
Dea
Hari ini akhirnya tiba, hari yang paling ku tunggu.
Berkat "sedikit" bantuan Sadam akhirnya aku bisa tampil di acara besar, Big thanks to Sadam.
Acaranya akan dimulai malam nanti pukul 19.00 di sini, Anjungan lepas pantai.
Sekarang aku masih di belakang panggung, sedang di make over dengan kak Iwan, MUA paling hits di kotaku ini.
"Misi" Kepala Sadam nongol dari balik tenda.
"Kenapa mas? " Tanya asisten kak Iwan yang sedang mendampingi.
"Teman aku kak" kataku padanya. Aku melambaikan tangan memintanya masuk.
"Pacar kamu? cucok ihh" tanya kak Iwan dengan gaya melambai, menatap Sadam penuh binar.
Yah, akhirnya aku dan Sadam jadian, walau aku tau dia playboy tapi siapa takut. Dia baik sama aku, selama ini masih betah dengan sikapku.
"Dam, fotoin dong"
Dia yang memang sengaja membawa Camera DSLRnya membidik beberapa gambar.
Kemampuan Sadam makin terasah. Hasil cepretannya selalu aku suka. Semua yang berkaitan dengan Sadam sih aku suka, hhee.
"Aku live yah" Katanya sambil memegang ponselku. aku mengangguk.
"Astagfirullah ini kenapa? "
Suasana tiba-tiba gaduh.
"YA ALLAH"
"GEMPA"
Tenda yang menaungi berdecit, terdengar pula suara asing entah dari mana, seperti suara ledaka, sangat menakutkan dan tanah tempat berpijak mulai bergetar. Dalam sekejab Sadam sudah mendekapku, menenggelamkan kepalaku dalam dadanya tepat sebelum tenda roboh.
Suara panik orang sekitar tak terelakkan, kami terjebak dalam tenda selama goncangan bumi terjadi. Sesaat setelah tidak ada lagi getaran, Sadam dengan susah payah menghalau tenda yang menimpa kami.
"AIR..... AIR"
"AYO LARI"
"CEPAT CARI TEMPAT YANG TINGGI"
Setelah lepas dari tenda, ku lihat dari jauh air laut telah menjulang tinggi, tampak seperti lukisan yang pernah ku lihat di suatu tempat.
Sadam menarik tanganku yang masih diam tak bisa berbuat apa-apa.
"Kita harus lari"
Sadam sudah menarikku berlari entah kemana, sama seperti yang lain.
Suasana Pantai yang harusnya meriah kini menjadi mencekam. Amat sangat menakutkan. semua berhamburan berusaha mencari perlindungan.
Sadam masih menggenggam tanganku, menuju motor yang terparkir tapi yang ada jejeran motor yang tadinya rapih kini sudah jatuh saling menimpa satu sama lain.
"HAIS" Umpat Sadam dengan wajah panik.
__ADS_1
Kami kembali berlari berusaha sekuat tenaga menyebrangi jalanan yang aspalnya tidak lagi sempurna, sudah patah sana sini, Aku tau tujuan sadam pasti bangunan yang belantai tiga itu.
Benar. Tidak mungkin lagi sempat mencari gunung sekarang.
Tapi belum juga berhasil sampai ke bangunan itu, suara Gemuruh terdengar semakin dekat dan tak lama telah menghantam dan membawa tubuhku.
Genggaman tangan Sadam yang tadinya erat kini terlepas.
Aku terbawa sendiri, Aku memejamkan mata mempasrahkan diri.
DUK GLUK
Sesuatu mengenai tubuhku.
DUK
DUK
Kali ini aku menabrak sesuatu lalu terpental dalam air dan terpental lagi. Seluruh tubuhku pasti sudah tak berbentuk.
Aku mencoba meraih apapun yang bisa di raih oleh tanganku. tapi tidak ada sesuatu yang bisa kugapai.
DUK
Aku terhempas lagi, Aku kembali berusaha menggapai Benda yang mengenaiku, Benar aku tersangkut tak lagi terbawa arus, Aku bahka. sudah naik ke permukaan tak lagi tenggelam, aku mengambil nafas.
"ARRGH"
Sesuatu menabrak kakiku dibawah sana, hingga terjepit. Tak bisa ku goyangkan. Rasanya teramat sakit.
Aku masih berusaha bertahan dalam gelap menahan sakit dan dingin.
Sakit, teramat sakit. Bisakah aku tidur saja? kehilangan kesadaran atau mati saja?
Tapi semua tidak terjadi, dengan penuh kesadaran aku masih merasakan sakit yang teramat.
"ibu, Ayah..... tolong Dea"
____
Dicky
Kulihat Dinda sedang membaca berita online yang sedang ramai di sosial media tentang gempa Donggala tadi siang. Sedangkan ibu sedang menyapu halaman.
"Mau kemana kak?"
"Ngedate" Bisikku ke arah Dinda dengan wajah sumringah.
"Ikut... " Rajuknya.
"Ganggu aja"
"IBU.... "
Aku menjitak kepala Dinda. kebiasaan mengadu kali ini tidak ku biarkan.
"Aku harus jemput Tania Dek"
"Kan bisa bertiga, bawa mobil"
__ADS_1
"Enakan juga naik motor kalau pacaran"
"Issshh,, Bu, Kak Dicky pacaran terus" aku melototinya
"Hati-hati bawa anak orang Kak, jangan di apa-apain"
"iyah bu" Dikit aja bu. Lanjutku dalam hati.hhiii.
"Hati-hati kak, tadi gempa loh, jangan dekat-dekat pantai, mending kencannya ke gunung aja"
"Anak kecil diam" Aku menjitaknya lagi. Dia mengusap kepalanya yang ku jitak dengan ekspresi cemberut.
"Bapak ke mana Bu?" Tanyaku pada Ibu.
"Tadi berangkat ke Poso"
Aku mengangguk mengerti lalu ku kirimkan chat pada Tania sebelum beranjak.
Aku : Aku jemput sekarang, See You.
Taniaโค : Aku tunggu. Tiati .
"Tidak tunggu magrib dulu Kak? " Tanya Ibu setengah memperingatkan.
Ku lirik jam ditangan masih 16.45 "nanti singgah di masjid Bu"
Aku berangkat sambil sedikit bersiul. Lima bulan tak jumpa, rasanya ingin ku genggam, ku dekap dan Mmhhh... Rasa yang terakhir aku masih ingat dengan jelas.
Ditengah khayalanku tentang Tania, aku merasa laju motorku tidak normal.
Tunggu, ini kenapa? ban motor kempes? Jangan dong bisa-bisa aku terlambat. Tapi kenapa makin lama makin aneh, kulihat orang-orang berlarian keluar rumah atau kantor masing-masing, ku perlambat laju motor malah semakin terasa getarannya hingga akhirnya motorku terjatuh karena tak bisa lagi ku kuasai.
Suara teriakan panik, istigfar, lantunan Adzan serta orang-orang yang memanggil nama Tuhannya.
"LARI.... "
"TSUNAMI...."
"AIR.. "
"LARI.... "
Orang-orang yang tadi keluar dari rumah sekarang mencari tempat tertinggi, segera aku bangkit, ku ambil motorku lalu ku lajukan dengan kecepatan, saling senggol menyenggol dengan kendaraan lain yang sama paniknya, melewati jalan yang terbelah, pecah, dan mengangah, entah bagaimana aku bisa melewatinya hingga aku tiba disalah satu tempat dataran tinggi.
Aku gemetar, tak ada yang bisa ku ucapkan selain mengikuti suara Takbir yang terdengar dimana-mana, tidak ada lagi getaran bumi tapi kakiku makin bergetar. Bagaimna ibu disana? Dinda? Bapak? Tania?
Suara gemuruh terdengar lagi di kejauhan sana di sertai pekikan, orang meminta tolong. Semua kembali panik mencari tempat yang lebih tinggi. Hingga malam makin gelap tak ada lampu penerang kecuali dari kendaraan.
"TOLONG....... "
"ALLAHUAKBAR... "
Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, dalam cuaca mendung, dan gelap kulihat rumah-rumah berjalan dengan sendirinya, Tanah yang kupijaki tiba-tiba melunak, dengan jelas kulihat bagaimana Bumi ingin menenggelamkan isinya dan aku yang tak bisa berjalan lagi sudah terjatuh terjerambab dalam lumpur yang mungkin akan menguburku tanpa di shalatkan.
****
Mohon bantuannya dengan meninggalkan jejak like dan komentar yah ๐.
๊ฐ์ฌํฉ๋๋ค
__ADS_1
Kamsahabnida ๐