ku mainkan.


"Kalau ada masalah diselesaikan, jangan didiamkan"


"Semuanya sudah selesai. Clear" Jawabnya lalu mencoba memetik gitar "Kamu nyanyi yah"


"Masalahnya apa sih? " Aku makin kepo "Terus kenapa kesini kalau tidak mau cerita?"


"Dia tidak pernah datang?"


"Tania? tidak, dia sibuk ngurus skripsi dan mamanya kan?


Dicky kembali diam. Sibuk dengan gitar di gendongannya.


"Kalian putus? " Aku memicingkan mata.


Diamnya dicky makin membuatku penasaran.


"Kenapa? Tania ngambek gara-gara apa lagi? udah biasakan?"


"Tania mau nikah"


Aku melongo. Antara percaya dan tidak. Kenapa aku sampai tidak tahu hal sepenting ini? kenapa Tania tidak pernah cerita kalau memang benar. Tapi tidak mungkin juga Dicky mengada-ngada kan?


"Jangan salahkan dia. Aku yang salah. Dia berhak memutuskan masa depannya" Tambahnya.


Dia menunduk ke arah gitar sambil membuat melodi yang selow.


"Kalau nanti aku sudah punya kerja. Aku nikahnya sama kamu aja yah" Dengan iringan suara gitar, dia mulai melantur tidak jelas.


"Setidaknya kamu tau siapa aku, kamu tidak menuntut banyak, mengerti jika aku masih mengingatnya" Kali ini dia menatapku dengan mata lelahnya.


"Enak aja. Walaupun cacat begini aku juga mau di cintai yah. bukan sekedar pelampiasan Tania. Gak mau" Aku mencoba menanggapinya dengan candaan.


"Kita coba saja dulu, siapa tau kita memang cocok, jodoh"


Aku hanya berdecak. Aku tau Dicky hanya bercanda tapi kenapa hati kecilku tersentil? melihat dia mencoba mencari hiburan, mencari teman benar-benar seperti anak kehilangan arah.


"Kamu sudah bicara baik-baik sama Tania? padahal aku yakin Tania pasti memberimu kesempatan"


"Aku yang telat dan aku menyesal. Selama ini aku cuma meyakini kalau semua ada saatnya ternyata kita butuh tindakan. Tapi menyesal tidak ada gunanya kan? "


"Kalau begitu jangan kacau begini dong Dik. Kamu pasti bisa dapat yang lebih dari Tania"


"Aku kira juga akan semudah itu De, ternyata lebih sulit dari yang di bayangkan"


______


Setelah suara deru motor Dicky terdengar kepala Kak Dewa muncul di balik pintu.


"Dia kenapa kesini? " Pasti dia melihat Dicky.

__ADS_1


"Benar Tania mau nikah sama Anca? " Aku menodongnya balik.


"Oo. dia datang curhat? " Kak Dewa mencibir tanda tidak suka.


"Kak Dewa kenapa sih sensitif sekali sama dia? Dicky punya salah apa? perasaan dia selalu bersikap sopan sama kakak"


"Sekarang kamu belain dia? Atau jangan-jangan kamu juga suka sama dia?" Kak Dewa memandangku dengan pandangan menuduh.


"Iyah. Aku suka sama dia. Terus kenapa? " Aku menantangnya. Melihat kondisi Dicky dan dia malah menyalah-nyalahkannya membuatku merasa kesal.


Ku lihat dia menatapku tajam dengan rahang yang mengeras.


"Memang kenapa? Toh Tania sendiri sudah punya pilihan. Dalam kasus ini aku sama Dicky tidak bersalah dong"


"Memangnya dia tidak ada stok lain? kenapa harus kamu?" Kali ini dia menatapku sambil tersenyum mengejek.


"Memang kalau aku kenapa?"


"Kamu mau di jadikan pelampiasan? mana ada cowok kayak dia mau sama perempuan tidak bisa ngapa-ngapain? mikir Dea"


Aku seolah terjatuh ke dasar jurang yang banyak bebatuan. Terhempas. Sakit.


Yang mengatakan itu adalah orang yang paling ku percaya. Orang yang selama ini ku kira tulus padaku ternyata....


Aku harus mengigit bibirku kuat-kuat. mencoba menahan detak jantung yang bergemuruh.


"Apa karena aku cacat jadi tidak pantas?" Bahkan suara yang keluar dari mulutku bergetar hebat. "Aku kira selama ini Kak Dewa yang paling tulus menjagaku. Ku kira Kak Dewa menganggapku keluarga ternyata hanya rasa empati yang membuat kalian peduli"


"Dek ..."


"Aku berusaha mengabaikan mereka yang menatapku dengan pandangan kasihan, Aku kira aku masih pantas menjalani hidupku seperti yang lain tapi aku baru sadar ternyata ....."


"Dek.... " Dia berusaha meraihku tapi ku tepis.


"Dea.... "


"PULANG!!! " Aku bahkan harus menjerit tapi dia masih berusaha meraihku.


"DEA... DENGAR DULU"


Aku yang memang duduk di kursi roda, berusaha memberontak lalu berlalu cepat ke kamar. Tidak ingin berniat mendengarnya lebih lama lagi.


Saat menutup pintu kamar aku dengar suara pecahan kaca yang di lempar sambil memaki dengan kata-kata kasar.


PRAK


AN JING


Aku harus menutup telinga rapat-rapat karena tubuhku kembali bergetar hebat, keringat sebesar biji kacang memenuhi kening, jantung berdetak hebat. Aku harus mencari obat yang entah dimana karena sudah lama tidak ku konsumsi dan ternyata tidak menemukannya dimana-mana.


Aku memilih meringkuk ke atas kasur menenggelamkan diri dalam bantal dan selimut, menahan diri yang kini jadi menggigil dengan peluh keringat.


..._____...


Drama dari keluarga itu ternyata tidak sampai di situ saja. Besoknya Tania juga datang. belum juga luapan emosi yang membuncah habis karena keangkuhan kakaknya kini Adiknya tersayang datang bagai orang paling teraniaya.


"Kamu bertengkar sama Kak Dewa? dia pulang di rumah jadi uring-uringan" Katanya begitu membuka pintu kamarku.


Aku hanya diam tidak berniat menjawabnya. Saat ini diam lebih baik.


"Kak Dewa salah apa sih? tumben marah-marahan begini" Dia berjalan dan meletakkan barang bawaannya di meja lalu duduk di sofa.

__ADS_1


"Maafin Kak Dewa yah. Yang aku tau kak Dewa paling care sama kamu bahkan melebihi aku yang adiknya sendiri"


"Aku bahkan berfikir suatu saat kamu dan kak Dewa pasti jadian lalu menikah"


"Pikiranmu terlalu jauh" Aku tidak tahan tidak bersuara.


"Iyah, Aku tau. Terus masalahnya apa?"


"Kamu sendiri begini memang tidak merasa punya masalah? "


"Masalah tentang apa?"


"Kamu tau kenapa aku sama kakak kamu bertengkar? "


"Aku capek De, kenapa jadi tebak-tebakan begini"


"Kamu sendiri kesini dengan tujuan apa? kakak kamu merasa bersalah sama aku? mau minta maaf atas nama dia? "


"Sebenarnya aku kesini karena capek De, aku cuma mau istirahat sebentar disini tapi ternyata kamu benar-benar marah sama kak Dewa"


"Kemarin Dicky kesini, dengan penampilan kacau, dia ngajak aku nikah. bukan sekarang, tapi suatu saat nanti"


Refleks dia menatapku dengan mata ini yang membola.


"Walaupun aku tau dia bercanda tapi kayaknya aku mau, tidak ada salahnya. kita cocok, mumpung ada cowok patah hati yang mau menikahi cewek cacat kayak aku. Kita bisa saling melengkapi. Tidak ada ruginya kan? "


Kali ini dia menatapku dengan pandangan memohon.


"Kenapa? kamu masih sayang? masih cinta? tapi kenapa kamu bisa seenaknya?"


"De, kamu tega sama aku?"


Aku menyeringai. Benar-benar kehilangan kata untuk keluarga ini.


"Kalian itu benar-benar keluarga picik. Egois"


"Kamu tau sendiri Dea. Aku sayang banget sama dia" Tania memasang wajah yang berderai air mata.


"Kamu pernah berfikir tidak sih ada di posisi dia. Dia menganggap kamu segalanya Tania"


"Aku memang salah De...."


".....Aku jahat De. Tapi aku harus bagaimana? posisiku sekarang serba salah. Aku harus mengorbankan salah satunya"


"Dan kamu memilih mengorbankan dia?"


"Tidak, aku mengorbankan perasaanku sendiri"


Ckkk.....


"Dari awal kamu memang salah Ta. Dulu kamu selalu bilang kalau kamu yakin Dicky masih hidup tapi kamu tetap terima orang lain juga. itu artinya hatimu tidak sepenuhnya menunggu dia"


Dia kembali terisak dan menggeleng keras.


"Kesalahan keduamu adalah meminta dia kembali padahal waktu itu Dicky sudah menghindar tidak ingin berharap lagi. Nyatanya kamu sendiri yang membuatnya berharap banyak lalu seenaknya pergi dengan alasan mengorbankan perasaanmu"


"Terus aku harus bagaimana De?"


"Jangan menangis. Ikhlaskan dia. Besok jangan datang sama aku kalau cuma mau menagisi Dicky"


"Dicky pantas bahagia, dengan siapapun dia nanti itu bukan urusanmu lagi"

__ADS_1


...*****...


__ADS_2