Oh My Brownis

Oh My Brownis
Rain, Rain, Don't Go Away


__ADS_3

Tania


Aku : Kangen 😢😢😢


Terhitung tiga hari sejak berpisah di rumah Dea, Aku belum bertemu dengannya lagi. Selain karena weekend kemarin harus menemani Mama kemana-mana, mulai mengujungi berbagai kerabat sampai belanja ke berbagai toko. Dan juga Kak Dewa yang seolah tidak memberiku kesempatan walaupun hanya sekedar menerima telpon dari Dicky.


Mineā¤: Sama😢 Besok kekampus kan? Aku jemput?


Aku : Gak usah. Kita ketemu di kampus saja. Aku tunggu.


Mineā¤: Oke cantik.


Aku : Love you Dear ā¤


Mineā¤ : Me too Dear ā¤


Sebenarnya Dicky sedang menikmati masa liburan semesternya, Sebentar lagi naik tingkat, bukan bocah lagi. Ciee.


Tapi aku yang tetap sibuk, target wisuda tepat empat tahun, tidak boleh lebih. Jadi selain karena memang harus mengurus segala surat menyurat penelitian dan juga pengajuan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) di berbagai tempat.


Aku harus mengefisienkan waktu. Praktik sekaligus Penelitian pada waktu yang sama walaupun tempat yang berbeda. Kalau target berjalan mulus, tiga bulan akan datang tinggal mengelolah hasil penelitian.


Semester begini memang harus pintar-pintar mengelolah waktu. Kalau tidak, amblas semua, bisa molor sampai setahun bahkan lebih.


...*****...


Hari ini aku berangkat di antar Daeng Nassa, setelah tadi mengantar Mama dan Kak Dewa ke bandara.


"Ta, Aku dengar Bu Atun mau berangkat. revisimu sudah Acc kan?" Naila langsung menghadangku.


"Bukannya minggu depan?" Aku mengernyit "Terus gimana dong?"


"Serius belum Acc? Kemarin ngapain aja Ta? Sibuk pacaran sih, gitu kalau pacarannya sama bocah" Kenapa semua orang jadi menyebalkan begini. issh.


"Kemarin aku sibuk sama Mamaku yah bukan sibuk pacaran. Kalau aku pacaran juga sambil kerja tugas. Jangan sok tau" Aku paling tidak tahan jika seseorang menyalahkan Dicky.


Aku meninggalkan Naila dan memilih duduk di selasar prodi. Namun Naila malah ikut duduk.


Aku menggigit kuku-kukuku, berfikir. Kalau Bu Atun belum Acc sebelum berangkat ke Ausie, Aku harus menunggu Tiga bulan baru bisa penelitian. Terlalu lama. Seharusnya, saat itu penelitian ku sudah selesai. Arrgh.


"Tanyain dulu sama Kak Lia lebih tepatnya" Naila memberi ide.


Aku melangkah cepat diikuti Naila menuju ruangan kerja Bu Atun dan yang hanya ada Kak Lia, Asistennya.


"Ibu ada Kak?" Tanyaku hampir bersamaan dengan Naila.


"Lagi membawakan mata kuliah umum di Fakultas Olahraga"


"Bentar balik kesini? " Naila bertanya lagi.

__ADS_1


"Mau konsul? sudah buat janji? Besok ibu sudah berangkat loh"


"Bener besok Kak?"


Kak Lia tidak menjawab kembali fokus sama laptop di hadapannya. Tentu saja aku tau kalau Kak Lia serius. Itu hanya pertanyaan spontan saking panikku.


Ya Allah, Jadi waktuku hanya hari ini. Mana hasil seminar kemarin belum rampung ku edit. Hiks, rasanya mau menangis saja.


"Ta aku masuk kelas dulu yah" Kata Naila saat melihat Pak Sul yang keluar dari ruangannya dengan menenteng tas.


Naila mengikuti langkah cepat pak Sul, Dia mengulang mata kuliah karena semester lalu dapat nilai D. Sedangkan aku kembali duduk di tempat yang tadi dengan kepala pening.


Ternyata semua tidak semudah yang di bayangkan, Ekspektasi bisa mengerjakan dua hal sekaligus ternyata tak itu. Fokusku terbagi dua antara revisi dan pengajuan Praktik yang menyebabkan missed seperti ini.


"Kenapa?" Tiba-tiba Dicky sudah duduk dia sampingku.


"Bingung, Bu Atun sudah mau berangkat, tapi revisiku belum selesai" Aku mengadu dengan suara yang sudah hampir menangis.


"Masih banyak revisinya? berangkatnya kapan? "


"Besok" Jawabku lemah. Pasrah.


"Masih ada waktu sampai sore, Kamu hubungi dulu Dosbim (dosen pembimbing)mu itu, semoga ada waktunya bisa ketemu sebentar"


Benar, aku tidak boleh mundur sebelum berjuang. Masih ada kesempatan walaupun sempit.


"Kak, Bisa aku mau buat janji sama Bu Atun?"


Kak Lia yang tadi sedang mengetik, menghentikan kegiatannya, menatapku lalu menghela nafas. Mungkin karena merasa iba, Akhirnya Kak Lia mengetik di ponselnya.


"Beliau minta kamu menghubunginya langsung" Kata Kak Lia, saat membaca balasan di ponselnya.


Tidak membuang waktu lagi aku langsung menelpon Bu Atun.


"Assalamualaikum Bu, Maaf Mengganggu. Saya Tania Anastasya Bu"


"Kamu kemana saja Tania, Ibu tunggu seminggu ini" Suara Bu Atun terdengar di sana.


"Maaf Bu" Aku benar-benar menyesal.


"Bagaimana? Revisinya sudah? Bawa saja kesini sekarang....." Katanya lagi.


"Maaf Bu, masih ada sedikit yang perlu diedit bu" Cicitku, merasa sungkan.


"Oke bawa saja kerumah kalau sudah selesai, saya bisa terima tamu sampai pukul 8 malam. Alamatnya tanyakan sama Lia"


Salah satu yang patut ku syukuri, mendapati Dosbim yang sebaik Bu Atun.


"Terima kasih banyak Bu"

__ADS_1


..._____...


Sekarang aku disini, berteduh di depan sebuah ruko yang sudah tertutup. Setelah tadi mengejar waktu agar bisa bertemu dengan Bu Atun.


Revisi proposal penelitianku sudah Acc berkat bantuan Dicky dan Naila, membantu mengedit dan nge-print di tempat percetakan depan kampus.


Akhirnya Naila mau koperatif, bekerja sama dengan Dicky. Naila memang teman yang solid sebenarnya, dan Si Pacar yang selalu bawa santai semua keadaan. Tadi entah Naila terpaksa karena kasian melihatku kewalahan atau karena memang sikap Dicky yang selalu baik terhadap siapapun -Maybe- membuat pikiran Naila terbuka.


Ya kan? Aku tidak pernah salah, hatiku tidak asal jatuh cinta. Dia orang yang tepat. jika orang lain mana mau... (Sttt.. tidak baik membandingkan orang lain) Tapi memang seperti itu. Dicky selalu memberi jalan keluar setiap masalahku dan siap membantu seremeh apapun kebutuhanku.


Dan Naila sepertinya bisa melihat keseriusan Dicky dalam hal ini.


Suara berat Dicky menyadarkanku dari lamunan "Maaf, Pacarmu ini cuma punya motor jadi terjebak hujan gini kan"


Dia meraih bahuku dan melingkarkan kedua lengannya dari belakang punggungku.


Keadaan di sekitar sunyi, hanya cahaya temaram dari lampu teras ruko dan suara hujan yang semakin deras namun dengan pelukan seseorang kini menjadikan hatiku menghangat.


"Kalau pacarku bawa mobil, belum tentu sekarang sudah ketemu Bu Atun. Tadi macet kan, untung Pacarku Marquez versi indo"


Ku dengar dia terkekeh.


Kemudian hening. Menenangkan.


Memandangi jalan yang masih penuh kendaraan yang berlalu lalang.


Menghirup udara yang lembab.


"Nikah muda enak kali yah?" Aku malah menyuarakan isi kepalaku.


"Kamu mau nikah?"


"Tentu saja, sebentar lagi aku lulus kuliah, umur udah dua-dua"


Ku dengar Dicky menghela nafas dan mengenai telingaku, tidak menjawab lagi hanya mengeratkan pelukannya.


Beberapa menit, kemudian kembali bersuara.


"Tapi aku masih kuliah, masih bergantung sama orang tua. Memang kamu mau ?"


"Gak papa. Aku kerja, kamu selesaikan kuliahmu. Cuma dua tahun lagi kan. Yang penting gak akan ada yang memisahkan kita"


Aku mendongak, menatap matanya ingin meyakinkannya. 1 detik. 5 detik. Dia juga menatapku lembut namun tanpa ku duga dia malah mengecup bibirku singkat.


"Rumah nenek dekat sini, mampir bentar yah" Katanya kemudian sambil tersenyum.


Kurasa wajahku memanas, dengan cepat aku mengangguk dan memalingkan wajah, kembali menatap rintik hujan yang meredah.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2