Oh My Brownis

Oh My Brownis
Aku Tanpamu


__ADS_3

Dicky


"Kita cari tempat yang belum pernah di kunjungi, jangan itu-itu aja. Banyak daerah lain yang sangat membutuhkan tapi tidak pernah tersentuh" Haikal mengemukakan pendapatnya dengan yakin.


"Itu artinya kita siap keluar dari kota? Dana mana cukup bos" Farah sebagai bendahara tidak sependapat.


"Kita bisa cari tambahan dana" Haikal masih kekeh.


"Kemana lagi? Proposal sudah jalan semua tapi yang didapat jauh dari target"


Rupanya perdebatan mereka tidak ada ujung pangkalnya. Tidak ada yang mau mengalah. Yang lainpun hanya menjadi penonton seolah penasaran siapa yang akan kalah dalam petarungan ini.


"Begini saja" Lebih baik aku menengahi.


"Aku rasa ide Haikal tidak ada salahnya, tapi yang menurut Farah kendala ada pada keuangan juga tidak boleh dipaksakan yah?"


"Haikal yang tanggung" Seloroh seorang teman yang lain sambil cekikilan.


"Enak aja, uang jajan aja pas-pasan gini" Protes Haikal.


"Makannya aja kadang cari tempat hajatan, pura-pura sebagai tamu" Tambah Danis di iringi suara tawa yang lain.


"Enak aja"


"Waktu itu?"


"Sekali itu aja. Kan sama kamu juga" Semuanya kembali tertawa.


Saat suara tawa sudah mereda aku kembali ke topik awal.


"Untuk sekarang kita persiapkan opsi dua tempat. Siapa tau memamg ada tempat yang baru dan sebetulnya jaraknya tidak jauh dari kota hingga tidak membutuhkan terlalu banyak dana, sementara waktu itu kita juga maksimalkan lebih mencari sumber dana yang pastinya bukan pungli yah teman teman"


"Siap pak ketua" Jawab mereka serempak.


"Itu tadi maksud aku" Haikal masih juga berseloroh di balas cibiran Farah.


Rapat santai ditutup tepat saat pengeras suara mesjid kampus yang membacakan ayat-ayat terdengar. Hari sudah mulai petang, biasanya aku tetap disini sampai malam bahkan bisa menginap di basecamp jika ada kegiatan. Tapi...


"Dik, ada yang cari" kata Farah lalu pergi dengan menyentak-nyentakkan kaki.


Aku mendongak dan mendapati Fina sudah berdiri di depanku. Cewek dari kelas Haikal yang jadi pacarku sejak semalam.


"Hai.. pulang?"' Sapanya.


"Sebenarnya masih ada..."


"Oo.. aku tungguin yah?"


"Lama loh"


"Gak papa. lagi apa?" Dia mendudukkan diri tepat di sebelahku sambil mengamatiku yang sedang memeriksa rancangan kegiatan Pekan bakti nanti.


Tapi rasanya aneh.


"Aku antar kamu pulang sekarang yah, udah malam ini"


Fina adalah pacar kesekian dalam waktu singkat. Aku menjadi orang lain. Hidupku tidak lagi seserius dulu.


Aku bahkan menjadi brengsek yang memacari hampir semua cewek yang mendekat. Sekedar mengisi kekosongan. Ini bukan lagi tentang perasaan mendalam seperti yang ku lalui di masa remajaku sampai beberapa bulan yang lalu. Aku mencoba prinsip Arvie, hanya menikmati hidup sekarang tanpa melibatkan hati. Dan itu sukses membuatku bertahan.


"Farah pasti suka sama kamu" Fina membuyarkan lamunanku.


"Kenapa tidak pacaran sama Farah? dia cantik, pintar"


"Aku sama Farah teman" Jawabku apa adanya.


"Tapi Farah maunya lebih"

__ADS_1


Aku tidak berniat menanggapinya.


"Udah sampai Fin" Aku memarkir motor depan kostannya. Yang tidak jauh dari kompleks kostasku.


"Dik, kita bener pacaran kan?" Tapi Fina masih bergeming,tidak kunjung beranjak.


"Kenapa?" Aku menoleh.


"Kita terlalu asing bisa di sebut pacaran. aku tidak tau apa-apa tentang kamu"


"Kita jalani aja dulu Fin"


"Aku cuma mau kamu tau kalau aku serius sama hubungan ini"


"Iyah.. aku juga serius"


Bohong.


Aku bahkan sudah pintar berbohong di depan mereka.


"Kamu masuk dulu yah. Aku juga mau pulang dulu"


Lets see, berapa minggu atau berapa hari lagi dia akan marah-marah dan minta putus.


...___...


Sebelum kembali ke kampus, aku menyempatkan diri terus ke kostan sekedar mandi dan shalat magrib.


Setelah membeli beberapa bungkus snack di Alfalidi aku tiba di kampus yang ternyata masih ramai, maksudku yang ramai bukan kelas atau ruang dosen tapi suasana Basecamp (Basecamp Himpunan), tidak heran memang saat menjelang kegiatan seperti ini. Tidak ada aktivitas khusus sebenarnya, hanya melakukan tugas masing-masing atau sekedar menghabiskan waktu.


Aku langsung mengambil posisi duduk di tengah-tengah mereka yang sedang asik berbagi jokes, tidak jauh di depan beberapa adik tingkat perempuan sedang latihan menari. Gerakan demi gerakan. Ingatanku langsung melayang pada seorang gadis yang memakai seragam putih abu, rambut panjang di kucir dengan poni di tertata rapih menutupi keningnya serta mata bulat yang indah dan bulu mata yang lentik. Gadis yang sedang menari di pendopo.


"Dik.... " Arvie menyadarkanku dari lamunan.


Come on dik. Aku mengutuki kepala bodohku yang masih kadang tertinggal di masa lalu.


"Kenapa? " Tanyaku


"Kamu jalan sama Fina?"


Aku cuma mencibir.


"Farah gimana?


"Gimana apanya? "


"Di gantung terus?"


"Jangan ikut ikutan deh"


"Welcome to my world bro. ckckck. aku bisa kalah pamor ini, hhhhaa" Arvie mulai rese lagi.


"Fina itu gini" Sambil mengacungkan dua jempolnya.


"Maksudnya?"


"Servisnya ok" Dia menaik turunkan alis.


"An j*ng" Refleks aku melayangkan pukulan di kepalanya tapi ternyata tidak ngaruh sama sekali karena Arvie kembali berseloroh.


"Gini nih kalau ingatnya cuma satu rasa"


"gave me the sweetest kisses


You showed me how to love unselfishly" Arvie bernyanyi dengan gaya yang di buat-buat dan suara yang lumayan. Lumayan fals.


Aku cuma berdecak dan Arvie kembali tertawa.

__ADS_1


"Dik.... Antar Farah pulang dulu, udah malam" Suara akbar terdengar dari belakang punggungku.


"Sama aku aja Far" Arvie menawarkan diri tapi dibalas cibiran oleh Farah.


"Awas loh, nanti jatuh cinta sama aku"


"Naudzubillah min dzalik"


Jawaban Farah spontan membuat semua yang mendengarnya tertawa. Kapan lagi bisa menertawakan playboy ini ditolak sama cewek.


...__...


Aku mengantar Farah, sebenarnya ini sudah hal biasa. Aku sama Farah lumayan akrab sejak pertama berkenalan di kelas, dia teman yang menyenangkan. Namun terkadang orang-orang selalu menyalah artikan kedekatan kita sampai membuatku tidak enak dengan Farah.


Apalagi saat itu, Tania sangat protektif jika itu menyangkut nama Farah.


"Kenapa semua orang bisa jadi pacar kamu selain aku?" Pertanyaan spontan Farah membuatku tercengang.


"Maksudnya? "


"Kemarin Amalia, kemudian Lani sekarang Fina mana pacar-pacar kamu yang di luar kampus lainnya. Mereka semua bisa jadi pacarmu. Tapi kenapa aku tidak bisa?"


"Kita teman Far" Jawabku apa adanya.


"Harusnya itu nilai plus buat aku. aku bisa ngertiin kamu daripada yang lain"


"Aku gak mau merusak pertemanan kita"


"Bulshit" Gumamnya.


"Aku tidak pernah pacaran sama teman"


"Jadi dia tidak pernah jadi temanmu juga? "


"Siapa? "


"Tania"


Ck.


"Ayolah Far, aku tidak mau ujung-ujungnya kita putus terus hubungan kita jadi canggung"


"Kita coba aja dulu" Dia makin mendesak.


"Kamu tau sekarang aku pacaran sama Fina" Aku berdalih.


"Kamu juga pacaran dengan Askia anak seni"


"Kamu tau? "


"Tau. Kalau mendua bisa kenapa tidak sekalian mentiga? Sambil aku nunggu kamu putus sama mereka dan aku jadi satu-satunya" Ku liat di spion sebelah kanan yang juga melihatku.


"Tidak bisa Far"


"Kenapa tidak? "


" Kita teman. titik. Tidak lebih"


"Oke, mulai sekarang aku gak mau berteman sama kamu lagi"


Aku menghela nafas panjang. Tidak menemukan kalimat yang tepat untuk membuatnya mengerti.


...***...


Terima kasih pada readers budiman yang masih setia menanti 😘


Calangeoo ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2