Oh My Brownis

Oh My Brownis
Porak-Poranda


__ADS_3

Tania


Aku bertahan dalam gelap yang sunyi. Tidak, sebenarnya disini ramai, ramai oleh para pengungsi tapi semuanya bisu, tak ada kekuatan bahkan hanya sekedar menanyakan keadaan.


Hujan gerimis masih turun membasahi, Aku dan keluarga Daeng Nassa hanya berdiam diri di dalam mobil. makin malam makin mencekam, tak ada penerang, tak ada komunikasi dan beberapa kali terjadi gempa susulan yang cukup membuat panik.


Sepanjang malam jantungku terus berdetak kencang, lututku bergetar, aku menggigil tapi tanpa mengeluh.


Bagaimana keadaan Mama Papa disana? masihkah aku di beri kesempatan untuk menemuinya? Pikiran itu yang terus berkecamuk dalam kepalaku.


Hingga pagi datang, suasana tak lagi semencekam semalam, semua orang mulai bergerak.


"Kalian disini saja dulu, aku turun ke kota cari makan sekalian cari informasi Bapak sama Ibu" kata Daeng Nassa.


"Aku ikut" Kataku cepat


"Jangan dulu ndi'. Masih sering gempa susulan, takutnya masih ada gempa yang lebih besar lagi"


Akhirnya aku mengalah, tinggal di pengungsian, sedangkan Daeng Nassa sudah pergi.


"Ma' lapar" Keluh Nina anak Daeng Nassa yang sulung.


"Tunggu Bapak nak, baru turun ambilkan ki makanan"


"Mama, ayo pulang" Keluh Mail, Anaknya yang bungsu.


Daeng Intang tidak menjawab hanya menghela nafas panjang sambil mengusap sayang kepala Mail.


Sekitar tiga jam baru Daeng Nassa datang membawa satu dus mie instan, beberapa bungkus roti, satu dus air mineral dalam kemasan gelas plastik, dan sebuah terpal berwarna biru.


"Kita makan ini dulu"


"Bagaimana masaknya daeng?"


"Makan dulu roti sebagai pengganjal perut"


"Makan dulu Ndi" Pintanya ke arahku yang masih terdiam.


"Bagaimana keadaan rumah?" tapi aku malah bertanya penuh harap.


Daeng Nassa hanya mamandangku segan.


"Mama sama Papa tidak ada kabar?" Tanyaku lagi dengan pandangan nanar.


Daeng Nassa menggeleng dan berucap "Belum. Mungkin mereka juga lagi di tempat pengungsian seperti kita" Jawabnya.


"Akses jalan di bawa susah, banyak jembatan yang terputus" tambahnya berusaha meyakinkan.


Hingga malam telah datang lagi.


"Ma' Lapar k'(Ma aku lapar) " Mail mulai mengeluh lagi.


"Makan mie nak?" Memang hanya mie instan yang tersisa tapi tak ada api untuk memasaknya.


Tapi Mail menggeleng.

__ADS_1


"Mau makan nasi ma'"


Pagi sekali, kulihat tenda sebelah membuat api lalu memasak. Aku mendekat.


"Bisa minta nasinya sedikit bu? " Seumur hidup baru kali ini aku menjadi pengemis.


"Maaf dek, Ini juga pas-pasan untuk kami sekeluarga"


Tidak, dia bohong. Aku melihat masih banyak beras yang tersisa dalam karung di sudut tendanya.


"Kita tidak tau harus bertahan disini sampai kapan. beras di karung belum tentu cukup sampai bantuan datang dek" tambahnya karena melihat pandanganku tertuju pada karung berasnya.


"Sedikit aja bu. Adik aku alergi mie, dari kemarin belum makan"


Ibu itu hanya menatapku. Aku masih kekeh duduk menunggu tidak beranjak sedikitpun saat menerima penolakan.


"Aku tukar mie instan saja bu" tawarku.


"Tidak usah, ini bawa saja. semoga kita semua masih dalam lindungannya, bisa cepat kembali di rumah masing-masing"


"Makasih banyak bu"


Aku segera membawa nasi yang segenggam itu pulang ke tenda.


"Kak Nia makan juga yah" Nina menawariku.


Aku hanya tersenyum dan meminum sisa air mineral. Sama sekali tak lapar.


Hari ketiga. Daeng Nassa kembali turun ke kota mencari bantuan makanan sekaligus mencari keberadaan Mama sama Papa.


"Tania" Suara di balik punggung Daeng Nassa meluruhkan segala perasaanku. Air mata yang sejak kejadian itu tak pernah menitik kini mengalir deras. Legah karena Papa masih selamat tapi....


"Mama mana Pa?"


Aku melepas pelukan Papa dan bertanya dengan perasaan berkecamuk, takut jika jawaban Papa tidak sesuai harapan.


"Mama ada sayang"


"Dimana? " Jawaban Papa sama sekali tidak memuaskan.


"Mama masih di rawat"


"Mama kenapa? " pekikku, semua kemungkinan buruk sudah terlintas di kepalaku. Tidak. tidak mungkin.


"Mama hanya syok, dia tidak apa-apa" kata Papa meyakinkan.


Ku lihat Papa tidak menyembunyikan sesuatu. aku menghela nafas yang tadi sempat tertahan.


Kini Kak Dewa yang sedari tadi diam meraihku dan memelukku erat. Lalu ekor mataku menangkap keberadaan Kak Anca yang mengelus kepalaku.


"Maaf kakak datang terlambat" lirik Kak Dewa.


______


Dewa

__ADS_1


Aku baru membuka ponsel saat tiba di Apartemen, berita di sosmed yang berseliweran seolah menghantam jantungku.


"Terjadi Gempa berkekuatan 7,2 SR di sulawesi tengah, yang menyebabkan terjadinya tsunami dan likuifaksi... " Begitu potongan wacana yang sempat ku baca.


Saat itu juga aku kehilangan tenaga, pikiranku kalut. Aku mencoba menghubungi Mama, Papa dan Tania tapi nihil. aku mencoba menghubungi keluarga yang lain juga tak bisa. Ku hubungi keluarga yang ada di Makassar.


"Dewaa,, " Tapi hanya suara tangis yang terdengar disana.


Ku putuskan berangkat malam itu juga.


Tiket tercepat yang ku dapat adalah penerbangan dini hari transit di Bandara internasional Sultan Hasanuddin. Ternyata penerbangan ke bandara Mutiara Sis Al Jufri sedang ditutup sementara.


Aku masih memikirkan cara saat Andi Anca menghubungi ku.


"Sekarang di mana? "


"Masih di bandara, tapi tidak ada penerbangan kesana"


"Kita bisa naik herkules, Aku jemput kamu sekarang"


Sore hari baru bisa tiba di kotaku yang telah porak-poranda. Semua hancur lebur tak tersisa. Tempat yang pertama ku datangi adalah rumah. Tapi rumah kami yang dulu selalu di sanjung oleh orang-orang kini tak lagi berbentuk. jatuh, ambruk, yang dulu berlantai tiga jadi satu lantai. Semoga tak ada orang saat kejadian, semoga mereka tak ada didalam.


Aku bertanya pada tetangga yang kebetulan juga sedang memantau rumah mereka tapi tak ada yang tau keberadaan Mama, Papa maupun Tania.


Aku dan Anca menyusuri tempat-tempat pengungsian dan posko-posko medis, tapi karena akses jalan yang rusak membuat pergerakan lambat.


Setelah mencari di beberapa titik pengungsian dan posko medis akhirnya aku bisa bertemu Papa dan Mama dan harus mengucapkan syukur berkali-kali saat mereka tidak terluka sedikitpun, kecuali Mama yang harus di rawat karena penyakit lemah jantungnya.


"Tania? " Tanyaku


"Adek kamu masih di rumah saat kejadian, sampai sekarang Papa belum bisa mencarinya karena Mama kamu"


"Tadi Dewa ke rumah tapi tidak ada tanda-tanda dia ada di sana"


"Bagaimana keadaan rumah?"


"Hancur Pa, jatuh tapi alhamdulillah tidak diterjang air, semoga Tania dan Daeng Nassa masih sempat lari"


Ku lihat Papa menghela nafas dengan pandangan nanar.


"Kamu harus tunggu adek kamu di rumah. Mungkin dia sedang mencari kita juga"


Papa benar karena saat aku dan Anca sedang menunggu di rumah tidak lama Daeng Nassa datang membawa berita melegahkan.


Tania selamat. Mama Papa selamat.


Tak ada rasa syukur yang lebih besar dari kenyataan itu.


***


Takabbalallahu Minna Waminkum.😇


Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir batin readers tersayang 🙏🙏🙏


Happy Eid Mubarak 😇😇😇

__ADS_1


__ADS_2