Oh My Brownis

Oh My Brownis
Misi Cinta


__ADS_3

Setelah mendengar asumsi Rian semalam aku jadi kepo, apa benar Dicky sebenarnya suka sama salah satu dari aku, Dea atau Eby?


Kalau di fikir kemungkinan besar saingan aku cuma Dea deh. Eby? sangat tipis kemungkinan karena setau saya interaksi mereka hampir nihil mereka hanya sekedar mengenal nama. sedangkan Dea? karena memang mereka sekelas jadi peluangnya lebih banyak.


Jadi, hari ini aku berniat menjalankan misi. aku beri nama "Misi Cinta si Brondong" hihihihi.


Hari ini aku datang agak pagian, tak seperti biasanya. Pukul 6.45 aku sudah di gerbang sekolah, 15 menit lagi upacara. Aku sengaja singgah di pos satpam sekedar berbasa-basi. Setelah motor matic model sport milik Dicky lewat aku melangkah pelan ke arah kelas.


Aku berusaha supaya langkahku terlihat normal saat melewati parkiran. Aku melewati Dicky yang sedang melepas helm dan memperbaiki tatanan rambutnya di spion motor. Sekilas aku melihat dia menatapku melalui kaca spion motornya lalu cepat-cepat dia mengalihkan tatapan.


Yes. 1 poin. Skor :


Tania 1 : Dea 0.


Dicky terlihat grogi, salah tingkah.


_____


Setelah menyimpan tas di kelas dan memastikan topi, dasi, kaos kaki dan sepatu sudah komplit, tak ada yang tertinggal atau menyalahi aturan aku mengamit lengan Wati dan melenggang ke lapangan yang biasa di tempati untuk upacara bendera.

__ADS_1


Langkahku terasa ringan, gini amat rasanya jatuh cinta, dapat sinyal seiprit aja senengnya sampai ke ubun-ubun gimana kalau sampai jadian.


" Kamu kenapa Ta?" tanya Wati yang heran melihatku senyum-senyum sendiri.


Aku hanya nyengir.


"Aneh" gerutu Wati yang pasrah saja aku gandeng.


Aneh memang. Pertama aku jarang datang sepagi ini, kedua aku tidak pernah jalan dengan orang lain selain Eby, Dea ataupun Rian. Mungkin faktor mood, sekarang aku malah sok akrab dengan Wati yang menurutku orang yang menyebalkan di kelas.


Tiba di lapangan upacara, aku berdiri di barisan terdepan -keanehan ketiga- menantang sinar matahari pagi yang biasanya aku hindari. Bukan tanpa alasan aku melakukannya, menurut info dari Dea, hari ini kelasnya dapat jatah bertugas upacara.


Tidak lama kemudian, lapangan sudah di penuhi siswa-siswi berseragam putih abu-abu. Di depan barisan terlihat siswa kelas Xb dengan posisinya masing-masing. Agus di tengah lapangan sebagai pemimpin upacara, ada juga beberapa siswa-siswi yang tidak ku tau namanya berjejer memegang buku besar yang sudah dipastikan isinya adalah susunan acara, naskah UUD, dan Doa.


Tapi interakasi selanjutnya membuat hatiku mencelos. Dea terlihat menyemangati Dicky dengan mengepalkan tangan di balas dengan acungan jempol dan senyum dari Dicky. tuh kan, kok mereka keliatan serasi gitu. hiks.


Skor seri.


Tania 1 : Dea 1

__ADS_1


hiks.


___


Misi berlanjut. Jam istirahat aku langsung menyeret Eby tujuan utama adalah kelas Dea dengan alasan mengajak Dea ke kantin. Akhir-akhir ini kelas Dea selalu jadi tujuan utamaku. You know what I mean.


"Apa sih Ta, main seret-seret kayak karpet masjid aja" Protes Eby.


"Aku butuh data valid untuk menentukan langkah selanjutnya"


"Idihh, gayanya udah kayak detektif Conan aja"


Aku dan Eby masih berjalan di lapangan basket yang terletak di depan kelas jejeran kelas X itu saat pandanganku tertuju pada adegan romantis ala drama menye-menye. Adegan paling menyebalkan yang pernah ada.


Terlihat Dea keluar dari dalam kelas bertepatan dengan seseorang yang sangat kukenal berjalan masuk. Tepat di pintu masuk tubuh kecil Dea menabrak cowok jangkung itu, kepala Dea mengenai dada cowok itu. Kemudian adegan si cowok yang memunggunginya mengusap pelan kepala Dea yang sempat ditubruknya. Dea tersenyum manis kearah lawan bicaranya, lalu menjulurkan sedikit lidahnya ke arahku saat menyadari kehadiranku. Dea nyebelin.


Skor :


Tania 1 : Dea 2.

__ADS_1


Hikshiks.


*****


__ADS_2