Oh My Brownis

Oh My Brownis
Friendzone


__ADS_3

Dicky


Saat turun dari panggung kudengar Dea yang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya "Terus aku bagaimana? kamu pulang naik apa?" kalau tebakanku benar itu adalah Tania yang butuh tumpangan untuk pulang.


Segera ku raih helm dan berjalan sedikit berbelok mengikuti langkah Dea yang tadi menyusup lincah di tengah merumunan, dan aku sengaja berjalan tepat di depan mereka kini berdiri.


Aku memang berniat pulang lebih cepat sebelum terjebak dengan Velin lagi dan menimbulkan asumsi orang-orang yang membuatku risih.


"Eh eh Dik, mau kemana?"


"Tania ikut yah?"


Binggo. Kalau ini anugerah yang tidak dapat di tolak


Tapi yang tak pernah ku sangka dan ku duga adalah saat Tania bilang


"Pacaran yuk"


Aku kaget, saking kagetnya sampai tak bisa mengucapkan sepatah kata lagi hingga motor berhenti pas depan gerbang rumah besar milik keluarga Tania.


"Tadi kamu dengar aku bilang apa?" ternyata dia belum menyerah.


a,


Bukannya tidak senang, bukan tidak suka juga tapi aku benar-benar tidak pernah membayangkan berada di posisi ini,benar-benar belum pernah memikirkan harus bilang apa disaat seperti ini.


Dan lagi posisi Tania sama Velin sekarang sama. Sama-sama menunggu jawaban. Velin jelas datang lebih awal tapi kalau dari hati, Tania tak tergantikan. Seluruh rasa yang aku rasakan saat ini yang sering diagung-agungkan sama orang-orang dengan nama Cinta. First love, cinta pertama masa sekolah atau sering juga di sebut cinta monyet.


Tapi yang membuatku bingung, bagimana cara menghadapi dua cewek ini higga tidak menyebabkan seseorang terluka. Bijakkan aku?


Velin, sama sekali tak pernah terpikirkan sedangkan Tania, satu-satunya cewek yang selalu terpikirkan untuk ku miliki. Tapi sekarang? momennya sama sekali tidak pas.


Aku harus menghadapi Velin lebih dahulu, menjelaskan batasan kita yang tak lebih dari sekedar teman. Dan harus menghadapi Rian juga sebelum melangkah lebih dekat sama Tania.


Kenapa Rian? Iyah, karena Rian selalu mengatakan "Tania, Eby sama Dea itu adek-adek yang selalu aku jaga. jangan sampai ada brengsek yang mendekatinya" seolah-olah dia sedang mendeklarasikan diri sebagai pelindung.


Akhirnya aku memutuskan meminta pendapat dengan seseorang yang merasa dirinya expert dalam menghadapi cewek ketika hari ini aku dan Bima berada di kamarnya yang dari kemarin memamerkan PS terbarunya.


"Kamu pernah di tembak sama cewek?" tanyaku langsung, cowok sejenis Sadam hal seperti ini pasti sudah biasa.

__ADS_1


Bukannya menjawab tapi Sadam malah tertawa terbahak-bahak "Velin?"


Aku hanya diam mencibir tanpa mengalihkan pandanganku dari layar Devil may cry 5 milik Sadam.


"Gimana cara terima atau nolak cewek?" tanyaku lagi.


"Kamu mau terima atau mau tolak?" Sadam masih saja ngakak kemudian dan tiba-tiba memberi saran dengan wajah serius "tapi saran aku terima aja kali, pacaran sama Velin bisa bikin pamor kamu naik"


"Terus Tania gimana?" Tanya Bima tanpa mengalihkan pandangannya juga.


"Tania?" Sadam menoleh kearahku menatap penuh rasa ingin tahu.


"Dia di taksir dua cewek cantik sekaligus cuy, gila kan" Bima menjelaskan sambil geleng-geleng kepala.


"Tania? Tania yang itu? kakel kita?" Sadam jadi meradang "Sialan" umpatnya sambil melempar bantal hingga mengenai kepalaku.


Aku hanya tertawa bangga. Kerenkan, bisa ngalahin cowok sekeren Sadam.


"Jadi Tania atau Evelin?" Sadam ternyata tipe orang yang kepo.


"Dua-duanya aja, backstreet biar seru" Aku langsung memukul kepala Bima dengan bantal.


"Kalau gak suka yah tolak aja, gak papa. Jadi cowok harus tegas bro. Cewek itu gampang baper kalau tidak di tegasin"


Thanks to Saddam yang sudah membuktikan dengan pengalaman.


Aku memutusan untuk membereskan masalah dengan Velin lebih dahulu sebelum mendekati Tania. Tapi karena liburan semester, aku belum punya kesempatan untuk ketemu dengan Velin Lagi.


"Nolak jangan pake chat atau telpon, ketemu langsung, gitu juga kalau nembak cewek" Begitu saran dari Bima.


Jadi aku sama sekali belum membahas apa-apa saat Velin yang tiap hati mengirim chat random. Tapi hari ini, hari minggu tiba-tiba Velin sudah di depan pintu rumahku, dari penampilannya yang menggunakan dress bisa ku tebak ia baru saja pulang dari gereja ibadah pagi.


"Dik, temani aku beli kado untuk Velerin dong" Velerin adiknya Velin.


Seperti sebelum-sebelumnya jalan sama Velin harus putar-putar dulu dari toko ke toko atau malah tiba-tiba belok ke Cafe yang bukan tujuan utama. Dan hari ini malah ngajak nonton.


"Kita nonton dulu yah" Velin sudah menarik tanganku.


"Lin, aku tidak bisa lama-lama" Cegatku cepat.

__ADS_1


Velin menghentikan langkahnya, lalu menatapku dengan wajah memelas.


"Ya udah ngopi aja dulu, aku haus"


Dengan tetap menggandeng lenganku, Velin menuntun masuk kesebuah cafe. Setelah pesanan soy matcha latte dan Ice latte pesanan kami datang, aku berdeham mencoba memberanikan diri.


"Lin, aku mau bicara" aku menelan ludah sambil mencari kata yang pas "Selama ini kita hanya teman jadi untuk kedepannya lebih baik tetap teman saja" akhirnya aku bisa juga menemukan kalimat yang pas.


"Tapi kalau aku mau lebih?"


Aku menggeleng "Kita beda Lin".


"Banyak kok yang pacaran beda keyakinan, lagian kita masih muda, masih punya banyak waktu untuk memilih, jalani aja dulu"


"Tidak Lin, aku tidak mau mengambil resiko"


"Tapi kamu juga ada rasakan sama aku?" Velin menatapku penuh harap.


"Kita teman" kataku mantap "masih seperti biasa aku selalu ada kalau kamu butuh seorang teman, tidak ada yang berubah.


Rasanya lega sekali. Namun masih rasa tak nyaman kembali muncul saat melihat Velin yang biasanya ceria jadi murung, hanya tertunduk menekuri soy matcha lattenya.


"Cie, yang lagu ngedate" Terdengar suara cempreng dari belakang punggungku, saat berbalik benar sekali disana sudah berdiri si cempreng rese'.


"Sama siapa? " tanyaku waspada.


"Tuh" Tunjuk Dea salah satu sudut cafe dan disana ada mereka, Rian yang melambai ke arahku Eby memandang tanpa ekspresi dan Tania yang hanya memandang kearah luar cafe seolah tak peduli keberadaannya.


"Jadi gimana?" Dea malah sengaja duduk di samping ku bertanya jahil "PJ dong"


"Rese, sana balik"


"Ih pelit" Dea sudah berdiri lagi tapi masih juga jahil "titip salam buat someone gak nih? biar hatinya gak patah-patah amat"


Rasanya ingin ku plaster mulutnya si cempreng ini.


******


Jangan lupa like dan komentarnya 😉

__ADS_1


__ADS_2