
Tania
Aku merasa ada yang mengusik tidurku, tapi rasa lelah serta rasa ngantuk yang lebih dominan, hingga aku mengabaikannya.
"Bangun sayang" Suara berat yang bernada lembut "Shalat subuh dulu"
Apa itu suara malaikat? namun setan dalam diriku masih terus menggoda untuk terpejam.
"Heiiiii... Bangun, keburu pagi"
Tapi sekarang aku merasa orang itu makin berani, membelai, mencium bahkan menyesap kulit wajahku yang menimbulkan rasa geli, aku terpaksa membuka mata dan mendapati wajahnya yang sangat dekat dari pelupuk mataku.
CUP
"Good morning" Dia mengecup bibirku lalu menyeringai.
Butuh waktu untuk berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi dan tidak bisa memberi respon apa-apa.
Detik kesekian baru aku menyadari. Ah, iya aku sudah menikah dan sekarang aku tidak tidur sendiri lagi. Bahkan kejadian semalam langsung terbayang, Aku langsung menutup wajah menggunakan selimut karena merasa malu.
"Good morning Buddy, Shalat dulu" Ulangnya.
"Kok buddy sih?"
"Iyah memang temankan? Teman main" Jawabnya dengan menaik-turunkan alisnya.
"Ihh... Dicky"
Dia menggigit kecil bibir bawahku.
"Mulai sekarang panggil sayang" protesnya dengan wajah menggemaskan "Atau ....." menggantung ucapannya sambil tersenyum misterius.
"Atau apa?"
"Atau mau lagi?" Katanya langsung menahan ku di bawah kungkungannya.
"Mau shalat Dik.."
Aku berusaha mendorong namun dia menggelitik pinggang ku.
"Panggil sayang!"
"Hhhii iya iya iya sayangku hihihi"
Muah muah muahh...
"Mandi dulu" Dia bangkit.
"Sakit Dik, remuk begini"
"Aku gendong"
Dia melakukannya,menggendong dan menyiapkan air hangat dalam bathtub.
"Mau di mandiin juga?"
"No thanks" Aku langsung menutup pintu kamar mandi dan ku dengar dia terkekeh.
Setelah salat subuh dua rakaat, aku memilih berbaring di atas sajadah. Tubuhku benar-benar remuk, mataku masih mengantuk sementara dia terlihat baik-baik saja dengan serius memandang ponselnya.
"Ngantuk yah?" Aku membuka mata dan melihat dia tersenyum sambil mengelus kepalaku.
"Tidurnya di kasur sayang"
"Gendong"
Dia membawaku ke tempat tidur, memeluk, mencium, mengendus dan mengelus.
"Hmmmm.. geli"
"Masih sakit?"
"Iyalah, perih"
"Tapi aku tidak tahan sayang, satu kali yah"
"Ngantuk sayang"
"Bentar saja, baru kamu bisa tidur"
Dia langsung melepas mukenah yang ku pakai dan memulai aksinya.
Aku terjebak, bukannya menolak aku malah membiarkannya melakukan dengan berbagai gaya hingga kembali kelelahan.
Saat aku terbangun lagi, jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Aku melihat ke jendela, matahari sudah bersinar terang.
"Astagfirullah" Spontan aku bangkit namun kembali terduduk saat merasa nyeri.
"Dik..... " Panggil ku tapi tidak ada jawaban.
"Yang.....sayang" Masih tidak ada jawaban.
krukk krukkk
Malah cacing di perut yang menjawab minta di kasih makan.
Apa aku harus keluar sekarang? tapi bukankah itu memalukan? tapi kalau tidak aku pasti kelaparan. Hiks.
Akhirnya aku memutuskan keluar dengan cara mengendap-endap menuju dapur.
Sunyi.
Tidak ada suara keributan khas anak-anak seperti kemarin.
"Kenapa kayak maling" Ternyata ada Dea yang sedang menyuapi Nada di meja makan.
__ADS_1
Aku hanya manyun.
"Gimana? sakit ?" Tanya Dea dengan jahil.
"Kok sunyi?"
"Cari siapa?" Tanya Dea sambil menyuapi anak gemoinya dengan bubur merah.
"Semua, Papa, Tante, Oma dan bocil-bocil"
"Papa mengantar Oma dan Tante Yuli sekeluarga ke bandara"
"Sudah pulang? Kenapa tidak pamit sama aku sih?"
"Yah kali tidurnya nyenyak begitu. Siapa coba yang berani membangunkan manten baru yang lagi berduaan di kamar"
"Dicky?" Aku berusaha mengalihkan.
"Di belakang, liat kolam ikan sama kak Dewa"
"Tumben" kayaknya Dickyku action sebagai adik ipar
"Ehmm... Gimana semalam?" Dea kembali bertanya jahil.
"Apa?"
"Hhhhaaahhahaah"
"Ih Dea, apa sih"
"Makan yang banyak, kayaknya kamu butuh energi banyak, baru juga semalam kamu udah KO begitu"
"Isshh Dea. Tuh Nada dengar"
"Hahahah"
"Cie yang malu cie,, hahahaha"
"Astagfirullah yank, kalau ketawa tidak bisa pelan-pelan?" Kak Dewa datang dan menegur sang istri. Di susul Dicky yang langsung mengambil posisi duduk di hadapanku.
"Mau kemana? rapi semua"
"Ngedate dong" Kak Dewa mengerling lalu mengangkat Nada dari booster seat nya "Anak Papah sudah kenyang?"
"Kekekekek" Dibalas kekehan khas bayi dari Nada. Menggemaskan.
"Kiss Aunty dulu Nada" Tidak tahan dengan kegemoian Nada, aku langsung mencium pipi tembemnya dan lehernya yang wangi.
"Kekekekkeek"
Dia terkekeh aku makin gemas dan tanpa kendali aku makin mengigit kecil-kecil lengannya yang montok.
"Kekekekek"
"Ta, anak aku Ta, kasian ih"
"Dik, segera cetak. Kasian Nada jadi korban terus"
Dicky yang dari tadi hanya diam menyimak langsung tertawa senang.
"Ayo yank, disini kita kayak pengganggu padahal rumah sendiri juga"
"Hahahhah"
Setelah Kak Dewa dan Dea pergi. Aku kembali makan dengan lahap. Benar-benar kelaparan.
"Hari ini kita ngapain?" Dicky bertanya dengan senyum penuh di wajahnya.
"Istirahat aja" Aku menunduk, entah kenapa malah merasa malu.
"Tidak mau jalan? mumpung senggang kan"
"Remuk gini Dik" Lagi-lagi lidahku masih suka keseleo untungnya Dicky tidak protes.
"Ya sudah kita istirahat dulu. Kita punya banyak waktu bersama, besok, lusa, bulan depan, tahun depan dan 100 tahun lagi" Katanya lagi sambil mengelus tangan kiri ku.
Aku bisa apa jika dia sudah semanis ini? I'm fallin' again and again.
Dan kata istirahat yang tadi dikatakan bukan seperti yang ada di bayanganku. Setiap aku membuka mata dia selalu menggoda seolah dia memang siap setiap waktu.
"Sorry yah, belum bisa bulan madu"
Bisiknya setelah ronde kesekian.
"Its oke. Tapi aku ikut ke markas kamu" Gumamku setengah tertidur.
Dia membelai rambut ku "Sayang, bukannya tidak mau kamu ikut, tapi lebih baik jangan"
Dari dulu dia memang tidak pernah membiarkan aku ke sana. Alasannya cuma....
"Bahaya sayang"
"Apa yang bahaya?" Aku membuka mataku yang sebenarnya masih sangat berat. "Mumpung aku belum mulai kerja Dik"
"Dik lagi"
"Sayang...... Yah sayang yahh, ikuttt"
"Bagaimana kliniknya?"
"Nanti nanti saja. Kita ini pengantin baru sayang. Masa kamu tega tinggalin aku"
"Cuma seminggu sayang"
"Jahat ih...." Aku memasang jurus andalan yaitu merajuk.
__ADS_1
"Minggu depan kita ke Makassar" Dia mencoba penawaran lain.
"Untuk?"
"Ke pestanya Arvie"
"Serius? "
"Iya. Kenapa?"
"Pacarnya yang mana tuh yang berhasil?"
"Bukan. Korban pilot. heheheh"
"Ceweknya pilot? Keren dong"
"Bukan yang, pilihan orang tua, maksudnya"
"Arvie ? Di jodohkan? Kok bisa? Hahahah"
"Kayak tidak pernah saja di posisi itu"
"Tapi kan aku tidak jadi"
"Tapi hampir jadi kan?"
Lah malah dia yang ngambek.
"Kok malah aku yang dipojokin gini?"
"Tidak rela saja, ingat kamu pernah dekat sama orang lain"
"Kamu sendiri? Mantannya berapa? heh?"
"Yang, kayaknya ini deh calonnya Arvie" Dia langsung mengalihkan topik
Dicky menyodorkan ponselnya yang menampakkan foto gadis remaja dengan balutan hijab.
"Fix bukan tipenya Arvie. Hahahah"
"Iya sih.ckckck"
Aku merebut ponsel Dicky dan mulai aktivitas stalking calon istri Arvie.
"Tapi manis sayang, manis begini"
"Masa' sih? Tapi masih abg sekali kelihatannya"
"Iya. Masih lugu, kasian sih malah dapat Arvie yang ...... hahaha"
"Namanya juga jodoh sayang"
"Gayanya agak tomboi kayaknya" Aku melihat foto lain yang menunjukkan kegiatan sosial dengan gaya berpakaian yang terkesan cuek "Dia aktivis di yayasan Yang. Kayaknya kalau aku ambil S3 bisa Konsul sama dia dehh"
"Mau S3?"
"Kalau kamu ijinkan" Aku menjawab sekenanya.
"Tapi lihat deh yang, cantik kan? Arvie menang banyak ini"
"Aku juga rencana mau lanjut kuliah" Ternyata Dicky tertarik membahas perkuliahan.
"Oh yah di mana?"
"Kamu tidak keberatan?"
"Kenapa harus keberatan. Kuliah itu hal positif kan?"
"Kita LDR lagi ?"
"Tidak, aku bakal mengekor kemana pun kamu pergi" Jawabku yakin namun mataku masih terpaku pada foto-foto calon istri Arvie.
Dia diam, tidak bertanya lagi. Aku meliriknya penasaran. ternyata dia sedang menatapku dengan pandangan...... entahlah.
"Kenapa?" Aku mengangkat alis.
"I love you" Jawabnya dengan pandangan teduh.
I love you more. Jawabku dalam hati karena dia kembali membungkamku dengan ciuman manis.
...*****...
Assalamualaikum the Tantes kesayangan Dikduk🤗
Sudah bisa di tebak yah kisah siapa yang akan kita kupas di judul selanjutnya. Antara Arvie dan Elvan akhirnya aku condong ke kisah si playboy kita yang ini. 🥰
Kisah Elvan, di keep dulu. Insya Allah akan di kupas juga, One day. (Jika Arvie masih ada yang baca 😂)
Spoiler?
cek
1
2
3
...__________...
...Tak Sesuci Embun...
Sejak ia belum mengerti dunia, semuanya sudah direnggut. Ibuk, Ayah dan kesuciannya. Lalu bagaimana ia akan menjalani hidup? Bisakah ia menghadapi seseorang yang ia cintai dengan keadaan tak lagi suci di masa akan datang ?
*Embun*
__ADS_1
Tentu saja ia mengenalnya. Bahkan melekat di ingatan pertama kali melihat gadis itu di bawa kerumahnya dalam keadaan terluka. Tapi bukan berarti dia mengenalnya dengan baik, melihat tatapan matanya yang nanar itu saja membuatnya takut mendekat apalagi harus menghabiskan sisa hidup dengan gadis itu.
*Arvie*