
Tania
Ponselku bergetar ternyata panggilan video dari Eby dan Rian.
"Tunggu, By" Ku jawab panggilannya tanpa mengalihkan pandanganku dari layar laptop.
Ku ketik nomor pendaftaranku lalu tanggal, bulan dan tahun lahir. Aku menggigit kuku-kukuku menanti dengan harap-harap cemas.
...Selamat! Anda dinyatakan lulus jalur undangan...
...pada :...
...PTN : Universitas Negeri Phinisi...
...Jurusan : Psikologi...
Alhamdulillah ya Allah. Makasih ya Allah.
"Eby, Iyann ..... aku lulus" pekikku masih melototi layar.
Aku mengangkat laptopku lalu mengarahkan ke layar ponsel yang sedang di tunggu Eby dan Rian padahal lebih mudah jika ponsel yang ku arahkan ke laptop. Tapi ya sudah yang penting aku senang.
"Selamat Ta" Ku dengar Rian memberi ucapan tapi masih sibuk dengan laptopnya diseberang sana.
"Cie calon Psikolog" sedangkan Eby hanya Jadi supporter terbaik. Ya... Eby memang tidak ikut mendaftar ke PTN manapun. Dia hanya ingin mengikuti jejak keluarganya, menjadi pengayom masyarakat.
"Belum? "
Rian mengangkat laptopnya sambil tersenyum sumringah, dia lulus di Institut yang di bogor. Bisa juga dia.
"Congrats Yanyan" Ucapku sambil mengacungkan tangan ingin bertos online dan di sambut oleh Rian.
Ku lirik jam, sudah pukul 01.20 dini hari. Orang rumah sudah tidur nyenyak, besok saja ku beritahu.
"Dah dulu yah, eke mau mimpi indah dulu"
Ku tutup panggilan video lalu ku buka kamera, ku foto hasil pengumuman tadi langsung ku kirim ke nomor Dicky.
aku : Yeiy, lulus 💃
Ku simpan ponselku lalu ku coba memejamkan mata tapi ponselku kembali bergetar singkat.
Dicky❤: Alhamdulillah! Selamat cantik.
Aku : Belum bobo?
Dicky❤ : Baru mau.
Aku : Kenapa begadang?
Dicky❤ : Dinda sakit, habis cari obat malah tidak bisa tidur juga.
Aku : Dinda sakit apa?
Dicky❤ : Cuma demam, Sana tidur. besok masih harus sekolah.
Aku : Oke, gut nite love.
Dicky❤ : gut nite love.
_____
Pukul 05.10 aku sudah bangun, pengumuman semalam membawa euforia tersendiri bagiku dan aku shalat subuh tanpa harus dibangunkan mama lebih dulu.
Aku pasti bisa
Menikmati semua dan menghadapinya
Aku yakin pasti bisa.
Mentari terbenam beri semangat baru tuk jiwaku
Beri kicauan merdu tuk hidupku ini
__ADS_1
Ku bertahan.
[Citra Scholatika-Pasti Bisa]
Aku terus bersenandung sepanjang pagi.
Aku : Gut mooning pacar, BANGUN!
Dicky❤ : Mooning, semangat banget.
Aku : Harus! cita-cita makin dekat.
Dicky❤ : wish u the best,love. Aku jemput yah, Dinda masih sakit.
Aku : Gak usah, aku di antar.
Aku masih bersenandung berjalan ke meja makan.
"Ma.. pa.. aku punya surprise" Selama ini aku memang belum bilang sama mereka kalau aku sudah mendaftar.
Ku acungkan ponsel sambil mengoyang-goyangkan tangan.
"Aku di terima jurusan psikolog di Phinisi"
Senyum mama merekah.
"Alhamdulillah. kapan daftarnya? "
"Jalur undangan di sekolah ma" Jawabku sambil mengunyah roti selai coklat kacang.
"Mau jadi apa kamu kuliah disana?" suara berat papa membuatku tersentak.
"Gak usah di ambil, nanti daftar lagi di kampus Dewa" Lanjutnya tanpa mangalihkan pandamgan dari piringnya.
Kalimat singkat dengan ekspresi datar papa membuat nafsu makanku seketika menguap entah kemana, aku menggigit bibir bawah menahan air yang sudah di pelupuk mata, lalu memandang mama meminta bantuan tapi mama hanya memandangiku dengan pandangan tak enak.
*****
Dicky
"Hai cantik" Sapaku basa-basi.
Ternyata dia berdiam diri di kelas, menekuri buku tulis, entah buku apa.
"Tumben diam di sini" Dia masi diam, aku mengambil posisi duduk di bangku sebelahnya, tempat duduk Eby.
"Masih kerja tugas"
"Temani aku dong, lapar" dia hanya mengangkat kepala menatapku sebentar.
"Lagi ada tugas Dik"
Aku menghela nafas.
"Marah sama aku? aku ada salah? " Aku menyandarkan kepala di meja berusaha melihat ekspresi wajahnya.
Dia hanya menggeleng lemah.
"Masih banyak tugasnya? mau ku bantu?" Lagi-lagi dia menggeleng.
"Kamu ke kantin aja kalau lapar" Dia berhenti menulis lalu menatapku sendu.
"Maunya sama kamu" Ku kedip-kedipkan mata dan akhirnya dia luluh.
Di kantinpun dia tak lincah biasanya.
"Aku menuntunnya duduk di dekat Eby yang kebetulan belum meninggalkan kantin"
"Aku kira udah kenyang makan cinta" Rian meledek di balas cibiran oleh Tania.
"Aku perhatikan, kok mirip saudara yah?" pertanyaan Random mas Memet membuat yang ada di situ langsung tertawa.
"Masa sih mas?" Tania bertanya dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Kalau saudara yang kakak mana mas? " Dea mulai iseng lagi.
"Mbak Tania, toh sudah kelas tiga. yang adiknya ini masih kelas satu"
Tertawalah mereka dengan puas. Bahkan Eby yang biasanya datar sampai memegangi perut saking kerasnya dia tertawa.
Aku hanya senyum sedangkan Tania malah cemberut.
"Kalau gak sodara berarti jodoh" Mas memet masih berasumsi "Liat aja mukanya, mirip gitu"
Cepat-cepat kuu aminkan dalam hati. membayangkan berumah tangga dengan Tania? hhhaa, Dasar bucin, masih bocah juga.
"Iya juga, Tania itu Dicky versi rambut panjang"
"Atau Dicky itu Tania versi badan berotot"
"Whhhhaaahhaa"
"Atau sebenarnya kalian itu saudara kandung yang terpisah? "
Mereka terus beroceh tak jelas, aku dan Tania hanya melempar senyum.
_____
"Bentar sore ada les? Kayaknya aku tidak bisa antar kamu, Dinda harus di bawah ke dokter"
"Lesnya udah selesai" Dia menyodorkan helm Dinda yang ku pinjam.
"Aku masuk yah" Baru saja Tania membalikkan badan terdengar suara ribut dari arah dalam rumahnya. Tania berhenti dan mematung di depan pagar tak lama dia kembali berjalan ke arahku.
"Aku ikut jenguk Dinda" Katanya sambil meraih helm yang di tanganku.
Aku tidak membuka suara lagi, aku tau pasti ada sesuatu yang di tanggung Tania. Tapi aku sama sekali tidak berhak tau masalah keluarganya.
"Papa sama mama bertengkar gara-gara aku" Kalimat itu yang pertama di ucapkan Tania, aku memelankan laju motor biar dia bisa meluapkan perasaannya.
"Papa mau aku kuliahnya jurusan Politik atau pemerintahan"
"Tapi aku sama sekali tidak berminat. Aku punya cita-cita sendiri" Ku dengar suaranya makin parau.
"Dunianya papa itu menyeramkan, Aku tau mama tidak nyaman dengan status sosial keluarga papa yang seperti itu"
"Mama selalu menanamkan pada diriku kalau aku harus punya cita-cita sendiri, tidak harus mengikuti jejak keluarga"
"Hidup di tengah keluarga yang berambisi kedudukan itu bikin tertekan, selalu penuh kejutan, menang kalah, saling menyalahkan dan bertengkar hebat, selalu seperti itu"
Tania menghela nafas panjang, pasti sia menahan emosi yang sedang di rasakannya.
Ku tepikan motor, memesan dua es kelapa muda di lalu mengajak Tania duduk di tanggul pantai yang teduh.
Ku lihat sekeliling belum ramai, biasanya tanggul ini akan penuh jika sudah sore hari, tempat menikmati senja.
"Kalau gitu nanti, aku akan terjun di dunia yang di sukai papa kamu, biar nanti cepet dapat restu" Tawarku bernada bercanda.
Tapi dia menggeleng.
"Aku gak mau menikah sama orang politik"
Aku terkekeh.
"Maaf belum bisa bantu apa-apa. cuma bisa bantu doa"
Tania hanya manyun sambil mengaduk-aduk es kelapa mudanya.
"Sekarang request doanya kayak gimana? biar aku doain tiap malam"
"Semoga papa luluh dan ijinin aku kuliah di tempat pilihanku" jawabnya mantap.
Aku berakting sedang menghapal dan mengulang-ulang ucapan Tania.
"Oke, doanya di save"
Akhirnya dia tersenyum. Bukan sekedar tersenyum tapi tertawa kecil melihat tingkahku.
__ADS_1
Paling suka liat pemandangan ini.
*****