
Dicky
"Kamu tidak berfikir mereka itu siapa?"
"......"
"Kira-kira berapa panaik yang mereka minta? "
Benar. Aku terlalu gegabah dan terlalu percaya diri sampai tidak memikirkan ke arah sana.
Bisa ditebak, di pernikahan Dewa kemarin pasti mengahabiskan banyak biaya, dilihat dari gedung yang mewah dan sejumlah tamu undangan yang hadir.
Apalagi ini untuk anak gadisnya.
Semua orang tau mereka dari keluarga terpandang di kota itu, dan sudah pasti tidak akan membiarkan anak gadis satu-satunya menikah dengan cara yang sederhana.
"Mereka itu bukan orang sembarangan Dik"
"Iya pak" Gumamku. Aku tau. Sangat tau. Tapi mau bagaimana lagi? tidak mungkin aku mundur sebelum berperang kan?
"Tapi..... Aku sudah janji untuk datang pak"
"Dengan modal apa kita berani kesana?"
Aku tidak berani menatap mata bapak.
"Temani saja dulu pak" Mama Dahlia bersuara.
"Kalau jodoh pasti ada jalannya, akan di permudah sama yang maha kuasa. Jika pihak mereka meminta dari batas kemampuan kita baru kita mundur"
...____...
Selama seminggu itu juga kegelisahan melanda, harap-harap cemas. Setiap ingin memejamkan mata, wajah cantik itu selalu ada di pelupuk mata, hari-hari indah hidup bersama tanpa sengaja terus terbayang namun seketika buyar saat kecemasan akan hal-hal yang bisa saja jadi penghalang terjadi .
Sampai hari ini tiba, Kecemasan berkali lipat. Tanganku berkeringat. Kapan aku terakhir merasakan kecemasan seperti ini? Bahkan saat Pembinaan pusdiklat dulu aku tidak secemas ini.
Namun kekhawatiran sedikit meluap saat melihat interaksi Bapak dan papa Tania.
"Kalau anak-anak saling suka, kita bisa apa pak?" Kata Papa Tania santai lebih seperti sedang bernostalgia dengan teman lamanya dari pada dikatakan acara lamaran.
"Hahahaha" Bapak bahkan bisa tertawa lepas. Aku tau mereka saling kenal tapi aku tidak menyangka kalau mereka sedekat ini.
"Betul pak. Dicky ini paling suka bikin saya jantungan. Waktu kuliah dulu bahkan pernah mau melamar gadis padahal waktu itu masih kuliah semester awal"
"Serius? ckckck anak jaman sekarang memang nekat yah"
"Hahahah.... Tidak jadi, katanya sudah keduluan sama orang lain"
"Pernah di tinggal nikah?" Papa Tania malah bertanya kearahku.
"Bu....bukan om. Gadis waktu itu anak om juga. Tania"
Papanya Tania mengangkat sebelah alisnya.
"Tapi Tania tidak pernah bilang"
Aku hanya meringis malu.
"Makanya waktu dia bilang mau melamar anak bapak lagi, aku kira dia mau menikah sama janda. hahahah"
"Bapak" Mama Dahlia menegur bapak tapi bapak sama papa Tania tidak menghiraukan.
"Namanya juga jodoh pak, biarpun kita ngotot tapi kalau belum takdirnya yah belum. Kali ini semoga saja mereka berjodoh"
"Amin" Akupun segera mengaminkan.
"Silahkan minum dulu tehnya" Ucap oma Tania yang meski sudah keriput tapi masih terlihat anggun.
"Tapi ada satu permintaan dari pihak mamanya Tania. Walau bagaimanapun mereka bagian dari Tania juga" Tambahnya.
"Benar bu. keluarga tetaplah keluarga" Mama Dahlia menanggapi dengan senyuman.
"Dewa, kakaknya Tania baru saja menikah dengan Panaik sekian. Kita tidak mungkin memberikan anak gadis kami di bawah itu" Salah satu Tante Tania yang ku yakin dari pihak mamanya Tania langsung mengemukakan pendapatnya.
"Berapa yang harus kami persiapkan Bu?" Tanya Mama Dahlia bersikap tenang.
__ADS_1
"Kalau Dewa uang sebesar ...... Dan sawah"
Aku memejamkan mata sambil menghela nafas.
Sebenarnya aku sudah menduga, tawaran mereka pasti bukan jumlah yang sedikit tapi mendengar deretan angka yang baru saja di katakan tantenya Tania membuatku kepalaku jadi berdenyut. Dimana aku harus dapat uang sebanyak itu? Berapa tahun aku mengumpulkan gajiku yang tidak seberapa itu.
Saat aku masih termenung mama Dahlia kembali bersuara seperti mempunyai keyakinan lain.
"Insya Allah kami sanggupi" Jawabnya dengan yakin "Tapi anak kami ini juga baru saja menempuh tugas baru, istilahnya baru saja memulai karirnya. Karena juga terkait tugasnya itu, dia belum bisa meminang putri ibu bapak dalam waktu dekat. Kami hanya ingin ikatan pertunangan dulu. Sementara itu kami mempersiapkan segala halnya. Jika kami tidak memenuhi janji kami. Pihak bapak bisa membatalkan pinangan kami"
"......."
"Tapi dia ini anak yang baik. Jangan kan melamar gadis, membawa di hadapan kami saja tidak pernah. Makanya kemarin pas minta ini secara tiba-tiba aku tau kalau dia anak yang sungguh sungguh. Insya Allah dia bertanggung jawab"
Semua orang di ruangan itu terlihat menganggukkan kepala.
"Tidak ada alasan kami menolak niat baik apalagi dia pilihan cucu kami. Aku tau walaupun baru mengenalnya saat ini, tapi dia pria bertanggung jawab, pekerja keras. Itu cukup sebagai alasan untuk mengikhlaskan cucu kami yang cantik" Kata Oma Tania sambil menatap kearahku dengan senyuman.
"Terima kasih Bu atas kebaikannya"
"Semoga Allah juga ikut merestui mereka"
Perasaan meluap-luap kini melandaku. Senang. Sangat senang. Apa semudah ini? Bagaimana aku bisa bertanggung jawab dengan uang sebanyak itu? Ah, itu urusan nanti yang patut ku syukuri sekarang adalah doa restu orang-orang terdekat sudah ku genggam.
"Cha, panggil Tania di kamar"
Ah iya. Sejak tadi Tania memang belum keluar dari persembunyiannya. Aku meneguk air putih yang di hidangkan untuk menetralisir segala rasa yang melanda.
...*****...
Tania
Aku menunggu keputusan di dalam kamar dengan harap-harap cemas. Katanya aku tidak dibiarkan keluar. Anak gadis di keluarga ku memang selalu merasa tidak adil saat ada lamaran seperti ini, suara kami tidak dibutuhkan. Diterima atau ditolak sepenuhnya hak kelurga.
"De... kenapa lama yah? kira-kira lancar tidak yah? bagaimana kalau di tolak? Aku mau sama Dicky De"
"Sabar. Tenang" Dea dari tadi hanya mengucapkan dua kata itu setiap aku panik.
Sudah dua kali aku ada di posisi ini namun dengan perasaan dan harapan yang berbeda. Jika dulu saat kak Anca dan keluarganya datang, harapanku hanya penolakan. Namun kali ini aku bahkan memohon dihadapanNya untuk menjadikan dia yang terbaik dalam hidupku.
"Kak Niaaaaaa. Pengen juga dong cowok yang kayak Dicky"
"Husst,, masih kecil" Dea menegurnya tapi malah di tanggapi dengan cengiran.
"Bagaimana Cha?"
"Oh iya, kita disuruh jemput kak Nia"
"Tapi lancar kan?"
"Tau. Hhee. Aku tidak ngerti" Dia nyengir lagi "Tapi Dicky asli mempesona kak"
"Kak Dicky, Chaca. Awas yah kalau aku dengar lagi kamu sebut namanya seperti itu"
"Tapi dia memang cuma satu tahun lebih tua dari aku. kita masih pantaslah......"
"Dia calon ipar kamu Cha! Awas yah kalau kamu kegenitan" Aku melototi nya kesal tapi dia malah tertawa.
Dasar bocah.
Aku berjalan di dampingi bocah ini dan Dea rasanya nano-nano. Aku tau semua mata kini terpaku padaku. Aku menghela nafas dan menghembuskan perlahan untuk mengurangi irama detak jantung saat ini, kemudian aku memberanikan diri mengangkat kepala dan menatap ke sekeliling. Mereka menyambut dengan senyuman dan tanpa sengaja mataku menangkap pandangan Dicky yang juga menatapku, pandangan kami bertaut beberapa detik, dia tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya. Aku harus berpegang erat pada lengan Chaca. Ah... lututku tiba-tiba lemas.
Aku tidak menduga, acara hari ini ternyata lumayan ramai, ku kira hanya keluarga inti dan orang tua Dicky saja yang datang. Ternyata para tetangga banyak ikut menyaksikan.
Dari senyum dan eforia bahagia yang ada Aku menebak hasil pembicaraan mereka sesuai dengan doa dan harapanku. Thanks God.
"Sesuai kesepakatan tadi, hari ini kita langsungkan juga pertunangan kedua Ananda kita, Dicky dan Tania"
"Silahkan Ananda Dicky dan Ananda Tania berdiri disini"
Aku mengikuti instruksi, mengambil posisi di dekat Tante Tia (yang ditunjuk jadi MC dadakan) dan juga Dicky.
"Silahkan memasangkan cincin di jari manis kekasihnya"
Tanganku yang dingin di raih oleh Dicky lalu menyematkan cincin yang cantik di jari manisku.
__ADS_1
Mungkin ini hanya mimpi.
Aku bahkan tidak berani berharap banyak pada kenyataan.
Siapapun itu. Jangan bangunkan aku.
Aku masih terpaku pada cincin yang kini tersemat di jariku saat kudangar suara rendah diantara riuhnya ruangan.
"Kamu cantik sekali" Bisiknya seraya mengerling.
Ya Allah, help me.
...______...
"Sebentar lagi aku harus pulang" Ucapnya.
Sepertinya semua orang memang memberikan kami tempat dan waktu.
Mengingat ucapannya tadi aku memberi tatapan tanda protes.
"Hhhaaa, kamu lucu melotot begitu"
"Isshhhh... Serius Dik, kita belum bahas apa-apa. Dan kata kamu, di tempat kamu tidak ada telpon"
"Makanya kita manfaatkan waktu kita sekarang, kamu boleh bertanya apa yang mau kamu tau"
"Banyak"
"Pelan-pelan saja. One by one, kalau bicara soal waktu tidak akan cukup untuk kita jadi setiap weekend aku pasti langsung kesini lagi" Ucapnya dengan wajah penuh senyum.
"Minggu depan aku juga harus berangkat"
"Kemana? Makassar?aku bisa nyusul"
"Jogja"
Mulutnya yang terbuka hendak mengatakan sesuatu kembali tertutup.
"Berapa lama?" Wajahnya yang tadi tenang kini malah tegang.
"Belum tau. Aku masih kuliah, ambil S2"
Telak. dia hanya melongo. Aku ingin tertawa melihat wajahnya saat ini. Rasakan.
"Kamu kuliah? Jurusan apa? Berapa lama lagi?"
"Tuhkan kita bahkan masih harus bahas hal dasar seperti ini Dik"
"Pernikahan kita masih satu tahun lagi, kamu fokus saja sama kuliahmu" Dia kembali memasang senyumnya yang sangat manis "Jangan terbebani"
Bagaimana aku tidak luruh.
"Target wisuda enam bulan lagi. selama itu aku harus fokus. jadi tidak bisa pulang balik kesini"
"Enam bulan? its oke"
"Tapi bagaimana kalau aku kangen?" Pertanyaan konyol tapi aku tidak bisa memendamnya.
"Ya Allah Taniaaaa.... Mau aku terkam disini?"
"Ihhh. Belum muhrim"
"Hahahaha......" Dia tertawa lepas "Kita pasti bisa Ta. Kita bahkan sudah melewati lebih banyak waktu yang sulit dari pada ini"
"Tiap minggu kita masih bisa kontekan kan?"
"Hu'um" Dia mengangguk yakin. Tersenyum penuh dan menularkan padaku. Lalu Dia celingak-celinguk kekiri dan kekanan lalu mengatakan "Ta.... Boleh peluk? dikit"
Aku melotot, segera bangkit sebelum dia melakukan apa yang dipikirkannya.
"Hahahah .. Mau kemana? Bercanda ih"
...*****...
*Uang Panaik tidak sama dengan mahar apalagi mas kawin.
__ADS_1
*Tingginya uang panaik juga dinilai sebagai bentuk tingginya penghargaan terhadap seorang wanita. Terlepas dari tingginya uang panaik tradisi uang panaik sebenarnya menyimpan makna bahwa laki-laki harus lebih bisa menghargai wanita.