
Dicky
Tania❤: Besok pagi jemput yah.
Aku : Siap Nona.
Mau kemana? Aku juga belum tau. Yang jelas Tania meluangkan waktunya untuk ku itu sudah kebahagiaan.
Tania❤: Kado ultah buat Dea bagusnya apa? saran dong.
Aku :Dea Ultah?
Alat musik?
Tania❤: Dea sudah gak pernah mau main musik lagi 😔
Aku : Makanya disupport dong, diakan punya talent disana.
Tania❤: Gitu yah? Bagusnya alat apa? gitar?Dea kan suka nyanyi.
Aku : Bagaimana kalau bikin studio mini di rumahnya? Rumahnya besarkan? Sekarang nyanyi gak harus live di panggung. Konten live sekarang lagi booming. Pasti banyak tuh yang nonton di Youtube.
Aku tawari seperti itu karena aku tau Tania Mampu dan Tania tidak pernah mikir kalau untuk sahabatnya.
Tania❤: Dea bisa buat podcast atau cover lagu juga biar dia merasa hidup lagi.
Aku : Betul 👍.
Tania ❤: Kok kamu pintar sih? Pacar siapa?
Aku : Selingkuhan, wkwkwkwk.
Tania : Dicky!
Aku : Bercanda sayang. 🤣🤣🤣
Tania ❤: Alat perlengkapan studionya beli di mana?
Aku : Besok kita cari-cari, pasti ada.
Tania ❤ :Unch, sayang kamu ❤ Aku kabari mereka dulu, siapa tau mau patungan. hhhaaa
"Mereka" pasti maksudnya sahabat-sahabatnya.
Aku : Oke cantik.
Tania ❤: See u. Love you😘.
.
Aku : Love you more😘.
...____...
Aku lupa kapan terakhir bangun pagi di hari minggu seperti ini. Mungkin sejak tinggal sendiri di kosan seperti ini? atau semenjak Ibu dan Dinda sudah tidak ada? Aku sudah lupa.
Waktu Mereka masih ada, aku selalu mengeluh kenapa harus dibangunkan pagi padahal tidak mesti ke sekolah. Ibu yang selalu krasak-krusuk di dapur meminta diantar ke pasar atau Dinda yang pagi-pagi merengek minta di temani ke mini market depan kompleks karena ingin membeli alat make up terbaru.
Aku segera keluar kamar menuju kamar mandi yang ada di ujung lorong mencoba mengalihkan dari pikiran 'seandainya Ibu dan Dinda masih ada'
Hari ini aku bisa mandi dengan tenang, tanpa gangguan ketukan pintu dari luar yang tiba-tiba ingin Buang Air, atau karena mereka yang buru-buru karena terlambat masuk kelas.
Suasana kost memang sunyi pagi ini, mungkin karena sebagian pulang kampung saat weekend atau memang mereka masih tidur nyenyak di kamar masing-masing.
Kurang pukul delapan, aku sudah di depan pagar tinggi rumah Tania, sedang menimbang-nimbang antara menunggu saja sampai Tania keluar atau aku mengetuk pagar dan menanyakan Tania.
Tapi Ponselku sudah berdering.
Tania❤ Calling
"Tunggu Bentar aku turun" Katanya di balik ponsel.
Dan tak lama Dia sudah berdiri di sampingku lengkap dengan helmnya. Helm Bo go warna Pink.
"Kamu di sini tinggal sama siapa?" Tanya ku penasaran. Setau ku orang tuanya masih di Palu. Masa Iyah Tania berani tinggal di rumah sebesar ini sendirian.
"Sama Daeng Nassa sekeluarga, mereka trauma tidak berniat kembali ke palu lagi yah sudah di sini saja " Jawabnya sambil memegang pundakku dan berusaha naik ke atas motor.
"Waktu kejadian itu kamu sama mereka?" Tanya ku lagi dan aku mulai melajukan motor.
"Iyah, kalau tidak ada mereka aku tidak tau apa aku juga masih hidup"
Setiap mengingat kejadian itu selalu membuat lidahku keluh. tak ingin berkomentar lebih tepatnya tak ingin mengingat.
"Kita beli kado dulu terus janjian ketemu Rian dan Eby di mana" Ucap Tania dekat dengan telingaku walaupun ada jarak di antara helm.
"Mereka semua datang?"
"Spesial buat Dea "
"Jadi cari alat untuk studio? "
Tania mengangguk mantap.
"Setiap liat Dea yang sekarang masih sering sedih. Aku ingin jadi supporter terbaiknya"
__ADS_1
"Kamu yang terbaik. Dea beruntung punya kamu dan aku juga" Puji ku mengacungkan jempolku.
Ku dengar dia terkekeh dan ku rasakan pelukannya makin erat.
Aku mengantar Tania ke toko alat elektronik yang menjual perlengkapan untuk studio mini. Meski belum lengkap tapi sebagian besar dan yang pokok sudah ada.
Mereka akan mengirim barang beserta jasa pemasangnya.
"Memang ruangannya sudah siap? " Tanyaku heran, bukannya surprise?
"Itu urusan Rian dan orang rumah Dea"
Ooo rupanya mereka bekerja sama dengan keluarga Dea.
"Eby sudah tiba disana, dia menunggu kita"
Aku mengarahkan motor sesuai petunjuk Tania. Rumah Dea memang tidak jauh dari kompleks perumahan elit milik Tania dan ini tidak kalah elit.
Ku lihat mobil model sedan terparkir disana. Aku memarkir motorku di belakang nya.
"Eby..... Kangenn" Tania menghambur ke pelukan Eby dengan suara manjanya. Dan seperti biasanya Eby selalu terlihat datar.
Aku mendekatinya.
"Apa kabar bro? " Eby mengacungkan tangannya.
"Alhamdulillah sehat. Kamu? Keren yah Ibu Bribda sekarang"
"Jangan macam-macam anda" Kata Eby dengan gaya kocak mengacungkan tangan membentuk senjata di depan mataku.
Aku terkekeh dia nyengir. Kata Tania Eby sudah jadi Polwan (polisi wanita) dan di tugaskan di Manado.
Tidak heran sih, dilihat dari didikannya Eby jelas berpotensi bahkan sangat berpotensi.
Satu mobil lagi yang datang, sesuai dugaan Rian turun dari mobilnya dan langsung menghampiriku.
" Sehat bro?"
Dia merangkulku.
"Sehat Yan. Kamu sendiri? "
"Aku aman"
Ternyata Rian tidak sendiri, ada cewek yang langsung memeluk Tania dan Eby. Cewek cantik.
"Dik, kenalin Tisya"
Oh, jadi ini yang namanya Tisya. Aku ingat cerita dari Bima dulu.
"Tania sama Genknya sudah sejak jaman SMP, dulunya berlima sama Tisya tapi Tisya ikut kakaknya sekolah SMA di Makassar"
"Yah, selera orangkan beda-beda yah tapi menurut kebanyakan orang Tania cantiknya 90% sedangkan Tisya 95%"
Dalam hati ku benarkan, cantik memang, tipe cewek yang lemah lembut berbeda dengan Tania dan Dea yang kadang bar-bar, aku yakin Tisya ini lebih bisa menjaga sikap.
Tapi apapun itu hanya Tania yang menggetarkan hati.
"Dicky"
"Tisya"
Perkenalan singkat dan tidak ada yang mengesankan.
Setelah menyalahkan lilin di atas cake, kami masuk dengan cara mengendap-endap. Eby yang memegang kuenya berjalan paling depan kemudian Rian yang beriringan dengan Tisya dan aku beriringan dengan Tania.
"Mereka pacaran?" Bisikku pada Tania.
"Tisya dan Rian? gak tau juga" Tania menjawab dengan mengangkat kedua bahunya "Dari dulu memang mereka kayak gitu. Malah di kira aku yang jadi perusak hubungan mereka"
Kita masuk melalui pintu depan yang besar disambut dengan seseorang yang kira-kira berumur tiga puluhan. Yang pasti bukan Kakak Dea karena setau ku Dea anak tunggal.
"Kak Dea masih di kamar" Katanya.
Sapaan Kak di sini pasti sapaan untuk orang yang di hargai bukan karena umur.
Kita menuju kamar yang kemungkinan besar kamar Dea.
Tok tok tok
Rian mengetuk pintu kamar.
"Siapa? "
"Kak Dea ada tamu" Kata perempuan tadi.
"Siapa Ni?"
"Katanya teman sekolah Kak Dea"
Tidak lama terdengar suara krasak-krusuk dari dalam dan
Clek.
Pintu kamar terbuka menampakan Dea yang duduk di kursi roda.
__ADS_1
"HAPPY BIRTHDAY!!!" Seru semuanya. Kecuali aku tentunya.
Ku lihat Dea hanya terpaku di tempat. Sepertinya terharu. Dea terlihat tidak jauh beda dengan yang ku ingat, hanya sedikit pucat atau tirus seperti tidak pernah terkena matahari.
"Kalian kok bisa di sini? "
"Yah bisalah"
"Maacihhh semua, Eby, Tisya, Tania peyukkk sini"
Lalu dia berhenti saat menatapku.
"DIK DUK?"
Aku menyeringai "Hai Dea.... "
"Dik duk........ " Dea menyambutku. Aku menghampirinya dan memeluknya sejenak.
Aku salah. Aku kira Dea mungkin sedikit berubah saat kita ketemu lagi dengan keadaannya sekarang tapi ternyata tidak. Dea masih Dea yang ceria, senyumnya dan binar matanya masih sama.
Aku tersenyum bersyukur. Dea bukan gadis yang lemah. sudah pasti, dia yang terkuat.
Tiba-tiba aku teringat Dinda, Tania pernah bilang kalau Dinda itu duplikat dari Dea. Dan hari ini aku benar-benar merindukan Dinda saat Dea menatapku penuh binar.
"Selamat ulang tahun De, sorry baru bisa datang sekarang"
"Iyah ih, kamu jahat, selama ini kamu sembunyi di mana? "
"Siapa yang sembunyi? Aku ada, bebas berkeliaran"
Jawabku dengan terkekeh, terdengar sedikit garing.
"Kamu tuh di cariin sama teman-teman di grup alumni"
"Memang kamu di sana aktif?"
"Aktif"
"Serius? Terus kenapa Rian juga tidak tau keberadaan mu? "
"Tau, terlalu sibuk ngurusin cewek bogor mungkin"
"Enak aja" Sontak saja Rian protes dan tanpa sengaja mataku menangkap Tania yang sedang berbisik-bisik ke arah Eby dengan tampang gelisah.
Dea mengarahkan kami ke ruangan yang lebih santai. Ruang tengah rumahnya. Luas dan megah.
Kita duduk di sofa dan perempuan tadi sudah menyuguhi kita dengan minuman dingin dan beberapa macam kue.
"Kenapa?" Tanyaku mendekati tania yang masih saja terlihat gelisah.
"Tidak apa-apa"
Jelas sekali dia menyembunyikan sesuatu di ponselnya. Ku coba meraihnya, kulihat chat dari Anca. Kubaca sekilas chatnya.
Kak Anca : Aku kangen. Kamu di rumah? Aku kesana yah?
Tania: Aku lagi di luar kak, sama teman-teman aku.
Kak Anca: Dimana? Aku susul yah.
Aku jadi tau dengan pasti kalau yang dikatakan Tania bahwa antara dirinya dan orang itu hanya karena orangtua itu jelas bulshit.
Rupanya Tania tidak sesiap itu melepaskannya.
Kucoba memadamkan api dalam diriku. Ku hela nafas. Aku bisa apa? Marah? Pada siapa? Jelas tidak bisa. Aku berada di posisi kedua di sini. Posisi yang -sebenarnya- salah.
"Gak papa, aku pulang saja" Kataku mengulurkan ponselnya.
Dia menatapku sendu, aku tidak menyukai tatapan itu. Seolah aku hanya membuatnya tersiksa bukan membuatnya bahagia.
Aku mencoba tersenyum, mengusap pipinya yang lembut lalu beranjak.
"Mau kemana Dik?" Tanya Dea, lalu beralih kepada Tania "Kenapa Ta? Kak Anca mau datang? "
"Kamu kan tamuku, cuekin aja. tidak usah pulang ih"
Ide Dea sih gila. Apa dia berniat menyaksikan suasana yang teramat canggung atau nonton drama live yang paling menegangkan?
"Gak papa, aku pulang dulu, have fun yah"
Maksudku have fun dengan waktunya berkumpul dengan bestienya, para sahabatnya.
"Yan, By, Tisya aku pulang dulu"
"Sehat-sehat kamu" Aku mengacak rambut Dea.
''Dik......." Tania menarik ujung kaos ku "Maaf" Ucapnya sangat lirih.
Aku tau dia menyesal. Aku menggenggam tangannya yang tadi menarik ujung kaos ku lalu ku cium.
"Serius gak papa, aku pamit yah"
...*****...
keterangan:
__ADS_1
Tisya adalah Lena di Bab "Beauty geng". Author ganti namanya di bab ini. Mohon maaf jika mengurangi feel dari readers 🙏
Happy Reading 🤗