Oh My Brownis

Oh My Brownis
Sweet Dream


__ADS_3

Disinilah aku hari ini, Di pendopo kota. Aku yang sejak semalam memang langsung excited saat diamanahkan untuk meliput kelas tari, jelas saja, karena sejak awal aku tau kalau Tania gabung dengan kelas tari.


Saat ini masih siang, tepat pulang sekolah adalah waktu yang sudah diplaning jauh hari sebelumnya, jadi setelah tadi sempat makan bakso di kantin bu Tini, aku dan Sadam langsung melimpir menuju pendopo.


"Woi mas bro" sapa seseorang dari arah belakang saat aku dan Sadam sedang sibuk dengan kamera masing-masing, aku tau itu suara jempreng khas Dea. " yang lain belum datang?" mungkin maksudnya Fandi cs.


"Cuma kita yang take kalian" jawab Sadam.


"Yakin?" tanya Dea sambil mengernyit.


Aku yang meski sibuk dengan tripod dan kamera tapi ekor mataku masih menangkap bayangan Tania yang datang mendekat.


"Yakin lah" Sadam hanya mencibir merasa tidak diyakini.


"Kenapa?" Tanya Tania yang baru saja tiba setengah berbisik ke arah Dea.


"Liat aja ntar hasilnya De" kataku sambil tersenyum simpul menatap ke arah Tania, sejenak terdiam saat Tania juga menatapku dengan mata bulat indahnya, membuatku menyinggungkan senyum termanis yang ku miliki.


"Awas aja kalau hasilnya jelek" ancam Dea dengan masih keraguannya.


******


"Siap yah" aku mulai dengan aba-aba setelah merasa personil tari telah lengkap.


Suara musik pengiring tari tradisional paduppa* mulai mengalun lembut di iringi gerakan gemulai para penari. Aku menyorot kameraku dengan frame jauh terlihat para penari bergerak seirama dan kompak. Kemudian agak meng-close ke arah satu persatu penari tapi seolah kameraku selalu mencari arah Tania.


Tania yang berada baris depan-tengah terlihat sangat lihai, gemulai, jari-jari lentiknya bergerak seirama dengan musik dengan wajah agak memerah, mungkin karena cuaca panas di siang ini, serta senyum manis yang memperlihatkan sedikit ginsulnya. Cantik.


Setelah tersadar kalau sejak tadi aku hanya fokus sama satu gadis cantik itu, aku berdehem kecil untuk menetralisir rasa lalu berusaha menggeser arah kamera.


****


Tania


Mungkin hanya perasaanku saja, tapi aku merasa sejak awal Dicky selalu menyorot kameranya ke arahku -sambil tersenyum- membuatku merasa sedikit gugup dan malu-malu meong. Untung saja tidak ada gerakan yang salah, karena memang tarian ini sudah di hapal di luar kepala walau harus di ulang sebanyak dua kali karena kesalahan Dea dan Aisa.


"Coba liat hasilnya" Dea langsung menodong Dicky.


Dalam hitungan detik Dicky telah diapit sama teman-temanku, tentu saja akau gak mau kalah, aku menggeser posisi Aisa yang sangat dekat dengan Dicky. Sekarang, aku pura-pura ikut melihat hasil video dari kamera Dicky padahal jantungku kembali berdetak kencang karena posisiku yang benar-benar menguntungkan. wajahku hanya berjarak beberapa senti dari wajah gantengnya.


"Ini belum di edit" kata Dicky karena belum mendapat respon.

__ADS_1


"Keren" Kataku sambil mengangkat jempol sedangkan yang lain hanya mengangguk setuju.


"Kamu berbakat Dik" tambah Dea dengan mata masih terus penatap ke layar kamera.


"Aku bilang juga apa" kata Sadam yang sudah masih sibuk dengan lensa kamera miliknya.


"Tania kok gambarnya banyak, close up lagi" protes Aisa.


"Masa sih? rata kok" sanggah Dicky sambil pengusap tengkuknya. Aku tersenyum malu-malu.


"Ada yang mau liat hasil gambarku gak?" tanya Sadam. mungkin merasa tersisihkan. hhii


Semuanya beralih kearah Sadam kecuali aku. bodoh amat dengan Sadam. Aku harus menggunakan kesempatan ini untuk berakrab ria dong dengan brondong manisku ini.


"Disini aku keliatan kaku deh" komentarku sok tau "tapi disini keliatan cantik" tambahku sambil tertawa cekikikan.


"Emang cantik".


Walaupun pelan, aku mendengar dengan jelas kalau Dicky memujiku. Aku tersanjung, bagai terbang ke angkasa. Aku menggigit bibir bawahku, tersenyum malu namun berusaha menahan rasa yang membuatku melambung tinggi.


"Kalau sudah di edit kirim ke aku yah"


"Nomor WA " dengan sigap Dicky menyodorkan ponselnya.


"Aku tunggu" kataku sambil menyodorkan kembali kepada pemiliknya -masih- dengan senyum merona dibalas dengan anggukan dan senyuman Dicky.


_____


^^^Aku_^^^


^^^Assalamualaikum, modern dancenya kapan nih mau di take? 😄^^^


_Dicku


So sorry, kayaknya udah gak sempat. waktunya mepet gini.🙏


Aku menamai nomor kontannya Dicku, maksudnya Dickyku,hhhiiii.


^^^_aku^^^


^^^Sayang banget 😢^^^

__ADS_1


_Dicku


Sayang siapa ? sayang aku maksudnya? l.o.l


Wah, dia mancing nih. aku tersenyum.


^^^_aku^^^


^^^Ge er 😑 jadi besok Take apa?^^^


_Dicku


😂😂, insya Allah kelas musik.


^^^_Aku^^^


^^^Ketemu Dea lagi dong?^^^


_Dicku


Dea nyanyi? gak percaya, cempreng gitu. 😂😂😂😂


^^^_aku^^^


^^^Awas yah besok ku aduin 😂😂 cempreng gitu klo dah nyanyi gak kalah sama Raisa.^^^


_Dicku


Mungkin maksudmu Ra Iso 😂😂*


"Chat sama siapa?" Tanya mama heran demi melihatku cekikikan tak jelas.


"Teman ma"


"Dea Eby?"


"Bukan, teman yang lain" Mama hanya mengernyit lalu kembali menatap layar televisi.


"Ma, Tania bobo dulu yah" aku bangkit dari sofa mencium pipi mama sekilas kemudian bejalan masuk kamar sambil terus berbalas pesan.


Sudah bisa ditebak kalau tadinya take modern dance hanya alasanku agar bisa chatingan sama brondongku. Tentu saja Fandi sudah bilang dari awal kalau modern dance tidak akan di shortfilm walau tetap di tampilkan di malam puncak. Tapi karena Dicky tak kunjung memulai chat membuatku nekat dan akhirnya berhasil karena hingga menjelang tengah malam tidak aku ataupun dia yang ingin mengakhiri percakapan kami hingga aku tertidur dengan senyum mengembang. Sweet *****.

__ADS_1


*****


__ADS_2