
Tania
Sudah tiga hari sejak tiba, tapi aku belum kemana-mana selain menemani mama belanja keperluan dapur di supermarket terdekat. Seharusnya aku mendaftar ulang di kampus tapi aku masih bingung, aku belum terbiasa jalan sendiri apalagi di tempat baru.
Aku butuh teman.
Malam ketika aku dan Mama sedang mengobrol dengan tante Yuli -Adik mama- sekeluarga. Tante Yuli yang memang menetap di Makassar dengan keluarganya sengaja datang berkunjung saat tau aku dan Mama datang.
"Kelas berapa Ca?" Tanyaku pada Caca, anak tante Yuli.
"Masih kelas tiga kak" katanya sambil mengacungkan tiga jarinya "Bentar lagi lulus"
Rupanya seumuran Dinda.
Sedangkan Mama dan tante Yuli sedang membahas kelakuan anaknya masing-masing.
"Caca itu sampai sekarang susah bangun pagi" begitu kata tante Yuli.
"Jangankan Caca, tuh Tania sudah besar tapi belum bisa apa-apa" mama menghela nafas berlebihan "Bagaimana nanti aku tinggalkan dia sendiri di sini"
"Mama ih," Aku memberenggut "Aku sudah besar ma, bisa mandiri kok"
"Assalamualaikum" Terdengar salam dari balik pintu.
"Waalaikumsalam " serempak menjawab.
"Nak Anca, sini masuk" Mama yang membuka pintu menyambut tamunya dengan senyum sumringah.
"Apa kabar nak? apa kabar Mama sama Papa kamu?"
Aku menengok orang yang datang ternyata Kak Anca, masih sepupu jauh dari pihak Papa sekaligus teman SMA kak Dewa.
"Alhamdulillah, sehat Tante, Mama sama Papa juga lama tidak kesini"
"Tania sudah besar" Kata anca mengambil duduk di sebelahku sambil mengacak-acak rambutku.
"Tadi Dewa nelpon katanya Tania butuh di antar mendaftar ulang"
"Memang sempat?"
"Disempatkan Tan, pasti sempatlah apalagi untuk Tania" Dia mengerling ke arahku.
_____
Paginya, Kak Anca benar-benar datang pake motor Yamaha dengan body besar keluaran terbaru lengkap dengan helm warna pink yang di sodorkan. Mhh jadi kangen Dicky.
Sejak kapan kak Anca jadi keren begini perasaan waktu SMA kak Anca biasa aja, hitam, kurus, penampilan acak-acakan.
"Berangkat?" Tanyanya kearahku "Antriannya panjang"
Aku mengangguk.
"Berangkat dulu Tan" Pamit kak Anca sambil mencium tangan Mama taksim.
"Nia pergi dulu ma"
"Hati-hati"
Selama perjalanan, kak Anca menunjukkan tempat-tempat yang di lewati seolah dia adalah guide dan saya adalah Turis padahal sebenarnya makassar bukan tempat yang asing bagiku. Aku sering liburan di sini sejak kecil walaupun memang sebenarnya aku belum hafal jalanan. Walaupun memang benar banyak yang berubah dari sejak terakhir kesini tiga tahun lalu.
Motor kak Anca melaju di jalan pettarani dan memasuki basement sebuah gedung yang menjulang tinggi. Kak Anca memarkir motor Kemudian melangkah ke arah kiri, aku berusaha mensejajarkan langkahnya yang panjang.
"Kuat naik tangga kan? cuma tiga lantai. Liftnya penuh, harus desak-desakan" Dia menunjuk ke arah kanan yang memang terlihat banyak yang antri di depan pintu lift.
"Tau banget seluk beluk gedung ini kak, bukan mahasiswa sini kan?" Tanyaku heran.
"Calon kakak iparmu yang kuliah disini" katanya sambil tersenyum miring.
Aku ber-ohh tanpa suara.
__ADS_1
Sampai di lantai tiga, sudah banyak calon mahasiswa yang sudah mengantri dengan tujuan sama sepertiku, hampir seluruh sudut ruangan penuh.
Kak Anca melayangkan pandangan dan menuntun ku ke pojok yang kebetulan ada beberapa kursi yang kosong.
"Kamu tunggu disini, aku cek dulu"
Setelah sosok kak Anca tidak terlihat karena menerobos kerumunan orang, aku membuka ponsel untuk mengisi waktu, Aku mengambil satu foto yang menampilkan kerumunan orang dengan Map yang masing-masing di tangan mereka. Ku kirim fotonya ke Pacar.
Aku : Lagi di sini, antrian panjang 😥
Tapi tak ada balasan, ku lihat jam di ponsel. Ini memang waktu belajar di sekolah.
ku alihkan pandangan ke arah kerumunan orang-orang ku lihat kak Anca sudah kembali berjalan ke arahkanku, namun seseorang menyapanya.
"Aga kareba kanda? (Apa kabar kakanda?) "
"Napa na anak unhas kesini? (kok mahasiswa Unhas bisa di sini?)"
"Itu ku antar, sepupuku" tunjuknya ke arahku.
"Canti na karaeng (Cantik Sekali)"
Spontan aku memutar bola mataku mendengarnya.
"Sukses ki bro" Kak Anca menepuk bahu temannya lalu kembali berjalan ke arahku.
"Sukses kanda"
"Bagaimana kak?" Tanyaku.
"Tunggu nama kamu di panggil dulu" Jawabnya "Berkasnya lengkap kan?"
Aku mengangguk sambil menyodorkan map di tangan agar kak Anca bisa lihat.
"Kenapa tidak kuliah di tempat Dewa? "
"Sukanya di sini"
"S1 sudah, sekarang proses daftar s2"
"Dimana? "
"masih di kampus yang sama"
Benar-benar harus menunggu lama sampai akhirnya terdengar suara memanggil nama lengkapku melalui pengeras suara.
"Kita kemana? masih sore, masih sempat mampir" Tawar kak Anca sambil berjalan menuju tempat parkir.
"Mmhh aku lapar, hhee" Asli lapar tadi hanya sarapan sekarang sudah pukul empat belas lewat.
"Mau makan apa?"
"Enaknya apa? yang rekomended dari yang punya makassar"
"Oke, lets go"
Rumah makan pilihan kak Anca adalah Coto Daeng Sirua, yang katanya coto yang lagi on di Makassar.
Dan ternyata memang enak, maknyos. Aku mah memang pecinta coto sih. Masih suapan kedua, ponsel di dalam tas berdering.
"Urusannya lancar? "Suara Dicky di seberang sana.
"Lancar dong"
"Sekarang lagi dimana?"
"Lagi makan coto"
Aku tau pasti disana Dicky sedang tersenyum "Coto apa?"
__ADS_1
"Apa sih tadi namanya, lupa"
"Coto abdesir" Kak anca menjawab.
"Itu siapa? " Spontan suara Dicky jadi waspada.
"Kak Anca, kan semalam sudah bilang mau di antar kak Anca"
Tapi Dicky hanya diam.
"Sepupu Dik, Curigaan amat"
"Tidak curiga, biasa aja" Elaknya. "Ya sudah, makan dulu. kabari kalau sudah sampai rumah"
"Oke, love"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam
Aku meletakkan ponsel, melanjutkan makan.
"Pacar kamu? "
Aku mengangguk.
"Pacaran jaman sekarang gitu yah? dadah love, oke love" Kak Anca meledek tapi aku hanya manyun dan melanjutkan suapanku.
"Kuliah dimana?" Tanya kak Anca lagi.
"Masih sekolah"
"Brondong? ckckck" Kak Anca mengeleng-geleng.
"Mama kamu tau? "
"Tau"
"Dewa tau?"
"Sepertinya"
"Hati-hati loh pacaran sama bocah, masih labil, suka selingkuh"
"Dicky tidak gitu"
"Apalagi LDR" Tambahnya bernada jahil.
"Kak Ancaa.... " Aku melotot, Dia tertawa.
******
Andi Khamsah Syawal Alias Anca
Sebenarnya Dewa tidak memintaku menemani adiknya kemanapun. Dia hanya bilang kalau Tania sedang ada di Makassar.
Kebetulan rumah Mereka tidak jauh dari Kosanku, aku jadi iseng bertamu.
Gadis cilik yang dulu imut kini menjelma jadi gadis cantik.
Tidak, aku sama sekali tidak berniat mendekatinya sebagai seorang cowok. Aku punya Anita. Apalagi Dewa tau kalau aku mendekati adiknya sementara aku juga punya pacar. Aku bisa di bonyok.
yang ku lakukan sekarang? anggap saja aku sedang berbuat kebaikan sebagai saudara.
Tapi saat makan dan Tania menelpon dengan seseorang dengan nada yang manja dan senyum sepanjang obrolannya kok rasanya aku tidak terima. Sialan bocah SMA itu.
*****
Mohon bantuannya dengan meninggalkan jejak like dan komentar yah 😇.
__ADS_1
ありがとうございました
Arigatōgozaimashita 🙏