
"Tania sudah dua kali drop seperti ini"
Aku mulai menyimak.
"Yang pertama dua tahun lalu, saat kamu sakit dan dia tidak bisa menemuimu"
Aku mengernyit
"Dia mengalihkan semua tenaga dan pikirannya untuk hal lain yang membuatnya kelelahan dan jatuh sakit"
"........"
"Dua bulan di rumah sakit. tiga bulan berobat jalan. diagnosa dokter cuma tipoid tapi terkadang dalam tidurnya menyebut nama kamu atau dalam diam dia menatap foto-foto kamu yang di ponselnya sampai tante Yuli harus menyembunyikan ponselnya"
Aku tertegun mendengar semua penuturan Dea. aku sama sekali tidak menyangka Tania pernah melewati masa-masa seperti itu.
"Akhirnya dia dibawa ke psikiater juga, dan kata dokter dia dalam masa patah hati terberat, sedang menyiksa diri, mungkin juga ada penyesalan yang membuatnya stres hingga mempengaruhi sistem sarafnya, termasuk pencernaan"
"......"
"Setiap menelan sesuatu pasti akan di muntahkan juga. Bisa bayangkan selama berbulan-bulan seperti itu?"
Dea menatapku, aku hanya menelan ludah yang rasanya pahit.
"Sampai tante Yuli membawa orang pintar ke rumahnya, dan bilang tania sedang disan tet seseorang. Dan jelas saja kamu adalah tersangka utamanya, makanya tante Yuli tidak suka sama kamu" kali ini Dea tersenyum geli sendiri.
"Astagfirullah" aku menggeleng tidak percaya.
"Dan sekarang kejadian lagi. dia patah hati, marah tapi dia pendam sendiri makanya jadi sakit seperti itu"
"Tapi kenapa?" ah, kenapa rasanya tersayat-sayat begini.
"Dia terlalu kecewa sama kamu. dia tidak bisa menerima kenyataan kalau kamu punya orang lain"
"Maksudnya?"
"Kamu benaran tidak tau kenapa tania seperti itu?"
Aku menggeleng. Kalau aku tau aku tidak akan sebingung ini.
"kenapa kamu upload foto kamu sama cewek lain? kalaupun kamu selingkuh yang pintar-pintar dikit Dik"
"Upload apa? siapa yang selingkuh?"
"Foto kamu sama farah ada di instagram. kamu tidak tau? terus yang upload siapa?"
"Instagram? bahkan passwordnya sudah aku lupa, buat apa upload-upload"
"Oke, misalnya memang bukan kamu yang upload tapi pertemuan kamu sama Farah itu benarkan?"
Aku segera membuka ponsel dan harus mengunduh aplikasi itu dulu sambil mengingat-ingat password sebelum login.
"Itu tidak sengaja ketemu waktu kegiatan di makassar minggu lalu"
Sebenarnya bukan tidak sengaja juga. Tapi hari itu aku janjian ketemu Arvie dan teman-teman yang lain tapi aku tidak tau kalau Farah juga akan datang, beberapa kali memang dia mengajak ber-selfie saat itu. Tapi kenapa ada di Instagramku?
Aku masih mencoba mengingat, terakhir login beberapa bulan lalu saat Dea menghubungi ku dan ...... Astagfirullah, benar saja, passwordnya adalah nama Farah dengan angka tanggal lahirnya. Dulu dia yang mengubahnya.
Setelah berhasil login, kulihat beberapa foto terbaru memang ada di sana, cukup provokatif memang jika hanya melihat gambar tanpa tau keadaannya.
Ya Allah, kenapa aku ceroboh sekali. Dulu Farah serba tau pasword akunku dan aku tidak pernah peduli, aku tidak menyangka kalau dampaknya akan seperti ini.
"Yang tania tau kamu selingkuh" Dea kembali bersuara "Bahkan dia berfikir dia orang ketiga diantara kalian dan kenyataan itu tidak bisa di terima"
"Astagfirullah Tania" lelucon apa ini?
"Dan kamu juga percaya? tidakkan? kamu tau aku sesayang apa sama dia? kenapa tidak bisa bantu aku menjelaskan Dea? dia sampai sakit seperti itu" Aku sangat menyayangkan hal seperti ini bisa terjadi.
"Entahlah, dulu aku selalu percaya bagaimana bucinnya kamu, mengira kalau Tania memang satu-satunya tapi melihat foto kemarin yang di upload di ig mu aku jadi ragu"
"Aku bukan orang bo doh yang selingkuh tapi di pamerkan? aku tidak tau kenapa bisa ada di akun aku. yang jelas aku tidak pernah selingkuh" Aku menyadari beberapa orang di sekitar menoleh karena suaraku sudah tidak terkontrol.
__ADS_1
"Kamu istirahat dulu, nanti coba lagi bicara sama dia"
Aku mencoba menenangkan diri dan mengikuti saran dea untuk ke hotel yang ada di dekat rumah sakit, aku pergi dan cek in untuk tiga hari sesuai jatah cutiku. semoga tania bisa di bujuk secepatnya dan bisa sehat lagi seperti sediakala sebelum aku kembali.
Sorenya, saat aku mencoba lagi dia sama sekali belum bergeming. Malampun sama, seoalah dia sedang membangun tembok yang tinggi dan sangat kokoh.
"Papa harus pulang. Minggu depan kesni lagi, gantian sama kakak kamu, kamu harus nurut. jangan malas makan dan minum obat"
Ini sudah hari kedua aku di sini dan hanya bisa memandang dari jauh interaksi antara dia dan papanya.
"Iyah pa. Nia sudah sehat. Bentar lagi bisa pulang, jangan khawatir" papanya pengecup keningnya lalu beranjak.
"Kamu ijin berapa hari?" papa Tania bertanya padaku saat sedang menyalaminya.
"Tiga hari om"
"Ya sudah. Om duluan. Titip Nia"
"Siap om"
Bahkan setelah papanya pergi Tania kembali memasang wajah datar. Sama sekali tidak menganggap kehadiranku.
Aku bahkan sudah memikirkan seribu cara agar bisa meluluhkan nya tapi semua percuma.
Hingga hari ketiga, dia masih kekeuh.
"Oke, aku nyerah. Aku mengalah. Aku kalah"
Seperti biasa, dia memunggungi ku menghadap ke dinding tanpa mau menoleh.
"Aku kalah karena tidak bisa mendapatkan kepercayaanmu"
"....."
"Aku kalah karena hanya bisa bikin kamu sakit begini"
"......"
"......"
"Sekali lagi maafkan aku. Aku sama sekali tidak berniat menyakiti kamu. Aku cuma mau bilang kalau aku sama sekali tidak punya orang lain. satu-satunya yang ku punya cuma kamu"
"......"
"Apapun yang kamu lihat atau kamu dengar itu aku berani bersumpah itu kesalahan pahaman. Buat apa aku jalan sama orang lain kalau aku sudah menggenggam impian ku"
"......"
"Tapi kalau bagimu aku memang tidak termaafkan lagi. aku bisa apa?"
"Jaga diri baik-baik. Jangan menyiksa diri, banyak yang sayang sama kamu jadi kamu juga harus sayang dirimu sendiri"
aku melihat bahunya naik turun.
"Aku pamit. Cepat sembuh yah"
Aku mengecup bagian belakang kepalanya yang di baluri jilbab. lalu melangkahkan kaki.
Samar ku dengar isakannya makin kuat.
Aku membuka pintu.
"Deaaaa....huhuhu....." Suaranya tertahan dibalik bantal namun masih bisa terdengar "bilang sama dia jangan pergi. huhuhu.... aku sayang sama dia. aku tidak mau dia pergi. Aku makin sakit kalau dia pergi deaaa.. huhuhu"
Tanpa sadar bibirku tertarik membentuk senyum. Caranya merajuk lucu sekali. Mana ada Dea disini. Ingin rasanya tertawa tapi takut dia makin merajuk.
Tanpa pikir panjang aku kembali melangkah panjang menuju tempatnya terbaring. Ku peluk dari belakang sambil menghirup aromanya.
Yes, I get you, girl!
...*****...
__ADS_1
Tania
Ranjang kecil ini tiba-tiba menyempit dan sebuah lengan yang berkulit gelap karena sinar matahari kini melingkar di perut.
"I love you" Bisiknya tepat di telingaku.
"Ka... kamu jahat, huhuhu" aku berbalik dan memukul dadanya.
"Maaf" dia kembali meraihku dalam pelukan yang membuat ku makin sesak. Jangan tanya kenapa.
"Kamu.... mau pergi ninggalin aku. Kamu jahat..... kamu mau putusin aku"
"Aku mau pulang karna memang cutiku sudah habis bukannya aku mau putus. Aku di sini selama tiga hari tapi kamu cuekin sayang"
"Tapi tadi kamu bilang...."
"Bilang apa?
"Bilang......"
"Pokok nya kamu jahat" Aku mengomel sambil menenggelamkan diri di dadanya yang wangi.
"Iya, aku minta maaf"
Kami terbuai dalam pelukan saat pintu kamar berbunyi.
"WOI........ Belum muhrim, malu sama hijab" Terdengar suara kak Dewa.
Dicky langsung bangkit dan hanya bisa memasang tampang nyengir.
"Apa sih kak"
"Apa ? kenapa? main peluk-pelukan"
"Sarapan dulu" Untunglah ada Bestie Dea "Mau aku suapin ?"
"Aku aja" Dicky meraih mangkuk isi bubur di tangan dea dan langsung menyuapku.
Hap! Mhhh... kok enak.
Aku bahkan bisa memakan lima sendok tanpa dipaksa.
Bagaimana tidak nikmat, kalau di suapi plus liat tampang senyum manis yang sesekali mengusap ujung bibirku yang tidak sengaja belepotan.
"Idihhh.. kayak lupa bagaimana kemarin yang gak mau di suap" Sindir kak Dewa.
"Bodoh amat. Kayak gak pernah ngambek aja"
"Ngambek sih Iya pernah tapi tidak sampai sakit dan merepotkan semua orang"
"Aku sakit, yah karena memang kecapean bukan karna ngambek"
"Janji. Jangan sakit begitu lagi yah" Dicky malah menatapku dengan penuh tendensi yang tanpa sadar ku jawab dengan anggukan kepala.
"Kamu juga janji jangan dekat-dekat sama si Farah lagi"
"Oke"
"Janji jangan dekat sama cewek manapun"
"Oke"
"Janji kita nikah secepatnya"
"Oke. Siapa takut"
"hahahaha"
"Ehemmmn... Ingat nangisnya kalau lagi marahan" Kak Dewa kembali usil.
"BODO AMAT"
__ADS_1
...******...